Baik Pak Risfan, saya tanggapi lebih lanjut. Memang disain pinisi agak
berbeda dengan jenis kapal yang lain. Saya lihat bentuknya relatif
ramping, dan tajam pada haluan. Kapal seperti ini memang lincah di laut,
dan mampu bergerak cepat pada kondisi angin yang kencang. Saya dulu
mematut-matut kepantasan kemampuan orang Bugis berlayar ke tempat-tempat
jauh, hingga juga mampu menyerang Portugis di Malaka, karena disain
kapal seperti ini. Belanda juga dalam `perjalanan rempah' ke
Maluku menghindari pelayaran di Laut Flores, cenderung menyusur Nusa
Tenggara untuk menghindari `serangan laut'. Sehingga sebenarnya
tipikal pinisi adalah untuk angkutan gerak cepat (frigate). Memang ada
model untuk angkutan barang, penangkap ikan, dll. Juga penyesuaian
dengan kondisi gelombang, alun, musim, dll. Sehingga bila model yang
laku atau komersial itu adalah seperti yang bapak sebutkan, tentunya
tidak sesuai dengan segala medan dan kondisi. Belum lagi bila motorisasi
merupakan prasyarat kebutuhan.



Kapal yang saya lihat di Bitung itu adalah semacam kapal ikan atau
barang, sekitar 10-25 ton, cukup standar untuk pelayaran jarak menengah.
Bentuknya seperti peluru, jadi bukan pinisi. Tentunya kapal seperti ini
mengandalkan mesin yang besar. Kapal-kapal seperti ini banyak digunakan
untuk medan laut di Malut dan Maluku. Untuk kapal ikan model pinisi yang
besar pernah saya lihat di Toli-toli, tapi memakai pengimbang kayu yang
panjang dan kukuh di kiri-kanan kapal. Namun tentu kapasitas penyimpanan
ikan menjadi terbatas. Saya kurang tahu tentang industri kapal ini di
Sulsel, yang tentu beraneka macam. Juga sebenarnya kurang mengerti juga
mengenai kapal-mengapal ini pak. Hanya punya satu kapal model pinisi di
rumah, yang saya beli dulu di bandara Hasanuddin.



Tapi kemarin waktu di Maumere saya ditawari pelayaran wisata dengan
beberapa pilihan : dengan cruiser mewah, sejenis classic ship dari Eropa
atau Cina, dan juga pinisi. Paket pinisi merupakan termurah. Rutenya
Maumere – Labuhan Bajo – Denpasar pp. Waktunya 2 minggu,
seandainya saya punya waktu selama itu dan tentunya uang yang banyak ...
Salam.



-ekadj




--- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote:
>
> Uda Hekadj ysh,
>
> Nampaknya Anda menangkap yang saya tulis terbalik. Justru saya
tertarik bicara tentang industri "perahu"nya, bukan industri "mesin"nya.
>
> Jadi klaster yang saya maksud klaster industri perahu, yang di
Sulawesi sudah menjadi tradisi, populasinya besar dan punya nama
(Pinisi).
>
> Waktu posting tadi saya forward ke teman di Sulsel, dia baru
menyaksikan transaksi pembuatan satu kapal pesiar ala Bugis senilai USD
5 juta dengan pembeli dari Eropa. Tentu ini tentang desain perahu, bukan
mesinnya. Trims.
>
> Salam lagi,
> Risfan Munir
> http://ecoplano.blogspot.com
>
> --- In [email protected], "ffekadj" 4ekadj@ wrote:
> >
> >
> > Pak Aby dan Pak Risfan ysh,
> >
> > Saya hanya mengikuti Pak Aby saja untuk menyemai industri manufaktur
di
> > KTI, apapun pilihan prioritasnya hendaknya kita masih sama-sama
minum
> > teh botol sosro ... Saya kurang tahu mengenai industri berbasis
mesin
> > ini. Saya dengar sekitar tahun 1960an atau 1970an ya, Rusia pernah
> > membantu pembangunan industri mesin kapal inboard ini di Ambon.
Karena
> > itu makanya Unpatti membuka jurusan perkapalan. Mungkin Pak Wawo
masih
> > bisa cerita.
> >
> > Industri mesin terkait dengan banyak hal, seperti bahan baku,
teknologi
> > dan keahlian, rantai produksi pendukung, pasar, dll. Komponen
utamanya
> > adalah metal <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4128>
,
> > yang tersedia sangat berlimpah di KTI. Tinggal bagaimana ini diolah
dan
> > dipasarkan. Namun perlu diperhatikan pesan Pak Risfan: negara-negara
> > `menjadi maju' karena penguasaan dalam industri mesin.
> >
> > 2 tahun lalu kita surprised bila kita sudah punya satu industri
pembuat
> > mesin CNC (di Cikarang?). Ini tentunya sangat strategis, karena CNC
akan
> > menghasilkan potongan-potongan komponen mesin yang presisif,
sehingga
> > kita bisa mengejar standar-standar semacam ISO. Beberapa waktu yang
lalu
> > saya bertemu Dirut-nya, MS83, mengatakan kapasitas produksi pabrik
saat
> > ini hanya 1 mesin CNC per bulan. Coba di beberapa kota besar KTI
> > diberikan masing-masing satu mesin CNC …
> >
> > Sementara demikian dulu. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> > --- In [email protected], "risfano" <risfano@> wrote:
> > >
> > > Dear All,
> > >
> > > Yang saya tangkap dari posting Uda Hekadj, beliau sarankan
> > > alternatif "industri kapal/perahu", tapi disebut juga "mesin
kapal".
> > > Saya lebih tertarik bicara perahu/kapalnya. Seperti pesawat
terbang,
> > > Boeing, Airbus kan industri pesawat, mesin utamanya hampir semua
> > > pakai Rools-Royce. Sementara RR tidak disebut sebagai industri
> > > pesawat, tapi pembuat mesin.
> > >
> > > Komunitas pembuat perahu ini di KTI, khususnya di Sulawesi sudah
> > > menjadi tradisi, sudah punya nama. Jejaring industri ini bisa jadi
> > > embrio pembentukan klaster kegiatan ekonomi, yang akan menjadi
motor
> > > penggerak pengembangan wilayh setempat.
> > >
> > > Kalau menggunakan pendekatan yang konvensional dari Porter
misalnya
> > > (Competitive Advantage of the nation/region), saya kira syarat-
> > > syarat komunitas industri kapal di, misal kawasan "Bulukumba-
> > > Makassar-Pinrang" (BMP) sangat potensial. Dalam frame Porter ada:
> > > (1) Firm Structure & Rivalry - ini sudah berkembang, ada yang dari
> > > kayu, ada fiber, ada yang besar, kecil, saling kerjasama, saling
> > > bersaing; (2) Demand Condition - sudah berumur ratusan tahun,
tentu
> > > hidup terus karena ada pasar; (3) Related Supporting Industries -
> > > sudah berkembang, di kawasan tersebut didukung Pemda, Litbang,
> > > bahkan dukungan dari luar negeridan industri pemasok, asesories,
> > > dst; (4) Factor condition - beda dengn istilah faktor produksi
yang
> > > statik, ini bisa dicreate, dan sudah berkembang, walau kendala
juga
> > > masih banyak. Soal branding sudah melegenda dengan perahu Pinisi.
> > >
> > > Pern pemerintah dalam pendekatan Porter sebagai katalis yang
> > > menjalin hubungan antar pelaku, penyediaan infrastruktur, dukungan
> > > kebijakan, dst.
> > >
> > > Rasanya kalau digarap lebih serius, fokus, maka klaster industri
> > > perahu ini bisa betul-betul jadi andalan kawasan BMP tersebut.
Perlu
> > > diingat bahwa Kabupaten Jeneponto dan tetangganya termasuk
kabupaten
> > > miskin karena lahannya kurang subur, sehingga industri perahu yang
> > > memang sudah ada itu kalau didukung bisa jadi andalan penyerapan
> > > lapangan kerja. Semoga ikut meramaikan pancingan Pak Aby.
> > >
> > > Salam,
> > > Risfan Munir
> > >
> > >
> > > --- In [email protected], "risfano" risfano@ wrote:
> > > >
> > > > Uda Hekadj dan rekans ysh,
> > > >
> > > > Dalam rangka menyemai industri manufaktur di Kawasan Timur
> > > Indonesia
> > > > (KTI), industri perahu/kapal tradisional dapat jadi alternatif.
> > > >
> > > > Untuk itu beberapa langkah bisa dilakukan. Misalkan yang jadi
> > > kasus
> > > > industri perahu di wilayah "Bulukumba-Makassar-Pinrang".
Populasi
> > > > mereka cukup banyak dan punya nama secara internasional. Yang
> > > > diperlukan adalah langkah-langkah revitalisasi sebagai berikut:
> > > > • Identifikasi populasinya, lalu buat kontak antar mereka.
> > > > Tentu sebagian sudah saling kenal, kerjasama, berorganisasi
> > > > • Ajak mereka buat pertemuan, bisa per kabupaten dulu.
> > > > Fasilitasi mereka agar hubungan 'cair'. Intinya membentuk
> > > kemitraan
> > > > stakeholder
> > > > • Mulai bahas potensi masing-masing dan ajak memikirkan
tujuan
> > > > bersama untuk "revitalisasi" diri. Potensi bisa kapasitas
> > > produksi,
> > > > teknologi dan kualitas, pasar, dst. Fasilitasi untuk bicara
visi,
> > > > harapan-harapan ke depan, langkah-langkah utama,
> > > > • Bahas kendala yang perlu diatasi atau diterobos. Biasanya
> > > > soal klasik akses ke faktor-faktor produksi 6M (man, money,
> > > machine,
> > > > methode, material, management) + marketing. Disamping kendala
> > > iklim
> > > > berusaha (prasarana, birokrasi, pungli)
> > > > • Fasilitasi untuk merumuskan langkah-langkah awal yang bisa
> > > > dilakukan sendiri, tanpa tergantung pihak lain.
> > > >
> > > > Secara umum itu beberapa langkah dasar untuk membentuk kemitraan
> > > > stakeholder. Selanjutnya dalam pertemuan yang kian melembaga
akan
> > > > dibahas agenda, mulai dari langkah awal yang dilakukan. Memang
> > > > pendekatan ini berbasis UMKM, tapi setelah kelompok terbentuk
> > > secara
> > > > bertahap usaha besar dilibatkan karena antar lapisan tersebut
> > > saling
> > > > terkait.
> > > >
> > > > Akan menarik kalau dimulai dari potensi dan harapan
(appreciative
> > > > inquiry) dari pada analisis persoalan yang bisa mengarah kepada
> > > > apatisme masa lalu, cari kambing hitam dst.
> > > >
> > > > Pemasaran biasanya jadi tantangan yang menarik. Harapannya untuk
> > > > memasarkan dalam skala yang luas, nasional, internasional. Tapi
> > > > sebetulnya bisa dimulai secara internal daerah dulu, yang kecil
> > > > melayani yang besar, melayani permintaan nelayan atau
tansportasi
> > > > lokal.
> > > >
> > > > Secara bertahap kemitraan stakeholder dalam klaster industri
> > > perahu
> > > > daerah ini dapat diperluas. Tidak hanya melibatkan kelompok
> > > pembuat
> > > > perahu, tapi juga lembaga pendukungnya, termasuk perbankan,
> > > > pendidikan & penelitian, bimbingan manajemen, dst.
> > > >
> > > > Salam,
> > > > Risfan Munir
> > > >
> > > >
> > > > --- In [email protected], "risfano" <risfano@> wrote:
> > > > >
> > > > > Saya tertarik dengan ide Uda Hekadj tentang industri perahu
ini.
> > > > > Mengingat salah satu kendala besar pengembangan KTI dan
wilayah
> > > > > kepulauan lainnya adalah transportasi, yang jumlahnya
terbatas,
> > > > > masih mahal. Maka dari segi pasar nampaknya cukup terbuka,
> > > potensi
> > > > > kemampuan skill dan tradisi membuat kapal ini cukup menonjol.
> > > Dan
> > > > > belum mendapat perhatian memadai.
> > > > >
> > > > > Kalau ada pilihan misal perahu bekas dari Probolinggo ya tak
> > > > > soal,bukan berarti tidak ada peluang bagi industri tersebut di
> > > > KTI.
> > > > > Banyak yang khas, jadi unggulan daerah (pinishi). Kalau kita
> > > baca
> > > > > artikel Kompas tentang diaspora Bugis-Makassar, jelas kejayaan
> > > > > maritim itu didukung oleh industri perahu/kapal mereka. Saya
> > > > > beberapa kali jalan sepanjang pantai selatan dari Makassar ke
> > > arah
> > > > > Bulukumba, atau ke arah Parepare beberapa pembuat perahu itu
> > > masih
> > > > > produktif, masih canggih tinggal mendorong permintaan,
> > > > > supaya "economic of scale" nya tercapai.
> > > > >
> > > > > Dalam sejarah sperti diceritakan Kompas tsb, Bugis-Makassar
dan
> > > > > Madura sudah biasa kerja sama dalam wilayah laut antar pulau
> > > > > Nusantara. Saya dengar di Pinrang juga dibuka markas Marinir
> > > > wilayah
> > > > > timur, ini menunjukkan perhatian kepada aspek kemaritiman
> > > terutama
> > > > > di KTI kian ditingkatkan.
> > > > >
> > > > > Jalesveva Jayamahe!!!
> > > > >
> > > > > Salam,
> > > > > Risfan Munir
> > > > >
> > > > >
> > > > > --- In [email protected], "ffekadj" <4ekadj@> wrote:
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > > Pak Aby ysh,
> > > > > >
> > > > > > Selain saran relokasi, sebenarnya ada industri manufaktur
yang
> > > > > potensial
> > > > > > dikembangkan di KTI, yaitu industri katinting (mesin tempel
> > > > kapal)
> > > > > dan
> > > > > > kapalnya sendiri. Katinting digunakan meluas di KTI,
cenderung
> > > > > > memperbesar kapasitas dan volume. Kemarin di Ternate kita
> > > pernah
> > > > > coba
> > > > > > 4x20 PK, malah teman di Sorong pakai 4x50 PK, hanya untuk
> > > perahu
> > > > > kecil.
> > > > > > Saya kira katinting yang ada masih built-up dari Jepang atau
> > > > > assembling
> > > > > > Surabaya. Anehnya juga sedikit sekali bengkel reparasi mesin
> > > di
> > > > > KTI.
> > > > > > Dinas DKP Malut juga punya program rutin motorisasi nelayan,
> > > > > sekitar 500
> > > > > > unit/tahun.
> > > > > >
> > > > > > Kalau untuk kapal, dulu
> > > > > > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304> saya
> > > > pernah
> > > > > > tinjau-tinjau di Bitung dan ketemu orang bikin kapal 10 ton,
> > > dan
> > > > > > teman-teman UNCRD itu cukup antusias. Saya kira pusatnya di
> > > > > > Buton-Selayar Sulsel. Kalau disemai di beberapa tempat, kita
> > > > bisa
> > > > > jadi
> > > > > > negara maritim. Di Ambon di samping penyeberangan itu juga
ada
> > > > satu
> > > > > > galangan kapal, tapi lebih sering sepi. Memang ketika saya
> > > > > tanyakan si
> > > > > > Ahmad <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304>
> > > > dari
> > > > > Asmat
> > > > > > mengenai perlunya membeli kapal-kapal perikanan yang baru
> > > ukuran
> > > > > besar,
> > > > > > dia menyarankan, "Ngapain beli yang baru pak, beli saja yang
> > > > bekas
> > > > > di
> > > > > > Probolinggo, murah-murah kok." Saya baru tahu rupanya
> > > Probolinggo
> > > > > > menjadi sentra perdagangan kapal (bekas), mungkin sejak era
> > > > > Majapahit.
> > > > > >
> > > > > > Untuk sepeda, saya belum melihat pasar. Sementara demikian
> > > dulu
> > > > > pak.
> > > > > > Salam.
> > > > > >
> > > > > > -ekadj
> >
>


Kirim email ke