Pak Indra ysh, salam kenal dan bangga mendapatkan komentar dari bapak.
Sangat dalam, meluas, dan matang uraian bapak, sehingga saya harus
hati-hati dan pilih-pilih untuk menanggapi lebih jauh. Saya coba intip,
kelihatannya memang kita telah ketemu pakarnya dalam pengembangan
industri dan wilayah. Dengan latar belakang sebagai shugyosha
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2536> , kiranya bapak
sangat mendalami transformasi industri di Jepang mulai sejak
kejatuhannya sampai kejayaannya saat ini. Mohon pak agar dikembangkan
beberapa jurus lagi untuk pencerahan bangsa.



Saya ingin pendalaman masalah ini pak:

" Kita memang bukan masyarakat yang rajin menyulam dari kecil
menjadi besar. Tradisi menyulam dan menghargai gerakan-gerakan kecil,
teori-teori kecil menjadi teori dan gerakan yang membesar. Kita melihat
agregasi tidak melihat 'grains'. "



Untuk industrialisasi pak saya kira berbeda, tidak sabar untuk menunggu
perubahan secara kronologis, apalagi juga menghendaki perubahan era
(agraris -> industri). Bila pengamatan bapak untuk kasus Jepang adalah
pasca WWII, kiranya benar, karena grains itu sudah tersebar dimana-mana.
Namun kasus Chevrolet
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3756>  dan restorasi
Meiji <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4318> 
menunjukkan, perlu ancang-ancang yang panjang untuk loncatan yang jauh,
serta berani untuk menapaki era baru secara istiqamah. Jadi kita perlu
pelajaran bapak tentang pengalaman Jepang pada era Meiji hingga pra
WWII, dan kelihatannya pas untuk kasus KTI atau 'other of
Jabodetabek'.



Demikian dulu pak. Salam.



-ekadj

--- In [email protected], indra budiman syamwil <ibsyam...@...>
wrote:
>
>
> Rekan Refernsier Ysh,
>
> Saya pernah sekilas melihat suatu dokumen di IDE di Tokyo yang
membahas tentang kapasitas Makasar dilihat dari Industri logamnya. Tentu
saja di awal tahun 1970an? pembangunan kawasan industri generasi pertama
di Indonesia, sudah mempertimbangkan potensi KTI ini, termasuk Kawasan
Industri Makasar. Bahwa kebijakan regional tidak disiasati lebih lanjut
dalam aras usaha (firm level) dan keterkaitan industri membentuk
produk-produk yang dirancang dan menjual itu barangkali awal dari
stagnasi. Jadi Jepang sudah melirik KTI yang berpusat di Makasar sebagai
peluang lokasi. Saya tidak punya analisis yang lengkap tapi pandangan
saya ketika kita memberikan insentif yang luar biasa kepada FDI untuk
datang ke Indonesia saat itu pula propensity to invest di Makasar
menjadi melemah. Maklum Jepang memulai FDI dengan sasaran market lokal
(ikut kebijakan substitusi impor) dan pasar yang paling besar ada di
Jawa (Patal Senayan, Teijin Tetoron, Jatiluhur, dll.), di KTI masih
belum cukup besar deman nya. Ketika footlose industrinya datang di era
'hollowing-out', agglomerasi Jakarta sudah cukup terbentuk (perpindahan
ini diawali Cirata dan Saguling), jadi persoalaan efisiensi muncul. Dan
pebisnis Jepang umumnya paling tidak berani mengambil resiko. Dalam
versi Jepang mereka membangun koridor tepian Pacific dari Korea turun ke
wilayah pantai Cina, Thailand, Malaysia dan Indonesia, yang telah
difikirkan dalam buku-buku sejarah tua industri Jepang pra Perang Laut
China (jadi sebelum PD I), diawali untuk menguasai sumberdaya batu bara
di Manchuria dan Sogo-shosa pertama keluarga Mitsui muncul sebagai
industrialis kapal dagang dan kapal perang. Kelihatannya koridor itu di
akhir abad ke 20 berbalik ke Asia Selatan (India) dan mendapat platform
awal di Vietnam (yang di dukung Laos dan Cambodia).
> Pebisnis di era tersebut banyak dipengaruhi oleh pergerakan investasi
Jepang (Astra, National Gobels dll.).
>
> Tentang mengawali industrialisasi di KTI, sudah banyak proyek yang
berusaha menstandarkan atau menjadikan pengetahuan membuat kapal di
Makasar menjadi pengetahuan teknologi yang bisa dipelajari dan
berkembang juga tidak berlanjut. Saya bertemu dengan seorang peneliti
World Bank (di tahun 1980an) yang pernah mencoba merekam proses membuat
kapal pinisi secara tradisional yang setelah pensiun menjadi pengusaha
turis dan yacht di Sumatra Barat (rumahnya di Gunung Padang) dia juga
mengatakan pinisi membutuhkan pengetahun positif yang testified untuk
masuk dalam era modern. Mungkin teman-teman di ITS (Perkapalan)
mengetahui bagaimana perkembangan 'trajectori' transformasi pengetahuan
menjadi teknologi yang verified ini, sehingga terjadi/tidak terjadi
industrialisasi. Atau kita sudah cukup puas dengan mengingat kejayaan
pengetahuan kerajan Goa dan Bone yang terputus oleh kolonialisasi dan
perubahan zaman itu (sah sah saja, tapi janganlah diperturutkan).
Teknologi pinisi menjadi stagnant kalau dibiarkan tinggal sebagai
'mythology'.
>
> Kapal-kapal berbendera Panama, Singapura dan lainnya sekarang hilir
mudik mendukung industri pertambangan di Kalimantan. Barge datang dari
Jepang dan Brazil dan Pantai Gading (Jepang memulai memindahkan industri
logam ke Brazil kalau tidak salah bersamaan dengan Krakatau Steel) dan
saya lihat dari literatur Industri perkapalan Jepang sudah lebih satu
dekade spill-over ke Brazil. Mungkin pebisnis kita masih bertaraf
kontraktor belum menjadi industrialis sejati yang bisa dijadikan mitra
kerja dalam menghadapi resiko. Ada gap yang tidak diteruskan dan tidak
diisi sehingga pengusaha seperti keluarga Kalla memindahkan bisnisnya ke
Jakarta. Mungkin papah nya Pak Yusuf Kalla memulai bisnis keluarga Kalla
di Makasar tidak pakai teori lokasi atau komparatif advantage yang
menakutkan itu. Mungkin rasa 'loyalitas' kampung halaman punya peranan
seperti yang dilakukan Pak Fadel (lah kok saya jadi menyimpang?).
Mungkin zaman teori lokasi sebagai 'destiny/nasib' bukan
'opportunity/peluang' masih bergelantungan di dalam benak pengambil
keputusan dan pebisnis, sehingga tidak berani merintis. Sungguhpun
begitu opportunity bisa hilang bila faktor-faktor opportunity yang
bersifat 'grains'/ butiran informasi tidak dikumpulkan dengan baik dan
dilanjutkkan secara konsisten. Jepang sering melakukan 'supply-led'
development untuk mengantisipasi grains of opportunity yang tidak
disadari ini (belum muncul menjadi efektif supplai), contoh proyek
Highway nya Kakuei Tanaka.
>
> Kalau kita memandang perbatasan (lintas negara) menjadi ajang
kolaborasi perdagangan bukan hanya melihat sisi 'doktrin keamanan'
mungkin deman periferal bisa muncul menjadi efektif deman yang menarik
bagi pebisnis. Saya juga ingin bertanya dalam forum ini apakah doktrin
keamanan archipelago yang membiarkan periferal sebagai benteng alam
masih 'lingering' dalam pengambilan keputusan mengapa PLTU mulut tambang
difikirkan 2 kali untuk dikembangkan di luar Jawa yang nota bene tidak
sesubur Jawa.
>
> Maaf kalau selanjutnya saya mengajak rekan melihat fenomena regional
di tingkat unit usaha (firm level) dan integrasi pengetahuan. Kita
memang bukan masyarakat yang rajin menyulam dari kecil menjadi besar.
Tradisi menyulam dan menghargai gerakan-gerakan kecil, teori-teori kecil
menjadi teori dan gerakan yang membesar. Kita melihat agregasi tidak
melihat 'grains'.
>
> Beberapa rintisan studi menunjukkan bahwa, kekuatan kecil gagal
digabungkan, apakah karena pebisnis kecil kita tidak piawai
berkolaborasi atau ingin cepat jadi Kalla Bersaudara atau tidak punya
'creative agents' yang menjembatani sinergi. Pengamatan di Balikpapan
menunjukkan bahwa industri kecil yang secara sporadik tumbuh sebagai
sub-kon industri tambang mempunyai kemampuan cukup baik untuk mengambil
manfaat value added keberadaan industri tambang di Kalimantan. Ada
beberapa sub-con metal yang secara parsial punya kemampuan tertentu yang
bila disatukan menjadi kekuatan yang luar biasa. Ada yang bisa
memblasting dan las metal alloy (amagam seprti velg racing) untuk
memperbaiki velg roda truck yang tingginya 3-4 kali tinggi orang
(tergantung tingginya). Ada yang bisa memotong besi sampai ketebalan 3-4
cm. Dan bila disatukan bisa mensuplai kebutuhan casing pengeboran UNOCAl
yang katanya mencapai kontrak 1,5 trilyun per tahun (dolar tahun 2001).
Casing ini biasanya dibuang atau didaur-ulang, sehingga seperti barang
pakai habis demannya kontinu. Untuk mendapatkan casing ini UNOCAL
mengadakan pembicaraan dengan kartel supplier di Bali dan kartel itu
berlokasi di sekitar Singapura dan Batam. Petinggi UNOCAL setuju bahwa
untuk teknologi yang sederhana ini bila ada yang menjembatani linkage
(menyulam) kapasitas lokal akan memberikannya kepada pebisnis lokal bila
bisa menjaga standar dan mensuplai secara kontinu. Mereka stick kepada
kartel tadi karena takut kalau pendekatan lokal gagal, kartel akan
memboikot mereka dengan mekanisma harga. Jadi kalau pemerintah/daerah
ingin betul memanfaatkan peluang memang harus tidak tanggung-tanggung.
>
> Bila Ireland serba tanggung dalam mendukung platform industri kabel
komputernya mungkin Ireland tidak menjadi negara dengan perkapita income
tertinggi di Eropah seperti dipenghujung milenium ini (European Miracle?
... mythology lagi), dan penduduknya tetap ngangon kambing.
>
> Kalau kita yakin dan istiqamah pebisnis pun akan istiqamah, mungkin
inilah yang dilakukan Tanaka terlepas dia terkena skandal Lockheed, di
hati orang Jepang dia tetap di kenang sebagai salah satu daimyo Jepang
setelah perang. Indonesia banyak mempunyai orang ahli secara parsial
tetapi tidak punya desainer yang menyulam. Informasi ini untuk merubah
play-field pembangunan regional pada aras perilaku usaha, agen dan
jejaringnya.
>
> Mohon maaf kalau saya masuk tanpa permisi dan ceritra ini tanpa riset
yang mendalam.
>
> Salam Hormat,
>
> Indra Budiman Syamwil
> di Arsitektur ITB

Kirim email ke