Pak Abimanyu, apa kabar ?
Terima kasih tanggapannya, ya saya juga ingat itu 'barefoot architect' atau 
'arsitek cokoran' yang dari India, disini sebetulnya juga banyak yaitu 'para 
tukang bangunan' yang keahliannya tidak kalah dari arsitek sekolahan, mereka 
hanya belajar dari proses 'learning by doing'. Coba kalau mereka diberi bekal 
yang baik, mungkin bisa jadi patriot arsitek ya .. seperti 'alm. eyang 
Sillaban'.
Omong-omong tentang dunia 'planning', ini memang sebetulnya kegiatan 
'multidisiplin' yang tidak dapat dikerjakan satu orang seperti didunia 
arsitektur. Arsitek masih bisa bangga kalau karya 'design' nya dapat terwujud, 
tetapi 'planner' hasil karyanya dari kerja rame-rame atau kelompok, hanya butuh 
'leader' yang baik ya... dan ternyata tidak mudah untuk ngatur orang-orang 
pinter dari berbagai disiplin ilmu.
Paling enak memang mengajar seperti anda pak Abi, semoga amal baik anda 
mendapat balasan yang setimpal dari NYA.. bukan gaji lho.. he he..tapi katanya 
tahun depan gaji dosen naik sesuai kenaikan anggaran pendidikan yang 20 %  (?)  
Wassalam,
Onnos R.



To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Thu, 16 Oct 2008 16:49:16 
-0700Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?





Halo Pak  Ono yang sudah nywasta,Saya jadi teringat waktu masih ngarsitektur 
dulu, ada istilah  "muddling  through" atau "barefood architect"...itu istilah 
bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi bagi rakyat yang kurang 
beruntung, bukan berpesta design wah wah saja, yang sipengguna harus ikut kata 
arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu saya mulai sadar bahwa arsitek ternyata 
memang perusak utama dunia ini, dan masih berlanjut hingga saat ini).Dahulu 
juga ada "planning without plan", yaitu pendekatan yang memilih proses 
pengembangan setempat bersama masyarakat, tanpa mulai dengan membuat rencana 
top down yang tidak pernah terimplementasikan...namun tentu itu lebih berlaku 
untuk skala mikro, Sedangkan kita terlanjur memiliki buanyak planner dan 
planolog yang begitu kaya ke"bhineka"annya dan berwarna-warni baju seragamnya 
dengan cakupan pikirannya yang begitu "mega" dan men"dunia", ...jadi yang harus 
diupayakan adalah pengembnagan ke "ika" an dan ke"tanah-air"annya (membumi), 
termasuk melalui "interfacing" antar pelaku, antar kawasan, dan antar waktu, 
dengan acuan kemampuan meningkatkan kualitas manusia setempat disetiap 
wakturuang yang dikembangkan bersama...Planning adalah untuk mengembangkan ke 
kualitas yang lebih baik, bukan implementasi "plan" ...Karena "plan" cuma alat 
untuk menuju kualitas manusia dan alam setempat menjadi lebih 
baik...Perkembangan krisis yang telah dua kali kita alami dalam periode ini 
membuktikan bahwa pemeintah, investor (termasuk eksploitator) dan uang 
(pertumbuhan ekonomi) cuma "pendatang", yang dapat datang dan pergi semaunya 
karena mereka cuma punya wakturuang terbatas dan interest tertentu. Sedangkan 
pemukim dan alam setempat adalah pemilik sesungguhnya tanah-air setempat (the 
real client), yang justru penuntut utama kiprah para planer dan pakar yang 
bergelut di habitatnya.Kalkulasi boleh, bursa boleh, kurs tak bisa 
dihindari...tetapi interaksi dan interdependensi bukan mekanisme kuantitatif 
saja...ada aspek kultur ketidak percayaan yang membuat semua model teori pasar 
seimbang dan terinformasi dengan baik (citeris paribus) menjadi tidak berlaku 
dalam wakturuang tertentu karena semua angka tersebut berkaitan dengan sesuatu 
yang diwakilinya, barang dan manusia yang hidup, dalam kultur kedewasaan atau 
kegelisahan.nya...Yang perlu digarap bukan sekadar angka berlabel "ekonomi" 
atau geo yang disederhanakan menjadi "lahan" saja. Menurut McDonought dan 
Braungart ada metabolisme industri / teknologi yang perlu seiring dan perlu 
saling mengisi dengan metabolisme alam...ada kehidupan yang kadang berperilaku 
unpredictable karena "proses" sebelumnya (anda benar disini, proses, bukan 
produk)...  Dalam hal ini bukan sekadar koordinasi di belakang meja hotel 
berbintang-bintang atau kantor menjulang ber-AC bak di musim salju, atau 
penyamaan definisi yang tak berujung yang perlu dilakukan, tapi langkah bersama 
dilapang(an). Nah, ini yang susah, wakturuang bersama untuk dua orang "bos 
penguasa" atau "ilmuwan" bertemu saja susah dicari, apalagi dari berbagai 
instansi dan bidang interest, apalagi the real bos, masyarakat setempat (susah, 
karena ga biasa). Land usa "Plan" seolah-olah solusinya, padahal data-data 
pendukung plan tersebut sangat sukar dicari. Saya lebih sering menemukan kata 
akhir client atau bahkan rekan sendiri untuk "ga usah data itu, mahal, yang 
penting win-win solution", artinya win-win bagi yang kasih tugas dan yang 
menjadi "planner", sesuai antara "target" proyek pemberi tugas dengan 
"ong-cost" yang "tersisa" bagi sipenyusun "plan" tesebut. Tentu saja  yang 
diproduk cuma  pengisi lemari antik, alias tidak layak diimplemetasi. Atau 
sebaliknya, baru teken trus habis terjual, termasuk hak sikecil terbeli oleh 
pemodal, karena hak yang tercantum dalam rencana "land use" tersebut termasuk 
"murah" bagi investor. Tapi jangan tanya implementasinya, molor dan kadang 
mandeg karena...pasar belum pas...Jadilah kawasan yang seolah-olah terbengkalai 
tak bertuan, walau semua sudah ada cap hak "rent seeker". "Invisible hand" Adam 
Smith maupun campur tangan government jadi berkonotasi lain. Bila demikian 
pembangunan sukar untuk menjadi "untuk rakyat", namun lebih untuk competitive 
advantage dari anggota band "the recent high" atau dengan cap "PAD" jangka 
(sangat) pendek.Karena itu, kepada mahasiswa saya, saya cuma dapat berpesan 
bahwa "semua teori di kelas adalah sekadar tahu bahwa orang lain sebelum kalian 
punya jualan teori yang macam-macam, sesuai masalah yang mereka hadapi 
masing-masing di negara masing-masing pada wakturuang yang saat itu mendekati 
penyederhanaan teoritis yang diajukannya. Di dunia nyata kalian perlu pakai 
nurani, dan lebih menghayati apa yang sebenarnya menjadi masalah manusia dan 
alam "setempat". Walau sedikit dan terbatas, namun setiap peningkatan kualitas 
mereka dalam setiap perubahan wakturuang setempat lebih bermakna daripada 
rencana perubahan berskala mega namun tidak ada urusannya dengan peningkatan 
kesejahteraan manusia-manusia yang tinggal di tempat dan kelestarian lingkungan 
hidupnya, apalagi di negara kepulauan yang sangat unik ini...". Saya cuma 
berdoa mereka tidak bingung mencerna keterkaitan antara berbagai ocehan pakar 
dan lembaran hipotesis dalam buku-buku mereka yang sedang "in" berskala dunia, 
dengan realita yang mereka temui dalam dunia nyata dan dunia "planning", 
ataupun perilaku "planner" yang tidak semua "planolog". Yang penting saya sudah 
menyampaikan bahwa hati nurani dan menapak bumi lebih baik daripada "jual obat" 
yang bermelamin, karena penderitaan pemakainya dimasa datang termasuk dosa kita 
sebagai peraciknya...Ah, jadi ngelantur lagi ya pak Aby..he he...OK pak Ono, 
semoga semangat pembangunan negara pulau-laut semakin kuat, tidak luntur karena 
"pusing gaji pegawai setiap menjelang akhir bulan" sebagai bos konsultan yang 
lebih dominan bagi anda akhir-akhir ini....saya pernah mengalami itu dua-tiga 
dekade yang lalu...selamat berpusing...namun tetap berpegang dalam idealisme 
dalam menghadapi realita...Saya sih sedang asik berenang-renang ditepian 
pak...sambil melihat perilaku lain di negeri orang....Selamat berproses dalam 
wakturuang kultural yang selalu berubah,karena dalam planning tidak pernah ada 
produk dalam ruang yang mati....Salam (laos),Abimanyu
2008/10/16 Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]>





Halo Pak Risfan yang sedang santai di pantai Losari,Menurut pendapat saya yang 
masih harus banyak belajar ini, 'planning' itu adalah suatu 'proses' bukan 
'produk'. Produk dari suatu 'planning' memang suatu buku, apakah itu bersifat 
makro (nasional), mezzo (regional), mikro (lokal) atau sangat mikro (kawasan). 
Namun, produk buku tersebut sebetulnya sesuatu yang 'hidup' dalam arti akan 
dipakai dalam proses implementasi sesuai dengan jangka waktu perencanaannya. 
Mengenai 'ongkos' untuk implementasinya, seharusnya sudah ada dalam 'indikasi 
program & budget' yang tentunya harus disesuaikan dengan kondisi sosek 
terakhir.  Memang ada kemungkinan 'produk' tersebut kurang sesuai dengan 
kenyataan, karena salah si perencana atau terjadi perubahan 'kebijakan' dalam 
perjalanannya, untuk itu maka diperlukan 'monitoring & evaluasi' yang terus 
menerus. Masalahnya mungkin banyak produk buku 'planning' tersebut yang hanya 
disimpan di almari, karena pada saat tahap implementasi para pelaksananya tidak 
melihat lagi buku tersebut sehingga 'prosesnya' terhenti. Memang diperlukan 
suatu ketekunan dan 'konsistensi' dari para perencana dan pelaksana dalam 
mengimlementasikan 'produk perencanaan' tersebut, karena jangka waktu 
perencanaan yang lama/panjang sering tidak sesuai dengan keinginan 'penguasa' 
yang mungkin dalam masa jabatannya yang relatif pendek, tetapi ingin membuat 
karya 'monumen pembangunan' atau hanya ingin mendapat keuntungan sesaat 
saja.Nah, disinilah mungkin pentingnya 'kebijakan' agar benar-benar 'bijak' 
dalam menentukan arah pembangunan dan kemungkinan terjadi perubahan pada saat 
implementasinya (proses pemanfaatan dan pengendalian), atau ini sifatnya 
'manajemen' ? Dalam prakteknya 'proses' ini memang tidak mudah melaksanakannya, 
karena terkait dengan sistim manajemen dan kemampuan SDM, serta faktor 
kepemimpinan. Pengalaman yang kebetulan pernah saya ikuti, suatu rencana kota 
(tidak usah disebut nama kotanya ya...) yang disusun tahun 1980 dengan rencana 
jaringan jalan lingkar kotanya baru terealisasi pada tahun 1995, setelah 
berganti 3 Walikota dan 3 ketua Bappeda, ini butuh ketekunan dan usaha yang 
konsisten dari para pejabat tersebut untuk tetap memakai rencana lama, walaupun 
banyak perubahan kecil disana-sini karena masalah pembebasan lahan dan 
koordinasi antar sektor terkait.  Mungkin lebih mudah implementasinya untuk 
proses 'planning' dari suatu kawasan atau kota baru semacam BSD atau Lippo 
Karawaci yang dilaksanakan/dikelola oleh swasta yang tanah/lahannya telah 
dikuasai terlebih dahulu. Kembali kepada 'patriotisme' para planner, mungkin 
topic tentang 'kebijakan' dalam proses 'planning' apakah itu pada saat menyusun 
rencana, memanfaatkan dan mengendalikannya akan cukup penting untuk dibahas, 
terima kasih semoga bermanfaat.Wassalam,Onnos R.     

To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Thu, 16 Oct 2008 22:04:59 
+0700Subject: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?



