Cak...kalah cacak menang cacak, saya ikut nimbrung.

Kenapa MRT dari Jepang? lha kalok dari Suroboyo kan namanya "sepur 
klutok" Cak.

Saya pikir persoalan mengatasi regional inequality bukan soal alokasi 
dana pusat-daerahlagi. Karena dengan desentralisasi keuangan, ada 
regional transfer berupa DAU, DAK, bagi hasil, dst. Dan, pemerintah 
pusat sudah mengecil bagiannya. Cukup untuk "tur-bin-was" saja, bukan 
investasi. Soalnya justru bagaimana mengatasi ketimpangan tingkat 
Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Bagaimana difusi inovasi 
mengalir atau terjadi di banyak daerah.

Menanggapi "ping-pong Liga Djarum" ini, saya ingin melihatnya dari 
kerangka 5WH.

WHAT - regional inequaility.
WHERE - Jabodetabek vs daerah lain. Atau Jawa vs daerah tertinggal? 
Saya kira kalau kasusnya ketimpangan fiskal, contoh Aceh tidak kena. 
Karena alokasi dana ke Aceh dari dulu kan relatif besar. Soalnya dulu 
kan politik.

WHEN - dari jaman kolonial. Waktu merdeka sudah begitu. Jadi waktu 
mulai membangun, dana terbatas, yang bisa dibangun ya yang mendesak, 
quick-yield, yang padat, penduduk banyak. Waktu Orba banyak upaya 
membangun di luar "pusat" juga baik prasarana, kota, transmigrasi. 
Tapi pola sudah terlanjur timpang. Sekarang dengan otonomi daerah, 
disana sini banyak juga yang mulai tumbuh pesat.

WHO - iya siapa yang dianggap subyek dari diskusi ini. Di era otonomi 
daerah, Pusat cuma "tur-bin-was". Anggaran mengecil. 
Investasi prasarana mengharap swasta. Dan swasta tentu pakai B/C 
ratio. Istilahnya Pemerintah sebetulnya tidak mengalokasi dana di 
Jabodetabek dan Jawa. Swasta yang banyak peran.

Kalau Pemda Jabodetabek membangun daerahnya sendiri ya gak salah toh. 
Mengatasi masalah permukiman dan transportasi warganya. Bisa saja 
mereka do nothing, biar orang gak krasan. Tapi pasti diomeli juga.

WHY - jelas diuraikan di atas. Jawa untuk tanaman pangan memang dari 
sononya paling subur. Warisan sarana pendidikan, warisan infrastuktur 
banyak di pulau ini. Pemerintah mampu-nya ya membangun secara 
incremental. 
Soal enclave di luar Jawa (seperti kasus PN Timah dengan warga ala 
Lasykar Pelangi) memang itu kenyataan tipikal. Ada gap iptek antara 
corporate vs warga. Baru sekarang ada CSR, dulu setoran perusahaan 
seperti itu ya bocor ke oknum saja.

HOW - mungkin percuma ya berputar-putar di masalah yang sudah warisan. 
Nyatanya begitu. Fenomena "utara-selatan", ketimpangan dimana-mana. 
Jadi kalau bicara ketimpangan regional gak usah pakai "ehem-ehem". Itu 
kenyataan. Seperti kenyataan juga ada Sun Plaza di Medan, Panakukang 
Mal di Makassar. Mereka juga maju kok. Jangan ekstrem Jakarta 
(segitiga emas) dibanding desa nelayan di pulau kecil. Kalau jalan ke 
pinggiran Jakarta banyak juga banyak kampung tradisional miskin. Gak 
usah pakai statistik juga kelihatan luas dan jumlahnya.

Bukan pemerintah yang mengumpulkan uang ke Jabodetabek. Sistem 
ekonominya membuat begitu. Di dunia ini kalau bicara pusat sisrkulasi 
ya pasti NY, London, Hongkong, Tokyo dan satelit2nya. Pemerintah sudah 
tak punya uang banyak, makanya rajin nerbitin SUN (surat utang 
negara).

Itu realita dan tantangannya. Tinggal bagaimana memperbaikinya? Jangka 
panjang, menengah, pendek. Satu peluang yang perlu dicermati adalah 
implikasi otonomi daerah. Misalnya,
kalau sudah sepakat dengan otonomi, apa yang planner bisa lakukan 
untuk membantu daerah, supaya bisa mengefektifkan manajemen 
pembangunan, mengelola SDA. Mereka jelas butuh sumbangan pikiran.

Sekali lagi, kalau alokasi dana ke daerah luar Jabodetabek atau Jawa, 
itu sudah dilaksanakan dengan desentralisasi fiskal, transfer DAU, 
DAK, bagi hasil, dst. Yang soal justru ketimpangan Iptek, bagaimana 
mendorong difusi inovasi tersebut. TV membuat impian tinggi, keinginan 
banyak, tapi skill terbatas, modal terbatas. Peluang kerja menyempit. 
Ini meningkatkan push dan pull factors untuk migrasi ke kota besar.

Salam, 
Risfan Munir


--- In [email protected], "Mohammad Andri Budiman" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Cak Eko yang sangat baik (saya ikut-ikutan manggil Cak, thanks to 
Mas
> Aby yang sangat baik:-),
> 
> Sabtu pagi ini kok kayaknya saya kepingin komentar singkat saja 
karena
> sebentar lagi sudah masuk mengajar:  "It's not what we don't know 
that
> gets us into troubles. It's what we know for sure... that just ain't
> so." (Mark Twain)  ;-)
> 
> Salam,
> (Cak) Andri
> 
> 
> On 10/25/08, Eko B K <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Mas Andri yg juga sangat baik :)
> >
> > hmmm soal data memang sulit, walau saya tidak punya prejudice soal 
Asal
> > Bapak Senang, mengingat BPS pernah mengkritisi data kemiskinan yg 
digunakan
> > Bappenas..
> > Tapi lebih pada "siapa sih yg punya data kemiskinan di Jabodetabek 
yg cukup
> > akurat?', mengingat sebagian besar masyarakat miskin tersebut 
tinggal di kws
> > permukiman illegal atau semi illegal, yg tidak terdata secara 
baik... tapi
> > jelas kasat mata...mungkin mas Andri ingat cerita seorang bapak yg 
mendorong
> > gerobak berisi mayat anaknya karena tdk bisa mendapatkan tanah
> > pemakaman...setidaknya kalau orang miskin Aceh meninggal masih 
banyak tanah
> > kosong untuk pemakaman...
> >
> > Saya pernah 3 minggu di Simelue masa sebelum perjanjian damai 
dengan GAM di
> > tandatangani... kalau ke Banda Aceh masa itu, sopir taxi pun tidak 
berani
> > mengantarkan ke pinggiran kota....tapi di Simelue aman2 
saja...kalau dari
> > pembicaraan saya di kantor Pemda sampai di warung kopi, saya 
menangkap kesan
> > mereka tidak tertarik dengan GAM... mereka berbeda etnik dengan 
orang2 GAM,
> > dan kalau dibangun prasarana transportasi mungkin mereka lebih 
suka
> > dihubungkan dgn Medan daripada dgn Banda Aceh...ini tangkapan saya 
yg bisa
> > saja subyektif....
> >
> > Tapi bicara Banda Aceh masa itu juga menarik, saya melihat 
kesenjangan yg
> > sangat besar di sana... beberapa kelompok masyarakat termasuk 
pegawai Pemda
> > berseliweran dengan mobil2 mewah yg dimasukan dari Spore melalui 
Sabang...yg
> > jenis2nya bahkan tidak kita temui di Jakarta... tapi di sisi lain, 
begitu
> > banyak anak2 yg mengemis... heran juga, sedemikian besar perhatian 
pusat
> > masa itu (termasuk dana), tapi tampaknya begitu sedikit yg turun 
ke
> > masyarakat miskin...memang menjadi korban korupsi itu tidak 
