Bung Abimanyu, apa maksud dari kata "ika" dari kalimat : ...jadi yang harus 
diupayakan adalah pengembnagan ke "ika" an dan..... Mungkin yang dimaksud 
adalah: ke "tunggal ika" an. Kalau hanya "ika", artinya : jua atau   tetap, 
.... dalam kontek "Tunggal Ika" adalah "Satu Jua" atau "Tetap Satu".
 
Thanks. CU. BTS
 


--- On Thu, 10/16/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
To: [email protected]
Date: Thursday, October 16, 2008, 11:49 PM







Halo Pak  Ono yang sudah nywasta,

Saya jadi teringat waktu masih ngarsitektur dulu, ada istilah  "muddling  
through" atau "barefood architect"...
itu istilah bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi bagi rakyat 
yang kurang beruntung, bukan berpesta design wah wah saja, yang sipengguna 
harus ikut kata arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu saya mulai sadar bahwa 
arsitek ternyata memang perusak utama dunia ini, dan masih berlanjut hingga 
saat ini).

Dahulu juga ada "planning without plan", yaitu pendekatan yang memilih proses 
pengembangan setempat bersama masyarakat, tanpa mulai dengan membuat rencana 
top down yang tidak pernah terimplementasikan. ..namun tentu itu lebih berlaku 
untuk skala mikro, 
Sedangkan kita terlanjur memiliki buanyak planner dan planolog yang begitu kaya 
ke"bhineka"annya dan berwarna-warni baju seragamnya dengan cakupan pikirannya 
yang begitu "mega" dan men"dunia", 
....jadi yang harus diupayakan adalah pengembnagan ke "ika" an dan 
ke"tanah-air"annya (membumi), termasuk melalui "interfacing" antar pelaku, 
antar kawasan, dan antar waktu, dengan acuan kemampuan meningkatkan kualitas 
manusia setempat disetiap wakturuang yang dikembangkan bersama...

Planning adalah untuk mengembangkan ke kualitas yang lebih baik, bukan 
implementasi "plan" ...Karena "plan" cuma alat untuk menuju kualitas manusia 
dan alam setempat menjadi lebih baik...
Perkembangan krisis yang telah dua kali kita alami dalam periode ini 
membuktikan bahwa pemeintah, investor (termasuk eksploitator) dan uang 
(pertumbuhan ekonomi) cuma "pendatang", yang dapat datang dan pergi semaunya 
karena mereka cuma punya wakturuang terbatas dan interest tertentu. Sedangkan 
pemukim dan alam setempat adalah pemilik sesungguhnya tanah-air setempat (the 
real client), yang justru penuntut utama kiprah para planer dan pakar yang 
bergelut di habitatnya.

Kalkulasi boleh, bursa boleh, kurs tak bisa dihindari... tetapi interaksi dan 
interdependensi bukan mekanisme kuantitatif saja...ada aspek kultur ketidak 
percayaan yang membuat semua model teori pasar seimbang dan terinformasi dengan 
baik (citeris paribus) menjadi tidak berlaku dalam wakturuang tertentu karena 
semua angka tersebut berkaitan dengan sesuatu yang diwakilinya, barang dan 
manusia yang hidup, dalam kultur kedewasaan atau kegelisahan. nya...
Yang perlu digarap bukan sekadar angka berlabel "ekonomi" atau geo yang 
disederhanakan menjadi "lahan" saja. Menurut McDonought dan Braungart ada 
metabolisme industri / teknologi yang perlu seiring dan perlu saling mengisi 
dengan metabolisme alam...ada kehidupan yang kadang berperilaku unpredictable 
karena "proses" sebelumnya (anda benar disini, proses, bukan produk)...  

Dalam hal ini bukan sekadar koordinasi di belakang meja hotel 
berbintang-bintang atau kantor menjulang ber-AC bak di musim salju, atau 
penyamaan definisi yang tak berujung yang perlu dilakukan, tapi langkah bersama 
dilapang(an) . Nah, ini yang susah, wakturuang bersama untuk dua orang "bos 
penguasa" atau "ilmuwan" bertemu saja susah dicari, apalagi dari berbagai 
instansi dan bidang interest, apalagi the real bos, masyarakat setempat (susah, 
karena ga biasa). Land usa "Plan" seolah-olah solusinya, padahal data-data 
pendukung plan tersebut sangat sukar dicari. Saya lebih sering menemukan kata 
akhir client atau bahkan rekan sendiri untuk "ga usah data itu, mahal, yang 
penting win-win solution", artinya win-win bagi yang kasih tugas dan yang 
menjadi "planner", sesuai antara "target" proyek pemberi tugas dengan 
"ong-cost" yang "tersisa" bagi sipenyusun "plan" tesebut. Tentu saja  yang 
diproduk cuma  pengisi lemari antik, alias tidak layak diimplemetasi.
 Atau sebaliknya, baru teken trus habis terjual, termasuk hak sikecil terbeli 
oleh pemodal, karena hak yang tercantum dalam rencana "land use" tersebut 
termasuk "murah" bagi investor. Tapi jangan tanya implementasinya, molor dan 
kadang mandeg karena...pasar belum pas...Jadilah kawasan yang seolah-olah 
terbengkalai tak bertuan, walau semua sudah ada cap hak "rent seeker". 
"Invisible hand" Adam Smith maupun campur tangan government jadi berkonotasi 
lain. Bila demikian pembangunan sukar untuk menjadi "untuk rakyat", namun lebih 
untuk competitive advantage dari anggota band "the recent high" atau dengan cap 
"PAD" jangka (sangat) pendek.
Karena itu, kepada mahasiswa saya, saya cuma dapat berpesan bahwa "semua teori 
di kelas adalah sekadar tahu bahwa orang lain sebelum kalian punya jualan teori 
yang macam-macam, sesuai masalah yang mereka hadapi masing-masing di negara 
masing-masing pada wakturuang yang saat itu mendekati penyederhanaan teoritis 
yang diajukannya. Di dunia nyata kalian perlu pakai nurani, dan lebih 
menghayati apa yang sebenarnya menjadi masalah manusia dan alam "setempat". 
Walau sedikit dan terbatas, namun setiap peningkatan kualitas mereka dalam 
setiap perubahan wakturuang setempat lebih bermakna daripada rencana perubahan 
berskala mega namun tidak ada urusannya dengan peningkatan kesejahteraan 
manusia-manusia yang tinggal di tempat dan kelestarian lingkungan hidupnya, 
apalagi di negara kepulauan yang sangat unik ini...". Saya cuma berdoa mereka 
tidak bingung mencerna keterkaitan antara berbagai ocehan pakar dan lembaran 
hipotesis dalam buku-buku mereka yang sedang "in"
 berskala dunia, dengan realita yang mereka temui dalam dunia nyata dan dunia 
"planning", ataupun perilaku "planner" yang tidak semua "planolog". Yang 
penting saya sudah menyampaikan bahwa hati nurani dan menapak bumi lebih baik 
daripada "jual obat" yang bermelamin, karena penderitaan pemakainya dimasa 
datang termasuk dosa kita sebagai peraciknya.. .
Ah, jadi ngelantur lagi ya pak Aby..he he...

OK pak Ono, semoga semangat pembangunan negara pulau-laut semakin kuat, tidak 
luntur karena "pusing gaji pegawai setiap menjelang akhir bulan" sebagai bos 
konsultan yang lebih dominan bagi anda akhir-akhir ini....saya pernah mengalami 
itu dua-tiga dekade yang lalu...selamat berpusing... namun tetap berpegang 
dalam idealisme dalam menghadapi realita...
Saya sih sedang asik berenang-renang ditepian pak...sambil melihat perilaku 
lain di negeri orang....

Selamat berproses dalam wakturuang kultural yang selalu berubah,
karena dalam planning tidak pernah ada produk dalam ruang yang mati....

Salam (laos),

Abimanyu



2008/10/16 Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED] com>






Halo Pak Risfan yang sedang santai di pantai Losari,
Menurut pendapat saya yang masih harus banyak belajar ini, 'planning' itu 
adalah suatu 'proses' bukan 'produk'. 
Produk dari suatu 'planning' memang suatu buku, apakah itu bersifat makro 
(nasional), mezzo (regional), mikro (lokal) atau sangat mikro (kawasan). Namun, 
produk buku tersebut sebetulnya sesuatu yang 'hidup' dalam arti akan dipakai 
dalam proses implementasi sesuai dengan jangka waktu perencanaannya.. 
Mengenai 'ongkos' untuk implementasinya, seharusnya sudah ada dalam 'indikasi 
program & budget' yang tentunya harus disesuaikan dengan kondisi sosek 
terakhir.  
Memang ada kemungkinan 'produk' tersebut kurang sesuai dengan kenyataan, karena 
salah si perencana atau terjadi perubahan 'kebijakan' dalam perjalanannya, 
untuk itu maka diperlukan 'monitoring & evaluasi' yang terus menerus. 
Masalahnya mungkin banyak produk buku 'planning' tersebut yang hanya disimpan 
di almari, karena pada saat tahap implementasi para pelaksananya tidak melihat 
lagi buku tersebut sehingga 'prosesnya' terhenti. Memang diperlukan suatu 
ketekunan dan 'konsistensi' dari para perencana dan pelaksana dalam 
mengimlementasikan 'produk perencanaan' tersebut, karena jangka waktu 
perencanaan yang lama/panjang sering tidak sesuai dengan keinginan 'penguasa' 
yang mungkin dalam masa jabatannya yang relatif pendek, tetapi ingin membuat 
karya 'monumen pembangunan' atau hanya ingin mendapat keuntungan sesaat saja.
Nah, disinilah mungkin pentingnya 'kebijakan' agar benar-benar 'bijak' dalam 
menentukan arah pembangunan dan kemungkinan terjadi perubahan pada saat 
implementasinya (proses pemanfaatan dan pengendalian) , atau ini sifatnya 
'manajemen' ? 
Dalam prakteknya 'proses' ini memang tidak mudah melaksanakannya, karena 
terkait dengan sistim manajemen dan kemampuan SDM, serta faktor 
kepemimpinan. Pengalaman yang kebetulan pernah saya ikuti, suatu rencana kota 
(tidak usah disebut nama kotanya ya...) yang disusun tahun 1980 dengan rencana 
jaringan jalan lingkar kotanya baru terealisasi pada tahun 1995, setelah 
berganti 3 Walikota dan 3 ketua Bappeda, ini butuh ketekunan dan usaha yang 
konsisten dari para pejabat tersebut untuk tetap memakai rencana lama, walaupun 
banyak perubahan kecil disana-sini karena masalah pembebasan lahan dan 
koordinasi antar sektor terkait.  
Mungkin lebih mudah implementasinya untuk proses 'planning' dari suatu kawasan 
atau kota baru semacam BSD atau Lippo Karawaci yang dilaksanakan/ dikelola oleh 
swasta yang tanah/lahannya telah dikuasai terlebih dahulu. 
Kembali kepada 'patriotisme' para planner, mungkin topic tentang 'kebijakan' 
dalam proses 'planning' apakah itu pada saat menyusun rencana, memanfaatkan dan 
mengendalikannya akan cukup penting untuk dibahas, terima kasih semoga 
bermanfaat.
Wassalam,
Onnos R.    

 




To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
From: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Thu, 16 Oct 2008 22:04:59 +0700
Subject: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?






Pak Aby, Pak Onno ysh,

Terima kasih atas tanggapannya, juga atas kepercayaannya pada misi planolog.. 
Soal norma, patriotisme, tentu benar semua.

Tapi justru itu alasan saya untuk mengajak melihat realita kontemporer.
Kata bijak, "jer basuki mowo bea" (semua tujuan ada ongkosnya).
Masalahnya, kalau planolog bermain di aspek "rencana" saja idenya dan konsepnya 
selalu bagus, ideal. Tapi bergeserlah sedikit kepada aspek "implementasi". Ada 
ongkos besar yang mesti dibayar secara ekonomi, sosial ataupun politik. Yang 
harus dipertimbangkan.

Merencana penyebaran pembangunan ke seluruh tanah air, sudah ada rencananya 
Pak. Sudah disempurnakan berkali-kali. Tapi melaksanakan itu kan ada ongkosnya. 
Butuh budget raksasa, dan karena tak cukup, perlu prioritas. Prioritas yang 
manapun selalu ada konsekuensi ketidak-puasan dari yang tak diuntungkan. Ada 
ongkos politik yang harus dibayar, sehingga pemerintah cenderung biayai sedikit 
sana dan sini, akhirnya tidak jadi semua.

Sebagai planner saya mungkin juga akan bilang itu bisa diatasi - "demikian rupa 
sehingga" sana puas, sini senang. Tapi apa iya.

Itu maksud saya, mengajak berfikir dalam kenyataan empiris, untuk merangsang 
berfikir: "bahwa dalam pilihan ideal manapun selalu ada ongkosnya". Dan 
bagaimana proses pemilihan itu dibahas, dengan +/- masing-masing.

Termasuk kalau mengundang swasta, untuk yang cost recovery, apa konsekuensinya. 
Kalau mengundang LSM, CBO apa pula risikonya. Sudahkah dipertimbangkan dalam 
rencana pelaksanaan dan pengendalian.
Coba kalau ikuti cermati diskusi dalam milist ini saja, antar Departemen saja 
banyak konflik. Bukan yang satu benar, yang lain salah. Soalnya bukan 
hitam/putih, tapi masing-masing punya argumen yang mereka yakini kebenarannya.. 
Repotnya masing-masing punya kewenangan, sumber daya, dan masing-masing tidak 
cukup. Jawaban normatifnya, ya lakukan koordinasi. 
Ya, itu masalahnya, siapa yang mampu menggoordinasi.

Karena itu, yang perlu banyak dilakukan menurut saya adalah justru latihan 
membahas "implementasi rencana" berdasar kenyataan empiris/ kontemporer.

Kebiasaan berfikir "ideal di atas ideal, didukung asumsi-asumsi ideal pula".. 
Cateris paribus. Itulah "jebakan" bagi perencana. Yang membuat rencana kian 
jauh dari kenyataan kemampuan melaksanakannya. Kian besar idealisasinya, kian 
banyak potensi kecewanya. 

Itu yang saya maksud, Pak. Soal fakta-fakta sekitar pengembangan realestat, 
misalnya persentase lahan untuk fasos, fasum kan sudah ada aturannya, juga 
perimbangan ukuran kavling besar:sedang: kecil, dst. Nyatanya bagaimana, itu 
juga soal yang perlu didiskusikan.

Juga soal apakah itu PR atau Industri, saya kira bukan soal. Yang satu misinya 
Dep PU, yang lain Dep Perindustrian. Sama-sama mendukung misi bangsa. Planolog 
belajar perencanaan spasial juga kompleks industri (ingat Isard).

Mengenai PKL harus tidak menempati lahan terlarang, harus ditingkatkan 
ekonominya. Yah Pak, jangan ketularan normatif gitu dong. Siapa yang tidak 
tahu! 
Tapi ya jangan terus menuntut itu diurus planolog, ini harus ditangani planner. 
Ini idealisasi lagi. Apalagi pakai contoh pengacara kondang yang dari satu 
perkara saja bisa hidup lebih dari setahun. Ini idealisasi lagi. Saya juga 
ingin disebut oleh Pak Aby sebagai "patriot", tapi lebih kuatir kalau hati 
kecil saya berkata: "please deh....."

Tapi omong-omong, posting ini saya tulis di warung di Pantai Losari, di kota 
idaman Pak Aby, Makassar. Sambil memandang water-front city Tanjung Bunga yang 
sudah banyak dibangun gudang-gudang komersial, dan tampak dari kejauhan logo 
"si konglomerat" pembangun kota pulau itu.

Salam,
Risfan Munir






Always-on security tools provide safer ways to connect and share anywhere. Find 
out more. Windows Live 
 














      

Kirim email ke