Rekan Refernsier Ysh,
 
Saya pernah sekilas melihat suatu dokumen di IDE di Tokyo yang membahas tentang 
kapasitas Makasar dilihat dari Industri logamnya. Tentu saja di awal tahun 
1970an? pembangunan kawasan industri generasi pertama di Indonesia, sudah 
mempertimbangkan potensi KTI ini, termasuk Kawasan Industri Makasar. Bahwa 
kebijakan regional tidak disiasati lebih lanjut dalam aras usaha (firm level) 
dan keterkaitan industri membentuk produk-produk yang dirancang dan menjual itu 
barangkali awal dari stagnasi.  Jadi Jepang sudah melirik KTI yang berpusat di 
Makasar sebagai peluang lokasi. Saya tidak punya analisis yang lengkap tapi 
pandangan saya ketika kita memberikan insentif yang luar biasa kepada FDI untuk 
datang ke Indonesia saat itu pula propensity to invest di Makasar menjadi 
melemah. Maklum Jepang memulai FDI dengan sasaran market lokal (ikut kebijakan 
substitusi impor) dan pasar yang paling besar ada di Jawa (Patal Senayan, 
Teijin Tetoron, Jatiluhur, dll.), di KTI masih belum cukup besar deman nya. 
Ketika footlose industrinya datang di era 'hollowing-out', agglomerasi Jakarta 
sudah cukup terbentuk (perpindahan ini diawali Cirata dan Saguling), jadi 
persoalaan efisiensi muncul. Dan pebisnis Jepang umumnya paling tidak berani 
mengambil resiko. Dalam versi Jepang mereka membangun koridor tepian Pacific 
dari Korea turun ke wilayah pantai Cina, Thailand, Malaysia dan Indonesia, yang 
telah difikirkan dalam buku-buku sejarah tua industri Jepang pra Perang Laut 
China (jadi sebelum PD I), diawali untuk menguasai sumberdaya batu bara di 
Manchuria dan Sogo-shosa pertama keluarga Mitsui muncul sebagai industrialis 
kapal dagang dan kapal perang. Kelihatannya koridor itu di akhir abad ke 20 
berbalik ke Asia Selatan (India) dan mendapat platform awal di Vietnam (yang di 
dukung Laos dan Cambodia).
Pebisnis di era tersebut banyak dipengaruhi oleh pergerakan investasi Jepang 
(Astra, National Gobels dll.).
 
Tentang mengawali industrialisasi di KTI, sudah banyak proyek yang berusaha 
menstandarkan atau menjadikan pengetahuan membuat kapal di Makasar menjadi 
pengetahuan teknologi yang bisa dipelajari dan berkembang juga tidak berlanjut. 
Saya bertemu dengan seorang peneliti World Bank (di tahun 1980an) yang pernah 
mencoba merekam proses membuat kapal pinisi secara tradisional yang setelah 
pensiun menjadi pengusaha turis dan yacht di Sumatra Barat (rumahnya di Gunung 
Padang) dia juga mengatakan pinisi membutuhkan pengetahun positif yang 
testified untuk masuk dalam era modern. Mungkin teman-teman di ITS (Perkapalan) 
mengetahui bagaimana perkembangan 'trajectori' transformasi pengetahuan menjadi 
teknologi yang verified ini, sehingga terjadi/tidak terjadi industrialisasi. 
Atau kita sudah cukup puas dengan mengingat kejayaan pengetahuan kerajan Goa 
dan Bone yang terputus oleh kolonialisasi dan perubahan zaman itu (sah sah 
saja, tapi janganlah diperturutkan). Teknologi pinisi menjadi stagnant kalau 
dibiarkan tinggal sebagai 'mythology'.
 
Kapal-kapal berbendera Panama, Singapura dan lainnya sekarang hilir mudik 
mendukung industri pertambangan di Kalimantan. Barge datang dari Jepang dan 
Brazil dan Pantai Gading (Jepang memulai memindahkan industri logam ke Brazil 
kalau tidak salah bersamaan dengan Krakatau Steel) dan saya lihat dari 
literatur Industri perkapalan Jepang sudah lebih satu dekade spill-over ke 
Brazil. Mungkin pebisnis kita masih bertaraf kontraktor belum menjadi 
industrialis sejati yang bisa dijadikan mitra kerja dalam menghadapi resiko. 
Ada gap yang tidak diteruskan dan tidak diisi sehingga pengusaha seperti 
keluarga Kalla memindahkan bisnisnya ke Jakarta. Mungkin papah nya Pak Yusuf 
Kalla memulai bisnis keluarga Kalla di Makasar tidak pakai teori lokasi atau 
komparatif advantage yang menakutkan itu. Mungkin rasa 'loyalitas' kampung 
halaman punya peranan seperti yang dilakukan Pak Fadel (lah kok saya jadi 
menyimpang?). Mungkin zaman teori lokasi sebagai 'destiny/nasib' bukan 
'opportunity/peluang' masih bergelantungan di dalam benak pengambil keputusan 
dan pebisnis, sehingga tidak berani merintis. Sungguhpun begitu opportunity 
bisa hilang bila faktor-faktor opportunity yang bersifat 'grains'/ butiran 
informasi tidak dikumpulkan dengan baik dan dilanjutkkan secara konsisten. 
Jepang sering melakukan 'supply-led' development untuk mengantisipasi grains of 
opportunity yang tidak disadari ini (belum muncul menjadi efektif supplai), 
contoh proyek Highway nya Kakuei Tanaka.
 
Kalau kita memandang perbatasan (lintas negara) menjadi ajang kolaborasi 
perdagangan bukan hanya melihat sisi 'doktrin keamanan' mungkin deman periferal 
bisa muncul menjadi efektif deman yang menarik bagi pebisnis. Saya juga ingin 
bertanya dalam forum ini apakah doktrin keamanan archipelago yang membiarkan 
periferal sebagai benteng alam masih 'lingering' dalam pengambilan keputusan 
mengapa PLTU mulut tambang difikirkan 2 kali untuk dikembangkan di luar Jawa 
yang nota bene tidak sesubur Jawa.   
 
Maaf kalau selanjutnya saya mengajak rekan melihat fenomena regional di tingkat 
unit usaha (firm level) dan integrasi pengetahuan. Kita memang bukan masyarakat 
yang rajin menyulam dari kecil menjadi besar. Tradisi menyulam dan menghargai 
gerakan-gerakan kecil, teori-teori kecil menjadi teori dan gerakan yang 
membesar. Kita melihat agregasi tidak melihat 'grains'.
 
Beberapa rintisan studi menunjukkan bahwa, kekuatan kecil gagal digabungkan, 
apakah karena pebisnis kecil kita tidak piawai berkolaborasi atau ingin cepat 
jadi Kalla Bersaudara atau tidak punya 'creative agents' yang menjembatani 
sinergi. Pengamatan di Balikpapan menunjukkan bahwa industri kecil yang secara 
sporadik tumbuh sebagai sub-kon industri tambang mempunyai kemampuan cukup baik 
untuk mengambil manfaat value added keberadaan industri tambang di Kalimantan. 
Ada beberapa sub-con metal yang secara parsial punya kemampuan tertentu yang 
bila disatukan menjadi kekuatan yang luar biasa. Ada yang bisa memblasting dan 
las metal alloy (amagam seprti velg racing) untuk memperbaiki velg roda truck 
yang tingginya 3-4 kali tinggi orang (tergantung tingginya). Ada yang bisa 
memotong besi sampai ketebalan 3-4 cm. Dan bila disatukan bisa mensuplai 
kebutuhan casing pengeboran UNOCAl yang katanya mencapai kontrak 1,5 trilyun 
per tahun (dolar tahun 2001). Casing ini biasanya dibuang atau didaur-ulang, 
sehingga seperti barang pakai habis demannya kontinu. Untuk mendapatkan casing 
ini UNOCAL mengadakan pembicaraan dengan kartel supplier di Bali dan kartel itu 
berlokasi di sekitar Singapura dan Batam. Petinggi UNOCAL setuju bahwa untuk 
teknologi yang sederhana ini bila ada yang menjembatani linkage (menyulam) 
kapasitas lokal akan memberikannya kepada pebisnis lokal bila bisa menjaga 
standar dan mensuplai secara kontinu. Mereka stick kepada kartel tadi karena 
takut kalau pendekatan lokal gagal, kartel akan memboikot mereka dengan 
mekanisma harga. Jadi kalau pemerintah/daerah ingin betul memanfaatkan peluang 
memang harus tidak tanggung-tanggung.
 
Bila Ireland serba tanggung dalam mendukung platform industri kabel komputernya 
mungkin Ireland tidak menjadi negara dengan perkapita income tertinggi di 
Eropah seperti dipenghujung milenium ini (European Miracle? ... mythology 
lagi), dan penduduknya tetap ngangon kambing. 
 
Kalau kita yakin dan istiqamah pebisnis pun akan istiqamah, mungkin inilah yang 
dilakukan Tanaka terlepas dia terkena skandal Lockheed, di hati orang Jepang 
dia tetap di kenang sebagai salah satu daimyo Jepang setelah perang. Indonesia 
banyak mempunyai orang ahli secara parsial tetapi tidak punya desainer yang 
menyulam. Informasi ini untuk merubah play-field pembangunan regional pada aras 
perilaku usaha, agen dan jejaringnya.
 
Mohon maaf kalau saya masuk tanpa permisi dan ceritra ini tanpa riset yang 
mendalam.
 
Salam Hormat,
 
Indra Budiman Syamwil
di Arsitektur ITB
 
 
 
 
 



To: [email protected]: [email protected]: Wed, 21 Jan 2009 
12:20:56 +0000Subject: [referensi] Re: (3) Menyemai Klaster Industri Perahu di 
KTI


Pak Aby dan Pak Risfan ysh,
Saya hanya mengikuti Pak Aby saja untuk menyemai industri manufaktur di KTI, 
apapun pilihan prioritasnya hendaknya kita masih sama-sama minum teh botol 
sosro ... Saya kurang tahu mengenai industri berbasis mesin ini. Saya dengar 
sekitar tahun 1960an atau 1970an ya, Rusia pernah membantu pembangunan industri 
mesin kapal inboard ini di Ambon. Karena itu makanya Unpatti membuka jurusan 
perkapalan. Mungkin Pak Wawo masih bisa cerita.
Industri mesin terkait dengan banyak hal, seperti bahan baku, teknologi dan 
keahlian, rantai produksi pendukung, pasar, dll. Komponen utamanya adalah 
metal, yang tersedia sangat berlimpah di KTI. Tinggal bagaimana ini diolah dan 
dipasarkan. Namun perlu diperhatikan pesan Pak Risfan: negara-negara `menjadi 
maju' karena penguasaan dalam industri mesin.
2 tahun lalu kita surprised bila kita sudah punya satu industri pembuat mesin 
CNC (di Cikarang?). Ini tentunya sangat strategis, karena CNC akan menghasilkan 
potongan-potongan komponen mesin yang presisif, sehingga kita bisa mengejar 
standar-standar semacam ISO. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu Dirut-nya, 
MS83, mengatakan kapasitas produksi pabrik saat ini hanya 1 mesin CNC per 
bulan. Coba di beberapa kota besar KTI diberikan masing-masing satu mesin CNC …
Sementara demikian dulu. Salam.
-ekadj--- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote:>> Dear 
All,> > Yang saya tangkap dari posting Uda Hekadj, beliau sarankan > alternatif 
"industri kapal/perahu", tapi disebut juga "mesin kapal". > Saya lebih tertarik 
bicara perahu/kapalnya. Seperti pesawat terbang, > Boeing, Airbus kan industri 
pesawat, mesin utamanya hampir semua > pakai Rools-Royce. Sementara RR tidak 
disebut sebagai industri > pesawat, tapi pembuat mesin.> > Komunitas pembuat 
perahu ini di KTI, khususnya di Sulawesi sudah > menjadi tradisi, sudah punya 
nama. Jejaring industri ini bisa jadi > embrio pembentukan klaster kegiatan 
ekonomi, yang akan menjadi motor > penggerak pengembangan wilayh setempat.> > 
Kalau menggunakan pendekatan yang konvensional dari Porter misalnya > 
(Competitive Advantage of the nation/region), saya kira syarat-> syarat 
komunitas industri kapal di, misal kawasan "Bulukumba-> Makassar-Pinrang" (BMP) 
sangat potensial. Dalam frame Porter ada: > (1) Firm Structure & Rivalry - ini 
sudah berkembang, ada yang dari > kayu, ada fiber, ada yang besar, kecil, 
saling kerjasama, saling > bersaing; (2) Demand Condition - sudah berumur 
ratusan tahun, tentu > hidup terus karena ada pasar; (3) Related Supporting 
Industries - > sudah berkembang, di kawasan tersebut didukung Pemda, Litbang, > 
bahkan dukungan dari luar negeridan industri pemasok, asesories, > dst; (4) 
Factor condition - beda dengn istilah faktor produksi yang > statik, ini bisa 
dicreate, dan sudah berkembang, walau kendala juga > masih banyak. Soal 
branding sudah melegenda dengan perahu Pinisi.> > Pern pemerintah dalam 
pendekatan Porter sebagai katalis yang > menjalin hubungan antar pelaku, 
penyediaan infrastruktur, dukungan > kebijakan, dst.> > Rasanya kalau digarap 
lebih serius, fokus, maka klaster industri > perahu ini bisa betul-betul jadi 
andalan kawasan BMP tersebut. Perlu > diingat bahwa Kabupaten Jeneponto dan 
tetangganya termasuk kabupaten > miskin karena lahannya kurang subur, sehingga 
industri perahu yang > memang sudah ada itu kalau didukung bisa jadi andalan 
penyerapan > lapangan kerja. Semoga ikut meramaikan pancingan Pak Aby.> > 
Salam,> Risfan Munir> > > --- In [email protected], "risfano" risfano@ 
wrote:> >> > Uda Hekadj dan rekans ysh,> > > > Dalam rangka menyemai industri 
manufaktur di Kawasan Timur > Indonesia > > (KTI), industri perahu/kapal 
tradisional dapat jadi alternatif.> > > > Untuk itu beberapa langkah bisa 
dilakukan. Misalkan yang jadi > kasus > > industri perahu di wilayah 
"Bulukumba-Makassar-Pinrang". Populasi > > mereka cukup banyak dan punya nama 
secara internasional. Yang > > diperlukan adalah langkah-langkah revitalisasi 
sebagai berikut:> > • Identifikasi populasinya, lalu buat kontak antar mereka. 
> > Tentu sebagian sudah saling kenal, kerjasama, berorganisasi> > • Ajak 
mereka buat pertemuan, bisa per kabupaten dulu. > > Fasilitasi mereka agar 
hubungan 'cair'. Intinya membentuk > kemitraan > > stakeholder> > • Mulai bahas 
potensi masing-masing dan ajak memikirkan tujuan > > bersama untuk 
"revitalisasi" diri. Potensi bisa kapasitas > produksi, > > teknologi dan 
kualitas, pasar, dst. Fasilitasi untuk bicara visi, > > harapan-harapan ke 
depan, langkah-langkah utama,> > • Bahas kendala yang perlu diatasi atau 
diterobos. Biasanya > > soal klasik akses ke faktor-faktor produksi 6M (man, 
money, > machine, > > methode, material, management) + marketing. Disamping 
kendala > iklim > > berusaha (prasarana, birokrasi, pungli)> > • Fasilitasi 
untuk merumuskan langkah-langkah awal yang bisa > > dilakukan sendiri, tanpa 
tergantung pihak lain.> > > > Secara umum itu beberapa langkah dasar untuk 
membentuk kemitraan > > stakeholder. Selanjutnya dalam pertemuan yang kian 
melembaga akan > > dibahas agenda, mulai dari langkah awal yang dilakukan. 
Memang > > pendekatan ini berbasis UMKM, tapi setelah kelompok terbentuk > 
secara > > bertahap usaha besar dilibatkan karena antar lapisan tersebut > 
saling > > terkait.> > > > Akan menarik kalau dimulai dari potensi dan harapan 
(appreciative > > inquiry) dari pada analisis persoalan yang bisa mengarah 
kepada > > apatisme masa lalu, cari kambing hitam dst.> > > > Pemasaran 
biasanya jadi tantangan yang menarik. Harapannya untuk > > memasarkan dalam 
skala yang luas, nasional, internasional. Tapi > > sebetulnya bisa dimulai 
secara internal daerah dulu, yang kecil > > melayani yang besar, melayani 
permintaan nelayan atau tansportasi > > lokal.> > > > Secara bertahap kemitraan 
stakeholder dalam klaster industri > perahu > > daerah ini dapat diperluas. 
Tidak hanya melibatkan kelompok > pembuat > > perahu, tapi juga lembaga 
pendukungnya, termasuk perbankan, > > pendidikan & penelitian, bimbingan 
manajemen, dst.> > > > Salam,> > Risfan Munir> > > > > > --- In 
[email protected], "risfano" <risfano@> wrote:> > >> > > Saya tertarik 
dengan ide Uda Hekadj tentang industri perahu ini. > > > Mengingat salah satu 
kendala besar pengembangan KTI dan wilayah > > > kepulauan lainnya adalah 
transportasi, yang jumlahnya terbatas, > > > masih mahal. Maka dari segi pasar 
nampaknya cukup terbuka, > potensi > > > kemampuan skill dan tradisi membuat 
kapal ini cukup menonjol. > Dan > > > belum mendapat perhatian memadai.> > > > 
> > Kalau ada pilihan misal perahu bekas dari Probolinggo ya tak > > > 
soal,bukan berarti tidak ada peluang bagi industri tersebut di > > KTI. > > > 
Banyak yang khas, jadi unggulan daerah (pinishi). Kalau kita > baca > > > 
artikel Kompas tentang diaspora Bugis-Makassar, jelas kejayaan > > > maritim 
itu didukung oleh industri perahu/kapal mereka. Saya > > > beberapa kali jalan 
sepanjang pantai selatan dari Makassar ke > arah > > > Bulukumba, atau ke arah 
Parepare beberapa pembuat perahu itu > masih > > > produktif, masih canggih 
tinggal mendorong permintaan, > > > supaya "economic of scale" nya tercapai.> > 
> > > > Dalam sejarah sperti diceritakan Kompas tsb, Bugis-Makassar dan > > > 
Madura sudah biasa kerja sama dalam wilayah laut antar pulau > > > Nusantara. 
Saya dengar di Pinrang juga dibuka markas Marinir > > wilayah > > > timur, ini 
menunjukkan perhatian kepada aspek kemaritiman > terutama > > > di KTI kian 
ditingkatkan.> > > > > > Jalesveva Jayamahe!!!> > > > > > Salam,> > > Risfan 
Munir> > > > > > > > > --- In [email protected], "ffekadj" <4ekadj@> 
wrote:> > > >> > > > > > > > Pak Aby ysh,> > > > > > > > Selain saran relokasi, 
sebenarnya ada industri manufaktur yang > > > potensial> > > > dikembangkan di 
KTI, yaitu industri katinting (mesin tempel > > kapal) > > > dan> > > > 
kapalnya sendiri. Katinting digunakan meluas di KTI, cenderung> > > > 
memperbesar kapasitas dan volume. Kemarin di Ternate kita > pernah > > > coba> 
> > > 4x20 PK, malah teman di Sorong pakai 4x50 PK, hanya untuk > perahu > > > 
kecil.> > > > Saya kira katinting yang ada masih built-up dari Jepang atau > > 
> assembling> > > > Surabaya. Anehnya juga sedikit sekali bengkel reparasi 
mesin > di > > > KTI.> > > > Dinas DKP Malut juga punya program rutin 
motorisasi nelayan, > > > sekitar 500> > > > unit/tahun.> > > > > > > > Kalau 
untuk kapal, dulu> > > > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304> 
saya > > pernah> > > > tinjau-tinjau di Bitung dan ketemu orang bikin kapal 10 
ton, > dan> > > > teman-teman UNCRD itu cukup antusias. Saya kira pusatnya di> 
> > > Buton-Selayar Sulsel. Kalau disemai di beberapa tempat, kita > > bisa > > 
> jadi> > > > negara maritim. Di Ambon di samping penyeberangan itu juga ada > 
> satu> > > > galangan kapal, tapi lebih sering sepi. Memang ketika saya > > > 
tanyakan si> > > > Ahmad <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304> 
> > dari > > > Asmat> > > > mengenai perlunya membeli kapal-kapal perikanan 
yang baru > ukuran > > > besar,> > > > dia menyarankan, "Ngapain beli yang baru 
pak, beli saja yang > > bekas > > > di> > > > Probolinggo, murah-murah kok." 
Saya baru tahu rupanya > Probolinggo> > > > menjadi sentra perdagangan kapal 
(bekas), mungkin sejak era > > > Majapahit.> > > > > > > > Untuk sepeda, saya 
belum melihat pasar. Sementara demikian > dulu > > > pak.> > > > Salam.> > > > 
> > > > -ekadj
_________________________________________________________________
Manage multiple email accounts with Windows Live Mail effortlessly.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke