Assalamualaikum,

Mohon maaf ikut juga berkomentar soal tahlilan ini.
Saya berasal dari keluarga yang punya kubu jelas untuk soal ini.  Kakek saya 
dari pihak ibu adalah pentolan tarbiyah sejati.  Kalau ditanyakan tentang engku 
Siradjuddin Abbas, beliau akan bisa semalaman bercerita.  Kakek cukup dekat 
dulunya, pernah menjadi murid beliau.  Kakek saya termasuk orang yang 
mengingatkan beliau tentang beberapa kejadian penting Perti di tahun 60-an.  
Sementara dari lini ayah, bertradisi Muhammadiyah. 

Dahulu memang sangat kentara konflik ini, dengan didalamnya terdapat kata 
bid'ah dan segala macamnya.  Lalu isu bisa digeser masalah khilafiah dan sebuah 
mozaik perbedaan. Generasi berikutnya sudah tidak mennggapnya sebagai sebuah 
perbedaan mendasar yang membuat kita memandang pihak lain sebuah kelompok yang 
salah.  Sekarang ayah saya bisa mengimami kakek saya dalam sebuah shalat 
berjamaah.  Hal yang dulu, katanya paling sulit untuk terjadi.  Ayah saya juga 
sudah biasa menghadiri tahlilan "menghitung hari", walaupun tetap tidak mau 
menerima bungkusan.  Hanya untuk urusan basanji dan muludan, ayah saya memang 
tidak mau untuk hadir.

Sangat setuju dengan pendapat bahwa menjadikan urusan seperti ini sebagai 
sebuah aturan formal dalam Kompilasi ABS SBK, akan memancing sebuah konflik 
horizontal di tengah masyarakat.  Over acting malah.  Ada sebuah pendapat lagi 
bahwa Al Quran dan Hadits di tengah bangsa ini kita jadikan sebagai sebuah 
source of law.  Bukan text of law itu sendiri.  Dan saya setuju untuk itu.

Wassalam,

Mantari/29

----- Original Message ----
From: Fajar Izzani <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, February 8, 2008 10:17:15 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Tahlilan



Assalamualaikum 
W 
W

sato 
ciek 
nimbrung..

kalau 
hal 
yang 
benar 
emang 
harus 
dihadapi 
dengan 
bijak
akan 
tetapi 
hal 
yang 
benar 
pun 
tidak 
perlu 
takut
dengan 
hal-hal 
terburuk 
sekalipun, 
akan 
tetapi 
mungkin
caranya 
tidak 
segampang 
dengan 
membalikan 
telapak
tangan, 
ya... 
harus 
secara 
dakwah 
terus 
menerus 
dengan
mereferensi 
kepada 
al-quran 
dan 
hadits.
ya 
kalau 
emang 
tidak 
ada 
dalam 
tuntunan 
al-quran 
dan
hadits 
ya.. 
kita 
perlu 
sampaikan 
.... 
dan 
tidak
membawa 
muhamdiyah 
atau 
nu 
atau 
lain 
sebagainya.
"sampaikan 
walau 
1 
ayat" 
....
sebagai 
muslim 
kita 
bersaudara 
dan 
sebagai 
bersaudara
wajib 
menyampaikan 
benar 
itu 
benar 
salah 
itu 
salah.
masalahnya 
bukan 
tahlilan 
saja 
yang 
jadi 
masalah, 
tapi
banyak 
kita 
temukan 
hal2 
yang 
menyimpang 
dari 
ajaran.

kok 
ado 
nan 
salah 
dalam 
penyampaian 
mohon 
maaf.

wasalam
--- 
benni_inayatullah 
<[EMAIL PROTECTED]>
wrote:







      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Peraturan yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: 
[EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke