Dear Sir Yohannes,


>Setuju. Tapi kayaknya anda salah mengerti attitude saya. Saya memakai
> >tanda Kutip dan smiley dengan arti bahwa saya bercanda untuk bagian
> >tulisan itu. Saya tak pernah menganggap diskusi itu untuk saling
> >mematahkan atau Saling memojokkan. In fact, seperti yang kita ketahui
> >bersama, diskusi itu Berguna untuk melatih logika dan menukar pikiran
> >sehingga lebih memperluas Wawasan kita.

:)OK.... I just tried to be careful....:)


>US bisa bertahan selama kredibilitas pemerintahnya kuat dan >orang-orang
>masih Percaya dengan Wall Street. Masalahnya juga, tak >ada alternatif lain
>seaman US
>Untuk menaruh modal di tengah keadaan yang tak menentu seperti sekarang.

:) Yap!


>Beberapa akademia, termasuk Professor Emmerson (yang saya beruntung
>Berkesempatan untuk mengikuti kelasnya) kuatir sekali mengenai >kemungkinan
>Devaluasi China karena bisa berakibat hancurnya keuangan >dunia terutama
>saat Di tengah krisis. Namun rasanya sekarang tak seberbahaya dulu ketika
> >ditengah- Tengah krismon.

:) Kemungkinan economic down turn masih akan berlangsung.  Pertimbangannya:
Di East Asia, hanya China yang menjadi penopang economic region.  Japan
mulai bangkit tetapi perlahan. Sementara Korea Selatan masih ditopang oleh
international financial institutions.  Di Southeast Asia region, Indonesia,
sebagai negara terbesar in term of penduduk dan geog belum recover dari
economic turbulence, and politik to some extent. Malaysia dan the
Philippines mulai menguat, namun belum bisa dijadikan indicator pertumbuhan
economy yang stabil karena fluktuasi mata uang dan trading. Selama Jepang
tidak menguat, maka negara-negara di Southeast Asia tidak stabil karena
supply financial assistance, international trades, and other economic
transactions terbanyak untuk wilayah Southeast Asia berasal dari Jepang. Di
South Asia,  India masih bergulat dengan kemiskinan dan political
instability sementara Pakistan berkutat dengan pembentukan pemerintahan yang
stabil.  Nah, jika China yang muncul sebagai kekuatan economy satu-satunya
di Asia, dan mengalami pertumbuhan ekonomi tercepat, maka China harus slow
down untuk mengimbangi economic region. Kita hanya bisa berharap  economic
stability tercipta hingga negara-negara di Asia bisa berdiri kembali. Oh
Well, mungkin saya tidak terlalu jitu dalam pemetaan political economy ini.

>Unfortunately?
>Saya rasa US sampai sekarang belum 100% bisa pulih dari perang >Vietnam.
>Sampai sekarang masih terjadi aversi anti korban perang di >US. Contohnya
>Saja dalam krisis Kosovo kemarin, pemerintah US >benar-benar berusaha agar
>Tak jatuh satu korban pun di sisi Amerika. >Kalau pikiran ini berlaku waktu
>PD II, mungkin sekarang kita sedang >menulis dengan bahasa Jepang dan
>Jerman Bukan Indonesia-Inggris.
>Saya sendiri melihat kembalinya kredibilitas US setelah 'Vietnam >debacle'
>Disebabkan terutama oleh real-politik Nixon-Kissinger, yang >kemudian
>difortify Carter (melanjutkan Camp David dan opening to >China), dan Reagan
>tahun 1980-an dengan 'Star Wars'-nya.

