Rekan Irwan,

Sejak awal saya memang mengajak anda untuk mengklarifikasi dulu validitas dan makna dari omongan AR mengenai menteri yang diusulkan oleh PAN, karena memang dari sinilah anda mengangkat topik untuk diskusi ini. Kalau ini saja belum clear, bagaimana kita bisa berangkat mendiskusikan kelanjutannya dengan arah pandang yang sama.

>Saya kembalikan lagi diskusi ini ke fokus semula
>dengan mencoba melihat satu poin terlebih dahulu.
>Ini pertanyaan saya ke anda yg belum juga anda
>jawab/respon.

Bagi saya, poin anda tersebut adalah poin yang kedua. Poin pertama adalah mengklarifikasikan omongan AR.

>Maaf, saya sengaja tulis dalam huruf besar hanya
>untuk memberi penekanan serta memfokuskan apa
>yg saya ingin anda responi.

Nggak apa-apa, keyboard di komputer anda khan ada 'shift'-nya, jadi silahkan kalau mau pakai huruf besar.

>APAKAH SEORANG KETUA MPR MEMILIKI WEWENANG
>UNTUK MENARIK SEORANG MENTERI DARI JABATANNYA
>DI KABINET?

Kalau sejak awal pertanyaan ini 'mutually exclusive' dan tidak berkaitan dengan omongan AR yang anda sitir dari Media Indonesia, akan lain lagi perkaranya. Dan sangat mudah untuk menjawabnya, tanpa perlu pakai huruf besar segala.
Namun, apa yang anda lakukan dalam posting anda pertama adalah berangkat dari ucapan AR lalu ditutup dengan pertanyaan tsb. Sekarang siapa yang sengaja lari-lari? Ini saya ambilkan lagi posting anda tsb.:

Silahkan baca berita lengkapnya di:
http://www.mediaindo.co.id/detail_news.asp?id=1999103000184658

Gue cuma mau kutipin aja bagian yg pengen gue komentarin:
---kutipan----
Amien mengatakan dirinya bertanggung jawab secara moral atas menteri yang
digaransinya. "Kalau dari PAN jelas, saya akan bertanggung jawab secara
moral.
Kalau mereka melakukan kesalahan atau tidak bisa menjalankan tugas seperti
yang
diembannya, akan saya tarik. Itu garansinya," kata Amien.
----akhir kutipan----

Masih kita ingat gimana ketua MPR, Amien Rais, keberatan
bila seorang dubes mencampuri urusan yg bukan wewenangnya.
Nah, sekarang dari kalimat atas, saya melihat masalah
tarik menarik menteri itu setahu saya bukan wewenang MPR
maupun ketua MPR. Apakah tindakan AR ini bisa dikategorikan
melakukan standar ganda?...:)

Kelihatannya kita perlu maklum lagi terhadap pihak2 yg belum
mengerti benar batas wewenang jabatan yg dimilikinya.
Moga2 pada cepat belajar sehingga aturan main yg ada bisa
segera diterapkan. Ini khan negara hukum, bukan hutan rimba....:)

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu


>Itu saja pertanyaannya. Jangan dikait2kan dulu
>pertanyaan di atas dengan peristiwa ketua MPR
>kita, Amien Rais, yg sempat berucap demikian.
>Jadi, pertanyaan saya di atas adalah bersifat umum,
>dan tidak terkait dengan kasus apapun akhir2 ini.
>Saya ingin lihat pemahaman anda akan hal ini.

Anda sudah melempar satu buah mangga yang utuh untuk ditangkap, namun sewaktu buah tsb masih melayang, anda minta agar yang ditangkap hanya isi buah mangganya saja. Masuk akal nggak sih? Apa anda mengharap si nenek sihir ngupasin kulit dan daging mangga tsb. sewaktu masih di tengah jalan? lalu bilang, 'trick or threat'......

>Kalau anda masih lari2 lagi dengan mengomentari
>hal yg tidak signifikan, saya akan menyerah untuk
>tidak melanjuti diskusi ini dengan anda walau sebenarnya
>saya ingin kita melihat masalahnya dengan lebih jelas
>dan mengacu ke aturan main yg sebenarnya.

Wah, saya jadi sangat terharu kalau anda berbesar hati untuk menyerah.
Suatu saat, saya akan belajar dari anda untuk itu.

>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu

Salam,
Budi

NB.:
Orang yang cerdik bukanlah orang yang dapat mengatasi kesulitan yang datang; orang yang cerdik adalah orang yang dapat mencegah datangnya kesulitan (Mustofa Bisri, menjelang ramadlan 1409).

Kirim email ke