Mas Eko yang baik juga, :-) Jabodetabek *memang* ada di Pulau Jawa -- lha wong dengan "sesama Jawa" sendiri daerah tersebut tidak mau "berbagi kue" mungkin konon lagi dengan Aceh, Maluku, dan Papua. :-) Saya tidak ingin terjebak dengan data [yang banyak di antaranya dikhawatirkan hanya untuk Asal Bapak Senang kepada "yang di atas", seperti data kemiskinan versi Biro Pemaksaan Statistik di Republik BBM]. Namun sebenarnya tidak perlu bersusah-payah untuk membandingkannya bila Mas Eko punya "kilometeran" untuk mengukur ruas jalan tol dalam kota di Jakarta -- dan saya cuma perlu "sentimeteran" untuk mengukur ruas jalan tol dalam kota kumulatif di Pulau Sumatera saja, karena jumlahnya adalah nol sentimeter. ;-)
Cerita pribadi. Saya pernah "mendadak pengawal" sewaktu alm. Opa saya jadi dosen terbang mengajar di Unsyiah -- karena saya khawatir beliau "diapa-apakan" since his last name was "...broto" -- a "sound" Javanese name. Ayah saya, ketika berkunjung ke Aceh pernah nyaris kena "sweeping" karena juga bernama belakang "...o" -- untung beliau kenal dengan Kapolda waktu itu. Simply put, orang Jawa di Medan terpaksa jadi korban "regional inequalities" yang seharusnya lebih tepat tertuju kepada Jakarta. ;-) Tanpa mengurangi rasa hormat, saya masih sangat meragukan bahwa orang-orang Simeulue atau Aceh secara keseluruhan don't care terhadap Hasan Tiro atau GAM -- tercermin dengan emosionalnya Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf hampir setiap kali ia menyebut kata "Jakarta" dan "orang Jakarta". Beberapa pegawai saya yang orang Aceh juga bisa Mas Eko interogasi. Kalau ingin pendapat komunitas "Aceh Sepakat" di Medan, juga monggo. :-) Kemudian, mengenai "regional inequalities ini bukankah merupakan produk spasial dari sistem kapitalisme yg kita anut" -- ini kira-kira yang dianut siapa ya, Mas? Keluarga oknum penjabat dan kroninya yang kaya-raya di Jakarta mungkin? :-) Sudahlah, Jakarta *tidak* perlu dibangun lagi. Cukup. Mari kita fokus membangun daerah lain dan jangan biarkan 75% uang nasional tetap berada di Jakarta. Nanti semut-semut akan kembali sendiri ke daerah karena gula sudah ada di sana dan "rumah semut" daerah sudah banyak "kamarnya". Namun kalau tetap mau DJARUM lagi, siapa yang bisa melawan daerah yang penuh dengan orang-orang penting, seleb, dan manusia-manusia spesial lain yang tidak bakal mati-mati itu. ;-) Salam, Andri 2008/10/24 Eko B K <[EMAIL PROTECTED]> > wah maaf kalau saya salah :) > > saya hanya melihat sekilas dlm diskusi2 di posting2 sebelumnya (ada di > bawah), adanya kalimat2 Jawa centrisme, TransJawa, "menggugat kenapa Jawa > lagi", perbandingan dengan Aceh, bukan dengan Sragen, Cepu, etc... dan > seingat saya Jabodetabek masih di Pulau Jawa... > > apa mas Andri punya data berapa kemiskinan di Aceh dan berapa kemiskinan di > Jabodetabek? Apakah dengan membesarkan Banda Aceh dengan serta merta Simelue > ikut besar/kaya? Orang2 Simelue don't even care with Hassan Tiro...Lalu > apakah daerahnya yg penting atau manusianya yg penting? migrasi adalah > faktor penting dalam peningkatan kesejahteraan manusia.... > apakah membangun Jakarta harus selalu bertentangan dengan membangun daerah > lain? trade-off? ya memang ada keterbatasan karenanya perlu prioritas, tapi > bisa dilakukan bersama2 kan? > > Lalu adanya regional inequalities ini bukankah merupakan produk spasial > dari sistem kapitalisme yg kita anut? mau dirubah jadi non-kapitalisme? apa > pilihan yg baik? komunisme? bahkan komunis China Deng Xiao Ping pun > mengatakan: biarkan yg lain kaya lebih dahulu, maksudnya biarkan orang2 > China yg dic coastal kaya lebih dahulu, nanti yg lain ikut kaya... dan > seperti yg disampaikan pak Aunur, bahkan dengan berkembangnya coastal di > China pun daratan mereka masih sulit dibangun even dengan pembangunan > infrastruktur dan edukasi... kembali ke Marx, maka itu adalah produk ruang > dari kapitalisme...memang karakteristiknya begitu, ada polarisasi...China > secara politik memang komunis tapi secara ekonomi dia kapitalis... lalu > menurut mas Andri yg baik yg seperti apa ya? > > saya kira semua sepakat bahwa kemakmuran manusia Indonesia dimanapun dia > berada adalah prioritas utama pembangunan di Indonesia, tapi tidak semua > kota/wilayah di Indonesia bisa menjadi seperti Jabodetabek, dan tidak perlu, > yg penting terjamin hak2 mereka sebagai warga negara utk mendapatkan > penghidupan dan pendidikan yg layak...di semua negara pun begitu, tidak > semua kota/wilayah di US bisa jadi NY city...beberapa state terutama di > selatan punya banyak wilayah terbelakang... > > salam...:) > > > --- On *Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT > To: [email protected] > Date: Friday, October 24, 2008, 2:22 PM > > Sepertinya kita tadi sedang membahas regional inequalities yang masih > saja terjadi antara daerah-daerah lain dengan *Jabodetabek* -- *bukan* > dengan, ehm Jawa. ;-) > Salam, > Andri > > 2008/10/24 Eko B K <[EMAIL PROTECTED] com <[EMAIL PROTECTED]>> > >> bukankah kemiskinan terbesar ada di PULAU JAWA? >> >> salam >> >> Eko. >> >> >> --- On *Fri, 10/24/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com<[EMAIL >> PROTECTED]> >> >* wrote: >> >> From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com <[EMAIL PROTECTED]>> >> Subject: [referensi] Prinsip DJARUM (was: GAM & MRT) >> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com <[email protected]> >> Date: Friday, October 24, 2008, 12:32 PM >> >> Mas Aby dan Milisters ysh., >> >> Kalau boleh memilih, mungkin saat ini saya akan condong menjadi >> liaison officer to GAM meski tidak digaji. :-) >> >> Ini saya pilih daripada menjadi Menteri Bangda dengan segala atribut, >> fasilitas, dan power namun memilih untuk pandir dan manut dengan >> kepentingan segelintir "masyarakat spesial" yang tamak infrastruktur, >> dan rakus kesejahteraan di sekitar Monas saja -- tanpa mau melihat >> "the bigger picture" yang berupa *regional inequalities* . :-) >> >> [Btw, emang ada gitu "Menteri Bangda"? Kalau yang bangda (bangga, >> maksudnya:-) jadi menteri sekalipun wanprestasi mungkin banyak ya.] :- >> ) >> >> Saya sependapat dengan tulisan Mas Aby, terutama dengan yang ini: >> >> | Saya kira GAM atau Mr. Cak Andri akan setuju kalau itu lebih >> | dipakai untuk mengembangkan countermagnet to primate city >> | the Jabodetabek… demi "azas keadilan keruangan nasional" … >> | walau itu alokasinya ditimur (Greater Makassar) sekalipun….. >> >> Sementara itu dulu, Milisters ysh., dan selamat berakhir pekan, >> tentunya sambil melupakan semua diskusi ini dan kembali "menghisap" DJARUM >> (Demi Jabodetabek, Aceh-and-all Rela Untuk Melarat). >> >> Salam, >> Andri >> >> --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com <referensi%40yahoogroups.com>, hengky >> abiyoso <watashiaby@ ...> >> wrote: >> > >> > >> > >> > Selamat pagi milisters ysh, >> > >> > Saya setuju advis dari menteri transportasi milis referensi yang >> muda dan cemerlang mas Koko…. maupun pertimbangan dari menteri urusan >> Keadilan Pembangunan Daerah merangkap liaison to GAM/ Tiro mas Cak >> Andri B…… namun juga menghargai pandangan menteri Urusan Peranan >> Wanita Dalam Planning bu Nita…… maupun semangat ahimsa dari menteri >> PU milis kita pak Rachmad M……. >> > >> > MRT Jkt sementara/ darurat—murah— meriah…. Busway…. jelas belum >> ideal….. tapi kalau kita lihat New York City Subway (1868 first >> elevated, 1904 first subway) 368 km (total track length 1355 km).. … >> atau Tokyo Subway (1927) 328km dengan 13 koridor….. London Underground >> (1863) 400km 11 koridor… Paris Metro (1900) 214km dengan 16 koridor …… >> tetap saja yang namanya macet pada peak hours juga masih ada….. walau >> jelas kalau tanpa MRT bisa dibayangkan bgmn ruwetnya transportasi para >> kota primat itu…… >> > >> > MRT yang kata menteri Koko biaya konstruksi per-KM nya hanya 1/20 >> dari Metro-underground… ... dan katanya lumayan.. hasil pengiritan >> duitnya bisa buat bangun sekolah dan puskesman di Aceh... yang dikira >> itu mungkin maksud dari menteri Cak Andri B menakuti-nakuti kita dan >> bu Nita……. menghubungkan ambisi Jkt sentrisme dan kumatnya sentimen >> periphery negligence oleh GAM/ Hasan Tiro ……. tapi saya kira jalan >> pikiran dari GAM atau liaisonnya Mr. Cak Andri bukannya lalu switch >> dana Jkt sentrisme harus sebagiannya di cipratkan ke Aceh…. Saya >> kira sih nggak gitu……. >> > Saya kira GAM atau Mr. Cak Andri akan setuju kalau itu lebih dipakai >> untuk mengembangkan countermagnet to primate city the Jabodetabek… >> demi "azas >> > keadilan keruangan nasional" ….walau itu alokasinya ditimur (Greater >> Makassar) sekalipun….. >> > Karena saya kira GAM …. juga tentu saja menteri Peduli BangDa kita >> Cak Andri masih cinta NKRI (ingat Seulawah…. Pesawat terbang pertama >> sumbangan masyarakat Aceh) … dan hanya benci sama Jawa sentrisme /Jkt >> sentrisme (6. 7%) yang pada saat sama tak peduli sama periferi (93.3%) >> saja…... >> > >> > Yok opo Cak Andri bener gitu nggak?...... . >> > >> > Salam, >> > aby >> > >> > >> >> >>

