--- In [email protected], indra budiman syamwil 
<ibsyam...@...> wrote:
>
> 
> Rekan Refernsier Ysh,
>  
> Tentang mengawali industrialisasi di KTI, sudah banyak proyek yang 
berusaha menstandarkan atau menjadikan pengetahuan membuat kapal di 
Makasar menjadi pengetahuan teknologi yang bisa dipelajari dan 
berkembang juga tidak berlanjut. Saya bertemu dengan seorang 
peneliti World Bank (di tahun 1980an) yang pernah mencoba merekam 
proses membuat kapal pinisi secara tradisional yang setelah pensiun 
menjadi pengusaha turis dan yacht di Sumatra Barat (rumahnya di 
Gunung Padang) dia juga mengatakan pinisi membutuhkan pengetahun 
positif yang testified untuk masuk dalam era modern. Mungkin teman-
teman di ITS (Perkapalan) mengetahui bagaimana 
perkembangan 'trajectori' transformasi pengetahuan menjadi teknologi 
yang verified ini, sehingga terjadi/tidak terjadi industrialisasi. 
Atau kita sudah cukup puas dengan mengingat kejayaan pengetahuan 
kerajan Goa dan Bone yang terputus oleh kolonialisasi dan perubahan 
zaman itu (sah sah saja, tapi janganlah diperturutkan). Teknologi 
pinisi menjadi stagnant kalau dibiarkan tinggal sebagai 'mythology'.
>  
RM:
Memang industri perahu/kapal cuma salah satu alternatif saja. Tapi 
ini layak dipikirkan, karena potensinya besar. Betul mesti 
direvitalisasi, bisa menumpang kebangkitan semangat Bugis_Makassar 
yang sekarang sedang aktual. 
Memang seperti klaster Ukiran Japara, merek terkenal ukirannya yang 
khas, tapi dalam perkembngann sekarang talent mereka itu bisa 
menangkap kebutuhan dan selera furnitur masa kini, sehingga 
berkembang terus. Ada yang klasik, ada yang populer, ada yang 
kontemporer gitu prinsipnya.

>  
> Maaf kalau selanjutnya saya mengajak rekan melihat fenomena 
regional di tingkat unit usaha (firm level) dan integrasi 
pengetahuan. Kita memang bukan masyarakat yang rajin menyulam dari 
kecil menjadi besar. Tradisi menyulam dan menghargai gerakan-gerakan 
kecil, teori-teori kecil menjadi teori dan gerakan yang membesar. 
Kita melihat agregasi tidak melihat 'grains'.
>  .......
> Beberapa rintisan studi menunjukkan bahwa, kekuatan kecil gagal 
digabungkan, apakah karena pebisnis kecil kita tidak piawai 
berkolaborasi atau ingin cepat jadi Kalla Bersaudara atau tidak 
punya 'creative agents' yang menjembatani sinergi. Pengamatan di 
Balikpapan menunjukkan bahwa industri kecil yang secara sporadik 
tumbuh sebagai sub-kon industri tambang mempunyai kemampuan cukup 
baik untuk mengambil manfaat value added keberadaan industri tambang 
di Kalimantan. Ada beberapa sub-con metal yang secara parsial punya 
kemampuan tertentu yang bila disatukan menjadi kekuatan yang luar 
biasa. Ada yang bisa memblasting dan las metal alloy (amagam seprti 
velg racing) untuk memperbaiki velg roda truck yang tingginya 3-4 
kali tinggi orang (tergantung tingginya). Ada yang bisa memotong 
besi sampai ketebalan 3-4 cm. Dan bila disatukan bisa mensuplai 
kebutuhan casing pengeboran UNOCAl yang katanya mencapai kontrak 1,5 
trilyun per tahun (dolar tahun 2001). Casing ini biasanya dibuang 
atau didaur-ulang, sehingga seperti barang pakai habis demannya 
kontinu. Untuk mendapatkan casing ini UNOCAL mengadakan pembicaraan 
dengan kartel supplier di Bali dan kartel itu berlokasi di sekitar 
Singapura dan Batam. Petinggi UNOCAL setuju bahwa untuk teknologi 
yang sederhana ini bila ada yang menjembatani linkage (menyulam) 
kapasitas lokal akan memberikannya kepada pebisnis lokal bila bisa 
menjaga standar dan mensuplai secara kontinu. Mereka stick kepada 
kartel tadi karena takut kalau pendekatan lokal gagal, kartel akan 
memboikot mereka dengan mekanisma harga. Jadi kalau 
pemerintah/daerah ingin betul memanfaatkan peluang memang harus 
tidak tanggung-tanggung.
>  

RM:
Saya setuju. Michael Porter yang beberapa kali diundang ke Indonesia 
itu juga mengatakan, kira-kira: Indonesia potensinya besar, daya 
saingnya seharusnya tinggi. Tapi bangsa Anda ini tampaknya suka 
berkelahi sendiri. Saya juga pernah baca, pengalaman Lee Kuan Yew 
bertemu PM Djuanda, yang diingat Lee ucapan beliau "bangsa saya ini 
pandai-pandai, tapi suka ribut sendiri."

