Pak Aby ysh, ijinkan saya mengutip dan menterjemahkan :) Dalam debat akan pembangunan wilayah, harus diperhatikan 2 jenis kesenjangan: 1. kesenjangan dalam repartisi ruang akan tingkat kesejahteraan atau tingkat pendapatan riil dari individu atau keluarga... 2. kesenjangan dalam repartisi ruang akan aktivitas ekonomi dan populasi, yg biasa disebut juga sebagai polarized development... dikutip dari Mario Polese & Richard Sheamur. 2005. Economie urbaine et regionale. hal. 132. Pak Aby menggunakan definisi no 2, dan saya pakai yg no 1.... Jadi kayaknya saya enggak salah ya Pak Aby? hehe salam Eko.
--- On Fri, 10/24/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [referensi] Re: Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT) To: [email protected] Date: Friday, October 24, 2008, 4:41 PM "Eko B K" [EMAIL PROTECTED] com wrote: “….bukankah kemiskinan terbesar ada di PULAU JAWA?....” Tenang aja cak Andri… biar saya bantuin anda ‘ngeroyok’ cak EkoBK… mudah2an beliau kewalahan kita ‘keroyok’ dua.. hehe.. Cak Eko yang baik…. Emang studinya udah selesai.... kok udah main milis2an lagi…. Regional inequalities saya kira lebih berbicara tentang ketertinggalan mutu ruang wilayah… seperti menyangkut ketertinggalannya dalam hal infrastruktur… . Ketertinggalannya dalam hal mutu kotanya… atau atribut kelengkapan fasilitas kotanya…. ketertinggalan dalam jumlah kelas menengahnya. ... dan bukan soal adu miskin manusia antar wilayahnya…. Statistik terakhir sejak 1993 atau sebelumnya telah menunjukkan bahwa orang luar jawa memang lebih makmur daripada orang di Jawa……. Inequalities itu misalnya saja tentang bahwa kalau Jkt punya all the manufacturing industries…. Sedangkan kalau luar Jawa.. terlebih KTI nggak punya…. Paling punya juga pabrik semen (geologik)… atau (cita2) pengin punya pabrik pengolahan coklat…. Jkt punya jetcoaster saja sampai 2 lokasi… di Ancol dan Senayan…. Taman Mini…Disneyland… Sedangkan luar Jawa saat ini sepertinya belum punya…. Luar Jawa paling2 baru akan punya 50 km jalan tol (Medan 14km, Plb 25km, Mks 11km) sedangkan Jawa akan punya 1450km jalan tol…. Jawa punya banyak sekolah planologi… luar Jawa kayaknya nggak punya……. Dst… salam aby --- On Fri, 10/24/08, Eko B K <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: Eko B K <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: Re: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT) To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Date: Friday, October 24, 2008, 5:04 AM bukankah kemiskinan terbesar ada di PULAU JAWA? salam Eko. --- On Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT) To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Date: Friday, October 24, 2008, 12:32 PM Mas Aby dan Milisters ysh., Kalau boleh memilih, mungkin saat ini saya akan condong menjadi liaison officer to GAM meski tidak digaji. :-) Ini saya pilih daripada menjadi Menteri Bangda dengan segala atribut, fasilitas, dan power namun memilih untuk pandir dan manut dengan kepentingan segelintir "masyarakat spesial" yang tamak infrastruktur, dan rakus kesejahteraan di sekitar Monas saja -- tanpa mau melihat "the bigger picture" yang berupa *regional inequalities* . :-) [Btw, emang ada gitu "Menteri Bangda"? Kalau yang bangda (bangga, maksudnya:-) jadi menteri sekalipun wanprestasi mungkin banyak ya.] :- ) Saya sependapat dengan tulisan Mas Aby, terutama dengan yang ini: | Saya kira GAM atau Mr. Cak Andri akan setuju kalau itu lebih | dipakai untuk mengembangkan countermagnet to primate city | the Jabodetabek… demi "azas keadilan keruangan nasional" … | walau itu alokasinya ditimur (Greater Makassar) sekalipun….. Sementara itu dulu, Milisters ysh., dan selamat berakhir pekan, tentunya sambil melupakan semua diskusi ini dan kembali "menghisap" DJARUM (Demi Jabodetabek, Aceh-and-all Rela Untuk Melarat). Salam, Andri --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> wrote: > > > > Selamat pagi milisters ysh, > > Saya setuju advis dari menteri transportasi milis referensi yang muda dan cemerlang mas Koko…. maupun pertimbangan dari menteri urusan Keadilan Pembangunan Daerah merangkap liaison to GAM/ Tiro mas Cak Andri B…… namun juga menghargai pandangan menteri Urusan Peranan Wanita Dalam Planning bu Nita…… maupun semangat ahimsa dari menteri PU milis kita pak Rachmad M……. > > MRT Jkt sementara/ darurat—murah— meriah…. Busway…. jelas belum ideal….. tapi kalau kita lihat New York City Subway (1868 first elevated, 1904 first subway) 368 km (total track length 1355 km).. … atau Tokyo Subway (1927) 328km dengan 13 koridor….. London Underground (1863) 400km 11 koridor… Paris Metro (1900) 214km dengan 16 koridor …… tetap saja yang namanya macet pada peak hours juga masih ada….. walau jelas kalau tanpa MRT bisa dibayangkan bgmn ruwetnya transportasi para kota primat itu…… > > MRT yang kata menteri Koko biaya konstruksi per-KM nya hanya 1/20 dari Metro-underground… ... dan katanya lumayan.. hasil pengiritan duitnya bisa buat bangun sekolah dan puskesman di Aceh... yang dikira itu mungkin maksud dari menteri Cak Andri B menakuti-nakuti kita dan bu Nita……. menghubungkan ambisi Jkt sentrisme dan kumatnya sentimen periphery negligence oleh GAM/ Hasan Tiro ……. tapi saya kira jalan pikiran dari GAM atau liaisonnya Mr. Cak Andri bukannya lalu switch dana Jkt sentrisme harus sebagiannya di cipratkan ke Aceh…. Saya kira sih nggak gitu……. > Saya kira GAM atau Mr. Cak Andri akan setuju kalau itu lebih dipakai untuk mengembangkan countermagnet to primate city the Jabodetabek… demi "azas > keadilan keruangan nasional" ….walau itu alokasinya ditimur (Greater Makassar) sekalipun….. > Karena saya kira GAM …. juga tentu saja menteri Peduli BangDa kita Cak Andri masih cinta NKRI (ingat Seulawah…. Pesawat terbang pertama sumbangan masyarakat Aceh) … dan hanya benci sama Jawa sentrisme /Jkt sentrisme (6. 7%) yang pada saat sama tak peduli sama periferi (93.3%) saja…... > > Yok opo Cak Andri bener gitu nggak?...... . > > Salam, > aby > > > --- On Thu, 10/23/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] > wrote: > > From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] > > Subject: [referensi] Kita Mungkin Perlu GAM: MRT Kenapa Harus Jepang ? > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > Date: Thursday, October 23, 2008, 11:14 AM > > > > > > > Sebenarnya kita tidak perlu panik (atau kelihatan panik:-) melihat ada > yang menyebut "GAM" atau "OPM" kalau memang pembangunan nasional sudah > adil dan seimbang untuk semua anak bangsa dimanapun ia berada di > republik ini. Namun, apa benar sudah begitu? > > Tapi ya monggo saja, bila masih mau terus-menerus menambah fasilitas > dan infrastruktur bagi segelintir masyarakat urban dan penting di > Jakarta -- daerah yang semakin terlihat 3G (Genit, Greedy, dan Ganas) > -- tanpa pernah mau memikirkan apa sebabnya orang-orang dari daerah > terus berdatangan ke sana, dan kemudian semakin lama semakin macet, > dan tentu semakin banyak fasilitas lagi yang dibutuhkan, and this > satanic loop continues forever ... without "the help" from GAM atau > Gempa mendadak barangkali.. ;-) > > Anyhow, for your reference: > > "Seorang bankir terkemuka pernah mengatakan, 75 persen dari seluruh > uang yang beredar di Indonesia terpusat di dalam suatu lingkaran > kecil, beradius 100 km dan berpusat di Monas, yang kita semua kenal > sebagai Jakarta." > > (James Castle, http://www.pu. go.id/itjen/ ggi/otdadagang. htm) > > Salam, > Andri > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, arinynta <arinynta@ .> wrote: > > > > ANdri, kok mentang2 MRT Jakarta mau dibenahi, jadi GAM bertindak... > jgn menyederhanakan begitu dong... > > Jakarta memang sudah harus punya MRT... meskipun ini rencana sudah > kadaluwarsa. karena itulah sekarang kita memulainya lagi dari O.... > (suck...!!). . > > > > kalau mau "menggugat" kenapa Jawa lagi, itu loh, pembangunan > TransJawa (jalan tol). Kalau ini selesai, siapakah yang paling > berbahagia,. .. ya para pemudik itu. Tapi ini juga terbatas, mereka > yang pakai mobil atau bis. Yang pakai kereta apalagi motor, sami > mawon... wong jalannya masih itu-itu juga. Apalagi kereta, jangankan > penambahan, perbaikan kualitas saja tak pernah terlihat. > > > > Milisters, jika ada yg lebih paham, boleh sharing, latar belakang & > rencana pembangunan transJawa? Thx u. > > > > Nita > > > > > > > > > > > > > > > > ____________ _________ _________ __ > > From: Mohammad Andri Budiman <mandrib@ > > > Sent: Thursday, October 23, 2008 11:21:20 > > Subject: Re: [referensi] Re: MRT Kenapa Harus Jepang ? > > > > > > Bapak-Bapak, > > > > Jakarta lagi nih yang dibenahi sampai MRT. ;-) > > Ini bisa jadi alasan yang bagus sekali bagi GAM dan Hasan Tiro. :- ) > > > > Salam, > > Andri > > > > On 10/23/08, Rachmad M <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > > > Solusi sederhana, yang namanya MRT tidak harus berada di dalam > tanah. > > > Di singapore yang ada didalam tanah cuma yang di kota, sedikit > keluar > > > kota suda elevated MRT nya :-) > > > > > > Di Jakarta ada banyak jalur kereta yang nggak dipelihara bahkan > > > ditinggali gubuk liar. Dan mungkin juga bisa kita pikirkan kalau > di > > > atas jalur busway kita gelar rel kemudian dipikirkan di > > > persimpangannya saja sudah jadi MRT :-) > > > > > > > > > Salam > > > > > > RM > > > > > > > > > > > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, w_bintarto@ .. wrote: > > >> > > >> Sebagai bahan perbandingan buat pemikiran kita, Saya 3 tahun lalu > > > pernah ikut seminar transportasi, dan pembicaranya pada waktu itu > > > sangat kompeten di bidangnya (jabatannya Eselon I ). Beliau > > > menyampaikan bahwa kita tahun 1980 an pernah menyiapkan rencana > > > pembangunan kereta bawah tanah di Jakarta, dan sudah menyusun FS, > dan > > > lain2 nya, rencananya dibiayai Loan sangat lunak dari Jepang. > > > Sebetulnya ini sinergi, kita tdk punya kemampuan teknologi > > > pembangunan terowongan dan duit, Jepang punya teknologi > pembangunan > > > terowongan dan duit, kita memang terpaksa tergantung pengadaannya > > > oleh pihak Jepang dan harganya barangkali 2-3 kali lebih mahal, > tapi > > > kan dikompensasi dengan pinjaman yang sangat lunak, dan yang > penting > > > efektif. Pada saat terakhir, dengan kurang mempertimbangkan > persiapan > > > dan efort yg telah dilakukan, secara tiba2 keputusan politik kita > > > menyatakan kegiatan dibatalkan dan pembangunan subway tsb akan > > > ditangani oleh bangsa Indonesia sendiri, keputusan > > >> yg mencengangkan pihak Jepang. Selanjutnya anda ketahui, Subway > > > tdk pernah terbangun, dan sekarang kalaupun ingin dibangun > harganya > > > sdh tdk terjangkau masyarakat dan tidak cost recovery lagi. > > > Seharusnya beberapa tahun ini kita sudah menikmati punya subway, > bila > > > kita pada waktu itu bisa mengukur diri kita sendiri. Bukan > bermaksud > > > mengatakan bangsa kita tidak punya kemampuan, tapi kita ukurlah > > > kemampuan kita dan kita optimalisasikan mana yang terbaik bagi > bangsa > > > kita. Semangat nasionalis yang tinggi tanpa dibarengi dengan > > > pertimbangan yang matang tentang apa yang terbaik bagi bangsa > > > Indonesia, hasil akhirnya kita akan gigit jari. Ini bukan kontra > thd > > > penulis terdahulu, ini sekedar sisi lain yang mungkin perlu juga > > > dipikirkan.

