Pak Nuzul ysh,
 
yg saya maksud memang kurva U terbaliknya Williamson pak, bukan 
Kuznets...idenya memang sama atau analog dengan kurva U terbalik Kuznets, 
bedanya kalau Kuznets melihat income inequality, maka Williamson (1965) melihat 
regional inequality...
 
paper gratisan yg membahas kurva inverted U Williamson bisa dilihat di sini Pak:
http://www.oenb.at/de/img/feei_2007_2_szoerfi_tcm14-79074.pdf
 
atau di sini:
 
http://www.jrap-journal.org/pastvolumes/1980/v15/15-2-1.pdf
 
salam
 
Eko.
 

--- On Sat, 10/25/08, Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Prinsip DJARUM (Mas Andri)
To: [email protected]
Date: Saturday, October 25, 2008, 12:39 PM







Rekan Eko dan Referensiers Ysh,
 
Menambahkan catatan di thread diskusi tentang ketimpangan ini, mungkin yang 
dimaksud rekan Eko adalah hipotesis U terbalik (inverted U hypothesis) dari 
Simon Kuznets. Betul rekan Eko, pada awal pembangunan ketika mulai terjadi 
transformasi ekonomi dari pertanian ke sektor industri, ketimpangan makin 
tinggi (antara lain dengan indikator dari index Williamson ataupun dengan  
koefisien Gini ), dan pada tingkat pendapatan tertentu ketimpangan itu makin 
turun. Kuznets secara empiris membuktikannya di AS. Tapi di Indonesia banyak 
studi yang menunjukkan bahwa pola U terbalik ini tidak terlalu tampak.
 
Catatan tambahan lain, China pada awal Special Economic Zone dibuka, disparitas 
antara kawasan timur (SEZ) ini sangat timpang dibandingkan kawasan tengah dan 
barat. Beberapa tahun terakhir ini. 
 
Yang menarik, pemerintah Cina secara bertahap memang mengarahkan pembangunannya 
dari kawasan timur dan selatan ke kawasan tengah dan dalam jangka panjang 
kawasan barat - kawasan yang paling rendah pendapatan per kapita. Sebuah studi 
menunjukkan bahwa ketimpangan di Cina semakin menurun dan terdapat indikasi 
awal bahwa ada pola U terbalik ini.
 
Mengenai pembangunan infrastruktur, kita harus belajar banyak dari Malaysia dan 
Cina bahkan AS, bahwa ketika pemerintah membangun infrastruktur, persoalan 
pembebasan tanah tidak menjadi masalah serius. Why? tanah milik negara 
sebesar-besar digunakan untuk kepentingan publik. Bahkan buah kemajuan sektor 
pertanian di Taiwan antara lain adalah karena landreform. Ternyata Indonesia 
itu lebih liberal ketimbang negara liberal lain.
 
Wassalam,
 
Nuzul Achjar
 
 
 
 
 
 














      

Kirim email ke