Selamat pagi Milister salamat jumpa kembali. Mas aunur sangat benar dalam menyatakan :
Pasar tradisional tidak akan hilang kalau pemerintah daerah bisa mengelola dengan baik dan ini terbukti di banyak negara seperti Thailand, Malaysia, bahkan di Amerika maupun di Eropa. Masih banyak warga kita yang senang dengan pasar tradisional karena bisa memperoleh barang yang fresh dan murah. Salah satu contoh pasar tradisional di Jakarta yang berada di tengah kota dan tetap ramai adalah pasar Mayestik. Saya hanya bercerita tentang pengalaman lalu saya di Jogja pada saat me-launch pendekatan pembangunan CBD dan Mall untuk mengurangi kepadatan Malioboro dengan sebuah statement : Jogja akan membangun 8 mall. Waktu itu teman2 pakar banyak yang menyayangkan statement saya karena menurut mereka policy ini akan membunuh pasar tradisional. Terlepas bahwa statement tsb saya buat dalam rangka untuk mendinamisasi ekonomi atau benar2 untuk pembangunan, ternyata sampai dengan hari ini pasar-pasar tradisional yg ada tidak pernah terganggu. Bahkan ada Ambarukmo Plaza yg dihuni oleh Carrefour dan sekitar 1 kilometer dari sana ada pasar demangan, ternyata tetap adem ayem tidak berkurang animonya. Belum lagi pasar kranggan, beringharjo, sentul dll. Dari pengamatan saya ada beberapa pelajaran yang mungkin bisa kita ambil : a. pasar tradisional baru dipengaruhi bila berada pada satu ceruk pasar (market segmentation), sedangkan pasar tradisional sebagian besar ceruknya berbeda dengan pasar-pasar modern. Saat ini memang sudah terdapat overlap ceruk dalam beberapa komoditi tertentu misalnya kecap ABC, mie instant, tetapi sebagian terbesar lainnya tidak. Tapi misalnya untuk mainan, tidak mungkin mainan dari plastik residu akan dijual di supermarket karena secara economic scale sudah tidak masuk, namun ini masih berjaya di pasar tradisional. b. pengaruh menjadi sangat terasa pada jenis-jenis komoditi yang bersifat in-elastic, bila price sensitivity sangat tinggi maka pasar tradisional akan tetap berjaya. Hal ini disebabkan karena pasar tradisional pasti akan mempunyai kemampuan untuk menekan biaya karena pajak dan retribusi maupun biaya lokasi lebih rendah. Karena dengan berbeda Rp 500 seorang lebih rela berbecek-becek dan tawar menawar. Hal ini sangat berlaku di Jogja. c. bila daya beli masyarakat sangat rendah maka keberanian untuk masuk ke pasar modern juga menurun, bahkan mereka cenderung tidak berani masuk ke toko-toko yang menjual barang-barang murah krn gebyarnya. Jadi muncul inferiority pada masyarakat karena gebyar dari pasar modern. Meskipun hal ini sudah mengalami penurunan saat ini. Case yang terjadi justru mall tersebut menjadi window shopping bag penduduk setempat. Ini kasus yang dialami jogja. Karena itulah, tenant sering berganti di mall besar. Begitu pengamatan saya, salam bsp

