Terimakasih Pak Aby,
 
Saya juga telah di sapa oleh Pak Tata
 
Salam,
 
Indra B Syamwil



To: [email protected]: [email protected]: Wed, 21 Jan 2009 
18:19:15 -0800Subject: RE: [referensi] Permisi Re: (3) Menyemai Klaster 
Industri Perahu di KTI






 

"indra budiman syamwil" [email protected]  wrote: 

 

“…Mohon maaf kalau saya masuk tanpa permisi dan ceritra ini tanpa riset yang 
mendalam….”.

Akh biasa.....  ini saya kira waktu anda bergabung dimilis ini pak Mod EkoBK 
dan Ekadj paling-paling pada lalai saja membuat upacara ‘tepung tawar’ sebagai 
sambutan selamat datang sambil seharusnya beliau  memperkenalkan hadirnya 
tambahan  seorang tamu agung lagi dimilis ini …….

Trims pak Indra, pak Risfan, pak BTS, pak  Dwi, pak Ekadj (dan lainnya nyusul?) 
atas partisipasinya meramaikan diskusi seputar judul diatas…….

 

Salam,

aby
--- On Wed, 1/21/09, indra budiman syamwil <[email protected]> wrote:
From: indra budiman syamwil <[email protected]>Subject: RE: [referensi] Re: 
(3) Menyemai Klaster Industri Perahu di KTITo: [email protected]: 
Wednesday, January 21, 2009, 6:58 AM


Rekan Refernsier Ysh, Saya pernah sekilas melihat suatu dokumen di IDE di Tokyo 
yang membahas tentang kapasitas Makasar dilihat dari Industri logamnya. Tentu 
saja di awal tahun 1970an? pembangunan kawasan industri generasi pertama di 
Indonesia, sudah mempertimbangkan potensi KTI ini, termasuk Kawasan Industri 
Makasar. Bahwa kebijakan regional tidak disiasati lebih lanjut dalam aras usaha 
(firm level) dan keterkaitan industri membentuk produk-produk yang dirancang 
dan menjual itu barangkali awal dari stagnasi.  Jadi Jepang sudah melirik KTI 
yang berpusat di Makasar sebagai peluang lokasi. Saya tidak punya analisis yang 
lengkap tapi pandangan saya ketika kita memberikan insentif yang luar biasa 
kepada FDI untuk datang ke Indonesia saat itu pula propensity to invest di 
Makasar menjadi melemah. Maklum Jepang memulai FDI dengan sasaran market lokal 
(ikut kebijakan substitusi impor) dan pasar yang paling besar ada di Jawa 
(Patal Senayan, Teijin Tetoron, Jatiluhur, dll.), di KTI masih belum cukup 
besar deman nya. Ketika footlose industrinya datang di era 'hollowing-out' , 
agglomerasi Jakarta sudah cukup terbentuk (perpindahan ini diawali Cirata dan 
Saguling), jadi persoalaan efisiensi muncul. Dan pebisnis Jepang umumnya paling 
tidak berani mengambil resiko. Dalam versi Jepang mereka membangun koridor 
tepian Pacific dari Korea turun ke wilayah pantai Cina, Thailand, Malaysia dan 
Indonesia, yang telah difikirkan dalam buku-buku sejarah tua industri Jepang 
pra Perang Laut China (jadi sebelum PD I), diawali untuk menguasai sumberdaya 
batu bara di Manchuria dan Sogo-shosa pertama keluarga Mitsui muncul sebagai 
industrialis kapal dagang dan kapal perang. Kelihatannya koridor itu di akhir 
abad ke 20 berbalik ke Asia Selatan (India) dan mendapat platform awal di 
Vietnam (yang di dukung Laos dan Cambodia).Pebisnis di era tersebut banyak 
dipengaruhi oleh pergerakan investasi Jepang (Astra, National Gobels dll.). 
Tentang mengawali industrialisasi di KTI, sudah banyak proyek yang berusaha 
menstandarkan atau menjadikan pengetahuan membuat kapal di Makasar menjadi 
pengetahuan teknologi yang bisa dipelajari dan berkembang juga tidak berlanjut. 
Saya bertemu dengan seorang peneliti World Bank (di tahun 1980an) yang pernah 
mencoba merekam proses membuat kapal pinisi secara tradisional yang setelah 
pensiun menjadi pengusaha turis dan yacht di Sumatra Barat (rumahnya di Gunung 
Padang) dia juga mengatakan pinisi membutuhkan pengetahun positif yang 
testified untuk masuk dalam era modern. Mungkin teman-teman di ITS (Perkapalan) 
mengetahui bagaimana perkembangan 'trajectori' transformasi pengetahuan menjadi 
teknologi yang verified ini, sehingga terjadi/tidak terjadi industrialisasi. 
Atau kita sudah cukup puas dengan mengingat kejayaan pengetahuan kerajan Goa 
dan Bone yang terputus oleh kolonialisasi dan perubahan zaman itu (sah sah 
saja, tapi janganlah diperturutkan) . Teknologi pinisi menjadi stagnant kalau 
dibiarkan tinggal sebagai 'mythology'. Kapal-kapal berbendera Panama, Singapura 
dan lainnya sekarang hilir mudik mendukung industri pertambangan di Kalimantan. 
Barge datang dari Jepang dan Brazil dan Pantai Gading (Jepang memulai 
memindahkan industri logam ke Brazil kalau tidak salah bersamaan dengan 
Krakatau Steel) dan saya lihat dari literatur Industri perkapalan Jepang sudah 
lebih satu dekade spill-over ke Brazil. Mungkin pebisnis kita masih bertaraf 
kontraktor belum menjadi industrialis sejati yang bisa dijadikan mitra kerja 
dalam menghadapi resiko. Ada gap yang tidak diteruskan dan tidak diisi sehingga 
pengusaha seperti keluarga Kalla memindahkan bisnisnya ke Jakarta. Mungkin 
papah nya Pak Yusuf Kalla memulai bisnis keluarga Kalla di Makasar tidak pakai 
teori lokasi atau komparatif advantage yang menakutkan itu. Mungkin rasa 
'loyalitas' kampung halaman punya peranan seperti yang dilakukan Pak Fadel (lah 
kok saya jadi menyimpang?) . Mungkin zaman teori lokasi sebagai 'destiny/nasib' 
bukan 'opportunity/ peluang' masih bergelantungan di dalam benak pengambil 
keputusan dan pebisnis, sehingga tidak berani merintis. Sungguhpun begitu 
opportunity bisa hilang bila faktor-faktor opportunity yang bersifat 'grains'/ 
butiran informasi tidak dikumpulkan dengan baik dan dilanjutkkan secara 
konsisten. Jepang sering melakukan 'supply-led' development untuk 
mengantisipasi grains of opportunity yang tidak disadari ini (belum muncul 
menjadi efektif supplai), contoh proyek Highway nya Kakuei Tanaka. Kalau kita 
memandang perbatasan (lintas negara) menjadi ajang kolaborasi perdagangan bukan 
hanya melihat sisi 'doktrin keamanan' mungkin deman periferal bisa muncul 
menjadi efektif deman yang menarik bagi pebisnis. Saya juga ingin bertanya 
dalam forum ini apakah doktrin keamanan archipelago yang membiarkan periferal 
sebagai benteng alam masih 'lingering' dalam pengambilan keputusan mengapa PLTU 
mulut tambang difikirkan 2 kali untuk dikembangkan di luar Jawa yang nota bene 
tidak sesubur Jawa.    Maaf kalau selanjutnya saya mengajak rekan melihat 
fenomena regional di tingkat unit usaha (firm level) dan integrasi pengetahuan. 
Kita memang bukan masyarakat yang rajin menyulam dari kecil menjadi besar. 
Tradisi menyulam dan menghargai gerakan-gerakan kecil, teori-teori kecil 
menjadi teori dan gerakan yang membesar. Kita melihat agregasi tidak melihat 
'grains'. Beberapa rintisan studi menunjukkan bahwa, kekuatan kecil gagal 
digabungkan, apakah karena pebisnis kecil kita tidak piawai berkolaborasi atau 
ingin cepat jadi Kalla Bersaudara atau tidak punya 'creative agents' yang 
menjembatani sinergi. Pengamatan di Balikpapan menunjukkan bahwa industri kecil 
yang secara sporadik tumbuh sebagai sub-kon industri tambang mempunyai 
kemampuan cukup baik untuk mengambil manfaat value added keberadaan industri 
tambang di Kalimantan. Ada beberapa sub-con metal yang secara parsial punya 
kemampuan tertentu yang bila disatukan menjadi kekuatan yang luar biasa. Ada 
yang bisa memblasting dan las metal alloy (amagam seprti velg racing) untuk 
memperbaiki velg roda truck yang tingginya 3-4 kali tinggi orang (tergantung 
tingginya). Ada yang bisa memotong besi sampai ketebalan 3-4 cm. Dan bila 
disatukan bisa mensuplai kebutuhan casing pengeboran UNOCAl yang katanya 
mencapai kontrak 1,5 trilyun per tahun (dolar tahun 2001). Casing ini biasanya 
dibuang atau didaur-ulang, sehingga seperti barang pakai habis demannya 
kontinu. Untuk mendapatkan casing ini UNOCAL mengadakan pembicaraan dengan 
kartel supplier di Bali dan kartel itu berlokasi di sekitar Singapura dan 
Batam. Petinggi UNOCAL setuju bahwa untuk teknologi yang sederhana ini bila ada 
yang menjembatani linkage (menyulam) kapasitas lokal akan memberikannya kepada 
pebisnis lokal bila bisa menjaga standar dan mensuplai secara kontinu. Mereka 
stick kepada kartel tadi karena takut kalau pendekatan lokal gagal, kartel akan 
memboikot mereka dengan mekanisma harga. Jadi kalau pemerintah/daerah ingin 
betul memanfaatkan peluang memang harus tidak tanggung-tanggung. Bila Ireland 
serba tanggung dalam mendukung platform industri kabel komputernya mungkin 
Ireland tidak menjadi negara dengan perkapita income tertinggi di Eropah 
seperti dipenghujung milenium ini (European Miracle? ... mythology lagi), dan 
penduduknya tetap ngangon kambing.  Kalau kita yakin dan istiqamah pebisnis pun 
akan istiqamah, mungkin inilah yang dilakukan Tanaka terlepas dia terkena 
skandal Lockheed, di hati orang Jepang dia tetap di kenang sebagai salah satu 
daimyo Jepang setelah perang. Indonesia banyak mempunyai orang ahli secara 
parsial tetapi tidak punya desainer yang menyulam. Informasi ini untuk merubah 
play-field pembangunan regional pada aras perilaku usaha, agen dan jejaringnya. 
Mohon maaf kalau saya masuk tanpa permisi dan ceritra ini tanpa riset yang 
mendalam. Salam Hormat, Indra Budiman Syamwildi Arsitektur ITB     

To: refere...@yahoogrou ps.comFrom: 4ek...@gmail. comDate: Wed, 21 Jan 2009 
12:20:56 +0000Subject: [referensi] Re: (3) Menyemai Klaster Industri Perahu di 
KTIPak Aby dan Pak Risfan ysh,Saya hanya mengikuti Pak Aby saja untuk menyemai 
industri manufaktur di KTI, apapun pilihan prioritasnya hendaknya kita masih 
sama-sama minum teh botol sosro ... Saya kurang tahu mengenai industri berbasis 
mesin ini. Saya dengar sekitar tahun 1960an atau 1970an ya, Rusia pernah 
membantu pembangunan industri mesin kapal inboard ini di Ambon. Karena itu 
makanya Unpatti membuka jurusan perkapalan. Mungkin Pak Wawo masih bisa 
cerita.Industri mesin terkait dengan banyak hal, seperti bahan baku, teknologi 
dan keahlian, rantai produksi pendukung, pasar, dll. Komponen utamanya adalah 
metal, yang tersedia sangat berlimpah di KTI. Tinggal bagaimana ini diolah dan 
dipasarkan. Namun perlu diperhatikan pesan Pak Risfan: negara-negara `menjadi 
maju' karena penguasaan dalam industri mesin.2 tahun lalu kita surprised bila 
kita sudah punya satu industri pembuat mesin CNC (di Cikarang?). Ini tentunya 
sangat strategis, karena CNC akan menghasilkan potongan-potongan komponen mesin 
yang presisif, sehingga kita bisa mengejar standar-standar semacam ISO. 
Beberapa waktu yang lalu saya bertemu Dirut-nya, MS83, mengatakan kapasitas 
produksi pabrik saat ini hanya 1 mesin CNC per bulan. Coba di beberapa kota 
besar KTI diberikan masing-masing satu mesin CNC …Sementara demikian dulu. 
Salam.-ekadj--- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" <risf...@...> wrote:>> 
Dear All,> > Yang saya tangkap dari posting Uda Hekadj, beliau sarankan > 
alternatif "industri kapal/perahu" , tapi disebut juga "mesin kapal". > Saya 
lebih tertarik bicara perahu/kapalnya. Seperti pesawat terbang, > Boeing, 
Airbus kan industri pesawat, mesin utamanya hampir semua > pakai Rools-Royce. 
Sementara RR tidak disebut sebagai industri > pesawat, tapi pembuat mesin.> > 
Komunitas pembuat perahu ini di KTI, khususnya di Sulawesi sudah > menjadi 
tradisi, sudah punya nama. Jejaring industri ini bisa jadi > embrio pembentukan 
klaster kegiatan ekonomi, yang akan menjadi motor > penggerak pengembangan 
wilayh setempat.> > Kalau menggunakan pendekatan yang konvensional dari Porter 
misalnya > (Competitive Advantage of the nation/region) , saya kira syarat-> 
syarat komunitas industri kapal di, misal kawasan "Bulukumba-> 
Makassar-Pinrang" (BMP) sangat potensial. Dalam frame Porter ada: > (1) Firm 
Structure & Rivalry - ini sudah berkembang, ada yang dari > kayu, ada fiber, 
ada yang besar, kecil, saling kerjasama, saling > bersaing; (2) Demand 
Condition - sudah berumur ratusan tahun, tentu > hidup terus karena ada pasar; 
(3) Related Supporting Industries - > sudah berkembang, di kawasan tersebut 
didukung Pemda, Litbang, > bahkan dukungan dari luar negeridan industri 
pemasok, asesories, > dst; (4) Factor condition - beda dengn istilah faktor 
produksi yang > statik, ini bisa dicreate, dan sudah berkembang, walau kendala 
juga > masih banyak. Soal branding sudah melegenda dengan perahu Pinisi.> > 
Pern pemerintah dalam pendekatan Porter sebagai katalis yang > menjalin 
hubungan antar pelaku, penyediaan infrastruktur, dukungan > kebijakan, dst.> > 
Rasanya kalau digarap lebih serius, fokus, maka klaster industri > perahu ini 
bisa betul-betul jadi andalan kawasan BMP tersebut. Perlu > diingat bahwa 
Kabupaten Jeneponto dan tetangganya termasuk kabupaten > miskin karena lahannya 
kurang subur, sehingga industri perahu yang > memang sudah ada itu kalau 
didukung bisa jadi andalan penyerapan > lapangan kerja. Semoga ikut meramaikan 
pancingan Pak Aby.> > Salam,> Risfan Munir> > > --- In refere...@yahoogrou 
ps.com, "risfano" risfano@ wrote:> >> > Uda Hekadj dan rekans ysh,> > > > Dalam 
rangka menyemai industri manufaktur di Kawasan Timur > Indonesia > > (KTI), 
industri perahu/kapal tradisional dapat jadi alternatif.> > > > Untuk itu 
beberapa langkah bisa dilakukan. Misalkan yang jadi > kasus > > industri perahu 
di wilayah "Bulukumba-Makassar -Pinrang" . Populasi > > mereka cukup banyak dan 
punya nama secara internasional. Yang > > diperlukan adalah langkah-langkah 
revitalisasi sebagai berikut:> > • Identifikasi populasinya, lalu buat kontak 
antar mereka. > > Tentu sebagian sudah saling kenal, kerjasama, berorganisasi> 
> • Ajak mereka buat pertemuan, bisa per kabupaten dulu. > > Fasilitasi mereka 
agar hubungan 'cair'. Intinya membentuk > kemitraan > > stakeholder> > • Mulai 
bahas potensi masing-masing dan ajak memikirkan tujuan > > bersama untuk 
"revitalisasi" diri. Potensi bisa kapasitas > produksi, > > teknologi dan 
kualitas, pasar, dst. Fasilitasi untuk bicara visi, > > harapan-harapan ke 
depan, langkah-langkah utama,> > • Bahas kendala yang perlu diatasi atau 
diterobos. Biasanya > > soal klasik akses ke faktor-faktor produksi 6M (man, 
money, > machine, > > methode, material, management) + marketing. Disamping 
kendala > iklim > > berusaha (prasarana, birokrasi, pungli)> > • Fasilitasi 
untuk merumuskan langkah-langkah awal yang bisa > > dilakukan sendiri, tanpa 
tergantung pihak lain.> > > > Secara umum itu beberapa langkah dasar untuk 
membentuk kemitraan > > stakeholder. Selanjutnya dalam pertemuan yang kian 
melembaga akan > > dibahas agenda, mulai dari langkah awal yang dilakukan. 
Memang > > pendekatan ini berbasis UMKM, tapi setelah kelompok terbentuk > 
secara > > bertahap usaha besar dilibatkan karena antar lapisan tersebut > 
saling > > terkait.> > > > Akan menarik kalau dimulai dari potensi dan harapan 
(appreciative > > inquiry) dari pada analisis persoalan yang bisa mengarah 
kepada > > apatisme masa lalu, cari kambing hitam dst.> > > > Pemasaran 
biasanya jadi tantangan yang menarik. Harapannya untuk > > memasarkan dalam 
skala yang luas, nasional, internasional. Tapi > > sebetulnya bisa dimulai 
secara internal daerah dulu, yang kecil > > melayani yang besar, melayani 
permintaan nelayan atau tansportasi > > lokal.> > > > Secara bertahap kemitraan 
stakeholder dalam klaster industri > perahu > > daerah ini dapat diperluas. 
Tidak hanya melibatkan kelompok > pembuat > > perahu, tapi juga lembaga 
pendukungnya, termasuk perbankan, > > pendidikan & penelitian, bimbingan 
manajemen, dst.> > > > Salam,> > Risfan Munir> > > > > > --- In 
refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" <risfano@> wrote:> > >> > > Saya tertarik 
dengan ide Uda Hekadj tentang industri perahu ini. > > > Mengingat salah satu 
kendala besar pengembangan KTI dan wilayah > > > kepulauan lainnya adalah 
transportasi, yang jumlahnya terbatas, > > > masih mahal. Maka dari segi pasar 
nampaknya cukup terbuka, > potensi > > > kemampuan skill dan tradisi membuat 
kapal ini cukup menonjol. > Dan > > > belum mendapat perhatian memadai.> > > > 
> > Kalau ada pilihan misal perahu bekas dari Probolinggo ya tak > > > 
soal,bukan berarti tidak ada peluang bagi industri tersebut di > > KTI. > > > 
Banyak yang khas, jadi unggulan daerah (pinishi). Kalau kita > baca > > > 
artikel Kompas tentang diaspora Bugis-Makassar, jelas kejayaan > > > maritim 
itu didukung oleh industri perahu/kapal mereka. Saya > > > beberapa kali jalan 
sepanjang pantai selatan dari Makassar ke > arah > > > Bulukumba, atau ke arah 
Parepare beberapa pembuat perahu itu > masih > > > produktif, masih canggih 
tinggal mendorong permintaan, > > > supaya "economic of scale" nya tercapai.> > 
> > > > Dalam sejarah sperti diceritakan Kompas tsb, Bugis-Makassar dan > > > 
Madura sudah biasa kerja sama dalam wilayah laut antar pulau > > > Nusantara. 
Saya dengar di Pinrang juga dibuka markas Marinir > > wilayah > > > timur, ini 
menunjukkan perhatian kepada aspek kemaritiman > terutama > > > di KTI kian 
ditingkatkan.> > > > > > Jalesveva Jayamahe!!!> > > > > > Salam,> > > Risfan 
Munir> > > > > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "ffekadj" <4ekadj@> 
wrote:> > > >> > > > > > > > Pak Aby ysh,> > > > > > > > Selain saran relokasi, 
sebenarnya ada industri manufaktur yang > > > potensial> > > > dikembangkan di 
KTI, yaitu industri katinting (mesin tempel > > kapal) > > > dan> > > > 
kapalnya sendiri. Katinting digunakan meluas di KTI, cenderung> > > > 
memperbesar kapasitas dan volume. Kemarin di Ternate kita > pernah > > > coba> 
> > > 4x20 PK, malah teman di Sorong pakai 4x50 PK, hanya untuk > perahu > > > 
kecil.> > > > Saya kira katinting yang ada masih built-up dari Jepang atau > > 
> assembling> > > > Surabaya. Anehnya juga sedikit sekali bengkel reparasi 
mesin > di > > > KTI.> > > > Dinas DKP Malut juga punya program rutin 
motorisasi nelayan, > > > sekitar 500> > > > unit/tahun.> > > > > > > > Kalau 
untuk kapal, dulu> > > > <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ 
message/304> saya > > pernah> > > > tinjau-tinjau di Bitung dan ketemu orang 
bikin kapal 10 ton, > dan> > > > teman-teman UNCRD itu cukup antusias. Saya 
kira pusatnya di> > > > Buton-Selayar Sulsel. Kalau disemai di beberapa tempat, 
kita > > bisa > > > jadi> > > > negara maritim. Di Ambon di samping 
penyeberangan itu juga ada > > satu> > > > galangan kapal, tapi lebih sering 
sepi. Memang ketika saya > > > tanyakan si> > > > Ahmad <http://groups. 
yahoo.com/ group/referensi/ message/304> > > dari > > > Asmat> > > > mengenai 
perlunya membeli kapal-kapal perikanan yang baru > ukuran > > > besar,> > > > 
dia menyarankan, "Ngapain beli yang baru pak, beli saja yang > > bekas > > > 
di> > > > Probolinggo, murah-murah kok." Saya baru tahu rupanya > Probolinggo> 
> > > menjadi sentra perdagangan kapal (bekas), mungkin sejak era > > > 
Majapahit.> > > > > > > > Untuk sepeda, saya belum melihat pasar. Sementara 
demikian > dulu > > > pak.> > > > Salam.> > > > > > > > -ekadj

Share your beautiful moments with Photo Gallery. Windows Live Photo Gallery 

_________________________________________________________________
See all the ways you can stay connected to friends and family
http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx

Kirim email ke