Ambo Nimbrung,
kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, Usman Pelly Professor antropologi di Medan pernah menulis dalam disertasinya bahwa voluntary migration pada orang minang tidak ada kaitan sama sekali dengan kemiskinan. Pendorongnya ialah usia, jenis kelamin dan ada tidaknya kerabat di kota. Dengan adanya kasus trafficking ini.......... apakah Usman Pelly cuman mimpi doang?
Adrisman Yunus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Adrisman Yunus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
"C", membaca uraian dibawah ini , memang akhirnya masalah trafficking ini semua kembali bermuara ke persoalan poverty disamping juga lemahnya dasar dasar agama yang dibekali oleh para orang tua kepada anak anaknya.Ironisnya kalau kita lebih teliti melihat, maka poverty ini sebagian besar terjadinya justru dinegara negara yang berpenduduk agama islam.Bicara kemiskinan, tidak terlepas dari peranan penyelenggara negara yang mestinya bertanggung jawab menyediakan pekerjaan untuk rakyatnya.Kemiskinan membuat segalanya menjadi halal bagi yang bersangkutan untuk melakukan apa saja demi alasan agar bisa tetap survive dalam hidup ini.Jadi kalau orang kampung ketipu dikirim ke Malaysia ( sorry.... contoh aja ), katanya bakal kerja di pabrik !!!!, padahal nyatanya...?? terjerumus ketempat tempat "begituan".Kalau sudah begini siapa yang bisa disalahkan...???. Untuk mencari siapa yang salah ini pasti bisa panjang daftarnya kalau mau dibuat....Tapi kalau mau dibuat daftarnya singkat, ya nomor urut pertama tentu siperempuan yang bersangkutan, kedua orang tuanya, dan kemudian penyelenggara negara ini.Si perempuan tersebut jadi salah karena dia tidak teliti, mudah terbujuk dan takut miskin, padahal kalau kita beragama islam seharusnya kita harus yakin dengan semua yang sudah digariskan Allah terhadap diri kita masing masing 5000 tahun sebelum roh ini ditiupkan keraga kita..Sedangkan orang tua ikut salah karena sebagai orang tua kita punya kewajiban memberi pendidikan yang cukup agar anak kita bisa mendapat kehidupan yang layak dan disamping itu kita juga wajib memberi bekal agama agar dengan agama dan iman yang kuat tidak akan dengan mudah bisa dibujuk dan di iming imingi dengan impian yang semu.Dan yang terakhir adalah penyelenggara negara ini. Nah kalau ngebahas ini pasti seru dan entah darimana kita mesti mengurut benang kusutnya. Kalau seorang anak ditelantarkan orang tuanya, maka dengan mudah kita mengadukan orang tua si anak kepada yang berwajib. Tapi kalau negara menelantarkan rakyatnya.....? Ini akan menjadi dosa kolektif bagi penyelenggara negara dan entah siapa yang mesti diadukan ???, pak RT...??? , pak RW ...??, mentri urusan prp kah, mentri tenaga kerja kah...????..., atau jauh keatas lagi...???Kalaupun iya, lantas mau diapakan...????, mau dipenjarakan semua....???Ini benar benar menyedihkan, it's really really sad......, but it's really really true.aduh berat nih Cys, kalau udah ngomongin urusan negara, lebih baik Om Ad serahin aja deh ke mak malin yang lagi semangat ngorbitin partainya para ustadz......hehehe...mendingan nikmatin Here Without You-nya 3 Doors Down sambil nikamatin buka puasa dengan gulai cubadak dan teri lado ijo...:)selamat puasa Cys, dan juga sanak kasadonyo......, jangan lupa banyak banyakin baca doa Innaka 'affuwung Kariim tuhibbull 'afwa fa'fu 'anni di malam lilikuran ini, kalau udah qadarnya insya allah bertemu dengan malam lailatul qadar... aaaminn.WassalamOm AdCysca <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Menurut ADB : 1-2 juta manusia diperjual belikan setiap tahun di seluruh dunia (estimasi)Negara miskin : sebagian besarAsia Barat : 150 ribuAsia Tenggara : 225 ribu.Di Indo, penyakit trafiking bermuara "hanya" pada law enforcement yang tidak diterapkan dimana dalam banyak kasus terdapat aparat terutama di daerah yang turut berperan bahkan menyuburkan trafiking dengan pungutan2 liarnya. Selain kemiskinan dan pendidikan yang menjadi persoalan.Biasanya para calo membujuk perempuan2 muda di pasar swalayan, sekolah2, dan di kampung2 mereka dengan iming2 gaji lumayan. Karena terdesak masalah ekonomi, maka mereka menerima tanpa menyadari resikonya.Proses pembebasan yang telah dilakukan selalu menyita waktu, tenaga, melibatkan pihak2 berkuasa yang tidak sedikit. Padahal masih ratusan lainnya perlu dan ingin dibebaskan.(Hasil Rangkuman : Jurnal Perempuan No.29, Perdagangan Perempuan dan Anak Indonesia)"C"
Do you Yahoo!?
Protect your identity with Yahoo! Mail AddressGuard

