Ateis, Minang, dan Analisis Materialisme
Oleh : Taufiqurrahman
Pemerhati Masalah Sosiologi Agama, Tinggal di Sijunjung
 Padang Ekspres • Selasa10:47 WIB • 1702 klik
Terkuaknya pemilik Akun “Ateis Minang” di Facebook beberapa waktu yang lalu 
cukup 
menggemparkan masyarakat Sumatera Barat. Pasalnya akun yang dimiliki 
oleh seorang oknum CPNS tersebut memakai embel-embel “Minang” yang 
merupakan simbol dari alam nagari yang bersandi syarak, syarak bersandi 
kitabullah.

Secara hukum, Alexander Aan si 
pemilik akun layak diperkarakan ke meja hijau karena telah 
mempropagandakan keyakinan yang bertentangan dengan komitmen berbangsa 
di Indonesia ini, dan juga menyinggung perasaan banyak orang di ranah 
Minang yang secara teguh meyakini Islam dan tidak pernah membayangkan 
suku Minang yang dibanggakan ini memiliki label ateis.

Terlepas dari persoalan hukum, ada 
fakta menarik yang perlu kita cermati, bahwa akun ini diikuti oleh lebih
 dari 1.200 follower, dan jika dilihat dari bahasa komentar-komentar 
yang diberikan, bisa dipastikan mereka semua adalah orang Minangkabau. 
Dari 1.200 member dalam group ini, kalau 1.000 orang saja adalah mereka 
yang sepakat dengan ide ateis tersebut, berarti ada sekitar 1.000 orang 
anak kemenakan di Minangkabau ini yang diam-diam menjadi ateis dan tidak
 percaya dengan Tuhan.
Angka yang cukup mengkhawatirkan untuk 
negeri yang hidup bersandikan syarak, syarak bersandi Kitabullah ini. 
Pertanyaannya, kenapa orang Minang yang terkenal dengan masyarakat 
agamis ini mudah sekali menjadi ateis?

Cara Pandang Meterialisme
Materialisme
 adalah salah satu cabang dalam filsafat, yang biasa disebut dengan 
filsafat materialisme. Filsafat materialisme punya sejarah yang panjang 
dalam perjalanan kehidupan ummat manusia. Dalam pemahaman penganut 
materialisme, dunia tidak lebih dari pergerakan-pergerakan materi yang 
memiliki hubungan sebab akibat dari interaksi antara materi tersebut. 
Materialisme tidak menerima adanya faktor di luar itu, termasuk faktor 
Tuhan sebagai pencipta dan penyebab segala sesuatu (prima causa).

Dalam ilmu pengetahuan misalnya, 
paham materialisme direpresentasikan oleh Teori Evolusi Darwin. Dalam 
teori evolusi Darwin, alam dan makhluk hidup hanya dilihat sebagai 
sesuatu yang “menjadi”, bukan “tercipta”. Konsep tercipta tidak ada 
dalam teori Darwin. Monyet berevolusi menjadi manusia, jentik berevolusi
 menjadi serangga, ulat berevolusi menjadi makhluk yang lebih besar dan 
lain sebagainya. Semuanya berubah sesuai proses alamiah dalam waktu 
jutaan tahun. Teori Evolusi Darwin ini adalah teori yang ateistik, dia 
tidak mengenal apa yang disebut “Ciptaan Tuhan”.

Sejak ditemukannya sistem DNA dalam 
ilmu genetika, pada saat itu sebenarnya teori evolusi Darwin sudah 
menjadi sampah ilmu pengetahuan. Sistem uji DNA memastikan bahwa mutasi 
DNA dari satu spesies ke spesies lain mustahil terjadi. Artinya, DNA 
seekor monyet tidak mungkin bermutasi menjadi DNA manusia, karena DNA 
adalah rangkaian yang rumit yang dimiliki oleh masing-masing spesies 
yang tidak sama dengan spesies lainnya, bahkan antar manusiapun memiliki
 DNA yang tidak sama. Ini cukup menjadi bukti bahwa manusia dan 
kehidupan ini “diciptakan” oleh Sang Pencipta, bukan 
pergerakan-pergerakan materi yang membuatnya “menjadi”. (Harun Yahya: 
Runtuhnya Teori Evolusi Darwin, 2002)

Meski sudah terbukti usang, tapi 
entah kenapa teori evolusi Darwin ini masih diajarkan di sekolah-sekolah
 SMP dan SMA oleh guru-guru kita. Teori yang sudah runtuh ini 
seakan-akan diusahakan untuk ditopang bersama-sama demi mengajarkan 
paham materialisme pada anak-anak kita yang dianggap “seolah-olah” 
sebagai satu-satunya yang paling ilmiah. Karena sesuatu yang ilmiah 
biasa diidentikkan tanpa peran Tuhan. Padahal inilah pintu bagi paham 
materialisme  untuk memasuki pikiran anak-anak kita yang berpotensi 
menjadikan mereka seorang ateis.

Dalam kehidupan sosial dan politik, 
materialisme didominasi dialektika materialisme Hegel. Bahwa 
kesempurnaan itu akan terwujud dengan adanya dialektika dari 
materi-materi yang ada. Dalam kehidupan sosial politik, dialektika 
materialisme ini diwujudkan oleh Karl Marx dengan konsep pertentangan 
kelasnya, yakni pertentangan antara kelas borjuis dengan kelas proletar,
 kelas pemilik modal dengan kelas pekerja. Intinya, bagi penganut 
materialisme, kesejahteraan dan kesempurnaan kehidupan sosial dan 
politik akan terwujud dengan dialektika yang terjadi dari kelas-kelas 
ini.

Komunisme yang pernah hidup di 
Indonesia adalah salah satu pandangan politik yang diturunkan dialektika
 materialisme ini. Dalam wilayah teologis, pandangan materialisme ini 
menjadi apa yang kita sebut dengan “ateis”, karena hampir semua gerakan 
sosial politik dan ilmu pengetahuan yang berangkat dari pandangan 
materialism cenderung untuk menjadi ateis.

Materialisme di Miangkabau
Menarik
 apa yang pernah ditulis oleh Almarhum Prof. Dr. Khaidir Anwar dalam 
bukunya Aspek-Aspek Sosio Kultural Miangkabau Dalam Bahasa. Menurutnya, 
bahwa cara berpikir orang Minangkabau (khususnya orang Minangkabau pra 
Islam) sangat materialisme. Khaidir Anwar menjelaskan falsafah-falsafah 
Minang sebelum datangnya Islam, seperti “alam takambang jadi guru”, 
“Mancaliak contoh ka nan sudah, maambiak tuah ka nan manang”, “ mato 
condong ka nan rancak, salero condong ka nan lamak”, semua itu adalah 
falsafah-falsafah hidup yang realistis dan pragmatis.

Menurut Khaidir Anwar, orang 
Minangkabau tidak terbiasa dengan sesuatu yang mengawang-ngawang dan 
abstrak. Karena itu kisah-kisah Ramayana dan Mahabrata tidak pernah 
poluler di Minangkabau (meskipun Hindu dan Budha pernah bercokol lama di
 sini). Orang Minangkabau sangat realistis dan cenderung pragmatis, 
kakinya berpijak ke bumi. Orang Minang tahu persis cara mencari untung 
dan mendapatkan laba.

Dasar-dasar berpikir seperti ini 
bisa kita pahami dalam beberapa sisi. Pertama, dengan cara berpikir 
seperti ini, wajar saja Hindu dan Budha tidak meninggalkan bekas yang 
begitu dalam bagi kehidupan masyarakat Minangkabau. Kedua, dengan cara 
berpikir seperti ini, Islam dianggap sebagai agama yang cukup realistis 
dan “masuk akal” bagi orang Minangkabau, karena inilah agama yang bisa 
dijelaskan dengan mudah dan sederhana.
Karena itu juga Islam dengan mudah 
berintegrasi dengan adat Minangkabau yang tertuang dalam falsafah, Adat 
basabdi syarak, syarak basandi Kitabullah. Ketiga, seperti yang 
disebutkan oleh Khaidir Anwar, dengan cara berpikir yang cenderung 
materialism tersebut, orang Miangkabau “rentan” untuk menjadi seorang 
ateis, karena mereka biasa mengkalkulasikan segala hal dengan apa yang 
tampak dan apa yang dilihatnya dari alam. Seperti pertanyaan yang 
dikemukakan di awal, kenapa banyak anak muda Minang yang cendrung 
menjadi ateis bisa dilihat dalam analisis ini. Kebanyakan mereka 
terjebak dan terperangkap dalam cara berpikir materialism yang dangkal.

Kalau kita lihat komentar-komentar 
para follower di akun Ateis Minang tersebut, tampak bahwa logika-logika 
yang dimunculkan adalah logika-logika materialism, persis seperti apa 
yang dikemukakan Tan Malaka dalam Madilognya. Contohnya, Kalau Tuhan itu
 ada, kenapa kejahatan tambah merajalela, kenapa tuhan tidak bisa 
menghentikan? Kalau Tuhan itu ada, kenapa ia tidak bisa menghentikan 
banjir, gempa, bencana? dan lain sebagainya.
Alam pikiran materialism tidak bisa 
melihat sesuatu di luar yang tampak. Kajian terhadap hikmah di balik 
peristiwa, pelajaran, peringatan dan lain sebahgainya tidak bisa dicerna oleh 
mereka yang pikirannya didominasi oleh paham materialism. Padahak 
semua kejadian tersebut, baik dan buruk, nikmat dan musibah, semuanya 
itu adalah kejadian yang dalam kekuasaan Allah, dan tugas manusia adalah untuk 
mengambil pelajaran dari semua itu, seperti yang berulang-ulang 
ditegaskan Allah dalam Al-Quran, afala tatafakkarun, afala ta’qilun, 
apakah kamu tidak memikirkan semuanya, apakah kamu tidak mengambil 
pelajaran? Dengan mengambil pelajaran dari setiap kejadian, orang bisa 
bertambah imannya kepada Allah dan semakin baik perilakukan terhadap 
orang lain dan kehidupan ini.  

Karena itu sangat masuk akal, kenapa
 Islam bisa klop dengan masyarakat Miangkabau, karena Islam mampu 
menyeimbangkan dominasi cara berpikir materialisme orang Minang dengan 
cara pandang ketuhanan (ilahiyaah). Orang Minangkabau membutuhkan Islam 
untuk tidak terjebak dalam logika-logika materialism yang dangkal, 
melihat peristiwa sebatas peristiwa tanpa mampu melihat makna yang jauh 
lebih luas dan lebih dalam dari sekedar pergerakan-pergerakan materi.

Tugas Dakwah
Ateis
 itu bukanlah fitrah manusia. Fitrah manusia adalah bertuhan, siapapun 
dia. Allah sudah tegaskan hal itu dalam ayatNya: Alastu birobbikum, 
qoolu, bala sahidna. Bukankah aku Tuhanmu, ya benar, aku bersaksi Engkau
 Tuhanku (Al-Quran 7:172). Artinya kalau ada sekarang sekitar seribu 
orang anak Minang menjadi ateis, itu bukanlah fitrahnya. Menjadi ateis 
adalah akibat. Akibat dari sebuah proses sosial yang salah.

Dakwah Islam adalah salah satu 
medium yang perlu kita evaluasi bersama. Beberapa tahun terakhir ini 
dakwah Islam mengalami distorsi yang sistematis. Di media televisi 
misalnya, sudah terjadi “entertainisasi” terhadap dakwah Islam. Dakwak 
sudah dientertain sedemikian rupa, baik kemasannya maupun ustadz-nya. 
Dakwah menjadi satu paket dengan hiburan, bahkan di sebuah stasiun 
televisi dakwah Islam hanya menjadi selingan dari sebuah acara hiburan.

Di surau, di masjid dan di 
kantor-kantor, pengajian-pengajian keislaman juga mengalami distorsi, 
disederhanakan menjadi bagian dari seremoni dalam peringatan-peringatan 
hari besar. Di sini dakwah Islam kehilangan otoritas dan daya sentuhnya.
 Lebih mengumbar lelucon daripada isi. Belum lagi rasionalisasi yang 
terjadi pada penceramah-penceramah yang (maaf) didominasi oleh 
“buya-buya” di depertemen tertentu yang lengket dengan citra proyek dan 
amplop. Realitas seperti ini semakin membuat dakwah Islam tidak memiliki
 daya getar terutama kepada mereka yang sangat membutuhkan pencerahan.
Karena itu wajar para follower di akun 
ateis itu menyebut para penceramah dan pengkhotbah dengan sebutan 
“tukang kicuah” karena memang yang mereka sampaikan hanya sebatas lisan 
dan sampai di pendengaran, tidak menyentuh ke hati. Pada saat-saat 
seperti ini rasanya kita membutuhkan ulama dengan otoritas kharismatik 
yang menyejukkan, seperti buya Hamka yang dulu pernah dilahirkan dari 
rahim alam Minangkabau ini. (*)


________________________________
 From: ayub <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Sunday, February 17, 2013 12:41 PM
Subject: hati-hati ... [proletar] Nggak terlalu susah kok
 

  


gw serius pig !!
kalo calon korban lu jebak dilaman facebook atheis-minang lu
gw gak ikut2-an.. itu emang teritorial lu !

tapi sekarang calon korban yang lu incar ada di kampung prol's

secara moral, gw musti ngasih rambu2 buat calon korban
biar jangan sampai ada yg bernasib seperti Alex-Aan lagi

nih buktinya....
http://www.tempo.co/read/news/2012/04/07/058395351/Pemilik-Laman-Ateis-Minang-Tinggal-di-Belanda

________________________________
From: Bukan Pedanda [email protected]>
  


  

Pergilah berobat ke psikiater ayub yahya...

Anda jelas makin gila.

Omongan anda makin kaco.

Jual laptop anda untuk biayanya.

--- In [email protected], ayub  wrote:
>
> ngincar korban berikutnya pig...
> kayaknya bakalan berhasil deh
> 
> biasanya orang yang alkitabiyah..
> gampang dijebak.. ngandalin iman sih
> 
> good luck..!!
> 
> 
> 
> 
> ________________________________
>  From: Bukan Pedanda 
>   
> 
> 
>   
> 
> Nggak terlalu susah kok buat Nubtheologian untuk melihat betapa dungunya 
> orang Islam dan para penjilat pantatnya seperti Suryana dan Teddy...
> 
> Dari posting pertamanya dia sudah melihat arra_s yang termasuk manusia yang 
> paling dungu dimuka bumi itu tidak tahu logic.
> 
> http://groups.yahoo.com/group/proletar/message/371104
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

[Non-text portions of this message have been removed]


 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke