Dear Mme. Ida:
>Wah saya kagum juga, literature anda kuat juga, saya malah kegalapan
>berusaha mengingat sources dan para pengarangnya. Saya belajar banyak nih.
>Terima kasih.
Wah, sebetulnya saya yang cukup kewalahan melihat 'serbuan'
dari anda. Apalagi posisi saya yang di debat ini agak 'sulit'
soalnya saya terlihat seperti membela 'penjahat perang.' :-)
>>Switzerland atau Austria?
>
>:) Is it Austria? Mungkin anda benar. BTW, saya baca tulisan Mas Irwan,
>ternyata Austria ya. What is wrong with my memory?
>
Mungkin karena keduanya tetangga.... :-)
>:) It is reality, as a posivitist would say. The US is now in the big year
>of economy. Although it is not unexpected to many. That is why Greenspan
>announced the need to slow down.
You may as well say that I am a pessimist realist�. :-D
>About the US' position in the new world
>order as far as I am concern is real; the most firm survival in the shaking
>economic order. We may have different opinions here.
>
Maaf, bisa anda lebih elaborate untuk point ini? Soalnya saya takut kalau saya
Salah menafsirkan maksud anda.
>
>>Pada masa Nixon, mereka menyadari posisi US sudah lemah sekali di Vietnam.
>>Mereka justru menginginkan policy 'Honorable withdrawal.' >Kissinger
>>mengebom Laos dengan alasan untuk menghentikan jalur >Vietcong ke Vietnam
>>Selatan sehingga US bisa mundur dari Vietnam >Selatan.
>
>:) You can name any policy as polite you like, but the outcome is the
>measurement. Deaths are the answer to his policy. I am sorry to say that.
>You may want to consider other sources rather than Kissinger's own writings.
> Documents on human rights, country reports (Vietnam, Laos, Cambodia), and
>hearings in Congress showed that the first command to kill civilians in Indo
>China come from Kissinger. I do not think that his 'honorable withdrawal'
>is an excuse. I defenitely disagree with this idea of justification.
>
However I still think that you need to put your context in that era. US position
had
Already been weakened drastically in the world. Europe was skeptical regarding
US'
Ability to come in their defense against USSR and in Middle East, US' mediation
On middle East conflict had been complicated as the nations watching the Vietnam's
Development began to show doubt on US' credibility. IN this case, what US had
To do was to show its resolve that it could not afford to be bullied by a small
nation.
In short, US global standings and credibility had been weakened by the Vietnam
War.
About the killing of civilians, Kissinger pointed out that he suggested bombardments
On area around the border, and he had already got implicit agreements from the
Governments in Laos and Cambodia.
You are correct however in pointing out that some of my sources are from Kissinger's
Writings. However, I suggest you to also read Kissinger's point of view.
>>Ekonomi memang merupakan faktor terpenting pada abad baru ini. Tapi saya
>>terus terang tetap menyatakan bahwa state itself remains very important
>>factor and player in international relations.
>
>:) I agree with you. Logically, states are the place where economic
>activities happen. States should be strong of course in order to survive.
>But their strenghts should not rely on political power prestige, rather
>economic prestige.
Economic power is a tool for a political power. US has a huge dominance on
Economic thus it can wield the economy as a political power toward the world.
>
>>>:) Salah satu buku yang menguatkan implikasi policy Kissinger adalah
>>>NuclearBom and Foreign Policy.
>>Karangan siapa? Apakah anda yakin bahwa Kissinger membaca buku itu sewaktu
>>menjalankan politik luar negeri dia?
>
>:) Nuclear Bom and Foreign Policy karangan Henry Kissinger.
>
Wah, sekarang giliran saya yang kegalapan soalnya saya sudah lupa Henry Kissinger
Pernah menulis buku ini. Kalau tak salah, di sini Kissinger menyatakan preference
Untuk tactical nuclear weapon daripada massive retaliation. Tapi saya sejujurnya
Saja sudah lupa.
>>Boleh tanya di buku mana anda mendapatkan sarannya seperti itu?
>>Kalau saya membaca 'Kissinger's Transcript,' lebih terlihat sikap
>>orang-orang yang cold blooded dan calculated bukan orang marah atau >gila.
>>Ide MAD sudah ada jauh sebelum jaman Kissinger-Nixon dan sudah beredar di
>>kalangan political scientist yang mempelajari implikasi >bom nuklir kepada
>>hubungan internasional.
>
>:) Mudah-mudahan kita berbicara tentang MAD pada level yang sama. MAD yang
>saya maksud, literaly means upset, jengkel, marah, blow out, etc.
MAD di sini artinya 'Mutual Assured Destruction' di mana idenya adalah balance
Of power berdasarkan bom nuklir. Berapa pun bom yang ditembakkan sebetulnya
Enggak akan berpengaruh soalnya kedua pihak sudah pasti hancur. Perundingan
Kissinger-Brezhnev memang banyak diwarnai oleh ide ini.
Kalau buku
>yang mana menulis itu, saya belum tahu, yang pasti ada pada
>document-document tertulis pada Senate Hearings on Foreign affairs and
>international relations. Lihat pada government documents: Hearings in
>Congress, tahun 1970an.
>
Akan saya cari dokumen-dokumen yang anda sebut. Tapi rasanya saya tak akan
Sanggup membaca semua dokumennya�. :-)
>:) Saya kira kita sedang mixing time analysis. Pemboman Hiroshima dan
>Nagasaki terjadi pada perang dunia ke dua. Dan tragedi itu menjadi mark
>berakhirnya PD II. Sementara keterlibatan Kissinger setelah PD II, atau era
>Cold War.
Saya sengaja memakai contoh Hiroshima itu untuk memberikan fact bahwa
Dalam perang, sekejam apapun, taktik akan dipakai untuk mempertahankan
National interest dan semua alasan bisa dipakai. Cold War sendiri walaupun
'Cold' tapi waktu itu US sedang terjerumus di Perang Vietnam. Terlihat di sini
ada bias in analysis terutama oleh kalangan media kontemporer.
>Mungkin bom di Hiro-naga yang terhebat, tetapi jumlahnya dan
>hebatnya yang tidak kalah terjadi di Cold War. Ironisnya, pada saat
>orang-orang berkampanye untuk mengakhiri perang.
Yang lebih ironis lagi, mereka yang berkampanye dan memaksa pengunduran
Pasukan secepatnya itu mereka yang sebetulnya menjerumuskan US terlebih
Dulu di Vietnam. (Democrats di Congress).
>
>>Lagipula keputusan membom target diambil setelah
>>diskusi dan persetujuan presiden dan secretary of defense.
>
>:) Iya, dalam foreign policy US, keputusan itu disebut 'bureaucratic
>politics' (Allison)yang menyatakan bahwa policy luar negeri adalah policy
>yang dikeluarkan oleh NSC yang terdiri dari President, Wapres, Defense, CIA,
>Secretary of State, and sometimes Sec. of Treasury. However, Kissinger
>happens to be the 'cruel' one.
Dalam legalitas, tetap walau secretary of state is the cruel one, decision has
to be
Made with the president's approval. Selain itu, bagaimana dengan era 'madame
Albright' dimana dia yang pertama menyerukan untuk membom Serbia? Keputusan
Membom tetap di tangan Clinton. Pada masa itu juga, kalau Kissinger mengusulkan
Untuk membom IndoChina, tetap keputusan terakhir ditangan Presiden. Dalam
In Retrospect, McNamara salah satu yang hawkish dalam menyerbu Vietnam,
Tetap keputusan diambil setelah berunding dengan JFK.
>
>
>>Saya rasa mungkin anda perlu juga membaca 'Year of Renewal'-nya Kissinger
<deleted>
>>pemerintahan seperti Fidel Castronya Cuba. In >fact, dibawah Pinochet,
>>pertumbuhan ekonomi Chile meningkat pesat.
>
>:) Are you sure with your statement? No comment from here :)
I am sure about this.
>:) Yap, Suharto patut diberi kredit untuk economic developmentnya. Sayang
>sekali monopolistic and capitalistic berkembang pesat di luar jangkaun dan
>meninggalkan orang-orang miskin di belakang. In addition to that, he
>utilized militery power for his economic policy dan mengizinkan korupsi. Ini
>mungkin yang menjadikan dia tak popular sebagai leader. Otherwise, he should
>have been OK.
>
Ini juga memberikan satu lagi pertanyaan sejarah: Jikalau Indonesia tak terjebak
Dalam krismon dan tak ada El Nino, apakah Suharto akan tumbang?
>>Menariknya, Kissinger memperoleh Nobel Peace Prize karena usahanya dalam
>>membantu perdamaian di Timur Tengah antara Mesir-Israel.
>
>:) Aneh juga...
Strange, but it also a bit disturbing to your arguments that implicate him as
a war
Criminal.
>>The Great Debate:
>>"We discuss tonight domistic issues, but I would not want.... any
>>implication to be given that this does not involve directly our >struggle
>>with Mr. Khrushchev for survival...." Disini Kennedy >memperlihatkan posisi
>>dia sebagai 'Cold War Warrior.'
>>Kalau anda lihat tapenya lagi, itu ucapan Kennedy verbatim.
>>Tentang Taiwan, di the third debate, Kennedy dibabat Nixon tentang isu
>>Taiwan. Kennedy menyatakan "I challenge you tonight to deny the
>>administration has sent at least several missions to persuade Chiang Kai
>>Shek to withdraw from (Quemoy and Matsu).
>>Untuk keterangan lebih lanjut, anda saya sarankan juga membaca 'Kennedy and
>>Nixon' by Christopher Matthews Chapter 11.
>>Tahun 1961 Kennedy mengirimkan 16000 American military 'Advisers' ke
>>Vietnam. (McNamara: In Retrospect)
>
>:) The Great Debate by Krauss (did I spell it right)? Setahu saya,
>statement-statement Kennedy lebih banyak pada domestic issues, sebagai
>political directions of Democrat. Pada saat yang sama, dia tidak mengabaikan
>issue foreign policy, khususnya SU sebab rakyat US alergy communism . I
>might not pay attention too much on this. Buku Christopher tidak terlalu
>lengkap in detail di banding Krauss -- tentang Kennedy, karena Krauss adalah
>penulis naskah pidato debate Kennedy.
Statement Kennedy memang di debat pertama banyak di domestic issues, tapi
Seperti yang saya tulis diatas, Kennedy menekankan bahwa dia juga sebetulnya
Mampu untuk melawan Russia. Ini di tahun 1960-an dimana
USSR baru meluncurkan Sputnik dan Khruschev dengan sesumbarnya berhasil
Menakuti US dan memberikan false impression bahwa waktu itu bom nuklir
Russia jauh lebih banyak daripada US. Karena itu, siapapun presiden yang
Akan dipilih, wajib memperlihatkan kredibilitas dia sebagai a Cold War Warrior.
>Tentang militer ke Vietnam, setahu
>saya hanya 8000 orang. I do not know kalau saya salah info. Tolong di
>benarkan.
Seperti yang saya tulis, McNamara, secretary of defensenya
Kennedy, menulis di 'In Retrospect' bahwa Kennedy mengirimkan
16000 military 'advisors' ke Vietnam.
>Tentang Taiwan, hingga hari ini, the US tidak mengakui keberadaan negara
>itu. Tulisan di World Politics, bulan December, 1999 "The three NOs policy
>of Clinton." Merinci bahwa Clinton tidak menganggap Taiwan sebagai entity
>yang independent dari the main land China.
>Personally, I am dissappointed by Clinton's policy. Just because China is
>more to the US benefit, the US government dares to abandon Taiwan.
>
Masalahnya hubungan antar China dan negara-negara luar
berdasarkan ide 'One China Policy.' Saya rasa saya tak perlu
elaborate tentang policy itu, karena saya assume anda sudah
tahu. Tapi intinya kalau US menjalin hubungan diplomatik dengan
Taiwan, maka kedubes di Beijing harus ditutup dan seperti yang kita
Ketahui, Beijing merupakan salah satu pemilik bom nuklir terbanyak
Didunia (tentunya dibawah US dan USSR). Saya justru merasa policy
Of engagement US ke China mainland lebih berguna untuk long term.
Taiwan secara otomatis loyalty ke US-nya taken for granted. Karena
Itu secara realpolitik memang US lebih perlu melakukan engagement
Kepada China.
>>A very interesting discussion. I really hope to hear from you soon.
>
>:) I agree, waiting for your answer. How about if we compare and contrast
>Kissinger and Thatcher. Dua manusia besi.
>
Margaret Thatcher�. The Iron Lady, now that's a challenge�. :-)
Rasanya borok sejarahnya tak akan sebanyak Kissinger�. Kecuali waktu
Malvinas. Bukan ide jelek untuk mendiskusikannya, tapi sayang saya
Kurang banyak mempelajari Eropa di 1980-s. Paling hanya Russia.
Well, senang sekali berdiskusi dengan anda, dan terus terang debatnya
Mulai berat sekali�. :-)
Well, I hope to hear from you soon�.
Keep smiling....
YS