He.... he..... he......,
King Kong lu lawan...... (kata mendiang Benjamin S.)
Salam,
Budi
At 11:22 AM 10/29/99 -0400, you wrote:
>> >JA: Untuk tahu sesuatu ngaco tidak perlu menunggu oom.
>>
>>Yw: Not always. Kalo nggak percaya, silakan lihat di kantor
>> pulisi. Para korban-korban yg tertipu dg berbagai cara,
>> semuanya baru tahu setelah beberapa waktu, tidak instan.
>> Jadi, mereka (yg pada ketipu) perlu waktu utk tahu
>> bahwa sesuatu ngaco.
>>
>> Jadi validitas kalimat anda di atas sudah terbukti. ;-)
>
>JA: Lho kalau kalimat saya memang valid dari kemarin dulu. Yang nggak
> valid adalah kalimat anda. "Not always" menunjukkan sesuatu yg
> sifatnya irregularity. Jadi ada juga yang berlaku umum.
>
>>Yw: Ya, itulah yg namanya praduga.
>
>JA: Mas, Hikam pulang tahun 1995, dari keluarga pemilik pesantren
> beken. Tidak mempunyai prestasi yg membanggakan.
>
>>Yw: Jadi dia bilang: Deppen dibubarkan karena dan hanya karena
>> ada pejabat memasukkan perempuan ke kantor, gitu? Kapan bilangnya?
>> Salah denger kali...
>
>JA: Lho, Gus Dur yang bilang begitu. Masalah itu alasan satu-satunya
> atau bukan Gus Dur lebih tahu dong. Mungkin juga memang cita-cita
> sejak 30 tahun yg lalu. Siapa yg tahu.
>
>> >JA: Kalau mau dibabat sih jelas Deparpostel yang sudah diobok-obok
>> > gay dong ah. Justru itu mesti dibersihkan. Kalau mau model babat
>> > babatan tidak ada yg slamet mas.
>>
>>Yw: Tepat. Emang Deparpostel sekarang udah nggak ada.
>
>JA: Bagaimana dengan Depkeu? Bagaimana dengan Dep PU? Banyak yg lain.
> Intinya bukan masalah kalau ada skandal lalu departemen harus
> dibongkar. Apakah anda punya pendapat seperti itu?
>
>> >> >Kemarin saya sudah tulis kalau pejabat baru itu harus orientasi dulu.
>> >>
>> >>Yw: Siapa yg mengharuskan?
>> >
>> >JA: Pejabat baru di kantor anda nggak pernah orientasi dulu gitu?
>> > Pantes nggak pernah untung. Buntunggggg terus.
>>
>>Yw: Nggak bisa jawab, kan? Nyerah? Siapa yg mengharuskan?
>> Kan nggak ada. Orientasi itu TIDAK HARUS (bagi pejabat baru).
>> Umumnya memang orientasi, tapi TIDAK HARUS.
>>
>> Contohnya yg nggak perlu: sebelum diangkat jadi pejabat, ybs.
>> sudah well informed ttg banyak hal... begitu diangkat jadi
>> pejabat, ya nggak perlu orientasi lagi lah yau... wuuuu, wuuu,
>> kukuruyuk.... ;-)
>
>JA: Hahaha.... anda sudah tahu ke mana kalimat saya merefer. Jangan
> sekedar mengundang debat kusir. Mari kita lihat hal yang umum.
> Apakah Gus Dur well-informed? Tour of duty di head quarter saja
> butuh orientasi kok, apalagi orang dari luar pemerintahan lalu
> jadi presiden. Jangan waa wuuu...., malu dengan gelar anda ah.
> Mana dari univ. demikian terhotmat di dunia lagi.....:)
>
>> >JA: Lho, bawahan jelas tahu banyak.
>>
>>Yw: Tentang visinya Gus Dur? I don't think so.
>> Siapa Gus Dur aja mereka pasti banyak yg belum kenal.
>
>JA: Haha.... jangan potong kalimat saya hanya untuk memenangkan debat.
> Dari kemarin saya tidak bilang para menteri (demisioner) harus
> tahu visi Gus Dur. Ini tidak relevan. Kalau mau jujur, justru
> setiap presiden sudah harus mengeluarkan visinya sebelum terpilih.
> Dalam kasus presentasi, rencana ke depan (dari periode sebelumnya)
> jelas harus disampaikan. Jadi semuanya, dari yg lalu, saat ini,
> dan rencana ke depan.
>
>> > Yang jelas-jelas status quo semua adalah semua pegawai telkom tuh.
>>
>>Yw: Asik, asik. Perlu direformasi kalo begitu. ;-)
>
>JA: After you got your MBA? O yeah.....:) Totally, absolutely,
> definitely, you are right my man.
>
>> >JA: Nope, semua dimulai dengan koleksi data. Tidak hanya kelas mandor
>> > ataupun kelas presiden. Semua harus dilengkapi data, baik data
>> > mati atau data berjalan.
>>
>>Yw: Lha, emangnya selama puluhan tahun ini Gus Dur
>> nggak koleksi Informasi? Wiranto nggak koleksi Informasi?
>> Mega, Amien Rais, Akbar tanjung nggak koleksi Informasi?
>> Tiduurrrr kali ya....
>
>JA: Hahaha, seberapa valid koleksi informasinya Gus Dur? Seberapa luas
> cakupannya? Dari ucapan Gus Dur yg menyinggung-nyinggung masalah
> wanita, saya mendapat indikasi bahwa keputusan tidak dibuat secara
> profesional.
>
>> >JA: Dia bilang keputusan diambil oleh dia seorang berdasarkan
>> > pengamatan 30 tahun.
>>
>>Yw: Lha, itu ente baru bilang harus koleksi data, nyatanya
>> dibantah sama ente sendiri... ternyata sudah dilakukan.
>> Pegimana, nih, lenong?
>
>JA: Kembali lagi, koleksi datanya macam apa? Anda jangan lepas dari
> konteks. Koleksi data Gus Dur selama 30 tahun menyimpulkan bahwa
> pemerintah tidak boleh melakukan penerangan. Justru masyarakat
> yang melakukan penerangan. Ini adalah konsep yang salah. Sifat
> informasi harus dua arah. Lagi pula ucapan Gus Dur entah ke mana
> arahnya. Apa maksudnya masyarakat yg melakukan penerangan?
>
>>Yw: Represif itu kadang-kadang perlu, Mas.
>> Setuju nggak? Pasti setuju deh kalo anda berpikiran luas dan luwes.
>
>JA: Hohoho....jelas perlu. Justru saya yang paling sering berpendapat
> demikian. Cuma lihat-lihat penerapannya. Contoh tindakan represif
> yg perlu tetapi tidak diambil adalah kasus Sambas dan kasus Ambon.
> (Sayang malah Ambon jadi komoditas petualangan politik). Keputusan
> yang diambil secara tak profesional tidak boleh dipertahankan
> mati-matian (apalagi dengan tindakan represif kepada pemrotes).
>
>> >JA: Itu adalah pandangan "klasik konon kabarnya".
>> > Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang mampu menseleksi mana
>> > yang harus dilihat secara detil dan mana yang cukup di-skimming.
>>
>>Yw: Exactly. That's what I said. Kalo dia anggep dalam nyusun kabinet,
>> nggak perlu presentasi satu-satu, tapi cukup kumpulin lima orang
>> yg dipercaya sebagai kredibel... ya orang lain nggak perlu sampe
>> mencret-mencret minta anak buahnya presentasi satu-satu, gitu, kan?
>>
>> Ngerti juga, akhirnya. ;-)
>
>JA: That's what I said. Kelima orang itu kredibel atau enggak? Ini
> sudah saya tulis di email pertama. Penasihatnya hanya dua yang
> kemarin mengerti SEBAGIAN masalah yaitu Akbar dan Wiranto. Tapi
> itupun lihat dulu posisi tawar dari nasihat mereka sebagai akibat
> posisi mereka sebagai loser. Harusnya justru orang di luar
> kepartaian dan tahu seluk beluk urusan yg ditanyai. Jelasnya para
> menteri yg demisioner itu yg dibackup oleh para dirjen (karena
> kabinet reformasi yg cuma seumur jagung memungkinkan menteri tidak
>tahu secara lengkap).
>
> Anda ini gimana? Anda yang nggak ngerti. Justru kelima orang ini
> sebagian tahu secara global, sebagian lagi tidak tahu apa-apa.
> Jadi Gus Dur harus bertanya kepada orang yg lebih tahu. Apalagi
> keputusan penghapusan departemen adalah keputusan penting. Jelas
> sikap kehati-hatian yg makin perlu ditonjolkan. Bukan hajar bleh
> gitu.
>
>Jeffrey Anjasmara
>
>______________________________________________________
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>