>From: Yusuf-Wibisono <[EMAIL PROTECTED]>
> >Terus terang saya sangat kecewa dengan Gus Dur. Gus Dur yang saya
>bela-bela.
> >Gus Dur yang PKB-nya saya coblos kemudian saya maki-maki karena malah
> >merangkul PDIP. Sekarang Gus Dur yang satu bulanpun belum beres sudah
> >membuat keputusan ngaco.
>
>Yw: Keputusan ngaco tidaknya itu bisa dilihat nanti,
>     bukan sekarang. Sabar dulu, lah. Kontroversial, mungkin
>     saja, tapi kalo dibilang ngaco... sepertinya anda
>     menujum masa depan. ;-)

JA: Untuk tahu sesuatu ngaco tidak perlu menunggu oom.

> >Kemarin saya masih mengira para penasihat macam Hikam yang jadi menteri
> >bermodal bapaknya yg santri itu yang mempengaruhi Gus Dur.
>
>Yw: Bermodal bapaknya yg santri? Jangan berprasangka, Bung.
>     Gus Dur sudah kenal ybs. long ago. He knows a lot of thing
>     (that you don't know)(about that particular guy).

JA: O Yeah? Of course wong anaknya pimpinan pesantren.
    Jelas kenal mas.

> >Kalau departemen ngaco sih hampir semua juga ngaco.
>
>Yw: Tapi ada yg 'bernilai strategis', ada yg tidak... ;-)

JA: Justru itu harus dilihat dulu, dipresentasikan dulu. Bukan
    main hajar bleh gitu. Emang kayak telkom itu strategis? Strategis
    menurut siapa? Nggak tahu kan?


> >Kalau ada pejabat memasukkan perempuan ke kantor sih dari dulu pasti ada.
> >Tetapi ini BUKAN alasan untuk membubarkannya.
>
>Yw: MEMANG BUKAN! Emangnya yg bilang itu alasan pembubaran siapa?

JA: Ah, Gus Dur kan yang bilang tho mas.

> >Jelas Deppen lebih berpeluang dengan skandal
> >wanita karena juga melingkupi dunia hiburan macam TVRI. Juga Aneka Ria
> >Safari dulu itu. Kantor di mana TVRI terletak (dekat senayan) juga sering
> >dipakai rendesvouz bagi kalangan penyeleweng yg paling populer setelah
> >Ancol. Tetapi ini bukan alasan untuk membubarkannya!
>
>Yw: Ya, kalo gitu faktanya, ya udah bener dong dibabat aja. ;-)
>     Tanya dikit: apakah bagi anda, itu semua oke-oke aja?

JA: Kalau mau dibabat sih jelas Deparpostel yang sudah diobok-obok
    gay dong ah. Justru itu mesti dibersihkan. Kalau mau model babat
    babatan tidak ada yg slamet mas.

> >Kemarin saya sudah tulis kalau pejabat baru itu harus orientasi dulu.
>
>Yw: Siapa yg mengharuskan?

JA: Pejabat baru di kantor anda nggak pernah orientasi dulu gitu?
    Pantes nggak pernah untung. Buntunggggg terus.

> >Minta para bawahan menjelaskan programnya, setiap bawahan presentasi.
>
>Yw: Bawahan tahu apa? Siapa yg punya visi?
>     Kalo terus bawahannya status quo-an semua gimana? Ancur, dong.
>
>     Yang presiden emangnya siapa?
>     Tiap-tiap orang punya cara terbaiknya masing-masing.
>     Kalo anda punya cara itu, okelah, silakan diterapkan nanti
>     kalo anda sempat jadi presiden.
>

JA: Lho, bawahan jelas tahu banyak. Mereka ini yang melaksanakan tugas
    sehari-hari. Masak pejabat lama mesti mentraining pejabat baru? Ya
    jelas para bawahan ini yang harus ngasih tahu pejabat baru.
    Yang jelas-jelas status quo semua adalah semua pegawai telkom tuh.
    Ngabis-ngabisin dana doang. Ngawur aja main bilang status quo
    semua. Ini namanya baru main generalisasi yg nggak ketahuan
    juntrungannya. Ini boleh dikata sebagai fitnah.

    Ini bukan masalah visi baru, ini masalah apa yg sudah dilakukan
    di masa lalu, tantangan yg ada, dan visi yg sedang
    dilaksanakannya. Untuk hal ini sampai eselon IV juga tahu bung.
    Sementara itu yg mesti presentasi cukup existing menteri dibantu
    para dirjen (eselon I). Emang di Telkom orang sekelas seperti elu
    nggak tahu visi perusahaan? Pantes saja buntung mulu.....:)


> >Setelah itu baru si pejabat baru bikin kebijakan baru. Ini adalah
> >prosedur standar!
>
>Yw: Tidak ada yg standar dalam strategic leadership.
>     Kalo leader yg levelnya mandor bangunan, ya pake standar-
>     standaran; tapi kalo top level, everything is unstructured.

JA: Nope, semua dimulai dengan koleksi data. Tidak hanya kelas mandor
    ataupun kelas presiden. Semua harus dilengkapi data, baik data
    mati atau data berjalan.

> >Kalau benar Gus Dur tidak butuh penasihat, berarti memang Gus Dur
>orangnya
> >bodo.
>
>Yw: Tapi nyatanya dia butuh. Jadi dia orangnya pinter, gitu maksudnya?

JA: Dia bilang keputusan diambil oleh dia seorang berdasarkan
    pengamatan 30 tahun.

>
> >Adalah manusiawi kalau setiap orang tidak mampu menguasai semua hal
> >dan tahu semua hal. Adalah bijaksana bagi orang dalam untuk melihat
>rumahnya
> >dari luar. Sebaliknya adalah bijaksana bila orang luar memerlukan masuk
>dulu
> >ke rumah untuk mengetahui tentang seluk beluk rumah itu. Bukan cuma
>melihat
> >dari luar lalu main cap rumahnya bobrok sehingga mesti diratakan dengan
> >tanah!
>
>Yw: Mau langsung diratakan dg tanah juga bisa aja (dan sering terjadi);
>     apa salahnya, wong dia yg mimpin rumah itu... ;-)

JA: Nah ini yang bikin kacau. Kepemimpinan model diktator kok mau
    diteruskan. Yang sering terjadi adalah sistem diktator, lalu apa
    gunanya arus reformasi?


>     Pemimpin yg besar itu (menurut saya) justru jangan terlalu
>     ngeliat detil (pake anak buah disuruh presentasi satu-satu
>     segala).

JA: Itu adalah pandangan "klasik konon kabarnya".
    Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang mampu menseleksi mana
    yang harus dilihat secara detil dan mana yang cukup di-skimming.
    Justru pemimpin-pemimpin besar yang dikisah-kisahkan selalu mampu
    menyerap penjelasan detail yang diperlukan. Mereka ini melihat
    dulu secara keseluruhan, baru menanyakan sesuatu yg maha penting
    sedetil-detilnya. Churchil kayak gitu, Yamamoto kayak gitu,
    Sukarno saja kayak gitu. Hitler awalnya gitu makanya kemenangannya
    gilang gemilang. Belakangan jadi ngawur karena mengabaikan
    penjelasan bawahannya, dan merasa mampu menjadi military
    strategist sendiri. Ini adalah contoh orang yg berubah sombong,
    dan tidak mau menanyakan pada ahlinya.

    Dalam kasus departementasi, tidak ada yang detail. Semua ada
    waktunya. Hanya kurang dari 40 menteri, semua bisa selesai dalam
    waktu satu minggu atau mungkin 3 hari. Toh para menteri ini sudah
    sering menjelaskan hal serupa kepada DPR sehingga tidak butuh
    waktu yg lama untuk mempersiapkan materi. Sekarang ini Gus Dur
    boro-boro tahu dalamnya. Luarnyapun nggak tahu. Lagi pula kan ada
    executive summary.

Jeffrey Anjasmara

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke