Pak Abimanyu ysh, Sebelumnya saya ingin menjelaskan bila saya hanya seorang pengelana biasa, yang menyerahkan nasib peruntungan di perjalanan. Terkadang lelah melangkah lalu berhenti di persinggahan, berbagi cerita dengan sesama pengelana dan penduduk setempat. Hal ini yang disebut dengan `bakaba' <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3216> atau `gethok tular', suatu model komunikasi dan dokumentasi tradisional kita, dulu pertama kali diperkenalkan oleh Pak Risman <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/517> . Karenanya di milis ini saya lebih menempatkan diri sebagai seorang penghibur <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2560> , menghibur orang lain serenta menghibur diri sendiri. Berusaha menjadi seorang story teller, juru kisah, atau `bayo parturi' (Mandailing, BH Harahap). `Turi-turian'nya mudah-mudahan berkenan.
Tidak ada maksud untuk menguji atau menebar jebakan, karena sadar usia masih seumur jagung dan darah masih setampuk pinang; sehingga kalaulah kail panjang sejengkal, janganlah dalamnya laut hendak diduga. Melihat contoh dari yang sudah, mencari tuah dari yang menang. Bila lagak lagu kurang berkenan, disatukan jari nan sepuluh, sebelas dengan kepala, kiri dan kanan disampaikan, ampun dan maaf saya mintakan. Memang ingin bertanya, bila ideologi perencanaan kita sudahkah sampai kepada bentuk `pengorbanan' sebagaimana yang dituntun oleh Adam kepada Habil dan Qabil; atau malah sampai kepada nyawa dan jiwa sebagaimana diteladankan oleh Abraham dan Ishmael? Dalam konteks ini sebenarnya adalah suatu `perjuangan' untuk memberikan kemanfaatan ruang (baca: spatial capital) untuk manusia yang lebih banyak dan makhluk lain secara lebih luas. Hal ini sebenarnya melangkahi kodrat `kemanusiaan' (saya beri tanda petik, karena maknanya adalah manusia keturunan Qabil); karena tokh pada akhirnya `kodrat' itu bisa diubah sebagaimana sejarah juga membuktikan; seperti Revolusi Perancis dalam pandangan Marx serta `wahyu cakraningrat' dalam genggaman Ki Ageng Pamanahan. Sebagai contoh, `pola grid' adalah pola yang paling efisien dan benar dalam suatu struktur ruang kota; dari pengalaman Jepang <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2720> hal itu hanya mungkin diperoleh melalui `pengorbanan'. Ideologi perencanaan adalah perjuangan bagaimana memperoleh `ruang-ruang publik' <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4331> yang dapat memberikan kemanfaatan yang lebih luas, dengan `cara yang benar'. `Cara yang benar' ini merupakan tantangan, saya beri penekanan khusus karena hal ini pernah ditanyakan oleh seorang pejabat BPN dalam suatu diskusi di Bappenas tahun lalu yang dihadiri juga oleh Pak DenyZ, Wayan, dll. Pertanyaannya sebenarnya lebih keras: "Apakah perencana dapat `seenak jidatnya' memberikan warna-warni di atas kapling seseorang?" Untuk kata terakhir itu saya menarik napas sambil membayangkan para keturunan Qabil. Hal senada juga pernah ditanyakan oleh Pak Bambang SP <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4588> . Kesepahaman tentang pengorbanan itu tentunya perlu didudukkan dengan baik, antara perencana dan masyarakat serta para pemangku kepentingan; sebagaimana dulu Pak Sujana <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/285> juga pernah menyampaikan. Dapatkah menjadi kesepahaman bila selain memanfaatkan `wahyu cakraningrat', perencana juga diminta untuk membangun `keadilan'? Saya ingin menyapa Pak Raflis dan Ibu Vitria, bila kemarin saya baru kembali dari Pekanbaru Kota Bertuah untuk urusan keluarga. Lain waktu ingin juga nak bertemu. Selain `kisah Bali'-nya Pak Wawo, pada Kongres IAP kemarin saya juga mendengar kisah Bali dan Renon dari Pak Aca. Berhubung bapak sudah cukup lama `memantau', mohon pak kisahnya disampaikan di milis ini, mengingat sepertinya bapak juga berbakat sebagai seorang `bayo parturi'. Salam, -ekadj --- In [email protected], "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Gus Shalah dan referensiers lain ysh, > > Saya sangat setuju dengan mas, pak, atau eyang..Ekadj (? wah, jadi rikuh > sejak ketemu De Yudistira dan ditegur Mbah Abyoso agar nggak boleh > "njangkar" panggilannya), untuk Mbah Kiyai (?)Gus Shalah turun gunung > nengahi debat yang semula dikira sederhana ternyata ada "jebakan" (makna > lebih) di belakangnya.