Pengalaman saya mendampingi beberapa klaster industri, memang 
tantangannya membuktikan pribahasa "bersaru kita teguh,.....". 
Seperti yang disinggung Bang Nuzul dalam kolomnya di Tempo yl, soal 
social capital dan trust, itu yang perlu terus dibangun.

Ujung tombak dari sebuah/sekumpulan klaster mestinya memang ada Sogo-
sosha seperti Anda singgung, sebagai "pasukan panzer" yang merintis 
pasar bagi produk-produk dari jejaring produsen dalam klaster.

Terima kasih atas pecerahannya,
Risfan Munir



> Bila Ireland serba tanggung dalam mendukung platform industri 
kabel komputernya mungkin Ireland tidak menjadi negara dengan 
perkapita income tertinggi di Eropah seperti dipenghujung milenium 
ini (European Miracle? ... mythology lagi), dan penduduknya tetap 
ngangon kambing. 
>  
> Kalau kita yakin dan istiqamah pebisnis pun akan istiqamah, 
mungkin inilah yang dilakukan Tanaka terlepas dia terkena skandal 
Lockheed, di hati orang Jepang dia tetap di kenang sebagai salah 
satu daimyo Jepang setelah perang. Indonesia banyak mempunyai orang 
ahli secara parsial tetapi tidak punya desainer yang menyulam. 
Informasi ini untuk merubah play-field pembangunan regional pada 
aras perilaku usaha, agen dan jejaringnya.
>  
> Mohon maaf kalau saya masuk tanpa permisi dan ceritra ini tanpa 
riset yang mendalam.
>  
> Salam Hormat,
>  
> Indra Budiman Syamwil
> di Arsitektur ITB
>  
>  
>  
>  
>  
> 
> 
> 
> To: refere...@...: 4ek...@...: Wed, 21 Jan 2009 12:20:56 
+0000Subject: [referensi] Re: (3) Menyemai Klaster Industri Perahu 
di KTI
> 
> 
> Pak Aby dan Pak Risfan ysh,
> Saya hanya mengikuti Pak Aby saja untuk menyemai industri 
manufaktur di KTI, apapun pilihan prioritasnya hendaknya kita masih 
sama-sama minum teh botol sosro ... Saya kurang tahu mengenai 
industri berbasis mesin ini. Saya dengar sekitar tahun 1960an atau 
1970an ya, Rusia pernah membantu pembangunan industri mesin kapal 
inboard ini di Ambon. Karena itu makanya Unpatti membuka jurusan 
perkapalan. Mungkin Pak Wawo masih bisa cerita.
> Industri mesin terkait dengan banyak hal, seperti bahan baku, 
teknologi dan keahlian, rantai produksi pendukung, pasar, dll. 
Komponen utamanya adalah metal, yang tersedia sangat berlimpah di 
KTI. Tinggal bagaimana ini diolah dan dipasarkan. Namun perlu 
diperhatikan pesan Pak Risfan: negara-negara `menjadi maju' karena 
penguasaan dalam industri mesin.
> 2 tahun lalu kita surprised bila kita sudah punya satu industri 
pembuat mesin CNC (di Cikarang?). Ini tentunya sangat strategis, 
karena CNC akan menghasilkan potongan-potongan komponen mesin yang 
presisif, sehingga kita bisa mengejar standar-standar semacam ISO. 
Beberapa waktu yang lalu saya bertemu Dirut-nya, MS83, mengatakan 
kapasitas produksi pabrik saat ini hanya 1 mesin CNC per bulan. Coba 
di beberapa kota besar KTI diberikan masing-masing satu mesin CNC …
> Sementara demikian dulu. Salam.
> -ekadj--- In [email protected], "risfano" <risfano@> 
wrote:>> Dear All,> > Yang saya tangkap dari posting Uda Hekadj, 
beliau sarankan > alternatif "industri kapal/perahu", tapi disebut 
juga "mesin kapal". > Saya lebih tertarik bicara perahu/kapalnya. 
Seperti pesawat terbang, > Boeing, Airbus kan industri pesawat, 
mesin utamanya hampir semua > pakai Rools-Royce. Sementara RR tidak 
disebut sebagai industri > pesawat, tapi pembuat mesin.> > Komunitas 
pembuat perahu ini di KTI, khususnya di Sulawesi sudah > menjadi 
tradisi, sudah punya nama. Jejaring industri ini bisa jadi > embrio 
pembentukan klaster kegiatan ekonomi, yang akan menjadi motor > 
penggerak pengembangan wilayh setempat.> > Kalau menggunakan 
pendekatan yang konvensional dari Porter misalnya > (Competitive 
Advantage of the nation/region), saya kira syarat-> syarat komunitas 
industri kapal di, misal kawasan "Bulukumba-> Makassar-Pinrang" 
(BMP) sangat potensial. Dalam frame Porter ada: > (1) Firm Structure 
& Rivalry - ini sudah berkembang, ada yang dari > kayu, ada fiber, 
ada yang besar, kecil, saling kerjasama, saling > bersaing; (2) 
Demand Condition - sudah berumur ratusan tahun, tentu > hidup terus 
karena ada pasar; (3) Related Supporting Industries - > sudah 
berkembang, di kawasan tersebut didukung Pemda, Litbang, > bahkan 
dukungan dari luar negeridan industri pemasok, asesories, > dst; (4) 
Factor condition - beda dengn istilah faktor produksi yang > statik, 
ini bisa dicreate, dan sudah berkembang, walau kendala juga > masih 
banyak. Soal branding sudah melegenda dengan perahu Pinisi.> > Pern 
pemerintah dalam pendekatan Porter sebagai katalis yang > menjalin 
hubungan antar pelaku, penyediaan infrastruktur, dukungan > 
kebijakan, dst.> > Rasanya kalau digarap lebih serius, fokus, maka 
klaster industri > perahu ini bisa betul-betul jadi andalan kawasan 
BMP tersebut. Perlu > diingat bahwa Kabupaten Jeneponto dan 
tetangganya termasuk kabupaten > miskin karena lahannya kurang 
subur, sehingga industri perahu yang > memang sudah ada itu kalau 
didukung bisa jadi andalan penyerapan > lapangan kerja. Semoga ikut 
meramaikan pancingan Pak Aby.> > Salam,> Risfan Munir> > > --- In 
[email protected], "risfano" risfano@ wrote:> >> > Uda 
Hekadj dan rekans ysh,> > > > Dalam rangka menyemai industri 
manufaktur di Kawasan Timur > Indonesia > > (KTI), industri 
perahu/kapal tradisional dapat jadi alternatif.> > > > Untuk itu 
beberapa langkah bisa dilakukan. Misalkan yang jadi > kasus > > 
industri perahu di wilayah "Bulukumba-Makassar-Pinrang". Populasi > 
> mereka cukup banyak dan punya nama secara internasional. Yang > > 
diperlukan adalah langkah-langkah revitalisasi sebagai berikut:> > • 
Identifikasi populasinya, lalu buat kontak antar mereka. > > Tentu 
sebagian sudah saling kenal, kerjasama, berorganisasi> > • Ajak 
mereka buat pertemuan, bisa per kabupaten dulu. > > Fasilitasi 
mereka agar hubungan 'cair'. Intinya membentuk > kemitraan > > 
stakeholder> > • Mulai bahas potensi masing-masing dan ajak 
memikirkan tujuan > > bersama untuk "revitalisasi" diri. Potensi 
bisa kapasitas > produksi, > > teknologi dan kualitas, pasar, dst. 
Fasilitasi untuk bicara visi, > > harapan-harapan ke depan, langkah-
langkah utama,> > • Bahas kendala yang perlu diatasi atau diterobos. 
Biasanya > > soal klasik akses ke faktor-faktor produksi 6M (man, 
money, > machine, > > methode, material, management) + marketing. 
Disamping kendala > iklim > > berusaha (prasarana, birokrasi, pungli)
> > • Fasilitasi untuk merumuskan langkah-langkah awal yang bisa > > 
dilakukan sendiri, tanpa tergantung pihak lain.> > > > Secara umum 
itu beberapa langkah dasar untuk membentuk kemitraan > > 
stakeholder. Selanjutnya dalam pertemuan yang kian melembaga akan > 
> dibahas agenda, mulai dari langkah awal yang dilakukan. Memang > > 
pendekatan ini berbasis UMKM, tapi setelah kelompok terbentuk > 
secara > > bertahap usaha besar dilibatkan karena antar lapisan 
tersebut > saling > > terkait.> > > > Akan menarik kalau dimulai 
dari potensi dan harapan (appreciative > > inquiry) dari pada 
analisis persoalan yang bisa mengarah kepada > > apatisme masa lalu, 
cari kambing hitam dst.> > > > Pemasaran biasanya jadi tantangan 
yang menarik. Harapannya untuk > > memasarkan dalam skala yang luas, 
nasional, internasional. Tapi > > sebetulnya bisa dimulai secara 
internal daerah dulu, yang kecil > > melayani yang besar, melayani 
permintaan nelayan atau tansportasi > > lokal.> > > > Secara 
bertahap kemitraan stakeholder dalam klaster industri > perahu > > 
daerah ini dapat diperluas. Tidak hanya melibatkan kelompok > 
pembuat > > perahu, tapi juga lembaga pendukungnya, termasuk 
perbankan, > > pendidikan & penelitian, bimbingan manajemen, dst.> > 
> > Salam,> > Risfan Munir> > > > > > --- In 
[email protected], "risfano" <risfano@> wrote:> > >> > > 
Saya tertarik dengan ide Uda Hekadj tentang industri perahu ini. > > 
> Mengingat salah satu kendala besar pengembangan KTI dan wilayah > 
> > kepulauan lainnya adalah transportasi, yang jumlahnya terbatas, 
> > > masih mahal. Maka dari segi pasar nampaknya cukup terbuka, > 
potensi > > > kemampuan skill dan tradisi membuat kapal ini cukup 
menonjol. > Dan > > > belum mendapat perhatian memadai.> > > > > > 
Kalau ada pilihan misal perahu bekas dari Probolinggo ya tak > > > 
soal,bukan berarti tidak ada peluang bagi industri tersebut di > > 
KTI. > > > Banyak yang khas, jadi unggulan daerah (pinishi). Kalau 
kita > baca > > > artikel Kompas tentang diaspora Bugis-Makassar, 
jelas kejayaan > > > maritim itu didukung oleh industri perahu/kapal 
mereka. Saya > > > beberapa kali jalan sepanjang pantai selatan dari 
Makassar ke > arah > > > Bulukumba, atau ke arah Parepare beberapa 
pembuat perahu itu > masih > > > produktif, masih canggih tinggal 
mendorong permintaan, > > > supaya "economic of scale" nya 
tercapai.> > > > > > Dalam sejarah sperti diceritakan Kompas tsb, 
Bugis-Makassar dan > > > Madura sudah biasa kerja sama dalam wilayah 
laut antar pulau > > > Nusantara. Saya dengar di Pinrang juga dibuka 
markas Marinir > > wilayah > > > timur, ini menunjukkan perhatian 
kepada aspek kemaritiman > terutama > > > di KTI kian ditingkatkan.> 
> > > > > Jalesveva Jayamahe!!!> > > > > > Salam,> > > Risfan Munir> 
> > > > > > > > --- In [email protected], "ffekadj" 
<4ekadj@> wrote:> > > >> > > > > > > > Pak Aby ysh,> > > > > > > > 
Selain saran relokasi, sebenarnya ada industri manufaktur yang > > > 
potensial> > > > dikembangkan di KTI, yaitu industri katinting 
(mesin tempel > > kapal) > > > dan> > > > kapalnya sendiri. 
Katinting digunakan meluas di KTI, cenderung> > > > memperbesar 
kapasitas dan volume. Kemarin di Ternate kita > pernah > > > coba> > 
> > 4x20 PK, malah teman di Sorong pakai 4x50 PK, hanya untuk > 
perahu > > > kecil.> > > > Saya kira katinting yang ada masih built-
up dari Jepang atau > > > assembling> > > > Surabaya. Anehnya juga 
sedikit sekali bengkel reparasi mesin > di > > > KTI.> > > > Dinas 
DKP Malut juga punya program rutin motorisasi nelayan, > > > sekitar 
500> > > > unit/tahun.> > > > > > > > Kalau untuk kapal, dulu> > > > 
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304> saya > > 
pernah> > > > tinjau-tinjau di Bitung dan ketemu orang bikin kapal 
10 ton, > dan> > > > teman-teman UNCRD itu cukup antusias. Saya kira 
pusatnya di> > > > Buton-Selayar Sulsel. Kalau disemai di beberapa 
tempat, kita > > bisa > > > jadi> > > > negara maritim. Di Ambon di 
samping penyeberangan itu juga ada > > satu> > > > galangan kapal, 
tapi lebih sering sepi. Memang ketika saya > > > tanyakan si> > > > 
Ahmad <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304> > > dari 
> > > Asmat> > > > mengenai perlunya membeli kapal-kapal perikanan 
yang baru > ukuran > > > besar,> > > > dia menyarankan, "Ngapain 
beli yang baru pak, beli saja yang > > bekas > > > di> > > > 
Probolinggo, murah-murah kok." Saya baru tahu rupanya > Probolinggo> 
> > > menjadi sentra perdagangan kapal (bekas), mungkin sejak era > 
> > Majapahit.> > > > > > > > Untuk sepeda, saya belum melihat 
pasar. Sementara demikian > dulu > > > pak.> > > > Salam.> > > > > > 
> > -ekadj
> _________________________________________________________________
> Manage multiple email accounts with Windows Live Mail effortlessly.
> http://www.get.live.com/wl/all
>


Kirim email ke