Pak Aby, Pak Onno ysh,Terima kasih atas tanggapannya, juga atas kepercayaannya 
pada misi planolog. Soal norma, patriotisme, tentu benar semua.Tapi justru itu 
alasan saya untuk mengajak melihat realita kontemporer.Kata bijak, "jer basuki 
mowo bea" (semua tujuan ada ongkosnya).Masalahnya, kalau planolog bermain di 
aspek "rencana" saja idenya dan konsepnya selalu bagus, ideal. Tapi bergeserlah 
sedikit kepada aspek "implementasi". Ada ongkos besar yang mesti dibayar secara 
ekonomi, sosial ataupun politik. Yang harus dipertimbangkan.Merencana 
penyebaran pembangunan ke seluruh tanah air, sudah ada rencananya Pak. Sudah 
disempurnakan berkali-kali. Tapi melaksanakan itu kan ada ongkosnya. Butuh 
budget raksasa, dan karena tak cukup, perlu prioritas. Prioritas yang manapun 
selalu ada konsekuensi ketidak-puasan dari yang tak diuntungkan. Ada ongkos 
politik yang harus dibayar, sehingga pemerintah cenderung biayai sedikit sana 
dan sini, akhirnya tidak jadi semua.Sebagai planner saya mungkin juga akan 
bilang itu bisa diatasi - "demikian rupa sehingga" sana puas, sini senang. Tapi 
apa iya.Itu maksud saya, mengajak berfikir dalam kenyataan empiris, untuk 
merangsang berfikir: "bahwa dalam pilihan ideal manapun selalu ada ongkosnya". 
Dan bagaimana proses pemilihan itu dibahas, dengan +/- masing-masing.Termasuk 
kalau mengundang swasta, untuk yang cost recovery, apa konsekuensinya. Kalau 
mengundang LSM, CBO apa pula risikonya. Sudahkah dipertimbangkan dalam rencana 
pelaksanaan dan pengendalian.Coba kalau ikuti cermati diskusi dalam milist ini 
saja, antar Departemen saja banyak konflik. Bukan yang satu benar, yang lain 
salah. Soalnya bukan hitam/putih, tapi masing-masing punya argumen yang mereka 
yakini kebenarannya. Repotnya masing-masing punya kewenangan, sumber daya, dan 
masing-masing tidak cukup. Jawaban normatifnya, ya lakukan koordinasi. Ya, itu 
masalahnya, siapa yang mampu menggoordinasi.Karena itu, yang perlu banyak 
dilakukan menurut saya adalah justru latihan membahas "implementasi rencana" 
berdasar kenyataan empiris/ kontemporer.Kebiasaan berfikir "ideal di atas 
ideal, didukung asumsi-asumsi ideal pula". Cateris paribus. Itulah "jebakan" 
bagi perencana. Yang membuat rencana kian jauh dari kenyataan kemampuan 
melaksanakannya. Kian besar idealisasinya, kian banyak potensi kecewanya. Itu 
yang saya maksud, Pak. Soal fakta-fakta sekitar pengembangan realestat, 
misalnya persentase lahan untuk fasos, fasum kan sudah ada aturannya, juga 
perimbangan ukuran kavling besar:sedang:kecil, dst. Nyatanya bagaimana, itu 
juga soal yang perlu didiskusikan.Juga soal apakah itu PR atau Industri, saya 
kira bukan soal. Yang satu misinya Dep PU, yang lain Dep Perindustrian. 
Sama-sama mendukung misi bangsa. Planolog belajar perencanaan spasial juga 
kompleks industri (ingat Isard).Mengenai PKL harus tidak menempati lahan 
terlarang, harus ditingkatkan ekonominya. Yah Pak, jangan ketularan normatif 
gitu dong. Siapa yang tidak tahu! Tapi ya jangan terus menuntut itu diurus 
planolog, ini harus ditangani planner. Ini idealisasi lagi. Apalagi pakai 
contoh pengacara kondang yang dari satu perkara saja bisa hidup lebih dari 
setahun. Ini idealisasi lagi. Saya juga ingin disebut oleh Pak Aby sebagai 
"patriot", tapi lebih kuatir kalau hati kecil saya berkata: "please 
deh....."Tapi omong-omong, posting ini saya tulis di warung di Pantai Losari, 
di kota idaman Pak Aby, Makassar. Sambil memandang water-front city Tanjung 
Bunga yang sudah banyak dibangun gudang-gudang komersial, dan tampak dari 
kejauhan logo "si konglomerat" pembangun kota pulau itu.Salam,Risfan Munir

Always-on security tools provide safer ways to connect and share anywhere. Find 
out more. Windows Live 
 





_________________________________________________________________
Join the Fantasy Football club and win cash prizes here!
http://fantasyfootball.id.msn.com

Kirim email ke