Cak Eko yang sangat baik (saya ikut-ikutan manggil Cak, thanks to Mas Aby yang sangat baik:-),
Sabtu pagi ini kok kayaknya saya kepingin komentar singkat saja karena sebentar lagi sudah masuk mengajar: "It's not what we don't know that gets us into troubles. It's what we know for sure... that just ain't so." (Mark Twain) ;-) Salam, (Cak) Andri On 10/25/08, Eko B K <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mas Andri yg juga sangat baik :) > > hmmm soal data memang sulit, walau saya tidak punya prejudice soal Asal > Bapak Senang, mengingat BPS pernah mengkritisi data kemiskinan yg digunakan > Bappenas.. > Tapi lebih pada "siapa sih yg punya data kemiskinan di Jabodetabek yg cukup > akurat?', mengingat sebagian besar masyarakat miskin tersebut tinggal di kws > permukiman illegal atau semi illegal, yg tidak terdata secara baik... tapi > jelas kasat mata...mungkin mas Andri ingat cerita seorang bapak yg mendorong > gerobak berisi mayat anaknya karena tdk bisa mendapatkan tanah > pemakaman...setidaknya kalau orang miskin Aceh meninggal masih banyak tanah > kosong untuk pemakaman... > > Saya pernah 3 minggu di Simelue masa sebelum perjanjian damai dengan GAM di > tandatangani... kalau ke Banda Aceh masa itu, sopir taxi pun tidak berani > mengantarkan ke pinggiran kota....tapi di Simelue aman2 saja...kalau dari > pembicaraan saya di kantor Pemda sampai di warung kopi, saya menangkap kesan > mereka tidak tertarik dengan GAM... mereka berbeda etnik dengan orang2 GAM, > dan kalau dibangun prasarana transportasi mungkin mereka lebih suka > dihubungkan dgn Medan daripada dgn Banda Aceh...ini tangkapan saya yg bisa > saja subyektif.... > > Tapi bicara Banda Aceh masa itu juga menarik, saya melihat kesenjangan yg > sangat besar di sana... beberapa kelompok masyarakat termasuk pegawai Pemda > berseliweran dengan mobil2 mewah yg dimasukan dari Spore melalui Sabang...yg > jenis2nya bahkan tidak kita temui di Jakarta... tapi di sisi lain, begitu > banyak anak2 yg mengemis... heran juga, sedemikian besar perhatian pusat > masa itu (termasuk dana), tapi tampaknya begitu sedikit yg turun ke > masyarakat miskin...memang menjadi korban korupsi itu tidak enak...mau jadi > korban korupsi Jakarta, ataupun korban korupsi Banda Aceh, Pekan Baru, > Bandung, dll sama2 tidak enak.... > > soal jenis kapitalisme yg kita anut, ya itukan pilihan kita semua, pilihan > legislatif dan eksekutif... rasanya UUD 45 kental dgn nuansa sosialisme, UU > turunannya jaman dulu seperti UU Agraria juga kental...saya tidak tahu yg > sekrg, begitu banyak UU yg saya tidak baca...lagipula bukan berarti salah, > saya hanya mengatakan bahwa kesenjangan yg ada memang konsekuensi dari > tendensi kapital utk terpolarisasi dan termanifest dalam ruang...itu > intepretasi lanjut dari Das Kapital nya Marx, dan saya sependapat... Tapi > bukan berarti kalau di negara2 komunis lalu tidak ada kesenjangan wilayah, > Moskow jelas berbeda bagai langit dan bumi dengan Siberia... bahkan anggota > Politbiro bisa punya villa2 mewah, sementara rakyat pedesaan banyak yg > miskin... > > Kan ada kurva U terbaliknya Williamson yg menjelaskan bahwa negara miskin yg > dalam proses pembangunan itu akan mengalami kesenjangan wilayah yg > meningkat, lalu menurun searah dengan peningkatan tingkat kesejahteraan.... > saya lupa, kalau tidak salah Brian Berry dulu yg sampai mematok ukuran > GDP/capita berapa sebuah negara akan mengalami penurunan tingkat kesenjangan > (mungkin Pak Nuzul ingat apa betul Berry yg memprediksi sampai ke angka > tsb?)... tapi ini juga tidak terbukti selalu benar, contohnya Perancis, > walau sudah lama melampaui angka minimum GDP/capita tsb (saya lupa jumlahnya > apakah 20.000 USD atau berapa dan malas mencari di internet), tapi tetap > saja dominasi Paris begitu besar dibandingkan wilayah lain... > > Saya juga ragu bahwa ketika kita mencapai tingkat GDP/cap yg cukup makmur > lalu kesenjangan akan menurun... Malaysia dgn 12.000 USD/cap saja Kuala > Lumpur masih jauh mendominasi, sementara kalau ke Trengganu kelihatan masih > miskin, apalagi ke Borneo...Korea dengan Seoul dan Jepang dengan Tokyo pun > sama saja... > > Intinya bagi saya, bukan berarti semua perlu dibangun seperti Jabodetabek, > tapi bagaimana pembangunan di beberapa tempat terpilih tsb (dgn alasan > efisiensi) hasilnya mampu dinikmati segenap rakyat Indonesia....bagaimana > dgn Tokyo yg tetap besar, penduduk Kyushu dan Hokkaido toh bisa juga > berlibur ke Bali, Eropa, atau Hawaii... Bagaimana hasil dari pertumbuhan > ekonomi Jakarta mampu menjadi sumber pajak pemerintah bagi peningkatan > kualitas pendidikan, kesehatan, infrastruktur di Aceh, NTT, Maluku, > Minahasa, dll... atau pertumbuhan bisnis di Jakarta memungkinkan > perusahaan2nya membuka cabang2 di berbagai daerah lain di Indonesia... itu > yg lebih penting... > > itu saja pendapat saya... > > salam, > > Eko. > > > > > --- On Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MR > To: [email protected] > Date: Friday, October 24, 2008, 4:08 PM > > > > > > > > Mas Eko yang baik juga, :-) > > Jabodetabek *memang* ada di Pulau Jawa -- lha wong dengan "sesama Jawa" > sendiri daerah tersebut tidak mau "berbagi kue" mungkin konon lagi dengan > Aceh, Maluku, dan Papua. :-) > > > Saya tidak ingin terjebak dengan data [yang banyak di antaranya > dikhawatirkan hanya untuk Asal Bapak Senang kepada "yang di atas", seperti > data kemiskinan versi Biro Pemaksaan Statistik di Republik BBM]. Namun > sebenarnya tidak perlu bersusah-payah untuk membandingkannya bila Mas Eko > punya "kilometeran" untuk mengukur ruas jalan tol dalam kota di Jakarta -- > dan saya cuma perlu "sentimeteran" untuk mengukur ruas jalan tol dalam kota > kumulatif di Pulau Sumatera saja, karena jumlahnya adalah nol sentimeter. > ;-) > > > Cerita pribadi. Saya pernah "mendadak pengawal" sewaktu alm. Opa saya jadi > dosen terbang mengajar di Unsyiah -- karena saya khawatir beliau > "diapa-apakan" since his last name was "...broto" -- a "sound" Javanese > name. Ayah saya, ketika berkunjung ke Aceh pernah nyaris kena "sweeping" > karena juga bernama belakang "...o" -- untung beliau kenal dengan Kapolda > waktu itu. Simply put, orang Jawa di Medan terpaksa jadi korban "regional > inequalities" yang seharusnya lebih tepat tertuju kepada Jakarta. ;-) > > > Tanpa mengurangi rasa hormat, saya masih sangat meragukan bahwa orang-orang > Simeulue atau Aceh secara keseluruhan don't care terhadap Hasan Tiro atau > GAM -- tercermin dengan emosionalnya Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf hampir > setiap kali ia menyebut kata "Jakarta" dan "orang Jakarta". Beberapa pegawai > saya yang orang Aceh juga bisa Mas Eko interogasi. Kalau ingin pendapat > komunitas "Aceh Sepakat" di Medan, juga monggo. :-) > > > Kemudian, mengenai "regional inequalities ini bukankah merupakan produk > spasial dari sistem kapitalisme yg kita anut" -- ini kira-kira yang dianut > siapa ya, Mas? Keluarga oknum penjabat dan kroninya yang kaya-raya di > Jakarta mungkin? :-) > > > Sudahlah, Jakarta *tidak* perlu dibangun lagi. Cukup. Mari kita fokus > membangun daerah lain dan jangan biarkan 75% uang nasional tetap berada di > Jakarta. Nanti semut-semut akan kembali sendiri ke daerah karena gula sudah > ada di sana dan "rumah semut" daerah sudah banyak "kamarnya". Namun kalau > tetap mau DJARUM lagi, siapa yang bisa melawan daerah yang penuh dengan > orang-orang penting, seleb, dan manusia-manusia spesial lain yang tidak > bakal mati-mati itu. ;-) > > > Salam, > Andri > > > > > > > > > 2008/10/24 Eko B K <[EMAIL PROTECTED] com> > > > > > > > > > > > > wah maaf kalau saya salah :) > > saya hanya melihat sekilas dlm diskusi2 di posting2 sebelumnya (ada di > bawah), adanya kalimat2 Jawa centrisme, TransJawa, "menggugat kenapa Jawa > lagi", perbandingan dengan Aceh, bukan dengan Sragen, Cepu, etc... dan > seingat saya Jabodetabek masih di Pulau Jawa... > > apa mas Andri punya data berapa kemiskinan di Aceh dan berapa kemiskinan di > Jabodetabek? Apakah dengan membesarkan Banda Aceh dengan serta merta Simelue > ikut besar/kaya? Orang2 Simelue don't even care with Hassan Tiro...Lalu > apakah daerahnya yg penting atau manusianya yg penting? migrasi adalah > faktor penting dalam peningkatan kesejahteraan manusia.... > apakah membangun Jakarta harus selalu bertentangan dengan membangun daerah > lain? trade-off? ya memang ada keterbatasan karenanya perlu prioritas, tapi > bisa dilakukan bersama2 kan? > > Lalu adanya regional inequalities ini bukankah merupakan produk spasial dari > sistem kapitalisme yg kita anut? mau dirubah jadi non-kapitalisme? apa > pilihan yg baik? komunisme? bahkan komunis China Deng Xiao Ping pun > mengatakan: biarkan yg lain kaya lebih dahulu, maksudnya biarkan orang2 > China yg dic coastal kaya lebih dahulu, nanti yg lain ikut kaya... dan > seperti yg disampaikan pak Aunur, bahkan dengan berkembangnya coastal di > China pun daratan mereka masih sulit dibangun even dengan pembangunan > infrastruktur dan edukasi... kembali ke Marx, maka itu adalah produk ruang > dari kapitalisme. ..memang karakteristiknya begitu, ada polarisasi.. .China > secara politik memang komunis tapi secara ekonomi dia kapitalis... lalu > menurut mas Andri yg baik yg seperti apa ya? > > saya kira semua sepakat bahwa kemakmuran manusia Indonesia dimanapun dia > berada adalah prioritas utama pembangunan di Indonesia, tapi tidak semua > kota/wilayah di Indonesia bisa menjadi seperti Jabodetabek, dan tidak perlu, > yg penting terjamin hak2 mereka sebagai warga negara utk mendapatkan > penghidupan dan pendidikan yg layak...di semua negara pun begitu, tidak > semua kota/wilayah di US bisa jadi NY city...beberapa state terutama di > selatan punya banyak wilayah terbelakang. .. > > salam...:) > > > > --- On Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > > From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> > Subject: Re: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > Date: Friday, October 24, 2008, 2:22 PM > > > > > Sepertinya kita tadi sedang membahas regional inequalities yang masih saja > terjadi antara daerah-daerah lain dengan *Jabodetabek* -- *bukan* dengan, > ehm Jawa. ;-) > > > Salam, > Andri > > > 2008/10/24 Eko B K <[EMAIL PROTECTED] com> > > > > > > > > > > > > bukankah kemiskinan terbesar ada di PULAU JAWA? > > salam > > Eko. > > > --- On Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > > From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> > Subject: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT) > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > Date: Friday, October 24, 2008, 12:32 PM > > > > > Mas Aby dan Milisters ysh., > > Kalau boleh memilih, mungkin saat ini saya akan condong menjadi > liaison officer to GAM meski tidak digaji. :-) > > Ini saya pilih daripada menjadi Menteri Bangda dengan segala atribut, > fasilitas, dan power namun memilih untuk pandir dan manut dengan > kepentingan segelintir "masyarakat spesial" yang tamak infrastruktur, > dan rakus kesejahteraan di sekitar Monas saja -- tanpa mau melihat > "the bigger picture" yang berupa *regional inequalities* . :-) > > [Btw, emang ada gitu "Menteri Bangda"? Kalau yang bangda (bangga, > maksudnya:-) jadi menteri sekalipun wanprestasi mungkin banyak ya.] :- > ) > > Saya sependapat dengan tulisan Mas Aby, terutama dengan yang ini: > > | Saya kira GAM atau Mr. Cak Andri akan setuju kalau itu lebih > | dipakai untuk mengembangkan countermagnet to primate city > | the Jabodetabek… demi "azas keadilan keruangan nasional" … > | walau itu alokasinya ditimur (Greater Makassar) sekalipun….. > > Sementara itu dulu, Milisters ysh., dan selamat berakhir pekan, > tentunya sambil melupakan semua diskusi ini dan kembali "menghisap" DJARUM > (Demi Jabodetabek, Aceh-and-all Rela Untuk Melarat). > > Salam, > Andri > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> > wrote: >> >> >> >> Selamat pagi milisters ysh, >> >> Saya setuju advis dari menteri transportasi milis referensi yang > muda dan cemerlang mas Koko…. maupun pertimbangan dari menteri urusan > Keadilan Pembangunan Daerah merangkap liaison to GAM/ Tiro mas Cak > Andri B…… namun juga menghargai pandangan menteri Urusan Peranan > Wanita Dalam Planning bu Nita…… maupun semangat ahimsa dari menteri > PU milis kita pak Rachmad M……. >> >> MRT Jkt sementara/ darurat—murah— meriah…. Busway…. jelas belum > ideal….. tapi kalau kita lihat New York City Subway (1868 first > elevated, 1904 first subway) 368 km (total track length 1355 km).. … > atau Tokyo Subway (1927) 328km dengan 13 koridor….. London Underground > (1863) 400km 11 koridor… Paris Metro (1900) 214km dengan 16 koridor …… > tetap saja yang namanya macet pada peak hours juga masih ada….. walau > jelas kalau tanpa MRT bisa dibayangkan bgmn ruwetnya transportasi para > kota primat itu…… >> >> MRT yang kata menteri Koko biaya konstruksi per-KM nya hanya 1/20 > dari Metro-underground… ... dan katanya lumayan.. hasil pengiritan > duitnya bisa buat bangun sekolah dan puskesman di Aceh... yang dikira > itu mungkin maksud dari menteri Cak Andri B menakuti-nakuti kita dan > bu Nita……. menghubungkan ambisi Jkt sentrisme dan kumatnya sentimen > periphery negligence oleh GAM/ Hasan Tiro ……. tapi saya kira jalan > pikiran dari GAM atau liaisonnya Mr. Cak Andri bukannya lalu switch > dana Jkt sentrisme harus sebagiannya di cipratkan ke Aceh…. Saya > kira sih nggak gitu……. >> Saya kira GAM atau Mr. Cak Andri akan setuju kalau itu lebih dipakai > untuk mengembangkan countermagnet to primate city the Jabodetabek… > demi "azas >> keadilan keruangan nasional" ….walau itu alokasinya ditimur (Greater > Makassar) sekalipun….. >> Karena saya kira GAM …. juga tentu saja menteri Peduli BangDa kita > Cak Andri masih cinta NKRI (ingat Seulawah…. Pesawat terbang pertama > sumbangan masyarakat Aceh) … dan hanya benci sama Jawa sentrisme /Jkt > sentrisme (6. 7%) yang pada saat sama tak peduli sama periferi (93.3%) > saja…... >> >> Yok opo Cak Andri bener gitu nggak?...... . >> >> Salam, >> aby >> >> > > > > > > > > > > > > > > > > > > ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

