Alhamdulillah - semula diraso kato " bagalau" - ternyata berlanjut menjadi pemaparan yang sangat mengasyikkan. Oleh karenanya untuk mencari kebenaran dalam rangka menyusun " Sejarah Minangkabau, selayaknya nanti Tim yang akan menyusun naskah mau tidak mau harus melibatkan kalangan : arkeologi - antropologi dan ahli sejarah.
Ambo alah manyimak bahwa direncanakan nama - nama Tim penulisan sejarah Minangkabau telah melibatkan para ahli dibidangnya, seperti : - Nopriyasman selaku koordinator yang sekaligus akan menulis sejarah kerajaan-kerajaan di Minangkabau, - anggota Zuriatin yang akan menulis tentang nagari-nagari, - didukung oleh Prof Gusti Asnan, Ph D, Drs M.Yusuf, M.Hum, Dr. Anatona, M.Hum, Fitra Alida, dan Prof Dr.Nadra,M.A. Namun yang menjadi pertanyaan bagi ambo adalah : bahwa sesuai dengan migrasi " melayu muda " yang berasal dari utara semenanjung Birma sekarang (mohon dikoreksi...??), - apakah pusat peradaban baru pada masa itu benar benar berawal dan terletak di wilayah minangkabau , seperti yang diceritakan dalam Tambo dan - apakah tidak sebaliknya bahwa kerajaan di Minangkabau adalah potongan /penggalan /serpihan kerajaan kerajaan di pantai timur Sumatera seperti : Kerajaan Siak, Kerajaan Kampar, dll. Mengutip pendapat Datuk Endang : " Perlu patut dicatat bila posisi geografis kerajaan-kerajaan Sumatera masa itu jauh lebih strategis dibandingkan Jawa, sehingga lebih terbuka terhadap dunia luar yang berarti mengalami peradaban (dan teknologi) yang lebih maju. Sehingga dalam penalaran saya akan dapat diketahui bahwa migrasi melayu muda itu berlangsung secara evolusi - mulai turun ke Muangthai kemudian Malaysia - masuk wilayah pesisir timur Sumatera dengan kerajaan yang ada disana - kemudian Darmasyraya - dan lain - lain kerajaan sebagaimana yang disebut oleh Sanak Arman, yang menyatakan yaitu : " Jadi tidak salah kalau Prof. Slamet Mulyono mengatakan bahwa pada awalnya telah ada penguasa2 atau kerajaan2 silih berganti sekitar gunung Merapi Sumatera Tengah sejak awal abad pertama masehi entah itu bernama kerajaan Pasumayam Koto Batu, Kerajaan Bungo Satangkai, Kerajaan Bukik Batu Patah dan Damarsraya yang dilanjutkan dengan Pagaruyuang dan kerajaan2 dibawah takluknya yang kemudian coba berdiri sendiri seperti Kerajaan Tiku, Pariaman Nan Tongga Magek Jabang, Indrapuro, Sungai Pagu, Gasib, Gunung Sahilan, Tambusai dan banyak lainnya. Dengan demikian posting subyek email ini berstatus masih terbuka. Apresiasi yang tinggi saya haturkan untuk Datuk Endang dan Pak Arman Bahar. Mohon maaf pada Rang Dapua - postingnya indak dikuduang kuduang..... Wassalam, Hifni H. Nizhamul http://hyvny.wordpress.com http://bundokanduang.wordpress.com Tuesday, January 20, 2009 10:58 PM From:"Arman Bahar" <[email protected]> To:[email protected] Assalamualaikum ww Suai ambo Datuak Endang tidak hanya didaerah Bonjol hampir sebagian wilayah Sumatera Tengah ini sampai kedaerah Sumatera Utara dan Aceh adalah sebaran agamo urang saisuak namun yang lebih berkembang sebagaimana kita lihat tentu kearah Selatan pulau ini Ambopun suai pulo jo sanak Defian Cori bahwa sejarah Ranah ini kita telisik perkurun atau periode masing2, kalau selama ini kita terarah sekitar abad 11 dan 12 tidak salah kalau kita coba pula ke sebelum itu sedikit Kalau dihulu Sungai Kamwar (sekarang dieja Kampar) +/-2km tapal batas Kabupaten 50 Kota Sumbar terdapat Candi Budha Muara Takus maka kearah utara sedikit didesa Simagambat Mandailing Sumatera Utara terdapat pula situs candi yang diketemukan 1920 oleh Bosch dan Schinger (arkeolog Belanda) demikian pula di Padang Bolak, Padang Lawas, Barumun, Sosa dan banyak tempat lain-nya Lebih ke utara lagi di Aceh ada banyak situs candi didaerah ini, namun yang terkenal adalah 2 buah candi Indera Purwa tempat beribadat kaum lelaki dan Indera Pur(w)i tempat beribadat kaum perempuan (+/- 25km arah timur Banda Aceh) kemudian diubah menjadi Mesjid dizaman Kesultanan Lamuri Aceh abad ke12 dan sekarang bernama Masjid Raya Indrapuri Bagaimana dengan Ranah Bundo, selain candi Muara Takus dekat tapal batas Kabupaten 50 Kota ada lagi 2 situs komplek candi di Kabupaten Padang Pariaman yang disebut Candi Mahligai dan Candi Puti Sangka® Bulan (ado dunsanak nan tau dima posisi tapeknyo?) Sebetulnya ada banyak situs candi di Sumatera Barat yang namun karena tidak ada yang ngurus maklum kan anak nagari lah masuak Islam sadonyo hinggo lenyap tinggal puing2 yang sulit dilacak kembali seperti di Pagaruyuang itu sendiri, Biaro, Lembah Bujang dll Jadi tidak salah kalau Prof. Slamet Mulyono mengatakan bahwa pada awalnya telah ada penguasa2 atau kerajaan2 silih berganti sekitar gunung Merapi Sumatera Tengah sejak awal abad pertama masehi entah itu bernama kerajaan Pasumayam Koto Batu, Kerajaan Bungo Satangkai, Kerajaan Bukik Batu Patah dan Damarsraya yang dilanjutkan dengan Pagaruyuang dan kerajaan2 dibawah takluknya yang kemudian coba berdiri sendiri seperti Kerajaan Tiku, Pariaman Nan Tongga Magek Jabang, Indrapuro, Sungai Pagu, Gasib, Gunung Sahilan, Tambusai dan banyak lainnya Kembali kezaman saisuak pada permulaan masehi disekitar Merapi ini sudah ada kerajaan yang disebut dengan Kerajaan Kuntala dan Kerajaan Melayupura (Melayu Kuno) sekitar perbatasan Sumbar Jambi sekarang yang eksis lebih kurang 3 abad lalu muncul kerajaan Swarnabhumi sekitar abad ke5 Kerajaan Sriwijaya yang belum bernama Sriwijaya juga berasal dari sekitar gunung Merapi yang kemudian pindah keselatan sebagai disampaikan mak Datuak Endang dengan Prasasti Kedukan Bukit (683M) itu “Bahagia pada tahun saka 605 hari kesebelas - bulan terang bulan waisaka dapunta hyang naik di - perahu mengadakan perjalanan. pada hari ke tujuh bulan terang - bulan jyestha dapunta hyang berangkat dari "minanga" - tambahan beliau membawa tentara dua laksa - tiga ratus dua belas banyaknya, datang di mukha upang - dengan senang hati pada hari kelima bulan terang bulan asada - dengan lega gembira datang membuat wanua - perjalanan jaya sriwijaya memberikan kepuasan" Bisakah kita mulai starting point kita menelisik sejarah Ranah Bundo ini mulai dari “Dapuntahyang” saja dulu, mudah2an bisa yaa, kan ada Datuak Endang pakar kita Wasalam Armansamudra --- On Tue, 1/20/09, Datuk Endang <[email protected]> wrote: From: Datuk Endang <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Resume : Tambo - Silsilah Kerajaan - Gelar Sangsako Adat (penutup) To: [email protected] Cc: [email protected], [email protected] Date: Tuesday, January 20, 2009, 12:51 PM Waalaikumsalam ww. Lai batua sanak, ada banyak yang terlewat pada era-era sebelum itu, lebih tepatnya adalah era Budha yang melahirkan di antaranya Candi Muara Takus itu. Budha cenderung berkembang di dataran rendah. Pada waktu kunjungan ke Bonjol dulu, saya juga merasakan bila Budha dulu berkembang pesat di tempat ini, terutama di daerah cekungan Bukit Barisan, mulai dari lembah Alahan Panjang sampai ke Rao (rawa). Ada ditemukan beberapa batu basurek, dan katanya juga di Rao juga ada petilasan biara, yang batu-batunya kemudian digunakan untuk membangun benteng Amerongen. Kalau era menhir, memang lebih jauh. Kalau era abad 5 s/d 7, bisa dirujuk Prasasti Kedukan Bukit sebagai prasasti tertua (683 M), yang terjemahannya: "bahagia pada tahun saka 605 hari kesebelas - bulan terang bulan waisaka dapunta hyang naik di - perahu mengadakan perjalanan. pada hari ke tujuh bulan terang - bulan jyestha dapunta hyang berangkat dari "minanga" - tambahan beliau membawa tentara dua laksa - tiga ratus dua belas banyaknya, datang di mukha upang - dengan senang hati pada hari kelima bulan terang bulan asada - dengan lega gembira datang membuat wanua - perjalanan jaya sriwijaya memberikan kepuasan". Istilah 'Minanga' ini menimbulkan perdebatan di antara ahli sejarah. Selanjutnya dapat dibaca buku "Periodisasi Sejarah Sriwijaya", karya Arfan Ismail, Unanti Press, 2003. Apakah Minanga merupakan cikal bakal istilah Minangkabau? Namun belum ada sejarawan yang mengaitkan Minanga dengan Minangkabau. Bila ada pendapat yang kuat, maka Dapunta Hyang yang mendirikan dinasti Sriwijaya adalah berasal dari Minangkabau. Saat ini belum ada usaha yang serius untuk menggali bahan-bahan arkeologi yang ada, termasuk sekitar Muara Takus. Dalam era yang sama memang telah tumbuh Kerajaan Melayu di Jambi yang tipikal Hindu. Para pengembara Cina menyebutkan, sebelum ke Sriwijaya mereka menyempatkan diri terlebih dahulu belajar bahasa Melayu di Melayu. Jadi memang ada 2 kerajaan besar pada era itu, yaitu Melayu (Hindu) dan Sriwijaya (Budha). Sementara Minangkabau begitu-begitu saja; tidak tersentuh oleh kedua kekuatan itu. Dari sini mudah-mudahan sanak sudah dapat menalikan beberapa hubungan, di antaranya hakekat Ekspedisi Pamalayu, apakah penaklukan oleh Singhasari (Hindu), ataukah permintaan bantuan militer karena sudah ada ancaman dari Syailendra dan Cina (Budha)? Sampai disini Uli Kozok dalam bukunya juga sudah mulai ragu. Perlu patut dicatat bila posisi geografis kerajaan-kerajaan Sumatera masa itu jauh lebih strategis dibandingkan Jawa, sehingga lebih terbuka terhadap dunia luar yang berarti mengalami peradaban (dan teknologi) yang lebih maju. Sementara demikian dulu sanak, untuk bahan pemikiran lebih lanjut. Wassalam, -datuk endang --- On Tue, 1/20/09, Arman Bahar <[email protected]> wrote: From: Arman Bahar <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Resume : Tambo - Silsilah Kerajaan - Gelar Sangsako Adat (penutup) To: [email protected] Date: Tuesday, January 20, 2009, 8:28 PM Assalamualaikum ww Ada yang luput dari pengamatan para penulis sejarah menelisik tentang Melayu Minangkabau selama ini akibatnya semakin ditelisik semakin terasa ada yang hilang Rasanya gak adil kalau titik awal kita adalah Pamalayu dengan aktor utamanya Sri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa (1270-1297) sang ayahanda Dara Jingga dan Dara Petak dari kerajaan Darmasraya yang kemudian memunculkan Adhityawarman (1294-1375) dan anaknya Ananggawarman (1348-1417) tepatnya akhir zaman Singosari dan awal Mojopahit Lantas pertanyaan-nya tidak adakah masa sebelum itu diseputar negeri ini yang menorehkan sejarah? Bukankah kearah selatan ada Sriwijaya dan Melayu (kuno) Jambi dan kearah timur ada Candi Muara Takus di Tigobaleh Koto Kampar Riau? Tidak yakinkah kita bahkan dinegeri ini jauh sebelum kurun waktu yang disebut dalam tambo tentang kedatangan Maharaja Diraja telah ada pula sebuah komunitas nenek moyang negeri ini yang boleh kita percayai sebagai komunitas tertua yang pernah ada tepatnya di Balubuih, Mahek, Ranah, Koto Tinggi dan Koto nan Godang Kabupaten 50 Kota dimana terdapat lebih 100an mehir berbagai bentuk dan posisi yang sampai sekarang belum ada keberanian para ahli mengutak-atiknya Kalau ini bisa diungkapkan berarti asal nenek moyang kita dari puncak gunung Merapi bakalan tereleminasi dengan sendirinya sebagai yang disebut Ibu Hifni Dimano titiak palito Dibalaik telong nan berapi Dimano asa mulo niniak kito Iolah dari puncak gunuang Marapi Okelah kita terima saja sementara ini bahwa asal nenek moyang kita itu dari puncak gunung Merapi, tapi tentu ada proses gimana mereka bisa sampai kesana, turun dari langit rasanya enggak ah, turun dari kapal langsung merapat kepuncak gunung yang kala itu hanya laut luas tak bertepi lalu tampak dari jauh puncak Merapi segedang telur itik kayaknya ntar kita diketawa-in ahli geologi iya kan lantas gimana nih ??? Kalau kita langsung telisik ke menhir yang di Balubuih Payakumbuah itu mungkin jauh amat, gimana yang agak dekat2 dikit tapi lebih tua dikit dari Mojopahit dan Damarsraya, yaa kira2 sezaman Sriwijaya kira2 abad 5 sampai 7 lah gitu itung2 masih satu periode dengan zaman Rasulullah SAW di Jazirah Arab sono Wasalam armansamudra --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
