>Irwan:
>Busyet dah, yg saya komentarin kemarin itu apa yg diucapkan
>ketua MPR dan bukan apa yg ada di batin ketua MPR maupun
>suasananya. Masak sih saya harus cari tahu suasana batin
>ketua MPR? Emangnya ada yg bisa tahu 100% suasana batin
>ketua MPR waktu ngucapin hal tersebut?
>Kalau kita mau diskusi ngga melenceng, maka masalah jangan
>dilarikan ke hal lain.

Budi:
Di sini saja anda nggak bisa menangkap apa yang saya maksud. Sudah barang
tentu arah diskusinya akan melenceng sejak awal kalau diteruskan.

>Yang saya tanyakan kemarin2 itu sebenarnya cukup jelas.

Budi:
Anda selalu menganggap bahwa yang anda tulis sudah jelas. Anda terlalu
memaksakan diri seolah-olah orang lain mengerti dan mempunyai pandangan
yang sama dengan yang anda tulis. Kelihatannya anda harus banyak
bersosialisasi.

>Irwan:
>Wah, ini lebih gawat lagi nih ngaconya. Kalau dia sudah menjadi
>ketua MPR, maka jabatannya tersebut melekat pada dirinya.
>Dia ngga bisa sembarang ngomong lagi karena posisinya
>yg sudah sebagai ketua MPR.

Budi:
Kayaknya anda nggak pernah berorganisasi ya? MPR itu apa sih?
MPR khan suatu lembaga. Kalau ketua MPR ngomong sesuatu yang bukan berasal
dari hasil sidang lembaganya (MPR), sudah barang itu omongan pribadi, bukan
omongan seorang ketua MPR. Mudah-mudahan anda bisa membedakannya.
Lagian, omongannya dia yang mana yang anda bilang sembarangan?
Tuh khan, baliknya kesini lagi. Sejak awal hal ini yang harus didiskusikan
dahulu sebelum masuk ke topik yang anda lemparkan. Kalau ini belum beres,
jelas kita nggak akan sampai ke topik diskusi anda, karena memang sudah
melenceng dari awal in put-nya.

>Kalau pun Amien Rais ada mengucapkan seperti yg
>anda tulis di atas, juga tetap tidak bisa dibenarkan seorang
>ketua MPR memiliki wewenang menarik menteri kabinet.

Budi:
Tuh khan, anda terlalu dangkal dalam menerjemahkan kata-kata seseorang dan
mengabaikan mekanisme organisasi ketatanegaraan. Saya ragu anda tahu hal ini.

>Kita ngga perlu ngarang2 lah, atau bela2 yg sudah jelas2
>salah. Yang salah kita katakan salah, yg benar kita katakan
>benar. Jangan karena sentimen pribadi, lalu yg salah
>dibenarkan. Ini ngga bagus bila kita bicara dalam konteks
>menjalankan fungsi kontrol.

Budi:
Saya kagum sekaligus sedih dengan kalimat anda tsb. Kagum karena anda
dengan gagah berani mengatakan omongan AR adalah salah. Sedih karena anda
masih terlalu naif.

>Saya yakin, rekan2 disini juga tahu tulisan saya yg
>menduga supir becak itu anggota PDIP adalah joke
>yg kebenarannya jelas sangat dipertanyakan.

Budi:
Tuh khan, anda sok yakin bahwa yang membaca tulisan anda pasti menganggap
itu joke. Apa memang anda punya keahlian paranormal?
Generalisasi induktif-deduktif anda masih terlalu lemah dalam hal premis
minor.

>Irwan:
>Hehehe...sekarang saya ngga tahu nih, anda nulis di atas
>dalam kondisi serius atau bales bikin "joke"....:)
>Kalau jawaban anda di atas adalah serius, mending saya
>ngga komentarin dah. Soal2 yg ngga signifikan koq anda
>jadikan fokus. Sementara soal2 yg menurut saya perlu
>mendapat perhatian malah diabaikan, yaitu soal batasan
>wewenang ketua MPR.

Budi:
Kali ini saya mau minta maaf, karena saya sebagian hanya meniru gaya
menulis anda, yang seringkali memanfaatkan kelemahan tulisan orang untuk
memojokkan meskipun sebenarnya 'out of context'.

>Irwan:
>Saya tambahkan saja ya biar lengkap....:)
>Dan orang yang melakukan kesalahan yang sama berulang2
>adalah orang yg bebal kalau bukan lemah pikiran
>(Irwan Ariston Napitupulu, Oktober 1999)...hehehehehe

Budi:
Orang yang selalu merasa dirinya benar sebenarnya adalah orang yang penuh
kelemahan dan berupaya mengingkarinya.

Salam,
Budi

>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu
>

Kirim email ke