Yang kingkong yang mana bung Budi? he.....he....he..... juga

Salam,
Dika

>From: Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: Hati hati dengan Gus-Dur
>Date: Fri, 29 Oct 1999 09:33:03 -0700
>
>He.... he..... he......,
>King Kong lu lawan...... (kata mendiang Benjamin S.)
>
>Salam,
>Budi
>
>
>At 11:22 AM 10/29/99 -0400, you wrote:
> >> >JA: Untuk tahu sesuatu ngaco tidak perlu menunggu oom.
> >>
> >>Yw: Not always. Kalo nggak percaya, silakan lihat di kantor
> >>     pulisi. Para korban-korban yg tertipu dg berbagai cara,
> >>     semuanya baru tahu setelah beberapa waktu, tidak instan.
> >>     Jadi, mereka (yg pada ketipu) perlu waktu utk tahu
> >>     bahwa sesuatu ngaco.
> >>
> >>     Jadi validitas kalimat anda di atas sudah terbukti. ;-)
> >
> >JA: Lho kalau kalimat saya memang valid dari kemarin dulu. Yang nggak
> >    valid adalah kalimat anda. "Not always" menunjukkan sesuatu yg
> >    sifatnya irregularity. Jadi ada juga yang berlaku umum.
> >
> >>Yw: Ya, itulah yg namanya praduga.
> >
> >JA: Mas, Hikam pulang tahun 1995, dari keluarga pemilik pesantren
> >    beken. Tidak mempunyai prestasi yg membanggakan.
> >
> >>Yw: Jadi dia bilang: Deppen dibubarkan karena dan hanya karena
> >>     ada pejabat memasukkan perempuan ke kantor, gitu? Kapan bilangnya?
> >>     Salah denger kali...
> >
> >JA: Lho, Gus Dur yang bilang begitu. Masalah itu alasan satu-satunya
> >    atau bukan Gus Dur lebih tahu dong. Mungkin juga memang cita-cita
> >    sejak 30 tahun yg lalu. Siapa yg tahu.
> >
> >> >JA: Kalau mau dibabat sih jelas Deparpostel yang sudah diobok-obok
> >> >    gay dong ah. Justru itu mesti dibersihkan. Kalau mau model babat
> >> >    babatan tidak ada yg slamet mas.
> >>
> >>Yw: Tepat. Emang Deparpostel sekarang udah nggak ada.
> >
> >JA: Bagaimana dengan Depkeu? Bagaimana dengan Dep PU? Banyak yg lain.
> >    Intinya bukan masalah kalau ada skandal lalu departemen harus
> >    dibongkar. Apakah anda punya pendapat seperti itu?
> >
> >> >> >Kemarin saya sudah tulis kalau pejabat baru itu harus orientasi
>dulu.
> >> >>
> >> >>Yw: Siapa yg mengharuskan?
> >> >
> >> >JA: Pejabat baru di kantor anda nggak pernah orientasi dulu gitu?
> >> >    Pantes nggak pernah untung. Buntunggggg terus.
> >>
> >>Yw: Nggak bisa jawab, kan? Nyerah? Siapa yg mengharuskan?
> >>     Kan nggak ada. Orientasi itu TIDAK HARUS (bagi pejabat baru).
> >>     Umumnya memang orientasi, tapi TIDAK HARUS.
> >>
> >>     Contohnya yg nggak perlu: sebelum diangkat jadi pejabat, ybs.
> >>     sudah well informed ttg banyak hal... begitu diangkat jadi
> >>     pejabat, ya nggak perlu orientasi lagi lah yau... wuuuu, wuuu,
> >>     kukuruyuk.... ;-)
> >
> >JA: Hahaha.... anda sudah tahu ke mana kalimat saya merefer. Jangan
> >    sekedar mengundang debat kusir. Mari kita lihat hal yang umum.
> >    Apakah Gus Dur well-informed? Tour of duty di head quarter saja
> >    butuh orientasi kok, apalagi orang dari luar pemerintahan lalu
> >    jadi presiden. Jangan waa wuuu...., malu dengan gelar anda ah.
> >    Mana dari univ. demikian terhotmat di dunia lagi.....:)
> >
> >> >JA: Lho, bawahan jelas tahu banyak.
> >>
> >>Yw:  Tentang visinya Gus Dur? I don't think so.
> >>      Siapa Gus Dur aja mereka pasti banyak yg belum kenal.
> >
> >JA: Haha.... jangan potong kalimat saya hanya untuk memenangkan debat.
> >    Dari kemarin saya tidak bilang para menteri (demisioner) harus
> >    tahu visi Gus Dur. Ini tidak relevan. Kalau mau jujur, justru
> >    setiap presiden sudah harus mengeluarkan visinya sebelum terpilih.
> >    Dalam kasus presentasi, rencana ke depan (dari periode sebelumnya)
> >    jelas harus disampaikan. Jadi semuanya, dari yg lalu, saat ini,
> >    dan rencana ke depan.
> >
> >> >    Yang jelas-jelas status quo semua adalah semua pegawai telkom tuh.
> >>
> >>Yw: Asik, asik. Perlu direformasi kalo begitu. ;-)
> >
> >JA: After you got your MBA? O yeah.....:) Totally, absolutely,
> >    definitely, you are right my man.
> >
> >> >JA: Nope, semua dimulai dengan koleksi data. Tidak hanya kelas mandor
> >> >    ataupun kelas presiden. Semua harus dilengkapi data, baik data
> >> >    mati atau data berjalan.
> >>
> >>Yw: Lha, emangnya selama puluhan tahun ini Gus Dur
> >>     nggak koleksi Informasi? Wiranto nggak koleksi Informasi?
> >>     Mega, Amien Rais, Akbar tanjung nggak koleksi Informasi?
> >>     Tiduurrrr kali ya....
> >
> >JA: Hahaha, seberapa valid koleksi informasinya Gus Dur? Seberapa luas
> >    cakupannya? Dari ucapan Gus Dur yg menyinggung-nyinggung masalah
> >    wanita, saya mendapat indikasi bahwa keputusan tidak dibuat secara
> >    profesional.
> >
> >> >JA: Dia bilang keputusan diambil oleh dia seorang berdasarkan
> >> >    pengamatan 30 tahun.
> >>
> >>Yw: Lha, itu ente baru bilang harus koleksi data, nyatanya
> >>     dibantah sama ente sendiri... ternyata sudah dilakukan.
> >>     Pegimana, nih, lenong?
> >
> >JA: Kembali lagi, koleksi datanya macam apa? Anda jangan lepas dari
> >    konteks. Koleksi data Gus Dur selama 30 tahun menyimpulkan bahwa
> >    pemerintah tidak boleh melakukan penerangan. Justru masyarakat
> >    yang melakukan penerangan. Ini adalah konsep yang salah. Sifat
> >    informasi harus dua arah. Lagi pula ucapan Gus Dur entah ke mana
> >    arahnya. Apa maksudnya masyarakat yg melakukan penerangan?
> >
> >>Yw: Represif itu kadang-kadang perlu, Mas.
> >>     Setuju nggak? Pasti setuju deh kalo anda berpikiran luas dan luwes.
> >
> >JA: Hohoho....jelas perlu. Justru saya yang paling sering berpendapat
> >    demikian. Cuma lihat-lihat penerapannya. Contoh tindakan represif
> >    yg perlu tetapi tidak diambil adalah kasus Sambas dan kasus Ambon.
> >    (Sayang malah Ambon jadi komoditas petualangan politik). Keputusan
> >    yang diambil secara tak profesional tidak boleh dipertahankan
> >    mati-matian (apalagi dengan tindakan represif kepada pemrotes).
> >
> >> >JA: Itu adalah pandangan "klasik konon kabarnya".
> >> >    Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang mampu menseleksi mana
> >> >    yang harus dilihat secara detil dan mana yang cukup di-skimming.
> >>
> >>Yw: Exactly. That's what I said. Kalo dia anggep dalam nyusun kabinet,
> >>     nggak perlu presentasi satu-satu, tapi cukup kumpulin lima orang
> >>     yg dipercaya sebagai kredibel... ya orang lain nggak perlu sampe
> >>     mencret-mencret minta anak buahnya presentasi satu-satu, gitu, kan?
> >>
> >>     Ngerti juga, akhirnya. ;-)
> >
> >JA: That's what I said. Kelima orang itu kredibel atau enggak? Ini
> >    sudah saya tulis di email pertama. Penasihatnya hanya dua yang
> >    kemarin mengerti SEBAGIAN masalah yaitu Akbar dan Wiranto. Tapi
> >    itupun lihat dulu posisi tawar dari nasihat mereka sebagai akibat
> >    posisi mereka sebagai loser. Harusnya justru orang di luar
> >    kepartaian dan tahu seluk beluk urusan yg ditanyai. Jelasnya para
> >    menteri yg demisioner itu yg dibackup oleh para dirjen (karena
> >    kabinet reformasi yg cuma seumur jagung memungkinkan menteri tidak
> >tahu secara lengkap).
> >
> >    Anda ini gimana? Anda yang nggak ngerti. Justru kelima orang ini
> >    sebagian tahu secara global, sebagian lagi tidak tahu apa-apa.
> >    Jadi Gus Dur harus bertanya kepada orang yg lebih tahu. Apalagi
> >    keputusan penghapusan departemen adalah keputusan penting. Jelas
> >    sikap kehati-hatian yg makin perlu ditonjolkan. Bukan hajar bleh
> >    gitu.
> >
> >Jeffrey Anjasmara
> >
> >______________________________________________________
> >Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
> >

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke