Bapak, Ibu ysh,

Pertanyaan bagus "mulainya dari mana"? Mungkin ini juga mencerminkan  
kegalauan kita semua. Masalahnya situasi eksternal juga kian ruwet, 
dunia perencanaan pembangunan daerah/kota yang menjadi bagiannya juga 
ikut ruwet mana sebab dan akibatnya.

Lalu dari mana mulai? Mungkin sebagai sumbang saran, ada pendekatan 
berfikir dan menyusun strategic planning, yang mulai banyak diterapkan 
di perusahaan atau community development, yaitu: Appreciative Inquiry 
(AI).

Selama ini pendekatan yang umum berlaku adalah "analisis persoalan", 
dengan hasilnya: rumusan persoalan dan sebab-sebabnya. Ini kalau 
dibuat hirarkhi, sebab-sebab itu bisa luas sekali. Apalagi lingkungan 
publik, banyak aktornya. Akhirnya, paling gampang.....cari anak 
kambingnya.

Appreciative inquiry, sebaliknya bertolak dari "identifikasi 
keberhasilan". Sekecil apa pun kita, unit kita, komunitas kita kan 
pernah sukses (jelek-jelek .... kita masih utuh, pilkada masih 
jalan,....). Tentu itu karena pernah ada sukses, ada sesuatu yang 
diperhitungkan. Apa itu? Lalu apa key success factors (KSF) nya? 
Bagaimana kalau dari sukses dan KSF yang ada itu ditingkatkan dan 
dikembangkan lagi?

Dalam praktek ini membawa pengaruh psikologis yang positif. 
Membesarkan hati. Pengalaman saya dalam memfasilitasi diskusi 
strategic planning di daerah, kalau start kita dari analisis persoalan 
memang mudah mengundang defensif dan "cari kambing". Dan, di daerah  
yang populer disalahkan ya Pusat (pokoknya bukan dirinya). Dengan 
apresiasi atas keberhasilan, mereka jadi lebih terbuka.

AI ini bukan sekedar "positif thinking" ya, tetapi kuncinya adalah 
pada teknik bertanya. Pertanyaan kritis, pesimistik, apalagi prejudice 
kan membawa suasana psikologis begitu pula. Sebaliknya pertanyaan 
appreciative bisa mengungkap potensi. Kan, tujuan kita untuk 
perbaikan, bukan cari siapa yang salah. 

Banyak lho daerah yang melakukan inovasi tertentu, dan jelas hasilnya 
bagi masyarakat. Apakah ada daerah yang sukses meningkatkan pelayanan 
publik? Penataan ruang? Ada. Mana? Solo, Sragen, Wonosobo, Blitar dst, 
dalam bidang masing-masing. Tapi kalau pertanyaannya: kok ruwet, apa 
sebabnya? Buaaanyuuuaaak ...sebabnya. Siapa yang salah? ...(semua, 
tinggal terserah lagi sebel dengan siapa toh). Semoga manfaat.

Salam,
Risfan Munir



--- In [email protected], Reny ansih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Horas pak Hotasi....
> Anda ini bagaimana sih kok masih bertanya, saya mulai merasa malu 
sebagai lulusan perencana, dari itb pula lagi........... malu rasanya 
kita cuma berdebat, malu cuma berargumentasi, malu karena mau 
ngeberesin lingkungan sekitar rumah saja ga ada yang mau 
mendengar...... sudah ga tau mau memulai dari mana untuk membereskan 
kampung, jangan kota dulu deh.......
> Salam - 2ny
>  
> --- On Sun, 10/19/08, hotasi simamora <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> From: hotasi simamora <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
> To: [email protected]
> Date: Sunday, October 19, 2008, 10:18 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>     
>             
> Saya cukup prihatin juga mengenai kondisi perdebatan yang diawali 
dengan cepatnya kita memberikan kesimpulan dalam sesuatu hal. Hal ini 
terjadi dalam berbagai hal, dari kasus Lumpur Sidoarjo, sampai kondisi 
dampak ekonomi global yang ada sekarang. Yang paling saya prihatinkan 
adalah bahkan kesimpulan tersebut menjadi sebuah KEBENARAN MUTLAK, 
coba kita ikuti dari sidang-sidang Kasus Monas, Kasus Korupsi, 
Pembuatan RUU Anti Pornografi.
> Beberapa waktu yang lalu, saya nonton  debat di tv Mengenai Anak PKI 
(yang anggota DPR dari PDIP), ada satu orang sedemikian ngototnya 
mengatakan SIAP BERHADAPAN dengan mereka (ANAK2 PKI tentunya), 
demikian juga ketika orang berunjuk rasa di depan istana meminta Papua 
Merdeka, langsung ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa mereka 
pemberontak. 
> Jangan-jangan, saya sebagai alumni planologi akan dikatakan perusak
>  negara. Coba simak berbagai bencana alam yang ada serta korban yang 
sudah sedemikian banyak, trus dikatakan semuanya adalah tanggung jawab 
ahli penataan ruang wilayah. Kemudian kemacetan lalulintas yang sudah 
sedemikian parahnya, kemana ahli perencana kota? Percuma negara 
memberi subsidi yang besar terhadap perguruan tinggi yang menghasilkan 
ahli perencana kota.
> Saya akan lebih setuju, kita menggugat misalnya "Hoi para ahli 
perencana kota, kemana saja koq Jakarta macet gini? Padahal Fauzi Bowo 
sudah serahkan pada ahlinya?" Kemudian, berbondong-bondongl ah para 
planolog bangkit, dari mulai menulis secara bertubi-tubi dengan 
argumentasi ilmiah, pengalaman praktis, sampai dengan ajakan berdemo 
kepada Fauzi Bowo menuntut Kapan Fauzi Bowo serahkan kepada Ahli 
Perencana Kota untuk menyelesaikan berbagai Permasalahan Kota Jakarta?
> 
> Horas,
> 
> Hot Asi Simamora
> --- On Sun, 19/10/08, Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com>
>  wrote:
> From: Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com>
> Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Date: Sunday, 19 October, 2008, 8:20 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>     
>             Pak Abimanyu, perlu diklarifikasi ya, kesimpulan arsitek 
sebagai perusak utama di dunia dan masih berlanjut hingga saat ini 
(mungkin juga masa depan!) Jika demikian, apakah institusi pendidikan 
profesi yang merusak dunia ini dibubarkan saja ?
> 
> Memang merupakan sebuah misteri penciptaan, bahwa ciptaan selalu 
diciptakan menjadi minimal dua golongan, yang baik dan yang buruk; 
malaikat atau setan, kira-kira begitu. Dalam dunia profesi selalu juga 
ada demikian, praktek profesi yang baik dan yang buruk, semuanya 
berbasis nilai-nilai yang diyakininya masing-masing. 
> 
> Bagaimana argumentasinya kok pernyataannya demikian, seolah-olah 
penyandang dosa utama adalah profesi
>  arsitek. Heheheee.... nyuwun pencerahan, sebab saya masih mendosen 
di institusi yang mendidik para arsitek....jangan- jangan semua dosa 
ditumpahkan seluruhnya pada kami...heheheee. ...terus apa
>  saran dan nasihatnya dari mantan arsitek seperti bapak ? Lha 
mengapa bapak tidak taat di dunia para perusak untuk mengubahnya dari 
dalam, bukan melempari batu dari luar heheheee.... bagaimana 
pak....mohon pencerahan ya....sebab saya punya posisi yang 
memungkinkan otokritik dan otokoreksi di dunia para perusak 
ini....mumpung masih ada di dalamnya.... .
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> Djarot Purbadi
> 
> 
> 
> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
> 
> http://fenonemologi arsitektur. wordpress. com
> 
> --- On Fri, 10/17/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com> 
wrote:
> From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com>
> Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Date: Friday, October 17, 2008, 6:49 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>     
>             Halo Pak  Ono yang sudah nywasta,
> 
> Saya jadi teringat waktu masih ngarsitektur dulu, ada istilah  
"muddling  through" atau "barefood architect".. .
> itu istilah bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi bagi 
rakyat yang kurang beruntung, bukan berpesta design wah wah saja, yang 
sipengguna harus ikut kata arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu saya 
mulai sadar bahwa arsitek ternyata memang perusak utama dunia ini, dan 
masih berlanjut hingga saat ini).
> 
> 
> 
>  
>        
>       
>       
> ____________ _________ _________ _________ _________ __
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail. yahoo.com 
>       
> 
> 
>        
>       
>       
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger 
.yahoo.com 
>       
> 
>     
>     
>       
>        
>       
>       
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>       
> 
> 
>       
>       
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com
>



Kirim email ke