Ateis Merusak Aqidah Umat
Ateis Minang Terbongkar, begitu headline Singgalang (19/1). Kita di Ranah Minang tentu saja resah dan cemas tentang keberadaan aliran ateis ini. Tindakan sekelompok orang atau komunitas yang menyatakan diri ateis dengan membawa-bawa nama Minangkabau segala. Terdapat pula caci maki dan penghinaan di dinding akun facebook tersebut, khususnya kepada umat Islam. Paham ateis, menurut Wiki pedia Indonesia, berarti sebuah pandangan filosofi yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, berarti ketiadaan kepercayaan kepada keberadaan Tuhan. Meskipun tidak percaya dengan keberadaan Tuhan, namun pada hakikatnya tidak ada satupun manusia yang tidak bertuhan. Dalam suatu tulisan Kuliah Tauhid oleh Muhammad Imaduddin Abdurrahman, yang diterbitkan Pustaka Salma ITB, secara panjang lebar memberikan pengertian tentang Tuhan. Setiap manusia itu bertuhan, sebagaimana yang dijelaskan dalam Alquran. Pemilik akun Ateis Minang tersebut, seperti yang diberitakan Singgalang bernama Alexander Aan, Warga Kota Padang yang bekerja sebagai CPNS di Bappeda Kabupaten Dharmasraya. Terbongkarnya pemilik akun yang sangat mencoreng nama Minangkabau tersebut merupakan titik awal pengembangan kasus dengan misi serupa. Bisa jadi tersangka memiliki jaringan tertentu di Sumatra Barat, bahkan di daerah lain di Indonesia. Aparat kepolisian diharapkan bisa membongkar kasus tersebut lebih dalam dan menindak tegas pelaku sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Paham ateis bertentangan dengan Pancasila, sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan UUD 1945. Kenapa? Karena ateis tidak mengakui adanya tuhan dalam pengertian agama yang diyakini dan diakui negara. Terbongkarnya akun Ateis Minang menjadi ancaman serius terkait keberadaan aliran sesat dan pencucian otak di Sumatra Barat yang jika tidak disikapi dengan baik akan semakin mendangkalkan generasi muda dari keimanan kepada Allah SWT. Aqidah umat bisa rusak karena pemahaman yang keliru dan menyesatkan tersebut. Pemerintah provinsi, kabupaten/kota perlu melakukan upaya preventif agar aliran sesat maupun pemikiran yang menyimpang seperti ateis ini tidak beranak-pinak di daerah ini. Peristiwa ini harus menjadi pelajaran sekaligus peringatan bagi kita semua. Menjadi pelajaran agar bagaimana ke depan semua pihak, terutama pemerintah, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan tokoh masyarakat bisa memainkan peran pentingnya di tengah-tengah masyarakat dalam memberikan pencerahan dan pemahaman yang benar tentang agama dan adat. Kita semua tentu tidak berharap ke depan Ranah Minang tidak lagi dinodai oleh aliran sesat seperti ateis. Menjadi peringatan agar paham-paham tersebut tidak sedemikian rupa semakin berkembang di Sumbar, perlu ada langkah dan gerbakan nyata dari pemerintah bersama tungku tigo sajarangan dan tokoh masyarakat guna membentengi diri masyarakat dari paham yang menyesatkan. Pemahaman keislaman secara intensif bisa menjadi salah satu solusi, di samping upaya menghidupkan Masjid tidak saja sebagai tempat beribadah, namun juga tempat menuntut ilmu agama. Gerakan kembali ke masjid penting digalakkan, dengan mengimbau dan mendidik generasi muda sedini mungkin untuk lebih mencintai masjid. Kegiatan di masjid perlu diselaraskan dengan kegiatan pendidikan di sekolah. Selama ini kita melihat upaya pemerintah dalam menanamkan kegiatan keagamaan cenderung bersifat seremonial atau ivent semata dengan memanfaatkan momen tertentu, seperti pesantren Ramadhan. Pesantren Ramadhan adalah program yang baik sebagai upaya pemerintah meningkatkan pemahaman agama kepada generasi muda. Namun hendaknya, kegiatan itu bisa berkesinambungan dilakukan di luar Ramadhan, melalui pembinaan di sekolah, maupun di Masjid atau mushalla di sekitar tempat tinggal siswa. (M.LUTHFI MUNZIR/singgalang) ________________________________ From: ayub <[email protected]> To: "[email protected]" <[email protected]> Sent: Sunday, February 17, 2013 12:41 PM Subject: hati-hati ... [proletar] Nggak terlalu susah kok gw serius pig !! kalo calon korban lu jebak dilaman facebook atheis-minang lu gw gak ikut2-an.. itu emang teritorial lu ! tapi sekarang calon korban yang lu incar ada di kampung prol's secara moral, gw musti ngasih rambu2 buat calon korban biar jangan sampai ada yg bernasib seperti Alex-Aan lagi nih buktinya.... http://www.tempo.co/read/news/2012/04/07/058395351/Pemilik-Laman-Ateis-Minang-Tinggal-di-Belanda ________________________________ From: Bukan Pedanda [email protected]> Pergilah berobat ke psikiater ayub yahya... Anda jelas makin gila. Omongan anda makin kaco. Jual laptop anda untuk biayanya. --- In [email protected], ayub wrote: > > ngincar korban berikutnya pig... > kayaknya bakalan berhasil deh > > biasanya orang yang alkitabiyah.. > gampang dijebak.. ngandalin iman sih > > good luck..!! > > > > > ________________________________ > From: Bukan Pedanda > Â > > > Â > > Nggak terlalu susah kok buat Nubtheologian untuk melihat betapa dungunya > orang Islam dan para penjilat pantatnya seperti Suryana dan Teddy... > > Dari posting pertamanya dia sudah melihat arra_s yang termasuk manusia yang > paling dungu dimuka bumi itu tidak tahu logic. > > http://groups.yahoo.com/group/proletar/message/371104 > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
