> >JA: Untuk tahu sesuatu ngaco tidak perlu menunggu oom.
>
>Yw: Not always. Kalo nggak percaya, silakan lihat di kantor
>     pulisi. Para korban-korban yg tertipu dg berbagai cara,
>     semuanya baru tahu setelah beberapa waktu, tidak instan.
>     Jadi, mereka (yg pada ketipu) perlu waktu utk tahu
>     bahwa sesuatu ngaco.
>
>     Jadi validitas kalimat anda di atas sudah terbukti. ;-)

JA: Lho kalau kalimat saya memang valid dari kemarin dulu. Yang nggak
    valid adalah kalimat anda. "Not always" menunjukkan sesuatu yg
    sifatnya irregularity. Jadi ada juga yang berlaku umum.

>Yw: Ya, itulah yg namanya praduga.

JA: Mas, Hikam pulang tahun 1995, dari keluarga pemilik pesantren
    beken. Tidak mempunyai prestasi yg membanggakan.

>Yw: Jadi dia bilang: Deppen dibubarkan karena dan hanya karena
>     ada pejabat memasukkan perempuan ke kantor, gitu? Kapan bilangnya?
>     Salah denger kali...

JA: Lho, Gus Dur yang bilang begitu. Masalah itu alasan satu-satunya
    atau bukan Gus Dur lebih tahu dong. Mungkin juga memang cita-cita
    sejak 30 tahun yg lalu. Siapa yg tahu.

> >JA: Kalau mau dibabat sih jelas Deparpostel yang sudah diobok-obok
> >    gay dong ah. Justru itu mesti dibersihkan. Kalau mau model babat
> >    babatan tidak ada yg slamet mas.
>
>Yw: Tepat. Emang Deparpostel sekarang udah nggak ada.

JA: Bagaimana dengan Depkeu? Bagaimana dengan Dep PU? Banyak yg lain.
    Intinya bukan masalah kalau ada skandal lalu departemen harus
    dibongkar. Apakah anda punya pendapat seperti itu?

> >> >Kemarin saya sudah tulis kalau pejabat baru itu harus orientasi dulu.
> >>
> >>Yw: Siapa yg mengharuskan?
> >
> >JA: Pejabat baru di kantor anda nggak pernah orientasi dulu gitu?
> >    Pantes nggak pernah untung. Buntunggggg terus.
>
>Yw: Nggak bisa jawab, kan? Nyerah? Siapa yg mengharuskan?
>     Kan nggak ada. Orientasi itu TIDAK HARUS (bagi pejabat baru).
>     Umumnya memang orientasi, tapi TIDAK HARUS.
>
>     Contohnya yg nggak perlu: sebelum diangkat jadi pejabat, ybs.
>     sudah well informed ttg banyak hal... begitu diangkat jadi
>     pejabat, ya nggak perlu orientasi lagi lah yau... wuuuu, wuuu,
>     kukuruyuk.... ;-)

JA: Hahaha.... anda sudah tahu ke mana kalimat saya merefer. Jangan
    sekedar mengundang debat kusir. Mari kita lihat hal yang umum.
    Apakah Gus Dur well-informed? Tour of duty di head quarter saja
    butuh orientasi kok, apalagi orang dari luar pemerintahan lalu
    jadi presiden. Jangan waa wuuu...., malu dengan gelar anda ah.
    Mana dari univ. demikian terhotmat di dunia lagi.....:)

> >JA: Lho, bawahan jelas tahu banyak.
>
>Yw:  Tentang visinya Gus Dur? I don't think so.
>      Siapa Gus Dur aja mereka pasti banyak yg belum kenal.

JA: Haha.... jangan potong kalimat saya hanya untuk memenangkan debat.
    Dari kemarin saya tidak bilang para menteri (demisioner) harus
    tahu visi Gus Dur. Ini tidak relevan. Kalau mau jujur, justru
    setiap presiden sudah harus mengeluarkan visinya sebelum terpilih.
    Dalam kasus presentasi, rencana ke depan (dari periode sebelumnya)
    jelas harus disampaikan. Jadi semuanya, dari yg lalu, saat ini,
    dan rencana ke depan.

> >    Yang jelas-jelas status quo semua adalah semua pegawai telkom tuh.
>
>Yw: Asik, asik. Perlu direformasi kalo begitu. ;-)

JA: After you got your MBA? O yeah.....:) Totally, absolutely,
    definitely, you are right my man.

> >JA: Nope, semua dimulai dengan koleksi data. Tidak hanya kelas mandor
> >    ataupun kelas presiden. Semua harus dilengkapi data, baik data
> >    mati atau data berjalan.
>
>Yw: Lha, emangnya selama puluhan tahun ini Gus Dur
>     nggak koleksi Informasi? Wiranto nggak koleksi Informasi?
>     Mega, Amien Rais, Akbar tanjung nggak koleksi Informasi?
>     Tiduurrrr kali ya....

JA: Hahaha, seberapa valid koleksi informasinya Gus Dur? Seberapa luas
    cakupannya? Dari ucapan Gus Dur yg menyinggung-nyinggung masalah
    wanita, saya mendapat indikasi bahwa keputusan tidak dibuat secara
    profesional.

> >JA: Dia bilang keputusan diambil oleh dia seorang berdasarkan
> >    pengamatan 30 tahun.
>
>Yw: Lha, itu ente baru bilang harus koleksi data, nyatanya
>     dibantah sama ente sendiri... ternyata sudah dilakukan.
>     Pegimana, nih, lenong?

JA: Kembali lagi, koleksi datanya macam apa? Anda jangan lepas dari
    konteks. Koleksi data Gus Dur selama 30 tahun menyimpulkan bahwa
    pemerintah tidak boleh melakukan penerangan. Justru masyarakat
    yang melakukan penerangan. Ini adalah konsep yang salah. Sifat
    informasi harus dua arah. Lagi pula ucapan Gus Dur entah ke mana
    arahnya. Apa maksudnya masyarakat yg melakukan penerangan?

>Yw: Represif itu kadang-kadang perlu, Mas.
>     Setuju nggak? Pasti setuju deh kalo anda berpikiran luas dan luwes.

JA: Hohoho....jelas perlu. Justru saya yang paling sering berpendapat
    demikian. Cuma lihat-lihat penerapannya. Contoh tindakan represif
    yg perlu tetapi tidak diambil adalah kasus Sambas dan kasus Ambon.
    (Sayang malah Ambon jadi komoditas petualangan politik). Keputusan
    yang diambil secara tak profesional tidak boleh dipertahankan
    mati-matian (apalagi dengan tindakan represif kepada pemrotes).

> >JA: Itu adalah pandangan "klasik konon kabarnya".
> >    Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang mampu menseleksi mana
> >    yang harus dilihat secara detil dan mana yang cukup di-skimming.
>
>Yw: Exactly. That's what I said. Kalo dia anggep dalam nyusun kabinet,
>     nggak perlu presentasi satu-satu, tapi cukup kumpulin lima orang
>     yg dipercaya sebagai kredibel... ya orang lain nggak perlu sampe
>     mencret-mencret minta anak buahnya presentasi satu-satu, gitu, kan?
>
>     Ngerti juga, akhirnya. ;-)

JA: That's what I said. Kelima orang itu kredibel atau enggak? Ini
    sudah saya tulis di email pertama. Penasihatnya hanya dua yang
    kemarin mengerti SEBAGIAN masalah yaitu Akbar dan Wiranto. Tapi
    itupun lihat dulu posisi tawar dari nasihat mereka sebagai akibat
    posisi mereka sebagai loser. Harusnya justru orang di luar
    kepartaian dan tahu seluk beluk urusan yg ditanyai. Jelasnya para
    menteri yg demisioner itu yg dibackup oleh para dirjen (karena
    kabinet reformasi yg cuma seumur jagung memungkinkan menteri tidak
tahu secara lengkap).

    Anda ini gimana? Anda yang nggak ngerti. Justru kelima orang ini
    sebagian tahu secara global, sebagian lagi tidak tahu apa-apa.
    Jadi Gus Dur harus bertanya kepada orang yg lebih tahu. Apalagi
    keputusan penghapusan departemen adalah keputusan penting. Jelas
    sikap kehati-hatian yg makin perlu ditonjolkan. Bukan hajar bleh
    gitu.

Jeffrey Anjasmara

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke