Dear Mme. Mandica:

>:) Kemungkinan economic down turn masih akan berlangsung.  Pertimbangannya:
>Di East Asia, hanya China yang menjadi penopang economic region.  Japan
>mulai bangkit tetapi perlahan. Sementara Korea Selatan masih ditopang oleh
>international financial institutions.  Di Southeast Asia region, Indonesia,
>sebagai negara terbesar in term of penduduk dan geog belum recover dari
>economic turbulence, and politik to some extent. Malaysia dan the
>Philippines mulai menguat, namun belum bisa dijadikan indicator pertumbuhan
>economy yang stabil karena fluktuasi mata uang dan trading. Selama Jepang
>tidak menguat, maka negara-negara di Southeast Asia tidak stabil karena
>supply financial assistance, international trades, and other economic
>transactions terbanyak untuk wilayah Southeast Asia berasal dari Jepang. Di
>South Asia,  India masih bergulat dengan kemiskinan dan political
>instability sementara Pakistan berkutat dengan pembentukan pemerintahan yang
>stabil.  Nah, jika China yang muncul sebagai kekuatan economy satu-satunya
>di Asia, dan mengalami pertumbuhan ekonomi tercepat, maka China harus slow
>down untuk mengimbangi economic region. Kita hanya bisa berharap  economic
>stability tercipta hingga negara-negara di Asia bisa berdiri kembali. Oh
>Well, mungkin saya tidak terlalu jitu dalam pemetaan political economy ini.

Saya tak menyatakan bahwa ekonomi regional sudah pulih. Namun, saya
menuliskan bahwa kondisi sekarang lebih membaik dari saat-saat di tengah
krismon. Soalnya untuk periode sekarang, kondisi politik relatif lebih stabil
di negara-negara yang terkena krimon, ditambah lagi orang-orang tak sepanik
dulu. Saya percaya akan efek psikologis dan saya rasa M. Irwan sebagai
pengamat ekonomi pasti tahu seluk beluk efek psikologis dan setuju bahwa
faktor itu sangat berpengaruh dalam ekonomi dunia. China sendiri menslow down
ekonominya karena mulai terlihat keretakan-keretakan dalam fondasinya akibat
ineffisiensi dan korupsi. Selain itu juga, China harus menekan angka inflasinya
apalagi menghadapi kompetisi negara-negara Asia lain yang mata uangnya sudah
dihancur leburkan krismon. Untuk Jepang, krisis birokrasi yang sangat 
menentukan
sehingga Jepang virtually 'dead in water.'


>:) Oh well,  100% recover itu tidak akan pernah terjadi karena kita
>berbicara tentang nyawa manusia, humanity.  US merasakan humiliation karena
>kekalahan pada perang Vietnam.  Namun demikian, US memperlihatkan positive
>action,'menambal' war damages, melalui funds. As far as international
>political concerns, US bisa 'menangani' damages dengan baik.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, karena Nixon, Ford, Carter, dan Reagan
US bisa memperbaiki international damages. Tapi faktor USSR dan komunisnya
juga sangat berpengaruh dalam hal ini. Like it or not, waktu US kalah di 
Vietnam,
ekonomi dan military powernya tetap the only one that can beat Russia sehingga
tak heran negara-negara lain tetap 'dekat' dengan US.


>  Justru trauma
>perang itu muncul pada level domestic politik.  Rakyat US mengutuk
>pemerintah saat itu Johnson, kemudian Nixon, karena keterlibatan mereka pada
>perang vietnam yang memakan korban ribuan young americans.
>Oleh karena itu, pada saat Perang Kosovo, Presiden Clinton tidak menjanjikan
>dunia international bahwa tidak akan ada korban di Kosovo, tetapi
>menjanjikan kepada american voters/public bahwa tidak akan ada nyawa
>american soldier dikorbankan di Kosovo. Ini adalah perbedaan characteristics
>Cold War and the post Cold War.  Perubahan pada ide and priority dalam
>international politik.

Saya rasa kita sependapat soal yang ini. Ingat yang saya tulis:
 >>Saya rasa US sampai sekarang belum 100% bisa pulih dari perang >Vietnam.
 >>Sampai sekarang masih terjadi aversi anti korban perang di >US. Contohnya
 >>Saja dalam krisis Kosovo kemarin, pemerintah US >benar-benar berusaha agar
 >>Tak jatuh satu korban pun di sisi Amerika.






>>Tulisan anda berarti secara tak langsung mendukung bahwa Kissinger
>> >walaupun Menganjurkan membom IndoChina, tapi keputusan terakhir bukan
>> >ditangan Dia. Ini juga berlaku untuk perang Vietnamnya Kennedy, dsb.
>
>:) No... saya menulis bahwa ada tiga theory dalam process policy making.
>Nah dalam pembahasan perang action, biasanya model Bureau Politik yang
>paling popular. Keputusan diambil bersama oleh anggota NSC. Saat pembahasan
>perang Vietnam, Kissinger yang getol mengajukan strategy perang, i.e killing
>civilians.
>Jika anda membaca "Subversion as Foreign Policy" by Kahin and Kahin, bisa
>dilihat bahwa secretary of state sangat berperan dalam mensupply informasi,
>dukungan, dan tuntutan kepada president dalam process FP. Sebabnya, State
>Dept. adalah tangan kanan pemerintah, the govt. source of information.
Waktu jaman Nixon, Kissinger adalah National Security Advisor, bukan secretary
of state. Namun, memberi strategi berbeda sekali dengan memerintahkan.
Sekarang anda bisa memberi strategi sebanyak mungkin kepada Gus Dur, tapi
itu hak dia untuk memberi perintah.




