Selamat siang Milister,

Dari tulisan Pak BS Priyo saya mendapat kesan bahwa pasar tradisional dapat
berarti macam-macam, ditinjau dari jenis dan/atau harga yang dijual, ataupun
untuk mendiskrimasikan kelas antar yang modern (elit, dsb) dengan yang
"belum" atau "tidak" modern. Betulkah begitu?

Wasalam,

Abimanyu



2008/1/15 [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Selamat pagi Milister salamat jumpa kembali.
>
> Mas aunur sangat benar dalam menyatakan :
>
> Pasar tradisional tidak akan hilang kalau pemerintah daerah bisa mengelola
> dengan baik dan ini terbukti di banyak negara seperti Thailand, Malaysia,
> bahkan di Amerika maupun di Eropa. Masih banyak warga kita yang senang
> dengan pasar tradisional karena bisa memperoleh barang yang fresh dan murah.
> Salah satu contoh pasar tradisional di Jakarta yang berada di tengah kota
> dan tetap ramai adalah pasar Mayestik.
>
> Saya hanya bercerita tentang pengalaman lalu saya di Jogja pada saat
> me-launch pendekatan pembangunan CBD dan Mall untuk mengurangi kepadatan
> Malioboro dengan sebuah statement : Jogja akan membangun 8 mall. Waktu itu
> teman2 pakar banyak yang menyayangkan statement saya karena menurut mereka
> policy ini akan membunuh pasar tradisional. Terlepas bahwa statement tsb
> saya buat dalam rangka untuk mendinamisasi ekonomi atau benar2 untuk
> pembangunan, ternyata sampai dengan hari ini pasar-pasar tradisional yg ada
> tidak pernah terganggu. Bahkan ada Ambarukmo Plaza yg dihuni oleh Carrefour
> dan sekitar 1 kilometer dari sana ada pasar demangan, ternyata tetap adem
> ayem tidak berkurang animonya. Belum lagi pasar kranggan, beringharjo,
> sentul dll.
>
> Dari pengamatan saya ada beberapa pelajaran yang mungkin bisa kita ambil :
>
> a. pasar tradisional baru dipengaruhi bila berada pada satu ceruk pasar
> (market segmentation), sedangkan pasar tradisional sebagian besar ceruknya
> berbeda dengan pasar-pasar modern. Saat ini memang sudah terdapat overlap
> ceruk dalam beberapa komoditi tertentu misalnya kecap ABC, mie instant,
> tetapi sebagian terbesar lainnya tidak. Tapi misalnya untuk mainan, tidak
> mungkin mainan dari plastik residu akan dijual di supermarket karena secara
> economic scale sudah tidak masuk, namun ini masih berjaya di pasar
> tradisional.
>
> b. pengaruh menjadi sangat terasa pada jenis-jenis komoditi yang bersifat
> in-elastic, bila price sensitivity sangat tinggi maka pasar tradisional akan
> tetap berjaya. Hal ini disebabkan karena pasar tradisional pasti akan
> mempunyai kemampuan untuk menekan biaya karena pajak dan retribusi maupun
> biaya lokasi lebih rendah. Karena dengan berbeda Rp 500 seorang lebih rela
> berbecek-becek dan tawar menawar. Hal ini sangat berlaku di Jogja.
>
> c. bila daya beli masyarakat sangat rendah maka keberanian untuk masuk ke
> pasar modern juga menurun, bahkan mereka cenderung tidak berani masuk ke
> toko-toko yang menjual barang-barang murah krn gebyarnya. Jadi muncul
> inferiority pada masyarakat karena gebyar dari pasar modern. Meskipun hal
> ini sudah mengalami penurunan saat ini.
>
> Case yang terjadi justru mall tersebut menjadi window shopping bag
> penduduk setempat. Ini kasus yang dialami jogja. Karena itulah, tenant
> sering berganti di mall besar.
>
> Begitu pengamatan saya,
>
> salam
>
> bsp
>  
>

Kirim email ke