Anda menulis: "Yang menjadi pertanyaan mengapa mereka mau menjadi migran ke negara barat ?, tidak kenegara yang memiliki budaya dan kultur sejenis, dan mengapa pula hal ini 'seperti' didiamkan."
Lha enak... Hidup di negeri kafir itu jauh lebih enak dari di Saudi Arabia... Jaminan sosial dan jaminan kesehatan dan kebebasan di Australia, Eropa dll.itu aduhai... Saya yakina nda tidak bisa membayangkan betapa bagusnya jaminan sosial dan jaminan kesehatan di Eropa. Bayangkan: di negeri Belanda gigi dikontrol tiap enam bulan sekali... dan kerang gigi juga dikorek sekali enam bulan atau sekali setahun bergantung banyaknya kerang gigi. Jadi ketemu orang ompong di negeri Belanda itu ya jarang. Yang punya kacamata rada tebelan diperiksa tiap tahun. Dengan sistem huisarts atau dokter keluarga (tiap orang memilih dokter keluarganya) kesehatan tiap penduduk Belanda terjaga dengan baik... Saya tiap kali kena pilek dan minta aspirin diperiksa tekanan darah dan, terakhir, ketika tekanan darah saya diatas 130 dokter keluarga saya bilang: bagusnya anda lebih banyak bergerak badan disamping naik sepeda kemana-mana... Makanya sekarang saya juga jogging tiap pagi,kecuali kalau hujan. Memang kudu bayar premi asuransi, tapi sekali bayar premi maka tu kesehatan dijaga bener oleh jaringan pelayan kesehatan (dokter, spesialis, apotik, rumah sakit..) Akan halnya jaminan sosial juga duh bagusnya.. Lha orang gelandangan juga dapa ttunjangan dan ... (ini puncak lux) dapat uang pakansi. Nggak cukup buat pergi ke Bali tiap tahun, sih, tapi dapat uang pakansi. Jadi nggak heran bahwa orang Islam itu pada berebut pindah ke Eropa misalnya. Dan di Eropa mereka beranak pinak kayak babi dan bikin onar... --- In [email protected], "gsuryana" <gsury...@...> wrote: > > Orang Tionghoa pada umumnya memang tidak mau membuat keributan, karena ada > ajaran dari para ahlinya semisal Konghucu yang secara tidak sadar masuk > kedalam pola pikir, dimana ada istilah jangan mencubit bila tidak mau > dicubit, dan hal inilah yang umum dilakukan oleh migran Tionghoa, jadi belum > apa apa sudah bersikap defence. > > Berbeda dengan etnis lain yang tentunya berbeda kultur dan budaya. > Migran yang datang ke Europa bisa dibilang kumpulan manusia yang berbeda > latar belakang kebiasaan, seperti yang aku tulis pemahaman demokrasi dan HAM > yang dianut oleh masyarakat Barat berbeda hasilnya didalam pandangan para > migran, dan itu tidak bisa langsung dipersalahkan begitu saja, karena memang > beda sudut pandang. > > Yang menjadi pertanyaan mengapa mereka mau menjadi migran ke negara barat ?, > tidak kenegara yang memiliki budaya dan kultur sejenis, dan mengapa pula hal > ini 'seperti' didiamkan. > > Apakah mungkin sekelompok manusia menjadi teroris tanpa sebab musabab yang > jelas ?, belum lama berselang macan tamil pun melakukan kekerasan di > Srilangka, siapa yang peduli ? > Perompak/bajak laut di Somalia sedemikian meresahkan pelayaran sampai sampai > Iran ikut campur untuk memerangi perompak, bagaimana dengan rakyat yang > ingin damai sedang dia tinggal di negara yang serba tidak aman. > > Uda belum menjawab bagaimana akhir dari Libanon ( ditahun 70-an sangat > populer sebagai salah satu surga dunia sampai 007 dibuat disana ), Irak, > Afganisthan dan negara negara lainnya, selama sumbernya tidak diperbaiki > minimal aman untuk di tinggali apa mungkin akan banyak migran yang datang ke > Barat ? > > sur. > > sur. > ----- Original Message ----- > From: "utusan.allah" <utusan.al...@...> > > > Banyak pendapat yang anda sampaikan ngaco... > > Saya balas satu per satu biar nggak tumpang tindih. > > Saya ambil soal migran. > > Anda perhatikan: migran Tionghoa di Eropa, Australia atau Amerika > Utara itu boleh dibilang tidak pernah bikin onar. > > Mereka tidak menutut agar Konfusiunisme dijadikan dasar negara di > Inggeris misalnya. > > Dan jarang, sungguh jarang orang Tionghoa itu membunuh orang Amerika > atau orang Eropa atau orang Australia. > > Dan kalau mereka bikin kelenteng, seperti di Amsterdan misanlnya, duh > mungilnya seakan-akan ngumpet diantara restoran dan toko Tionghoa... > > Nggak menyolok. > > Dan mereka kerja, kerja, kerja dan kerja... > > Anda perhatikan di Australia misalnya, murid Tionghoa suka lebih > tinggi angka raportnya dari orang kulit pultih.. > > Dan bila anda perhatikan para peneliti ilmùiah di Eropa, Australia dan > Amerika, sering kita temui nama Tionghoa... > > Coba cari nama Muhammad atau Amir. > > Apalagi Azisah atau Fatimah. > > Dan migrant Tionghoa itu nggak suka bikin gerecokan. > > Jarang, sungguh jarang orang Eropa, orang Australia, orang Kanada, > orang Amerika yang sebel dengan miogran Tiobnghoa, karena mereka itu > nggak suka bikin onar. > > Tidak kebetulan bahwa di Den Haag misalnya, nama jalan di Chinatown > juga ditulis dengan....huruf Tionnghoa. > > Dan orang Islam? > > Mereka bikin mesjid maunya sembari menyaingi gereaja dan kathedral... > > Menara mesjid di Rotterdam misalnya tinggi menjulang dan bisa dilihat > oleh tiap orang yang naik kereta api.. > > Dan di Inggeris mereka minta syariah dilaksanakan... > > San mereka suka bikin onar. > > Theo van Gogh dibunuh orang Islam. > > Lalu bom di London. > > Bomb di Madrid... > > Dan ribut-ribut soal kartun Denmark juga masih segar diingatkan kita. > > Nggak bisa disalahkan sama sekali bila diberbagai negara Eropa ada > orang yang merasa terganggu dengan gerecokan orang Islam itu. > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