>>Sosialisme dan komunisme memang berbeda; walau dasarnya tetap sama: >ide
>>Marxism. Tapi pemerintahan Allende waktu itu lebih mengarah ke >arah
>>Castro. Itu yang dikuatirkan US; adanya Cuba II di Amerika >Selatan.
>>Lagipula Alende waktu itu sudah mulai menasionalisasi
>> >perusahaan-perusahaan
>>Internasional. (Rasanya juga AT&T melobby pemerintah US untuk
>>Mendongkel Alende).
>
>:) First of all, anda lebih tahu tentang philosophy socialism and communism.

You make me sounds like a commie.... ;-)
Let me assure you I am not a commie.... :-D
Tapi seriously, saya rasa pengetahuan saya tak melebihi anda untuk segi ini.
Lagipula saya mempelajari philosophy ini for fun dan saya memang diajarkan
juga sewaktu mengambil kelas-kelas tentang Eastern Europe dan Russia.


>Second, anda tahu bahwa sosialisme and komunisme tidak berasal dari Marxism
>only.

Setuju. :-)



 >Third, nasionalisasi tidak berarti komunis.  Indonesia misalnya, struktur
 >ekonominya adalah publik or nasional.  US misalnya, supply basic needs
 >adalah publik/state.

Saya rasa sangatlah berbeda antara nasionalisasi dan struktur ekonomi/suppy
basic needs yang anda tulis diatas. Nasionalisasi adalah usaha dari pemerintah
satu negara untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan internasional/golongan
di negara tersebut. Sedangkan US tak mengambil alih perusahaan-perusahaan
publicnya. Memang dari dulu pemerintah US sudah membuat sendiri perusahaan-
perusahaan tersebut. Indonesia sendiri, saya rasa perumnya seperti Damri bukan
hasil sitaan dari perusahaan asing.


>Fourth, nasionalisasi international companies terjadi hampir disetiap negara
>berdasarkan kontrak. Itu juga yang terjadi di Chile.
Seingat saya yang di Chile itu adalah nasionalisasi dari satu pihak, yakni
dari pemerintah sosialis Allende sajalah.

Quote dari Allende:
"Cuba in the Crribean and a socialist Chile in the Southern Cone.... will make
the revolution in Lation America."
Election 1970

Allende's interview with Regis Debray:
Question: who was using whom: Allende the democratic structure or vice versa.
Reply:
"The answer is the proletariat. If it wasn't so I wouldn't be here..... As 
for the bourgeois
state, at the present moment, we are seeking to overcome it. To overthrow it."

Kissinger's memoir:
"...The absence of a United States role in the coup was confirmed by 
Senate's Church
Committee."

May 15, 1973:
National Assembly of the Christian Democratic Party accused Allende of "seeking
totality of power, which meant Communist tyrany disguised as the dictatorship
of the proletariat."

President Frei greeted Pinochet's coup: "The military have saved Chile.... 
A civil
war was being well prepared by the Marxists."
(Interview with Madred Newspaper ABC, October 10, 1973).


Tapi terus terang saja, untuk soal Chile, saya rasa lebih baik ditutup di sini.
Soalnya anda pasti tetap akan menyatakan bahwa dia sosialis, sedangkan saya
menyatakan dia komunis.



>>Yang paling saya ingat dari dia adalah Malvinas, politik TINA dan kejadian
>>sewaktu dia di sidang Eropa, ia mengayun-ayunkan tas tangannya dan
>>berteriak 'Give me my Money back!' (seingat saya itu yang dia katakan)�.
>>Rasanya 'Commanding Height' cukup bagus untuk mendiskusikan soal
>>Politik-ekonomi TINA-nya Thatcher. Anda punya ide juga?
>
>:) Setahu saya, mungkin Mrs. Iron Lady lebih ganas dari itu. Saya punya
>beberapa catatan tentang beliau. Well, if you do not mind, kita diskusikan
>setelah Spring Break -- March 23?

Ok, kalau anda memang tertarik. Berarti saya harus 'brush up my English
History'.... :-)
Cukup waktu untuk belajar sebelum anda tes.... :-D
Ok, tanggapan ini terakhir dari saya untuk masalah Kissinger, kecuali
kalau anda mau menambah lagi.... =)


>Saatnya saya beristirahat dulu. Tak ada e-mail untuk seminggu. Kecuali
>mungkin nulis puisi. Saya akan jalan-jalan, drive ke Indiana dan Ohio.

Safe journey.


>>Setuju. Tapi rasanya setiap kali kita berdua berdiskusi, hasilnya >pasti
>>Berat-berat semua�. : -)
>
>:) Mari kita menulis, bagaimana berat ringannya bukan urusan kita...:)

Setuju!! :-)
Menulis dulu, pusing belakangan.... :-)

Well, I really hope to hear from you after the break.

Sincerely,

Yohanes Sulaiman

Kirim email ke