Menjawab sanggahan saudara Jefferey. ....
Jeff :
< Mungkin saya masih kekenyangan makan shg nggak bisa mikir yg lain.
Mari kita menjauh sedikit dari issue-issue HAM, invasi, dlsb.
DS:
>Sangat emosional sekali apa yang sudah tertulis tentang operasi Seroja.
>Sangat memilukan apa yang harus dihadapi oleh prajurit2 kita itu.
>Pengorbanan
>mereka sangat besar dan memang patut dihargai.
>
> Yang menjadi pertanyaan sekarang, kenapa yang dikirim itu adalah pasukan
>sukarelawan, kenapa yang dikirim itu adalah tentara2 yang kurang terlatih ?
>Apakah sebenarnya tugas Kopasandha itu ... secret service ? Kenapa hal-hal
>ini tidak diajarkan disekolah2? Deklarasi Balibo itu di hadiri oleh partai2
>yang sudah terbius oleh tentara2 yang disusupkan kedalam Tim-Tim ...
>bukankah
>demikian? Kenapa pula sampai sekarang isu2 tentang komunisme itu selalu ada
>?
Jeff:
Kopasandha? Lho mas, ini kan nama lama dari Kopassus. Yang namanya komando
jelas lain dengan tentara reguler. Bekerja dalam satuan yg kecil, kemampuan
individu dan kerja sama tim jauh lebih tinggi, pelatihannya khusus,
blah-blah...
DS: << blah blah ... tugasnya apa ? itu yang saya tanyakan bukan blah2. Semua
orang juga tau Kopasandha dan kopassus itu cuma ganti nama. Komando Pasukan
Sandi Yudha. Dulu bernama Cakrabirawa. Pasukan yang nggak jelas maksudnya mo
ngapain kecuali ngebunuhin orang ya nggak? Apakah ini yang anda maksudkan
dengan blah-blah?
Jeff:
Jelas berhubung jumlahnya kecil mereka hanya ditugaskan khusus untuk yg
special pakai telur. Kalau untuk menyerangan dalam perang terbuka rasanya
nggak tepat. Tugasnya ya macam-macam, kalau di AS setara Green Berets, atau
di Inggris setara dengan SAS, Aussie juga. Atau kalau di AL namanya pasukan
Seal, KKO (dulu), dll. Jadi dari sononya emang tugasnya infiltrasi,
sabotase, menggempur sasaran strategis dengan cepat, dll.
DS:
<< ya itu tugas khusus, nusuk orang dari belakang. Ya nggak ? Memang sangat
tepat tugas Kopasandha kita itu. Infiltrasi nama terus juga supaya dosa2 lama
nggak usah dibawa2. Err.. Prabowo, tukang ngilangin orang dari mana tuh
satuannya ? Whoops. KoPassus juga ... apaan Kopassus ? Kopasandha lagi ...
special telur, pas untuk bersihin tai2 nya ORBA baru dipake. Tapi seperti
biasa, turunin dulu itu pasukan yang tidak berpengalaman di depan, supaya
mati dibunuh2in sama Fretilin, trus Kopasandha yang mempelajari taktik perang
Fretilin, trus take the credit to themselves. Kalo Kopasandha tugasnya benar
untuk infiltrasi, dan dinyana berhasil waktu itu, berarti betul2 tidak
memperkirakan kemungkinan meninggalnya para serdadu2 yang diimin-imingi
pangkat tinggi tapi tidak punya skill sama sekali. Salah lagi gue ? Nggak
dong,buktinya tuh banyak yang tewas, sampe bercucur2 airmata di Jakarta
membayangkan masa lampau. Singkat kata, negara kita yang katanya jago
berdiplomasi, yang sudah meninggalkan cara berjuang secara fisik duulluuu
banget, kok sekarang pake militer dalam mengadakan pergerakan. Kalau kita
dulu mencoba melepaskan diri dari penjajahan lewat meja perundingan, kok
tahun 1975, malah invasi karena ada isu komunisme/dukungan barat .K alau anda
menilai ini semua (invasi, spionasi oleh Kopassus, pengiriman satuan2 dalam
waktu sangat singkat) kudu dilakukan, mengandung nilai tersendiri, saya
melihat ini seperti istilah kawin paksa. :) >>
Jeff:
Yang dimaksud dengan tentara kurang terlatih bukan berarti tentara yang
jarang latihan nembak, latihan lari. Yang dimaksud adalah tidak pernah
mengenal bau mesiu perang sesungguhnya. Sudah jelas kita nggak punya
pengalaman karena emang nggak pernah perang lagi. Sebagai pengingat, yang
diterjunkan perang jelas bukan Kopasandha. Kalau nggak salah yang
diterjunkan pertama adalah satuan dari Kostrad. Ya memang AD, AL, AU, tapi
kekuatan inti pertamanya ya mereka. Nah, ceritanya pasukan Kostrad itu juga
sudah merupakan satuan yg terbaik. Tapi biarpun terbaik kalau belum pernah
nembak musuh beneran artinya ya nggak terlatih. No wonder AS paling seneng
ikut campur kan? Ya karena mereka pingin pasukannya sebanyak-banyaknya
mengenal medan tempur beneran.
DS:
<< ahh, masak lupa sih. Jaman sebelum invasi itu kan sempat ada recruitment
gila-gilaan di pusat. Semuanya dipanggil menjadi militer karena negara kita
membutuhkan pasukan untuk mengamankan keadaan negara. Kostrad namanya, isinya
orang2 lugu. No wonder Indonesia ikut2an kan ? Jangan bawa2 AS mulu dong,
kita salah (TNI/Govt.) dan tetap salah>>
Jeff:
Kenapa nggak diajarkan di sekolah? Wah, apa memang perlu? Memangnya dulu
kita diajarin sejarah seluk beluk kemerdekaan kita secara detil? Kapan
belajar fisikanya?
DS:
<< Emang perlu dong, jangan jadi buta kayak sekarang. Moral kita disuguhin
mitos2 kejayaan negara kita lewat pancasila dll. Fakta2 dibelok2in supaya
kita kelihatan jaya dimana2. Negara kita kaya raya, ehh ... sampe2 kita buta
dan tidak bertanya, "kok negara saya kaya, tapi tetap aja ada yang melarat??"
Do you ever get my point? Belajar fisika itu kudu, tapi mengenal seluk beluk
negara sendiri sangat harus.>>
Jeff:
Kenapa isu komunis selalu ada? Lho mas, memang ada kok. Memangnya kalau PRD
dibiarkan berkembang nggak akan berubah menjadi paham komunis? Hehehe....
Yang jelas memang Fretilin berpaham kekiri-kirian. Lebih tegasnya kalau di
Indonesia ya kayak PRD itu. Paham sosialis tidak sama eksak dengan paham
komunis, tapi kedua paham itu mempunyai daerah intersek yg luas.
DS:
<< Ini lagi anda bawa2 PRD. Apa dosanya PRD sekarang ? Kalau nggak ada PRD,
nggak bakalan ada tuh ignition for reformasi. Komunis itu apa sebenarnya ?
Saya seorang sosialis, tapi saya baca apa yang ditulis oleh Hagel, Marx, dan
socialist lainnya sebelum saya digolongkan komunis. Istilah komunis yang anda
pakai adalah istilah komunis dangkal yang tidak layak menghuni otak saudara,
kalau ternyata saudara adalah seorang pelajar. Yang anda pakai adalah "awas
ini gue curigain, tumpas aja sebelum menjadi" ciri2 tipe pemikiran orde baru.
Orang kalau kekiri dikit kenapa coba ? Apakah saya murni setan kalau saya
memegang paham kekiri-kirian ? Kebebasan berpaham dan berkumpul sangat
diopress sekali di Indonesia. jangan gitu, jangan gini karena kemungkinan
bisa jadi begitu atau begini. Inikah moral modernisasi kita ? Inikah bibit
calon pengikut era globalisasi? Makanya PRD dimandikan isu2 PKI/komunis
supaya tidak disukai rakyat yang selama orde baru sudah tercuci otaknya oleh
propaganda anti east block, anti komunis ala Suharto dkk. Buktinya sekarang,
ketika PRD ikut PEMILU boleh2 saja, kenapa ? karena pemerintah tidak punya
bukti kuat untuk menjatuhkan PRD. Titik.>>
Jeff:
Oya, jangan lupa, orang AS sekarang agak alergi kalau kita ngomong
'komunis', mereka lebih senang nyebut 'leftist'. Jangan sampai terperosok
kayak saya....hehe....;)
DS:
<< Siapa bilang? Saya tidak terperosok tuh. Terperosok karena menyamakan
komunis dan ateisme kali ya? >>
Jeff:
Balik lagi masalah isu komunis. Kalau enggak ada issue komunis, kenapa AS
nyuruh RI masuk ke sana? Kenapa AS nyuruh Indonesia masuk? Jelas karena
mereka habis ketanggor dan kalah di Vietnam, sehingga mereka nggak mau lagi
ada calon negara komunis. Australia juga ikut merasakan getirnya perang
Vietnam. Makanya mereka diam saja.
DS:
<< Karena takut paham komunis, kita membunuh? Apa ini benar, apa anda setuju
jalan penyelesaian seperti ini ? >>
DS :
>Bila dipertanyakan, bagaimana posisi APODETI, UDT dan lain-lain sekarang
>ini
>? Tersiratkah adanya keinginan untuk bergabung dengan Indonesia dengan vote
>yang 78.5% pro independence? Kalau RI merasa benar, kenapa RI selalu
>menutup-nutupi sejarah ini sehingga mengklaim bahwa masalah Tim-Tim adalah
>masalah sensitif, kalau sensitif bukankah saatnya di selesaikan ?
Jeff:
APODETI, UDT, dll sudah bubar dong. Mereka kan sekedar partai-partai politik
kayak Indonesia yg punya 48 buah itu (sekarang tinggal berapa ya?). Dulu kan
sudah ada referendum juga. Masalahnya kelakuan orang bule kalau belum pisah
mereka minta referendum diulang terus. Persis kayak kelakuan PDIP yg kalau
Mega nggak terpilih minta Pemilu diulang terus.....sampai tua.
DS:
<< Nah jelas kan ? Mereka itu disusupkan oleh Indonesian army and government
juga untuk menggelar pro Indonesia. Kenapa kita musti lewat cara begini ??
Kenapa tidak buka2an dari pertama ? Munafik nggak tuh pemerintahan dan
militer kita?>>
Jeff:
Masalahnya waktu kan berbicara. Ya kayak orang pacaran saja lah. Dulu si
cowok ngudag-ngudag supaya ceweknya mau. Giliran ceweknya mau lalu pacaran
lalu ribut, sibuk deh si cowok cari alasan buat putus. Ngelempar gelas
lah... sengaja bawa cewek lain lah. Ini sana dengan APODETI, UDT tadi.
DS:
<< Jangan di sama-samakan seperti itu bung. Kayak saya bilang diatas tadi,
istilah kawin paksa. Kemenangan Fretilin tidak disukai oleh Indonesia,
mangkanya ketika civil war berlangsung antara Fretilin dan UDT (yang satu ini
merasa jago karena merasa didukung unsur2 indonesia), para refuge yang
merambat (didesak oleh Fretilin) ke West Timor diharuskan menanda tangani
petisi integrasi supaya selamat. Tapi tetap saja, mayoritas waktu itu adalah
pro kemerdekaan--coba baca TIMOR: A PEOPLE BETRAYED,oleh James Dunn 1983. Ini
memuat cerita tentang awal invasi militer kita waktu itu>>
Jeff:
Yang jelas Horta itu yang dulu kasak-kusuk agar RI masuk ke sana. Setelah
Adam Malik bilang okay, dia lalu mendirikan Fretilin itu. Nah, UDT yg dari
dulu pengen gabung dengan Portugal merasa terancam kok Fretilin malah
ujungnya mendeklarasikan kemerdekaan Timtim sendirian. Padahal gua kan
pengen jadi presiden juga. Nah ironis kan kalau UDT malah akhirnya ngungsi
ke NTT, dan membiarkan Fretilin termasuk Horta berkuasa. Ini sama kan dengan
trik-trik PDIP, Poros Tengah, dan Golkar? Mbuleeeeettt terus. Singkat kata
partai- partai tersisih itu bergabung dan minta bantuan RI untuk menggebug
Fretilin yg sudah kurang ajar meninggalkan mereka untuk berkuasa sendiri.
Eeee...jangan lupa mereka sudah konflik senjata lho. Skalanya jelas jauh
lebih berat dari sekedar gebuk dan bunuh antara PKB vs. PPP masa kampanye
dulu (Juga PDIP vs. Golkar). Kalau yg ini jelas hasil dari Portugal yg nggak
mau ngurusin Timtim.
DS:
<< Ini dia yang salah. Ramos itu tidak membentuk Fretilin . Fretilin itu
adalah the Revolutionary Front for an Independent Timor yang mayoritasnya
sebelumnya adalah ASDT, the Association of Timorese Social Democrats,
didirikan karena mencium adanya bau busuk dari Indonesia. Kesimpulannya,
Fretilin itu menjadi milisi karena ada bahaya dari luar. APODETI (Timorese
Popular Democratic Pary) inilah sebenarnya culprit perpecahan karena mereka
getol sekali bergabung dengan Indonesia karena sudah diiming-imingi extra
kekayaan dan kemerdekaan, plus telah dimasuki intelijen2 dari indonesia. UDT
setelah kekalahannya dari Fretilin pun akhirnya decide untuk bergabung
setelah melihat kebrutalan pasukan kesayangan kita di Tim-Tim.>>
Jeff:
Rakyat Timtim memihak yang mana? Lho jangan nanya. Sama dengan rakyat RI ada
yg mihak Golkar, PDIP, PAN, dlsb. Nah, Fretilin waktu itu memang lebih
populer relatif thd yg lain. Persis deh kayak PDIP.
DS:
<< Kalau anda sering baca koran, pasti tau kan, yang menang baru2 ini bukan
partai tapi rakyat, Rakyat memilih merdeka ... Tidak ada hubungannya dengan
partai2. Saat ini, rakyat Tim-Tim tidak mau mengulang kesalahan yang lalu.
Yang penting merdeka dulu lah baru kita mendirikan partai2. Jadi, jangan kita
bikin suara2 bahwa mereka lebih suka bergabing dengan indonesia, kita harus
bisa mengakui kedaulatan negara lain kalau mau diakui kedaulatan kita
sendiri.>>
Jeff:
Akhirnya partai yg lebih kecil tapi banyak gabung dengan RI, membentuk
deklarasi Balibo itu. Jelas ada juga partai lain yg membela Fretilin
(Namanya dulu adalah ASDT).
DS:
<< sudah diexplain diatas>>
Jeff:
Singkat cerita RI masuk, bikin referendum lalu pada milih integrasi. Nah,
memang dari awalnya visinya berbeda, UDT yg dari awal pengen gabung sama
Portugal akhirnya berkianat. Maklum, musuh utamanya yaitu Fretilin barusan
ditumpas, jadinya mereka nggak takut lagi. Jadilah bekas kawan ini saling
perang dengan TNI. UDT itu partai nomor dua terbesar deh (kalau nggak
salah).
DS:
<< sudah dijelaskan diatas, tapi biar saya tambahkan. UDT itu menolak cara2
yang dipakai oleh pemerintah kita. Makanya UDT mencoba mengalahkan Fretilin
dalam perang saudara supaya komunisme bisa terhapus dari ketakutan pemerintah
indonesia dan luar negeri dan supaya tidak terjadi invasi. Dalam hal ini
pemerintah kita juga yang meniupkan isu-isu pengkhianatan terhadap koalisi
UDT and Fretilin yang waktu itu jelas2 mengalahkan APodeti. Walhasil, karena
kalah dari Fretilin, UDT hanya bisa menonton dari luar ketika tentara2 kita
menyerbu Tim-Tim. Sejak itu pula pemerintah Indonesia tidak menginginkan ada
pengaruh Fretilin dan UDT di dalam Timor-Timur. APODETI menjadi penerima
finance dari Indonesia dan kemudian meraja lela sampai sekarang, tapi tidak
lagi memakai nama APODETI. Gimana, cukup jelas nggak? Dan benar, UDT itu yang
terbesar setelah ASDT/Fretilin.>>
Jeff:
Setelah itu, ya kayak perkawinan saja. Kebetulan waktu jaman Murdani memakai
tangan besi. Siapa yang macem-macem hajar bleh. Apa salah? Situasinya emang
kayak gitu. Lha anak buahnya habis beribu-ribu hanya untuk ngebantuin
mereka, setelah berhasil kok ngomongnya lain lagi. Yang mati kan nggak bisa
hidup lagi. Mungkin gitu pikirannya Murdani. Tentu saja tidak selamanya
ribut terus.
DS:
<< Ya salah dong!! Bisa dibawa ke war crime nih yang begini ini modelnya.
Yang macam2 sikat saja. Negara hukum, negara pancasila, kalau yang model
begini di dukung2 habis pulalah kita. Gila aja, nggak heran kita orangnya
nrimo aja dipermainkan sama tentara! Coba baca lagi tulisan anda sendiri,
malu-maluin amat punya tipe pemikiran sedangakal itu. Yang macam2 sikat saja
.... pengadilannya mana dulu dong? Pembenaran, pembenaran ... gaya pemikiran
orde baru>>
Jeff:
Masalah sensitif? Ya jelas dong sensitif. Sudah tahu kan akal-akalan pihak
luar yang ingin merongrong. Ini persis lah kayak orang kawin. Kalau suami
istri cekcok karena istri minta uang tambahan belanja jelas si suami akan
marah kalau ada saudara nyebar-nyebarin berita cekcok ke mana-mana. Banyak
orang yg seneng pasangan lain cerai kan? Apalagi kalau istrinya cantik.
Huuu... pada sibuk deh merongrongnya.
DS:
<< Jeff, orang itu kalau sensitif harus berani memperlihatkan diri kenapa sens
itif. Bukan malah menutup diri seperti masa orde baru itu. Gara2 US sama
indonesia aja teman baik banget makanya kita bisa "get away" with this.
Again, kalau suaminya main kawin paksa ...>>
DS:
>memberitahu rakyat Indonesia bahwa TIm-Tim itu tidak diakui sebagai
>bagian/propinsi Indonesia dari dulu-dulu? Dan yang paling penting, apakah
>Desember 7 1975 itu adalah peristiwa invasi atau integrasi ? Adakah
>integrasi
>yang meminta nyawa dan darah? Sekarang mari kita minta jawaban tegas dari
>pusat. Time for truth is here.
Jeff:
Ah, masak anda nggak tahu. The truth is out there. Tidak ada yg
menyembunyikan kayak di X-files. Cukup berusaha sedikit lebih keras anda
akan menemukan the truth itu. Perasaan pemerintah sering sekali menulis
masalah komplain PBB masalah Timtim.
DS:
<< What did we do about it ? Not until semuanya terbongkar habis. Kalau
ekonomi kita tidak anjlok, kalau kesadaran politik dari luar dan dalam tidak
menekan kita terus menerus, niscaya Tim Tim bakalan terus dijajah. Kita
akhirnya menjadi terpaksa membuka diri. UN pun selalu mendesak, dasar
Indonesia dengan masalah "sensitif" nya aja yang sok jagoan>>
Jeff:
Lho, kenapa kalau proses integrasi nggak perlu darah? Siapa yang bilang
gitu? Texas butuh darah berapa orang untuk integrasi ke AS. Demikian juga
dengan wilayah California. Berapa banyak orang Meksiko yang harus mati?
Istilah invasi atau integrasi tergantung dari mana kita memandang. Dari
pihak UDT, APODETI, KOTA jelas serangan ini adalah peristiwa integrasi. Buat
Fretilin adalah invasi. Sama dengan proses masuknya Texas, bagi orang
Meksiko jelas invasi, bagi AS jelas mereka membantu para settler yg minta
bantuan Washington. Jangan gampang main hitam putih dulu ah.....;). Tidak
ada yg kayak gitu.
DS:
<<Perlu anda ketahui, Meksiko belum ada waktu itu. Yang ada itu perang antara
Spanish kolonial lawan American settler. Mereka juga nggak bilang ini adalah
integrasi, tapi aneksasi persis kayaka Indonesia Tim-Tim. Saya juga nggak
bilang bahwa apa yang dilakukan Amerika dulu adalah benar. But again, nggak
ada hubungannya.
Invasi adalah suatu kesalahan kita, Sudah berapa kali saya ulang2 ini. Pihak
UDT, APODETI dan lain lain itu dipaksa menanda tangani petisi macam2 karena
mereka kalah melawan Fretilin plus ditakut2in dengan isu komunisme. Dalam
masalah ini, hitam adalah hitam, putih adalah putih. Ingat slogan lama kita ,
"Merdeka atau mati " itulah yang dirasakan 78.5% masyarakat Tim-Tim sampai
mereka 95% dari yang terdaftar dengan relanya jalan ber-mil-mil dari desa
satu ke desa lainnya untuk menentukan nasib kemerdekaan mereka>>
JEff:
Yang jadi masalah bila RI sedang berusaha memperbaiki hubungan, lalu ada
pihak luar yang mengipas-kipas bahwa suami ringan tangan lah, tidak pernah
memberi nafkah batin lah. Jadinya hubungan keluarga (dalam negeri) akhirnya
menjadi urusan semua orang.
