Waduh-waduh mas Abimanyu ysh, kok terlalu jauh tho berpikirnya dengan menciptakan diskriminasi antar kelompok masyarakat he he he. Saya hanya secara simpel mengatakan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah sebuah proses keberadaan bersama (co-existence), jadi tidak bersifat dikotomis begitu lho. Pasar tradisional ya punya segmentasi pasarnya, pasa modern ya punya segementasi pasarnya.
Dan kita tidak bisa menekan adanya keberadaan tersebut. Pada saat kota Gombong, Jawa tengah diberi sebuah pasar modern sebagai bentuk metamorfosa dari pasar tradisional lama, maka pasar modern itupun tidak mampu tumbuh. Mengapa ? karena purchasing power parity dari masyarakatnya belum nyampai. Hal ini sangat saya pelajari pada waktu pembangunan Ambarukmo Plaza dan Saphire Square. Saya meminta kepada pemiliknya untuk memasukkan anchor tenant Sogo/Metro karena menurut saya ini akan memberi daya rangsang ekonomi tersendiri bagi kota tersebut dengan menjadikan jasa sebagai basic activity dan sifat pelayannya menjadi regional untuk melayani creme-de-la-creme dari masyarakat Jawa Tengah/DIY. Tetapi apa jawaban mereka, mereka mengatakan bahwa mereka tidak mampu menghadirkan potential tenant tersebut karena PPP masyarakat Jateng/DIY masih rendah. Akhirnya mereka sepakat bahwa yang diundang adalah Centro ini setingkat lebih tinggi dari Matahari namun belum pada kelas Metro dan Sogo. Dan hasilnya, masyarakat semarang, solo, purwokerto, cilacap kalau memerlukan luxurious good larinya ke Jogja. Dimana mereka kemudian setelah berbelanja di Centro atau Amplaz .... mereka pergi ke gudek wijilan, bakpia pathuk dlsb ... sebuah siklus yang dicoba untuk terjadi. Tolong perhatikan disana bahwa pertimbangan yg menjadikan keberadaan sebuah pasar modern adalah PPP dari kota dan wilayah pengaruhnya. Nah dikota itupun terjadi berbagai kelompok dengan PPP yg berbeda dan co-exist.... sebagai akibatnya pasar modern dan tradisional juga bisa co-exist. Begitu mas Abimanyu, nuwun sewu lho. Salam bsp

