Mme. Ida:

>Semakin seru nih.  Sorry, kalau pendapat saya terhadap idolamu berbeda.

Memang semakin seru juga.... ;-)
Tapi sayang idola saya bukan Henry Kissinger. Dia merupakan tokoh yang saya
kagumi, tapi bukan idola.



>>Kissinger's Diplomacy:
>>"What is new about the emerging world order is that, for the first time,
>>the United States can neither withdraw from the world nor dominate it."
>>Amerika memang besar, tapi ia tetap tak bisa mendikte negara-negara
>>bahkan kalau saya lihat pengaruh US sekarang tidak sekuat dulu pada
>>masa Perang Dingin. Saya rasa argumen saya yang ini bisa menimbulkan
>>perdebatan cukup sengit... :-)
>
>:) He..he..., di mana-mana US masih tetap memegang hegemony politik dan
>ekonomi.  Argument Europe? Masih berkutat membentuk the unity of Euro. Belum
>apa-apa, Swizerland sudah memiliki pemerintahan Neo Nazi yang anti
>immigrants.

Switzerland atau Austria?


>Well, Japan? Kekuatan Asia itu akhirnya terjerembab sejak lima
>tahun belakangan ini.  China? Masih perlu restrukturisasi pemerintahan dan
>organizasi. India? Problem dengan poverty. Canada? Ancaman pada federation
>French -English states.  Simplenya, Bank Dunia, IMF, UN, and WTO, NAFTA,
>sekarang berada dalam 'genggaman US.' Meskipun WTO kemarin gagal di sini.

Di saat ini memang US merupakan sebuah hegemon, tapi bukan fully dominated
everything. Lain halnya waktu cold war, dimana dunia memang merupakan
dwipolar. Sekarang Eropa masih bisa menentang politik ekonomi US. China
sendiri bisa snub US. Russia masih bisa berteriak bahwa Bill Clinton lupa bahwa
Russia merupakan negara nuklir, dan India-Pakistan tak menghiraukan US dan
mentes bom nuklir mereka.

Economically, US is a dominant player and the economic prowess influence the
political situation. However, should the US economics begin to experience its
downturn, then all hell will break loose. Remember the lesson of the Great
Depression where there was no power strong enough to dominate the world; and
then the world only 'constitute' of Europe. (Thank goodness for
Greenspan... :-)  )
The problem with US now is that it still unable to define its position in
this new
paradigm. It has TONS of carrots but the stick is not reliable.




>>Ada satu lagi kelebihan Kissinger: experience.
>>Saya ragu kalau karena dia realis maka hubungan internasional Indonesia
>>melangkah 2 dekade ke belakang. Lagipula posisi dia >sekarang ini  hanya
>>'advisor' sehingga tak mungkin dia bisa >mengendalikan cara Indonesia
>>berdiplomasi.
>
>:) Kissinger terkenal dengan pengalamannya 'meningkatkan perang.'
>Pembunuhan 24 jam di Laos, Cambodia, Vietnam, adalah ide Kissinger untuk
>menguatkan posisi US.  Tapi nyatanya, ide itu membangkitkan kemarahan dan
>kekuatan negara-negara tertindas.

Pada masa Nixon, mereka menyadari posisi US sudah lemah sekali di Vietnam.
Mereka justru menginginkan policy 'Honorable withdrawal.'  Kissinger mengebom
Laos dengan alasan untuk menghentikan jalur Vietcong ke Vietnam Selatan
sehingga US bisa mundur dari Vietnam Selatan.


>Betul bahwa Kissinger terkenal sebagai one of the most powerful statemen
>karena kepiawaiannya berdiplomasi dan menyembunyikan 'borok' policynya. Yang
>dibutuhkan Indonesia sebagai advisor international politik, menurut hemat
>saya, bukan ahli perang tetapi ahli ekonomi dan sosial warfare. Masalahnya
>sekarang dunia sudah berganti arah. Tidak lagi pada angle kekuatan politik
>dan diplomasi kekuatan tetapi pada kekuatan ekonomi.
Ekonomi memang merupakan faktor terpenting pada abad baru ini. Tapi saya
terus terang tetap menyatakan bahwa state itself remains very important factor
and player in international relations.


>>Saya membaca buku yang sama dan juga Kissinger's response di memoir dia.
>>Inti dari pemboman itu adalah supaya US bisa 'withdraw with >honor'  dari
>>South Vietnam sementara itu North Vietnam menggunakan >jalur-jalur dari
>>Laos-Kamboja terus menyerbu Vietnam Selatan dengan >Vietcongnya itu. Untuk
>>itu  mereka mendiskusikan cara untuk  >menetralisir Vietnam Utara terlebih
>>dulu.  Perang Vietnam
>>sendiri sudah lama dimulai sejak tahun 1950-an di masa Prancis dan
>>digantikan US di tahun 1960-an.
>
>:) Salah satu buku yang menguatkan implikasi policy Kissinger adalah Nuclear
>Bom and Foreign Policy. Mungkin bisa jadi pertimbangan dalam meninjau policy
>dia di sana.

Karangan siapa? Apakah anda yakin bahwa Kissinger membaca buku itu sewaktu
menjalankan politik luar negeri dia?



>>'Shuttle Diplomacy.'
>>Walau counter-argumennya itu juga untuk menjaga agar Russia tak terlalu
>>menyebar pengaruhnya di Arab. Policy Kissinger-Nixon waktu >itu adalah
>>'Containment' Russia. Eropa dianggap vulnerable dan middle >East merupakan
>>ladang subur untuk pengaruh Russia.
>
>:) Selalu kembali ke konsep balance of power. Jangan lupa Kissinger's MAD
>policy terhadap Russia.  Saran dia: "Jika berhadapan dengan Russia tunjukkan
>sikap seakan-akan kita marah, gila, dan terkontrol untuk menakuti mereka."
>Well, i do not know exactly where he goes with this.
Boleh tanya di buku mana anda mendapatkan sarannya seperti itu?
Kalau saya membaca 'Kissinger's Transcript,' lebih terlihat sikap orang-orang
yang cold blooded dan calculated bukan orang marah atau gila.
Ide MAD sudah ada jauh sebelum jaman Kissinger-Nixon dan sudah beredar
di kalangan political scientist yang mempelajari implikasi bom nuklir kepada
hubungan internasional.




>>Kembali ke premise pertama bahwa Kissinger pendukung bom nuklir, tulisan
>>saya hanya ingin menyatakan bahwa tak hanya Kissinger, tapi >hampir semua
>>establishment mendukung bom nuklir. FDR merupakan salah >satu pencetus
>>utamanya. Lalu, kenapa anda tak menyatakan bahwa FDR >itu pendukung bom
>>nuklir, tapi hanya single-out Henry Kissinger?
>
>:) Mungkin karena pada masa itu, bom terbanyak meledak dan terbrutal pada
>masa dia menjadi Secretary of State. jangan lupa pemboman 24 jam di Laos.

FDR-Truman memerintahkan pengeboman Hiroshima dan Kobe yang akhirnya
berubah menjadi Nagasaki. Di sana, ratusan ribu penduduk sipil lenyap tanpa
bekas. Tokyo menjadi lautan api. Belum lagi kota-kota di Jerman.

Kembali ke premise diatas, semua tindakan pengeboman dengan mudah akan
bisa dicari penjelasannya. Truman mengebom Jepang dengan alasan untuk
menghentikan perang.
Saya akan ulang lagi yang saya tulis diatas:
Kissinger juga mengebom Laos dengan alasan untuk
menghentikan jalur Vietcong ke Vietnam Selatan sehingga US bisa mundur
dari Vietnam Selatan. Lagipula keputusan membom target diambil setelah
diskusi dan persetujuan presiden dan secretary of defense.


>>Silahkan anda membaca tiga buku memoir dia, terutama 'Years of Renewal.' Di
>>halaman terakhirnya ada surat dari ayah dia kepadanya.
>
>:) Oh ya..you are right.  Yang saya ingat adalah Kissinger digelari
>oleh American Polical Science Association pada tahun 1973 sebagai 'the
>American Nazi.' Gelar ini muncul ketika Kissinger mengakhiri masa 42
>pemerintahan Demokrat di Chili memakan jutaan korban manusia.

Saya rasa mungkin anda perlu juga membaca 'Year of Renewal'-nya Kissinger
untuk mendapat pandangan dari sisi dia. Human rights abuses memang tak bisa
ditoleransi. Itu benar. Tapi pemerintahan Chili sendiri sebetulnya bukan
demokrat.
Alende sendiri banyak dikecam karena menginginkan pemerintahan seperti
Fidel Castronya Cuba. In fact, dibawah Pinochet, pertumbuhan ekonomi Chile
meningkat pesat.

Tapi di sini memang pertanyaannya apakah the end justifies the means?
Soalnya kalau dbilang juga, ex-presiden Suharto terus terang saja diktator,
tapi dibawah dia ekonomi Indonesia meningkat pesat. Ini memang dilema yang
sangat menarik untuk political scientists.



>>Saya tertarik (secara profesional) kalau anda bisa memberikan buku yang
>>menyatakan Kissinger is mapping death dots. Soalnya Kissinger merupakan
>>salah satu tokoh 'favorit' saya. Dokumen itu bisa sangat >membantu saya
>>dalam mempelajari Cold War lebih dalam.
>
>:) Pada tahun 1973(2?) Human Right Convention di Swedia menghukum Kissinger
>secara sipil sebagai "War Criminal." Pada dokument convensi itu, dijelaskan
>secara terperinci keterlibatan Kissinger pada setiap incident di kancah
>international.  Bisa anda dapatkan diperpustakaan, koleksi UN atau simply
>human right.

Menariknya, Kissinger memperoleh Nobel Peace Prize karena usahanya dalam
membantu perdamaian di Timur Tengah antara Mesir-Israel.


