Halo Pak Risfan yang sedang santai di pantai Losari,Menurut pendapat saya yang 
masih harus banyak belajar ini, 'planning' itu adalah suatu 'proses' bukan 
'produk'. Produk dari suatu 'planning' memang suatu buku, apakah itu bersifat 
makro (nasional), mezzo (regional), mikro (lokal) atau sangat mikro (kawasan). 
Namun, produk buku tersebut sebetulnya sesuatu yang 'hidup' dalam arti akan 
dipakai dalam proses implementasi sesuai dengan jangka waktu perencanaannya. 
Mengenai 'ongkos' untuk implementasinya, seharusnya sudah ada dalam 'indikasi 
program & budget' yang tentunya harus disesuaikan dengan kondisi sosek 
terakhir.  Memang ada kemungkinan 'produk' tersebut kurang sesuai dengan 
kenyataan, karena salah si perencana atau terjadi perubahan 'kebijakan' dalam 
perjalanannya, untuk itu maka diperlukan 'monitoring & evaluasi' yang terus 
menerus. Masalahnya mungkin banyak produk buku 'planning' tersebut yang hanya 
disimpan di almari, karena pada saat tahap implementasi para pelaksananya tidak 
melihat lagi buku tersebut sehingga 'prosesnya' terhenti. Memang diperlukan 
suatu ketekunan dan 'konsistensi' dari para perencana dan pelaksana dalam 
mengimlementasikan 'produk perencanaan' tersebut, karena jangka waktu 
perencanaan yang lama/panjang sering tidak sesuai dengan keinginan 'penguasa' 
yang mungkin dalam masa jabatannya yang relatif pendek, tetapi ingin membuat 
karya 'monumen pembangunan' atau hanya ingin mendapat keuntungan sesaat 
saja.Nah, disinilah mungkin pentingnya 'kebijakan' agar benar-benar 'bijak' 
dalam menentukan arah pembangunan dan kemungkinan terjadi perubahan pada saat 
implementasinya (proses pemanfaatan dan pengendalian), atau ini sifatnya 
'manajemen' ? Dalam prakteknya 'proses' ini memang tidak mudah melaksanakannya, 
karena terkait dengan sistim manajemen dan kemampuan SDM, serta faktor 
kepemimpinan. Pengalaman yang kebetulan pernah saya ikuti, suatu rencana kota 
(tidak usah disebut nama kotanya ya...) yang disusun tahun 1980 dengan rencana 
jaringan jalan lingkar kotanya baru terealisasi pada tahun 1995, setelah 
berganti 3 Walikota dan 3 ketua Bappeda, ini butuh ketekunan dan usaha yang 
konsisten dari para pejabat tersebut untuk tetap memakai rencana lama, walaupun 
banyak perubahan kecil disana-sini karena masalah pembebasan lahan dan 
koordinasi antar sektor terkait.  Mungkin lebih mudah implementasinya untuk 
proses 'planning' dari suatu kawasan atau kota baru semacam BSD atau Lippo 
Karawaci yang dilaksanakan/dikelola oleh swasta yang tanah/lahannya telah 
dikuasai terlebih dahulu. Kembali kepada 'patriotisme' para planner, mungkin 
topic tentang 'kebijakan' dalam proses 'planning' apakah itu pada saat menyusun 
rencana, memanfaatkan dan mengendalikannya akan cukup penting untuk dibahas, 
terima kasih semoga bermanfaat.Wassalam,Onnos R.     

To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Thu, 16 Oct 2008 22:04:59 
+0700Subject: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?



Pak Aby, Pak Onno ysh,Terima kasih atas tanggapannya, juga atas kepercayaannya 
pada misi planolog. Soal norma, patriotisme, tentu benar semua.Tapi justru itu 
alasan saya untuk mengajak melihat realita kontemporer.Kata bijak, "jer basuki 
mowo bea" (semua tujuan ada ongkosnya).Masalahnya, kalau planolog bermain di 
aspek "rencana" saja idenya dan konsepnya selalu bagus, ideal. Tapi bergeserlah 
sedikit kepada aspek "implementasi". Ada ongkos besar yang mesti dibayar secara 
ekonomi, sosial ataupun politik. Yang harus dipertimbangkan.Merencana 
penyebaran pembangunan ke seluruh tanah air, sudah ada rencananya Pak. Sudah 
disempurnakan berkali-kali. Tapi melaksanakan itu kan ada ongkosnya. Butuh 
budget raksasa, dan karena tak cukup, perlu prioritas. Prioritas yang manapun 
selalu ada konsekuensi ketidak-puasan dari yang tak diuntungkan. Ada ongkos 
politik yang harus dibayar, sehingga pemerintah cenderung biayai sedikit sana 
dan sini, akhirnya tidak jadi semua.Sebagai planner saya mungkin juga akan 
bilang itu bisa diatasi - "demikian rupa sehingga" sana puas, sini senang. Tapi 
apa iya.Itu maksud saya, mengajak berfikir dalam kenyataan empiris, untuk 
merangsang berfikir: "bahwa dalam pilihan ideal manapun selalu ada ongkosnya". 
Dan bagaimana proses pemilihan itu dibahas, dengan +/- masing-masing.Termasuk 
kalau mengundang swasta, untuk yang cost recovery, apa konsekuensinya. Kalau 
mengundang LSM, CBO apa pula risikonya. Sudahkah dipertimbangkan dalam rencana 
pelaksanaan dan pengendalian.Coba kalau ikuti cermati diskusi dalam milist ini 
saja, antar Departemen saja banyak konflik. Bukan yang satu benar, yang lain 
salah. Soalnya bukan hitam/putih, tapi masing-masing punya argumen yang mereka 
yakini kebenarannya. Repotnya masing-masing punya kewenangan, sumber daya, dan 
masing-masing tidak cukup. Jawaban normatifnya, ya lakukan koordinasi. Ya, itu 
masalahnya, siapa yang mampu menggoordinasi.Karena itu, yang perlu banyak 
dilakukan menurut saya adalah justru latihan membahas "implementasi rencana" 
berdasar kenyataan empiris/ kontemporer.Kebiasaan berfikir "ideal di atas 
ideal, didukung asumsi-asumsi ideal pula". Cateris paribus. Itulah "jebakan" 
bagi perencana. Yang membuat rencana kian jauh dari kenyataan kemampuan 
melaksanakannya. Kian besar idealisasinya, kian banyak potensi kecewanya. Itu 
yang saya maksud, Pak. Soal fakta-fakta sekitar pengembangan realestat, 
misalnya persentase lahan untuk fasos, fasum kan sudah ada aturannya, juga 
perimbangan ukuran kavling besar:sedang:kecil, dst. Nyatanya bagaimana, itu 
juga soal yang perlu didiskusikan.Juga soal apakah itu PR atau Industri, saya 
kira bukan soal. Yang satu misinya Dep PU, yang lain Dep Perindustrian. 
Sama-sama mendukung misi bangsa. Planolog belajar perencanaan spasial juga 
kompleks industri (ingat Isard).Mengenai PKL harus tidak menempati lahan 
terlarang, harus ditingkatkan ekonominya. Yah Pak, jangan ketularan normatif 
gitu dong. Siapa yang tidak tahu! Tapi ya jangan terus menuntut itu diurus 
planolog, ini harus ditangani planner. Ini idealisasi lagi. Apalagi pakai 
contoh pengacara kondang yang dari satu perkara saja bisa hidup lebih dari 
setahun. Ini idealisasi lagi. Saya juga ingin disebut oleh Pak Aby sebagai 
"patriot", tapi lebih kuatir kalau hati kecil saya berkata: "please 
deh....."Tapi omong-omong, posting ini saya tulis di warung di Pantai Losari, 
di kota idaman Pak Aby, Makassar. Sambil memandang water-front city Tanjung 
Bunga yang sudah banyak dibangun gudang-gudang komersial, dan tampak dari 
kejauhan logo "si konglomerat" pembangun kota pulau itu.Salam,Risfan Munir 





_________________________________________________________________
Easily publish your photos to your Spaces with Photo Gallery.
http://get.live.com/photogallery/overview

Kirim email ke