Pak Eka dan Pak Risfan Yth,
 
Agak melenceng dari soal pinisi, di Mahakam disamping maraknya ketinting dan 
speed, masih ada Bis Air, sampai ke Melak (Sendawar) di Kabupaten Kutai Barat. 
Kondisinya sudah tua, transportasi masal dan murah ini kini bersaing dengan 
speed, dan transportasi darat. Kalau melihat umurnya dibuat ketika eksplorasi 
pertambangan Belanda mulai di Kalimantan Timur. Saya cukup enjoy menikmati 
perjalanan tengah malam dari Melak ke Kota Bangun. Beberapa pengusaha Bis Air 
menjual kapalnya untuk menjadi juragan Bis Darat. 
 
Jos Sutomo pengusaha hotel merenovasi salah satu Bis Air menjadi Bis mewah ala 
Trans Jakarta dan menjadi alat transportasi turis hotelnya dalam paket 
perjalanan wisata sungai ke hulu Mahakam. Perjalanan ke hulu Mahakam ini 
ternyata di zaman Belanda ramai dilakukan oleh turis-turis Belanda, ada sebuah 
lamin di sebuah anak sungai Mahakam yang zaman Belanda dijadikan resort hotel 
yang pernah berubah jadi markas tentara dan sekarang terabaikan, beberapa 
orang-orang tua di Samarinda punya catatan-catatan tentang romantisnya 
perjalanan Mahakam tempo dulu, mungkin seperti perjalanan di Sungai Rhein?.
 
Salam
Indra B Syamwil



To: [email protected]: [email protected]: Wed, 21 Jan 2009 
14:51:51 +0000Subject: [referensi] Re: (3) Menyemai Klaster Industri Perahu di 
KTI


Baik Pak Risfan, saya tanggapi lebih lanjut. Memang disain pinisi agak berbeda 
dengan jenis kapal yang lain. Saya lihat bentuknya relatif ramping, dan tajam 
pada haluan. Kapal seperti ini memang lincah di laut, dan mampu bergerak cepat 
pada kondisi angin yang kencang. Saya dulu mematut-matut kepantasan kemampuan 
orang Bugis berlayar ke tempat-tempat jauh, hingga juga mampu menyerang 
Portugis di Malaka, karena disain kapal seperti ini. Belanda juga dalam 
`perjalanan rempah' ke Maluku menghindari pelayaran di Laut Flores, cenderung 
menyusur Nusa Tenggara untuk menghindari `serangan laut'. Sehingga sebenarnya 
tipikal pinisi adalah untuk angkutan gerak cepat (frigate). Memang ada model 
untuk angkutan barang, penangkap ikan, dll. Juga penyesuaian dengan kondisi 
gelombang, alun, musim, dll. Sehingga bila model yang laku atau komersial itu 
adalah seperti yang bapak sebutkan, tentunya tidak sesuai dengan segala medan 
dan kondisi. Belum lagi bila motorisasi merupakan prasyarat kebutuhan.
 
Kapal yang saya lihat di Bitung itu adalah semacam kapal ikan atau barang, 
sekitar 10-25 ton, cukup standar untuk pelayaran jarak menengah. Bentuknya 
seperti peluru, jadi bukan pinisi. Tentunya kapal seperti ini mengandalkan 
mesin yang besar. Kapal-kapal seperti ini banyak digunakan untuk medan laut di 
Malut dan Maluku. Untuk kapal ikan model pinisi yang besar pernah saya lihat di 
Toli-toli, tapi memakai pengimbang kayu yang panjang dan kukuh di kiri-kanan 
kapal. Namun tentu kapasitas penyimpanan ikan menjadi terbatas. Saya kurang 
tahu tentang industri kapal ini di Sulsel, yang tentu beraneka macam. Juga 
sebenarnya kurang mengerti juga mengenai kapal-mengapal ini pak. Hanya punya 
satu kapal model pinisi di rumah, yang saya beli dulu di bandara Hasanuddin.
 
Tapi kemarin waktu di Maumere saya ditawari pelayaran wisata dengan beberapa 
pilihan : dengan cruiser mewah, sejenis classic ship dari Eropa atau Cina, dan 
juga pinisi. Paket pinisi merupakan termurah. Rutenya Maumere – Labuhan Bajo – 
Denpasar pp. Waktunya 2 minggu, seandainya saya punya waktu selama itu dan 
tentunya uang yang banyak ... Salam.
 
-ekadj
 
--- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote:>> Uda Hekadj 
ysh,> > Nampaknya Anda menangkap yang saya tulis terbalik. Justru saya tertarik 
bicara tentang industri "perahu"nya, bukan industri "mesin"nya. > > Jadi 
klaster yang saya maksud klaster industri perahu, yang di Sulawesi sudah 
menjadi tradisi, populasinya besar dan punya nama (Pinisi).> > Waktu posting 
tadi saya forward ke teman di Sulsel, dia baru menyaksikan transaksi pembuatan 
satu kapal pesiar ala Bugis senilai USD 5 juta dengan pembeli dari Eropa. Tentu 
ini tentang desain perahu, bukan mesinnya. Trims.> > Salam lagi,> Risfan Munir> 
http://ecoplano.blogspot.com> > --- In [email protected], "ffekadj" 
4ekadj@ wrote:> >> > > > Pak Aby dan Pak Risfan ysh,> > > > Saya hanya 
mengikuti Pak Aby saja untuk menyemai industri manufaktur di> > KTI, apapun 
pilihan prioritasnya hendaknya kita masih sama-sama minum> > teh botol sosro 
... Saya kurang tahu mengenai industri berbasis mesin> > ini. Saya dengar 
sekitar tahun 1960an atau 1970an ya, Rusia pernah> > membantu pembangunan 
industri mesin kapal inboard ini di Ambon. Karena> > itu makanya Unpatti 
membuka jurusan perkapalan. Mungkin Pak Wawo masih> > bisa cerita.> > > > 
Industri mesin terkait dengan banyak hal, seperti bahan baku, teknologi> > dan 
keahlian, rantai produksi pendukung, pasar, dll. Komponen utamanya> > adalah 
metal <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4128> ,> > yang tersedia 
sangat berlimpah di KTI. Tinggal bagaimana ini diolah dan> > dipasarkan. Namun 
perlu diperhatikan pesan Pak Risfan: negara-negara> > `menjadi maju' karena 
penguasaan dalam industri mesin.> > > > 2 tahun lalu kita surprised bila kita 
sudah punya satu industri pembuat> > mesin CNC (di Cikarang?). Ini tentunya 
sangat strategis, karena CNC akan> > menghasilkan potongan-potongan komponen 
mesin yang presisif, sehingga> > kita bisa mengejar standar-standar semacam 
ISO. Beberapa waktu yang lalu> > saya bertemu Dirut-nya, MS83, mengatakan 
kapasitas produksi pabrik saat> > ini hanya 1 mesin CNC per bulan. Coba di 
beberapa kota besar KTI> > diberikan masing-masing satu mesin CNC …> > > > 
Sementara demikian dulu. Salam.> > > > -ekadj> > > > --- In 
[email protected], "risfano" <risfano@> wrote:> > >> > > Dear All,> > 
>> > > Yang saya tangkap dari posting Uda Hekadj, beliau sarankan> > > 
alternatif "industri kapal/perahu", tapi disebut juga "mesin kapal".> > > Saya 
lebih tertarik bicara perahu/kapalnya. Seperti pesawat terbang,> > > Boeing, 
Airbus kan industri pesawat, mesin utamanya hampir semua> > > pakai 
Rools-Royce. Sementara RR tidak disebut sebagai industri> > > pesawat, tapi 
pembuat mesin.> > >> > > Komunitas pembuat perahu ini di KTI, khususnya di 
Sulawesi sudah> > > menjadi tradisi, sudah punya nama. Jejaring industri ini 
bisa jadi> > > embrio pembentukan klaster kegiatan ekonomi, yang akan menjadi 
motor> > > penggerak pengembangan wilayh setempat.> > >> > > Kalau menggunakan 
pendekatan yang konvensional dari Porter misalnya> > > (Competitive Advantage 
of the nation/region), saya kira syarat-> > > syarat komunitas industri kapal 
di, misal kawasan "Bulukumba-> > > Makassar-Pinrang" (BMP) sangat potensial. 
Dalam frame Porter ada:> > > (1) Firm Structure & Rivalry - ini sudah 
berkembang, ada yang dari> > > kayu, ada fiber, ada yang besar, kecil, saling 
kerjasama, saling> > > bersaing; (2) Demand Condition - sudah berumur ratusan 
tahun, tentu> > > hidup terus karena ada pasar; (3) Related Supporting 
Industries -> > > sudah berkembang, di kawasan tersebut didukung Pemda, 
Litbang,> > > bahkan dukungan dari luar negeridan industri pemasok, asesories,> 
> > dst; (4) Factor condition - beda dengn istilah faktor produksi yang> > > 
statik, ini bisa dicreate, dan sudah berkembang, walau kendala juga> > > masih 
banyak. Soal branding sudah melegenda dengan perahu Pinisi.> > >> > > Pern 
pemerintah dalam pendekatan Porter sebagai katalis yang> > > menjalin hubungan 
antar pelaku, penyediaan infrastruktur, dukungan> > > kebijakan, dst.> > >> > > 
Rasanya kalau digarap lebih serius, fokus, maka klaster industri> > > perahu 
ini bisa betul-betul jadi andalan kawasan BMP tersebut. Perlu> > > diingat 
bahwa Kabupaten Jeneponto dan tetangganya termasuk kabupaten> > > miskin karena 
lahannya kurang subur, sehingga industri perahu yang> > > memang sudah ada itu 
kalau didukung bisa jadi andalan penyerapan> > > lapangan kerja. Semoga ikut 
meramaikan pancingan Pak Aby.> > >> > > Salam,> > > Risfan Munir> > >> > >> > > 
--- In [email protected], "risfano" risfano@ wrote:> > > >> > > > Uda 
Hekadj dan rekans ysh,> > > >> > > > Dalam rangka menyemai industri manufaktur 
di Kawasan Timur> > > Indonesia> > > > (KTI), industri perahu/kapal tradisional 
dapat jadi alternatif.> > > >> > > > Untuk itu beberapa langkah bisa dilakukan. 
Misalkan yang jadi> > > kasus> > > > industri perahu di wilayah 
"Bulukumba-Makassar-Pinrang". Populasi> > > > mereka cukup banyak dan punya 
nama secara internasional. Yang> > > > diperlukan adalah langkah-langkah 
revitalisasi sebagai berikut:> > > > • Identifikasi populasinya, lalu buat 
kontak antar mereka.> > > > Tentu sebagian sudah saling kenal, kerjasama, 
berorganisasi> > > > • Ajak mereka buat pertemuan, bisa per kabupaten dulu.> > 
> > Fasilitasi mereka agar hubungan 'cair'. Intinya membentuk> > > kemitraan> > 
> > stakeholder> > > > • Mulai bahas potensi masing-masing dan ajak memikirkan 
tujuan> > > > bersama untuk "revitalisasi" diri. Potensi bisa kapasitas> > > 
produksi,> > > > teknologi dan kualitas, pasar, dst. Fasilitasi untuk bicara 
visi,> > > > harapan-harapan ke depan, langkah-langkah utama,> > > > • Bahas 
kendala yang perlu diatasi atau diterobos. Biasanya> > > > soal klasik akses ke 
faktor-faktor produksi 6M (man, money,> > > machine,> > > > methode, material, 
management) + marketing. Disamping kendala> > > iklim> > > > berusaha 
(prasarana, birokrasi, pungli)> > > > • Fasilitasi untuk merumuskan 
langkah-langkah awal yang bisa> > > > dilakukan sendiri, tanpa tergantung pihak 
lain.> > > >> > > > Secara umum itu beberapa langkah dasar untuk membentuk 
kemitraan> > > > stakeholder. Selanjutnya dalam pertemuan yang kian melembaga 
akan> > > > dibahas agenda, mulai dari langkah awal yang dilakukan. Memang> > > 
> pendekatan ini berbasis UMKM, tapi setelah kelompok terbentuk> > > secara> > 
> > bertahap usaha besar dilibatkan karena antar lapisan tersebut> > > saling> 
> > > terkait.> > > >> > > > Akan menarik kalau dimulai dari potensi dan 
harapan (appreciative> > > > inquiry) dari pada analisis persoalan yang bisa 
mengarah kepada> > > > apatisme masa lalu, cari kambing hitam dst.> > > >> > > 
> Pemasaran biasanya jadi tantangan yang menarik. Harapannya untuk> > > > 
memasarkan dalam skala yang luas, nasional, internasional. Tapi> > > > 
sebetulnya bisa dimulai secara internal daerah dulu, yang kecil> > > > melayani 
yang besar, melayani permintaan nelayan atau tansportasi> > > > lokal.> > > >> 
> > > Secara bertahap kemitraan stakeholder dalam klaster industri> > > perahu> 
> > > daerah ini dapat diperluas. Tidak hanya melibatkan kelompok> > > pembuat> 
> > > perahu, tapi juga lembaga pendukungnya, termasuk perbankan,> > > > 
pendidikan & penelitian, bimbingan manajemen, dst.> > > >> > > > Salam,> > > > 
Risfan Munir> > > >> > > >> > > > --- In [email protected], "risfano" 
<risfano@> wrote:> > > > >> > > > > Saya tertarik dengan ide Uda Hekadj tentang 
industri perahu ini.> > > > > Mengingat salah satu kendala besar pengembangan 
KTI dan wilayah> > > > > kepulauan lainnya adalah transportasi, yang jumlahnya 
terbatas,> > > > > masih mahal. Maka dari segi pasar nampaknya cukup terbuka,> 
> > potensi> > > > > kemampuan skill dan tradisi membuat kapal ini cukup 
menonjol.> > > Dan> > > > > belum mendapat perhatian memadai.> > > > >> > > > > 
Kalau ada pilihan misal perahu bekas dari Probolinggo ya tak> > > > > 
soal,bukan berarti tidak ada peluang bagi industri tersebut di> > > > KTI.> > > 
> > Banyak yang khas, jadi unggulan daerah (pinishi). Kalau kita> > > baca> > > 
> > artikel Kompas tentang diaspora Bugis-Makassar, jelas kejayaan> > > > > 
maritim itu didukung oleh industri perahu/kapal mereka. Saya> > > > > beberapa 
kali jalan sepanjang pantai selatan dari Makassar ke> > > arah> > > > > 
Bulukumba, atau ke arah Parepare beberapa pembuat perahu itu> > > masih> > > > 
> produktif, masih canggih tinggal mendorong permintaan,> > > > > supaya 
"economic of scale" nya tercapai.> > > > >> > > > > Dalam sejarah sperti 
diceritakan Kompas tsb, Bugis-Makassar dan> > > > > Madura sudah biasa kerja 
sama dalam wilayah laut antar pulau> > > > > Nusantara. Saya dengar di Pinrang 
juga dibuka markas Marinir> > > > wilayah> > > > > timur, ini menunjukkan 
perhatian kepada aspek kemaritiman> > > terutama> > > > > di KTI kian 
ditingkatkan.> > > > >> > > > > Jalesveva Jayamahe!!!> > > > >> > > > > Salam,> 
> > > > Risfan Munir> > > > >> > > > >> > > > > --- In 
[email protected], "ffekadj" <4ekadj@> wrote:> > > > > >> > > > > >> > 
> > > > Pak Aby ysh,> > > > > >> > > > > > Selain saran relokasi, sebenarnya 
ada industri manufaktur yang> > > > > potensial> > > > > > dikembangkan di KTI, 
yaitu industri katinting (mesin tempel> > > > kapal)> > > > > dan> > > > > > 
kapalnya sendiri. Katinting digunakan meluas di KTI, cenderung> > > > > > 
memperbesar kapasitas dan volume. Kemarin di Ternate kita> > > pernah> > > > > 
coba> > > > > > 4x20 PK, malah teman di Sorong pakai 4x50 PK, hanya untuk> > > 
perahu> > > > > kecil.> > > > > > Saya kira katinting yang ada masih built-up 
dari Jepang atau> > > > > assembling> > > > > > Surabaya. Anehnya juga sedikit 
sekali bengkel reparasi mesin> > > di> > > > > KTI.> > > > > > Dinas DKP Malut 
juga punya program rutin motorisasi nelayan,> > > > > sekitar 500> > > > > > 
unit/tahun.> > > > > >> > > > > > Kalau untuk kapal, dulu> > > > > > 
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304> saya> > > > pernah> > > > 
> > tinjau-tinjau di Bitung dan ketemu orang bikin kapal 10 ton,> > > dan> > > 
> > > teman-teman UNCRD itu cukup antusias. Saya kira pusatnya di> > > > > > 
Buton-Selayar Sulsel. Kalau disemai di beberapa tempat, kita> > > > bisa> > > > 
> jadi> > > > > > negara maritim. Di Ambon di samping penyeberangan itu juga 
ada> > > > satu> > > > > > galangan kapal, tapi lebih sering sepi. Memang 
ketika saya> > > > > tanyakan si> > > > > > Ahmad 
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304>> > > > dari> > > > > 
Asmat> > > > > > mengenai perlunya membeli kapal-kapal perikanan yang baru> > > 
ukuran> > > > > besar,> > > > > > dia menyarankan, "Ngapain beli yang baru pak, 
beli saja yang> > > > bekas> > > > > di> > > > > > Probolinggo, murah-murah 
kok." Saya baru tahu rupanya> > > Probolinggo> > > > > > menjadi sentra 
perdagangan kapal (bekas), mungkin sejak era> > > > > Majapahit.> > > > > >> > 
> > > > Untuk sepeda, saya belum melihat pasar. Sementara demikian> > > dulu> > 
> > > pak.> > > > > > Salam.> > > > > >> > > > > > -ekadj> >>
_________________________________________________________________
See all the ways you can stay connected to friends and family
http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx

Kirim email ke