>Selain itu, pada tahun yang kurang lebih sama APSA (Amerikan Political
>Science Association) mengadakan voting untuk mencabut keanggotaan Kissinger
>dari APSA karena kebrutalan policynya.  Info ini bisa didapatkan pada APSA
>Review.
Academic waktu itu lebih banyak dipenuhi kaum liberal dan 'doves.' Otomatis
realpolitics mendapat tanggapan dingin dari mereka. Apalagi presiden waktu
itu adalah Republican Richard Nixon. Saya terus terang yakin kalau waktu
itu presidennya masih demokrat dan melakukan politik yang sama, mereka
tak akan dikecam. Maaf kalau saya terkesan skeptik, tapi terus terang saya
memang skeptik kepada objectivity dari academic establishment waktu itu.




>>Bisa anda perlihatkan bukti Kennedy bukan fan cold war?
>>'Ich Bien Ein Berliner'
>>Dalam kampanye Presiden 1959-60, Kennedy mengeritik Eisenhower 'for
>>communist takeover of Cuba in 1959. Dalam debat Kennedy-Nixon, >konsensus
>>yang terjadi adalah siapapun yang menang WAJIB mempertahankan Taiwan tanpa
>>mengorbankannya seincipun. Selain itu, Kennedy juga bertanggung jawab >atas
>>kematian  Diem dengan menyetujui kup waktu itu. Jika presiden US >waktu itu
>>not a big fan of Cold War, dia tak akan  bisa dipilih.
>>Nixon yang merupakan 'Cold War Warrior' dikalahkan Kennedy dengan margin
>>yang sangat tipis dan waktu itu batu nisan pun memilih presiden.
>
>:) Debat yang mana yang anda maksud? Debat presidential candidate yang ke
>berapa? Mereka melakukan tiga kali debat. Saya punya tape/videonya. Akan
>saya lihat/dengar lagi. Saya pernah menulis analysis pidato Kennedy dalam
>presidential campaign. Yang saya tahu, Kennedy tidak membuat komitmen
>tentang perang dalam bentuk apapun dalam menanggapi the Cold War. Perlu
>diingat bahwa tentara yang ke Vietnam di bawah Kennedy hanya 8000 orang.

The Great Debate:
"We discuss tonight domistic issues, but I would not want.... any
implication to
be given that this does not involve directly our struggle with Mr.
Khrushchev for
survival...." Disini Kennedy memperlihatkan posisi dia sebagai 'Cold War
Warrior.'

Kalau anda lihat tapenya lagi, itu ucapan Kennedy verbatim.

Tentang Taiwan, di the third debate, Kennedy dibabat Nixon tentang isu Taiwan.
Kennedy menyatakan "I challenge you tonight to deny the administration has
sent
at least several missions to persuade Chiang Kai Shek to withdraw from
(Quemoy and
Matsu).

Untuk keterangan lebih lanjut, anda saya sarankan juga membaca 'Kennedy and
Nixon'
by Christopher Matthews Chapter 11.

Tahun 1961 Kennedy mengirimkan 16000 American military 'Advisers' ke Vietnam.
(McNamara: In Retrospect)




>>Peace Corps kalau saya lihat lebih banyak merupakan extensi US dalam
>>menghadapi USSR. Mungkin saya sendiri memiliki flaw karena terlalu
>>berpikir secara raison d'etat....    :-)
>
>:) Peace Corps idenya memperkenalkan the young Amerika kepada dunia luar
>karena mereka terlalu 'ignorant.' Misalnya Kissinger, dia tidak tahu banyak
>tentang Asia culturally and politically.  Satu-satunya kesuksesan dia adalah
>membuka hubungan dengan China pada tahun 1972...he..he:)
Ide pertama Peace Corps sebetulnya dari Hubert Humphrey tahun 1957.
Tapi let's face it: waktu itu memang pusat perhatian dunia masih terutama
tentang Eropa-USSR. Asia hanya merupakan 'blip' dan itupun tentang domino
theory. Kissinger sendiri berasal dari Jerman dan tentunya Jerman yang tahun
1930-an lebih mengorientasikan dirinya ke arah Eropa. Waktu PD II selesai juga,
fokus perhatian lebih banyak ke Berlin Crisis, Eastern Europe, Perang
Korea, dan
'Who Lost China?'



>>Tapi melihat tulisan anda yang pertama, saya terus terang confused, soalnya
>>anda menyatakan Henry Kissinger anti social welfare. >Pertanyaannya  adalah
>>apakah jika seseorang bersikap netral/tak >aktif, maka artinya dia  itu
>>anti? Soalnya hal ini jug amenjadi bahan >perdebatan yang cukup menarik,
>>salah
>>satunya ide tentang 'innocent bystanders' yang banyak terjadi waktu
>>pembantaian Hutu-Tutsi di Rwanda.
>
>:) Mungkin karena ide dasarnya Kissinger senang 'perang' maka menghancurkan
>lebih dari pada membantu adalah favorit dia.
Saya rasa dia memang lebih banyak mengambil 'realpolitics.' Tapi saya rasa
ini bagian ini lebih banyak tentang apakah dia melakukan/tidak dan tak ada
basisnya
lebih lanjut untuk diperdebatkan. Soalnya ini mengenai pribadi seseorang, dan
yang paling baik untuk ditanya adalah dirinya secara langsung.


A very interesting discussion. I really hope to hear from you soon.

YS

Kirim email ke