enak...mau jadi
> > korban korupsi Jakarta, ataupun korban korupsi Banda Aceh, Pekan 
Baru,
> > Bandung, dll sama2 tidak enak....
> >
> > soal jenis kapitalisme yg kita anut, ya itukan pilihan kita semua, 
pilihan
> > legislatif dan eksekutif... rasanya UUD 45 kental dgn nuansa 
sosialisme, UU
> > turunannya jaman dulu seperti UU Agraria juga kental...saya tidak 
tahu yg
> > sekrg, begitu banyak UU yg saya tidak baca...lagipula bukan 
berarti salah,
> > saya hanya mengatakan bahwa kesenjangan yg ada memang konsekuensi 
dari
> > tendensi kapital utk terpolarisasi dan termanifest dalam 
ruang...itu
> > intepretasi lanjut dari Das Kapital nya Marx, dan saya 
sependapat... Tapi
> > bukan berarti kalau di negara2 komunis lalu tidak ada kesenjangan 
wilayah,
> > Moskow jelas berbeda bagai langit dan bumi dengan Siberia... 
bahkan anggota
> > Politbiro bisa punya villa2 mewah, sementara rakyat pedesaan 
banyak yg
> > miskin...
> >
> > Kan ada kurva U terbaliknya Williamson yg menjelaskan bahwa negara 
miskin yg
> > dalam proses pembangunan itu akan mengalami kesenjangan wilayah yg
> > meningkat, lalu menurun searah dengan peningkatan tingkat 
kesejahteraan....
> > saya lupa, kalau tidak salah Brian Berry dulu yg sampai mematok 
ukuran
> > GDP/capita berapa sebuah negara akan mengalami penurunan tingkat 
kesenjangan
> > (mungkin Pak Nuzul ingat apa betul Berry yg memprediksi sampai ke 
angka
> > tsb?)... tapi ini juga tidak terbukti selalu benar, contohnya 
Perancis,
> > walau sudah lama melampaui angka minimum GDP/capita tsb (saya lupa 
jumlahnya
> > apakah 20.000 USD atau berapa dan malas mencari di internet), tapi 
tetap
> > saja dominasi Paris begitu besar dibandingkan wilayah lain...
> >
> > Saya juga ragu bahwa ketika kita mencapai tingkat GDP/cap yg cukup 
makmur
> > lalu kesenjangan akan menurun... Malaysia dgn 12.000 USD/cap saja 
Kuala
> > Lumpur masih jauh mendominasi, sementara kalau ke Trengganu 
kelihatan masih
> > miskin, apalagi ke Borneo...Korea dengan Seoul dan Jepang dengan 
Tokyo pun
> > sama saja...
> >
> > Intinya bagi saya, bukan berarti semua perlu dibangun seperti 
Jabodetabek,
> > tapi bagaimana pembangunan di beberapa tempat terpilih tsb (dgn 
alasan
> > efisiensi) hasilnya mampu dinikmati segenap rakyat 
Indonesia....bagaimana
> > dgn Tokyo yg tetap besar, penduduk Kyushu dan Hokkaido toh bisa 
juga
> > berlibur ke Bali, Eropa, atau Hawaii... Bagaimana hasil dari 
pertumbuhan
> > ekonomi Jakarta mampu menjadi sumber pajak pemerintah bagi 
peningkatan
> > kualitas pendidikan, kesehatan, infrastruktur di Aceh, NTT, 
Maluku,
> > Minahasa, dll... atau pertumbuhan bisnis di Jakarta memungkinkan
> > perusahaan2nya membuka cabang2 di berbagai daerah lain di 
Indonesia... itu
> > yg lebih penting...
> >
> > itu saja pendapat saya...
> >
> > salam,
> >
> > Eko.
> >
> >
> >
> >
> > --- On Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]>
> > Subject: Re: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MR
> > To: [email protected]
> > Date: Friday, October 24, 2008, 4:08 PM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Mas Eko yang baik juga, :-)
> >
> > Jabodetabek *memang* ada di Pulau Jawa -- lha wong dengan "sesama 
Jawa"
> > sendiri daerah tersebut tidak mau "berbagi kue" mungkin konon lagi 
dengan
> > Aceh, Maluku, dan Papua. :-)
> >
> >
> > Saya tidak ingin terjebak dengan data [yang banyak di antaranya
> > dikhawatirkan hanya untuk Asal Bapak Senang kepada "yang di atas", 
seperti
> > data kemiskinan versi Biro Pemaksaan Statistik di Republik BBM]. 
Namun
> > sebenarnya tidak perlu bersusah-payah untuk membandingkannya bila 
Mas Eko
> > punya "kilometeran" untuk mengukur ruas jalan tol dalam kota di 
Jakarta --
> > dan saya cuma perlu "sentimeteran" untuk mengukur ruas jalan tol 
dalam kota
> > kumulatif di Pulau Sumatera saja, karena jumlahnya adalah nol 
sentimeter.
> > ;-)
> >
> >
> > Cerita pribadi. Saya pernah "mendadak pengawal" sewaktu alm. Opa 
saya jadi
> > dosen terbang mengajar di Unsyiah -- karena saya khawatir beliau
> > "diapa-apakan" since his last name was "...broto" -- a "sound" 
Javanese
> > name. Ayah saya, ketika berkunjung ke Aceh pernah nyaris kena 
"sweeping"
> > karena juga bernama belakang "...o" -- untung beliau kenal dengan 
Kapolda
> > waktu itu. Simply put, orang Jawa di Medan terpaksa jadi korban 
"regional
> > inequalities" yang seharusnya lebih tepat tertuju kepada Jakarta. 
;-)
> >
> >
> > Tanpa mengurangi rasa hormat, saya masih sangat meragukan bahwa 
orang-orang
> > Simeulue atau Aceh secara keseluruhan don't care terhadap Hasan 
Tiro atau
> > GAM -- tercermin dengan emosionalnya Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf 
hampir
> > setiap kali ia menyebut kata "Jakarta" dan "orang Jakarta". 
Beberapa pegawai
> > saya yang orang Aceh juga bisa Mas Eko interogasi. Kalau ingin 
pendapat
> > komunitas "Aceh Sepakat" di Medan, juga monggo. :-)
> >
> >
> > Kemudian, mengenai "regional inequalities ini bukankah merupakan 
produk
> > spasial dari sistem kapitalisme yg kita anut" -- ini kira-kira 
yang dianut
> > siapa ya, Mas? Keluarga oknum penjabat dan kroninya yang kaya-raya 
di
> > Jakarta mungkin? :-)
> >
> >
> > Sudahlah, Jakarta *tidak* perlu dibangun lagi. Cukup. Mari kita 
fokus
> > membangun daerah lain dan jangan biarkan 75% uang nasional tetap 
berada di
> > Jakarta. Nanti semut-semut akan kembali sendiri ke daerah karena 
gula sudah
> > ada di sana dan "rumah semut" daerah sudah banyak "kamarnya". 
Namun kalau
> > tetap mau DJARUM lagi, siapa yang bisa melawan daerah yang penuh 
dengan
> > orang-orang penting, seleb, dan manusia-manusia spesial lain yang 
tidak
> > bakal mati-mati itu. ;-)
> >
> >
> > Salam,
> > Andri
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > 2008/10/24 Eko B K <[EMAIL PROTECTED] com>
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > wah maaf kalau saya salah :)
> >
> > saya hanya melihat sekilas dlm diskusi2 di posting2 sebelumnya 
(ada di
> > bawah), adanya kalimat2 Jawa centrisme, TransJawa, "menggugat 
kenapa Jawa
> > lagi", perbandingan dengan Aceh, bukan dengan Sragen, Cepu, etc... 
dan
> > seingat saya Jabodetabek masih di Pulau Jawa...
> >
> > apa mas Andri punya data berapa kemiskinan di Aceh dan berapa 
kemiskinan di
> > Jabodetabek? Apakah dengan membesarkan Banda Aceh dengan serta 
merta Simelue
> > ikut besar/kaya? Orang2 Simelue don't even care with Hassan 
Tiro...Lalu
> > apakah daerahnya yg penting atau manusianya yg penting? migrasi 
adalah
> > faktor penting dalam peningkatan kesejahteraan manusia....
> > apakah membangun Jakarta harus selalu bertentangan dengan 
membangun daerah
> > lain? trade-off? ya memang ada keterbatasan karenanya perlu 
prioritas, tapi
> > bisa dilakukan bersama2 kan?
> >
> > Lalu adanya regional inequalities ini bukankah merupakan produk 
spasial dari
> > sistem kapitalisme yg kita anut? mau dirubah jadi non-kapitalisme? 
apa
> > pilihan yg baik? komunisme? bahkan komunis China Deng Xiao Ping 
pun
> > mengatakan: biarkan yg lain kaya lebih dahulu, maksudnya biarkan 
orang2
> > China yg dic coastal kaya lebih dahulu, nanti yg lain ikut kaya... 
dan
> > seperti yg disampaikan pak Aunur, bahkan dengan berkembangnya 
coastal di
> > China pun daratan mereka masih sulit dibangun even dengan 
pembangunan
> > infrastruktur dan edukasi... kembali ke Marx, maka itu adalah 
produk ruang
> > dari kapitalisme. ..memang karakteristiknya begitu, ada 
polarisasi.. .China
> > secara politik memang komunis tapi secara ekonomi dia kapitalis... 
lalu
> > menurut mas Andri yg baik yg seperti apa ya?
> >
> > saya kira semua sepakat bahwa kemakmuran manusia Indonesia 
dimanapun dia
> > berada adalah prioritas utama pembangunan di Indonesia, tapi tidak 
semua
> > kota/wilayah di Indonesia bisa menjadi seperti Jabodetabek, dan 
tidak perlu,
> > yg penting terjamin hak2 mereka sebagai warga negara utk 
mendapatkan
> > penghidupan dan pendidikan yg layak...di semua negara pun begitu, 
tidak
> > semua kota/wilayah di US bisa jadi NY city...beberapa state 
terutama di
> > selatan punya banyak wilayah terbelakang. ..
> >
> > salam...:)
> >
> >
> >
> > --- On Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> 
wrote:
> >
> > From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com>
> > Subject: Re: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT
> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > Date: Friday, October 24, 2008, 2:22 PM
> >
> >
> >
> >
> > Sepertinya kita tadi sedang membahas regional inequalities yang 
masih saja
> > terjadi antara daerah-daerah lain dengan *Jabodetabek* -- *bukan* 
dengan,
> > ehm Jawa. ;-)
> >
> >
> > Salam,
> > Andri
> >
> >
> > 2008/10/24 Eko B K <[EMAIL PROTECTED] com>
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > bukankah kemiskinan terbesar ada di PULAU JAWA?
> >
> > salam
> >
> > Eko.
> >
> >
> > --- On Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> 
wrote:
> >
> > From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com>
> > Subject: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT)
> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > Date: Friday, October 24, 2008, 12:32 PM
> >
> >
> >
> >
> > Mas Aby dan Milisters ysh.,
> >
> > Kalau boleh memilih, mungkin saat ini saya akan condong menjadi
> > liaison officer to GAM meski tidak digaji. :-)
> >
> > Ini saya pilih daripada menjadi Menteri Bangda dengan segala 
atribut,
> > fasilitas, dan power namun memilih untuk pandir dan manut dengan
> > kepentingan segelintir "masyarakat spesial" yang tamak 
infrastruktur,
> > dan rakus kesejahteraan di sekitar Monas saja -- tanpa mau melihat
> > "the bigger picture" yang berupa *regional inequalities* . :-)
> >
> > [Btw, emang ada gitu "Menteri Bangda"? Kalau yang bangda (bangga,
> > maksudnya:-) jadi menteri sekalipun wanprestasi mungkin banyak 
ya.] :-
> > )
> >
> > Saya sependapat dengan tulisan Mas Aby, terutama dengan yang ini:
> >
> > | Saya kira GAM atau Mr. Cak Andri akan setuju kalau itu lebih
> > | dipakai untuk mengembangkan countermagnet to primate city
> > | the Jabodetabek… demi "azas keadilan keruangan nasional" …
> > | walau itu alokasinya ditimur (Greater Makassar) sekalipun…..
> >
> > Sementara itu dulu, Milisters ysh., dan selamat berakhir pekan,
> > tentunya sambil melupakan semua diskusi ini dan kembali 
"menghisap" DJARUM
> > (Demi Jabodetabek, Aceh-and-all Rela Untuk Melarat).
> >
> > Salam,
> > Andri
> >
> > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ 
...>
> > wrote:
> >>
> >>
> >>
> >> Selamat pagi milisters ysh,
> >>
> >> Saya setuju advis dari menteri transportasi milis referensi  yang
> > muda dan cemerlang mas Koko…. maupun pertimbangan dari menteri 
urusan
> > Keadilan Pembangunan Daerah merangkap liaison to GAM/ Tiro mas Cak
> > Andri B…… namun juga menghargai pandangan menteri Urusan Peranan
> > Wanita Dalam Planning bu Nita…… maupun semangat ahimsa dari  
menteri
> > PU milis kita pak Rachmad M…….
> >>
> >> MRT Jkt sementara/ darurat—murah— meriah…. Busway…. jelas belum
> > ideal….. tapi kalau kita lihat New York City Subway (1868 first
> > elevated, 1904 first subway)  368 km (total track  length 1355 
km).. …
> > atau Tokyo Subway (1927) 328km dengan 13 koridor….. London 
Underground
> > (1863) 400km 11 koridor… Paris Metro (1900) 214km dengan 16 
koridor ……
> > tetap saja yang namanya macet  pada peak hours juga masih ada….. 
walau
> > jelas kalau tanpa MRT bisa dibayangkan bgmn ruwetnya transportasi 
para
> > kota primat itu……
> >>
> >> MRT  yang kata menteri Koko  biaya konstruksi per-KM nya hanya 
1/20
> > dari Metro-underground… ... dan katanya lumayan.. hasil pengiritan
> > duitnya bisa buat bangun sekolah dan puskesman di Aceh... yang 
dikira
> > itu mungkin maksud  dari menteri Cak Andri B menakuti-nakuti kita 
dan
> > bu Nita……. menghubungkan ambisi  Jkt sentrisme dan kumatnya 
sentimen
> > periphery negligence oleh GAM/ Hasan Tiro ……. tapi saya kira jalan
> > pikiran dari GAM atau liaisonnya Mr. Cak Andri bukannya lalu 
switch
> > dana  Jkt sentrisme  harus sebagiannya di cipratkan ke Aceh…. Saya
> > kira sih nggak gitu…….
> >> Saya kira GAM atau Mr. Cak Andri akan setuju kalau itu lebih 
dipakai
> > untuk mengembangkan countermagnet to primate city the Jabodetabek…
> > demi "azas
> >> keadilan keruangan nasional" ….walau itu alokasinya ditimur 
(Greater
> > Makassar) sekalipun…..
> >> Karena saya kira GAM …. juga tentu saja menteri Peduli BangDa 
kita
> > Cak Andri masih cinta NKRI (ingat Seulawah…. Pesawat terbang 
pertama
> > sumbangan masyarakat Aceh) … dan hanya benci sama Jawa sentrisme 
/Jkt
> > sentrisme (6. 7%) yang pada saat  sama tak peduli sama periferi 
(93.3%)
> > saja…...
> >>
> >> Yok opo Cak Andri bener gitu nggak?...... .
> >>
> >> Salam,
> >> aby
> >>
> >>
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>



Kirim email ke