DS:
>Kalau anda kritis, silahkan jawab pertanyaan di atas.
Jeff:
Kalau anda kritis tentu anda akan mencari jawab sendiri, dan mengambil
referensi kejadian seluruh dunia. Sebagai latihan, bagaimana kalau anda ada
pada posisi anak dari suami-istri yg lagi ribut berat, apa mau urusannya
dicampuri sama tetangga? Anda lalu pindah posisi sebagai tetangga, apa yg
anda kerjakan kalau ada suami-istri sebelah rumah berantem?
DS:
<<Kekritisan saya adalah kemauan saya melihat bahwa pemerintahan dan angkatan
bersenjata kita telah takabur dimasa lampau. Apa anda tidak kasihan sama
tentara2 yang dilatih minim trus dikirim ke Tim-Tim hanya untuk jadi korban
peluru milisi Fretilin? Kita tidak ribut sama Timor-Timur oke ? Kita itu
menginjak-injak hak asasi orang disana. Peristiwa Santa Cruz pun adalah
awalnya dari kecurigaan TNI pada kebebasan berkumpul rakyat Tim-Tim. Sebastio
Gomes pun dibunuh digereja sewaktu mengadakan kumpulan bersama dengan
rekan2nya. Apakah ini melambangkan PANCASILA yang selama ini
didengung-dengungkan? Seorang anak pun kalau berpendidikan tidak akan diam
saja jika menyaksikan orangtuanya berselisih dan berantem. Begolah jadi
orang. Anak (anda metaforkan sebagai kita2 ini kan?) yang begini yang
diagung2kan di Indonesia? Kekritisan saya adalah dengan mengajak anda untuk
membuka mata lebih lebar. Jangan keterusan mengadakan pembenaran dengan
memakai semangat nasionalisme buta anda, ini bisa jadi penyakit.>>
Jeff:
Menurut saya, LSM HAM mirip dengan organisasi pengawas woman abuse. Selalu
siap campur tangan rumah tangga orang. Sedangkan ETAN mirip dengan pihak
ketiga yang ingin suami-istri cerai. Yang jadi masalah, di AS organisasi
pengawasan/bantuan untuk istri yg di-abuse bisa diterima. Di Indonesia, hal
ini jelas tidak dapat dibenarkan. Semua mempunyai nilai-nilai tersendiri
mas.....;) Ini yg dilupakan oleh negara-negara barat yg merasa nilai-nilai
mereka yg terbaik dan akan cocok diterapkan di negara mana saja. Ya bubar
deh.....;)>
DS:
<<Nilai2 tersendiri apaan ? Pake common sense nggak anda itu jeff ? Katanya
kita mengakui HAM dan menjunjung tinggi. Lho kok pake nilai2 tersendiri ? Tsk
tsk tsk ... sisa-sisa warna orde barulah tulisan diatas. Nilai2 apa pula yang
anda maksudakn dengan nilai2 barat kalau saya boleh tahu? Indonesia kok
membolehkan diri melanggar sini dan situ tanpa mempertimbangkan dimana ia
berada. Nggak heran KKN boleh dimana2 ... wong nilai2 tersendirinya ada. Ya
nggak? Kalau kita perlu memaparkan nilai2 kita, mana mau lihat apa yang kita
banggakan ? Perih juga saya melihat sick nasionalism seperti ini. Negara kita
tidak akan bisa bertobat kalau mental2 seperti ini masih aja exist dimana2.
Nilai luhur pemerintahan/tni kita sekarang apa ? Berani mengaku salah scara
ksatria nggak ? Atau terus berkelit2 kayak ulat diterik matahari dan
diketawain negara2 luar? Saya rasa tidak. Kita semua harus bangun dan
membangunkan pemerintahan kita.>>
Selamat berjuang ,
Donald
PS: This is such a long reply. Anda lewat japri saja kalau masih pengin terus
debat dengan saya Jeff. :)