:) Oh well,  100% recover itu tidak akan pernah terjadi karena kita
berbicara tentang nyawa manusia, humanity.  US merasakan humiliation karena
kekalahan pada perang Vietnam.  Namun demikian, US memperlihatkan positive
action,'menambal' war damages, melalui funds. As far as international
political concerns, US bisa 'menangani' damages dengan baik.  Justru trauma
perang itu muncul pada level domestic politik.  Rakyat US mengutuk
pemerintah saat itu Johnson, kemudian Nixon, karena keterlibatan mereka pada
perang vietnam yang memakan korban ribuan young americans.
Oleh karena itu, pada saat Perang Kosovo, Presiden Clinton tidak menjanjikan
dunia international bahwa tidak akan ada korban di Kosovo, tetapi
menjanjikan kepada american voters/public bahwa tidak akan ada nyawa
american soldier dikorbankan di Kosovo. Ini adalah perbedaan characteristics
Cold War and the post Cold War.  Perubahan pada ide and priority dalam
international politik.


>Tulisan anda berarti secara tak langsung mendukung bahwa Kissinger
> >walaupun Menganjurkan membom IndoChina, tapi keputusan terakhir bukan
> >ditangan Dia. Ini juga berlaku untuk perang Vietnamnya Kennedy, dsb.

:) No... saya menulis bahwa ada tiga theory dalam process policy making.
Nah dalam pembahasan perang action, biasanya model Bureau Politik yang
paling popular. Keputusan diambil bersama oleh anggota NSC. Saat pembahasan
perang Vietnam, Kissinger yang getol mengajukan strategy perang, i.e killing
civilians.
Jika anda membaca "Subversion as Foreign Policy" by Kahin and Kahin, bisa
dilihat bahwa secretary of state sangat berperan dalam mensupply informasi,
dukungan, dan tuntutan kepada president dalam process FP. Sebabnya, State
Dept. adalah tangan kanan pemerintah, the govt. source of information.


>Sosialisme dan komunisme memang berbeda; walau dasarnya tetap sama: >ide
>Marxism. Tapi pemerintahan Allende waktu itu lebih mengarah ke >arah
>Castro. Itu yang dikuatirkan US; adanya Cuba II di Amerika >Selatan.
>Lagipula Alende waktu itu sudah mulai menasionalisasi
> >perusahaan-perusahaan
>Internasional. (Rasanya juga AT&T melobby pemerintah US untuk
>Mendongkel Alende).

:) First of all, anda lebih tahu tentang philosophy socialism and communism.
Second, anda tahu bahwa sosialisme and komunisme tidak berasal dari Marxism
only.
Third, nasionalisasi tidak berarti komunis.  Indonesia misalnya, struktur
ekonominya adalah publik or nasional.  US misalnya, supply basic needs
adalah publik/state.
Fourth, nasionalisasi international companies terjadi hampir disetiap negara
berdasarkan kontrak. Itu juga yang terjadi di Chile.

>Yang paling saya ingat dari dia adalah Malvinas, politik TINA dan kejadian
>sewaktu dia di sidang Eropa, ia mengayun-ayunkan tas tangannya dan
>berteriak 'Give me my Money back!' (seingat saya itu yang dia katakan)�.
>Rasanya 'Commanding Height' cukup bagus untuk mendiskusikan soal
>Politik-ekonomi TINA-nya Thatcher. Anda punya ide juga?

:) Setahu saya, mungkin Mrs. Iron Lady lebih ganas dari itu. Saya punya
beberapa catatan tentang beliau. Well, if you do not mind, kita diskusikan
setelah Spring Break -- March 23?
Saatnya saya beristirahat dulu. Tak ada e-mail untuk seminggu. Kecuali
mungkin nulis puisi. Saya akan jalan-jalan, drive ke Indiana dan Ohio.

>Setuju. Tapi rasanya setiap kali kita berdua berdiskusi, hasilnya >pasti
>Berat-berat semua�. : -)

:) Mari kita menulis, bagaimana berat ringannya bukan urusan kita...:)

>Senang berdiskusi dengan anda. Saya nantikan tanggapan berikutnya.
>
:) here too. Happy Spring Break....

ida
>YS

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke