Wah, diskusinya jadi meriah. Uraian Uda meyakinkan bahwa potensi industri perahu di KTI khususnya Sulawesi Selatan memang besar. Sehingga dengan kriteria 4 aspek daya saing klaster dari Michael Porter (posting sebelumnya) layak dikembangkan sebagai suatu klaster.
Pengembangan cluster industri ini merupakan pertemuan antara "kajian pengembangan industri" dengan "kajian kewilayahan". Dalam bukunya Competitive Advantage of the Nation, dia mengutarakan kasus-kasus populer keunggulan klaster di satu wilayah/negara yang membentuk keunggulan daya saing daerah/negara, seperti klaster industri kulit di Italia, klaster anggur di Perancis, California, dan tentu juga Silicon Valley dan tiruan suksesnya di India, Hollywood, Bollywood. Industri perahu di Sulawesi Selatan cukup layak, karena (1) PASAR nya ada saat ini seluruh KTI bahkan internasional. (2) STRUKTUR industri, ada kerjasama dan persaingan yang telah terbentuk. Yang sudah dibuat bukan hanya jenis pinisi, tapi juga perahu transportasi, nelayan, untuk berbagai ukuran. Yang terbuat dari kayu ataupun fiber. (3) FAKTOR keunggulan ada, terutama tradisi (keterampilan, bakat) yang sudah dikuasai secara turun temurun dalam populasi yang cukup besar. Tradisi Bugis-Makasar dalam kemaritiman telah terbukti dalam sejarah, di seluruh perairan dalam Indonesia hingga Malaysia. Serta adanya (4) DUKUNGAN dari berbagai pihak, lembaga, termasuk peneliti-penelii tentang perperahuan internasional. Jadi syarat yang dibutuhkan untuk berkembangnya "klaster unggulan" daerah lebih dari cukup. Mengenai persaingan dalam pemasaran, itu hal biasa dalam ekonomi. Kalau kemitraan klaster sudah terbentuk, untuk pemasaran mereka dapat difasilitasi untuk mngembangkan strategi. Saat ini karena yang tradisional harus berhadapan dengan produk perusahaan besar ya kalah. Tapi dalam pemasaran kan ada strategi SEGMENTASI, TARGETING, POSITIONING. Segmen mana di wilayah mana saja yang di bidik, apakah untuk transportasi, nelayan, pesiar dll. Apa dan siapa yang dijadikan target. Dan, bagaimana klaster perahu (misal dari wilayah: "Bulukumba-Makassar-Pinrang") memposisikan produknya. Memang tidak harus menguasai seluruh pasar, bisa mulai dengan segmen tertentu, sehingga "tipe, ukuran, desain, harga" tertentu yang dijadikan unggulan. Bisa saja mereka melakukan diversifikasi: ada kelompok untuk kapal pesiar dan pesanan khusus (mahal); ada untuk angkutan massal; ada untuk nelayan dari ukuran kecil dan sedang. Bagaimana mengambil celah ditengah persaingan. Secara internasional perahu dari Sulawesi Selatan sudah terkenal, pesanan mengalir terus. Pada segmen ini nampaknya industri perahu Bugis-Makassar sudah menjadi industri kreatif, karena keunggulan desain dan sofistikasi penggarapannya yang diunggulkan. Sedangkan untuk segmen perahu transpor dan nelayan, intinya mungkin adalah "skala produksi" untuk bisa menekan ongkos (tenaga, bahan baku), sehingga harga bisa bersaing. Mudah-mudahan bisa menambah perspektif "pengembangan wilayah" sekaligus pemikiran "pengembangan industri" juga. Salam, Risfan Munir http://ecoplano.blogspot.com --- In [email protected], "ffekadj" <4ek...@...> wrote: > > > Baik Pak Risfan, saya tanggapi lebih lanjut. Memang disain pinisi agak > berbeda dengan jenis kapal yang lain. Saya lihat bentuknya relatif > ramping, dan tajam pada haluan. Kapal seperti ini memang lincah di laut, > dan mampu bergerak cepat pada kondisi angin yang kencang. Saya dulu > mematut-matut kepantasan kemampuan orang Bugis berlayar ke tempat- tempat > jauh, hingga juga mampu menyerang Portugis di Malaka, karena disain > kapal seperti ini. Belanda juga dalam `perjalanan rempah' ke > Maluku menghindari pelayaran di Laut Flores, cenderung menyusur Nusa > Tenggara untuk menghindari `serangan laut'. Sehingga sebenarnya > tipikal pinisi adalah untuk angkutan gerak cepat (frigate). Memang ada > model untuk angkutan barang, penangkap ikan, dll. Juga penyesuaian > dengan kondisi gelombang, alun, musim, dll. Sehingga bila model yang > laku atau komersial itu adalah seperti yang bapak sebutkan, tentunya > tidak sesuai dengan segala medan dan kondisi. Belum lagi bila motorisasi > merupakan prasyarat kebutuhan. > > > > Kapal yang saya lihat di Bitung itu adalah semacam kapal ikan atau > barang, sekitar 10-25 ton, cukup standar untuk pelayaran jarak menengah. > Bentuknya seperti peluru, jadi bukan pinisi. Tentunya kapal seperti ini > mengandalkan mesin yang besar. Kapal-kapal seperti ini banyak digunakan > untuk medan laut di Malut dan Maluku. Untuk kapal ikan model pinisi yang > besar pernah saya lihat di Toli-toli, tapi memakai pengimbang kayu yang > panjang dan kukuh di kiri-kanan kapal. Namun tentu kapasitas penyimpanan > ikan menjadi terbatas. Saya kurang tahu tentang industri kapal ini di > Sulsel, yang tentu beraneka macam. Juga sebenarnya kurang mengerti juga > mengenai kapal-mengapal ini pak. Hanya punya satu kapal model pinisi di > rumah, yang saya beli dulu di bandara Hasanuddin. > > > > Tapi kemarin waktu di Maumere saya ditawari pelayaran wisata dengan > beberapa pilihan : dengan cruiser mewah, sejenis classic ship dari Eropa > atau Cina, dan juga pinisi. Paket pinisi merupakan termurah. Rutenya > Maumere Labuhan Bajo Denpasar pp. Waktunya 2 minggu, > seandainya saya punya waktu selama itu dan tentunya uang yang banyak ... > Salam. > > > > -ekadj > > > > > --- In [email protected], "risfano" <risfano@> wrote: > > > > Uda Hekadj ysh, > > > > Nampaknya Anda menangkap yang saya tulis terbalik. Justru saya > tertarik bicara tentang industri "perahu"nya, bukan industri "mesin"nya. > > > > Jadi klaster yang saya maksud klaster industri perahu, yang di > Sulawesi sudah menjadi tradisi, populasinya besar dan punya nama > (Pinisi). > > > > Waktu posting tadi saya forward ke teman di Sulsel, dia baru > menyaksikan transaksi pembuatan satu kapal pesiar ala Bugis senilai USD > 5 juta dengan pembeli dari Eropa. Tentu ini tentang desain perahu, bukan > mesinnya. Trims. > > > > Salam lagi, > > Risfan Munir > > http://ecoplano.blogspot.com > > > > --- In [email protected], "ffekadj" 4ekadj@ wrote: > > > > > > > > > Pak Aby dan Pak Risfan ysh, > > > > > > Saya hanya mengikuti Pak Aby saja untuk menyemai industri manufaktur > di > > > KTI, apapun pilihan prioritasnya hendaknya kita masih sama-sama > minum > > > teh botol sosro ... Saya kurang tahu mengenai industri berbasis > mesin > > > ini. Saya dengar sekitar tahun 1960an atau 1970an ya, Rusia pernah > > > membantu pembangunan industri mesin kapal inboard ini di Ambon. > Karena > > > itu makanya Unpatti membuka jurusan perkapalan. Mungkin Pak Wawo > masih > > > bisa cerita. > > > > > > Industri mesin terkait dengan banyak hal, seperti bahan baku, > teknologi > > > dan keahlian, rantai produksi pendukung, pasar, dll. Komponen > utamanya > > > adalah metal <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4128> > , > > > yang tersedia sangat berlimpah di KTI. Tinggal bagaimana ini diolah > dan > > > dipasarkan. Namun perlu diperhatikan pesan Pak Risfan: negara- negara > > > `menjadi maju' karena penguasaan dalam industri mesin. > > > > > > 2 tahun lalu kita surprised bila kita sudah punya satu industri > pembuat > > > mesin CNC (di Cikarang?). Ini tentunya sangat strategis, karena CNC > akan > > > menghasilkan potongan-potongan komponen mesin yang presisif, > sehingga > > > kita bisa mengejar standar-standar semacam ISO. Beberapa waktu yang > lalu > > > saya bertemu Dirut-nya, MS83, mengatakan kapasitas produksi pabrik > saat > > > ini hanya 1 mesin CNC per bulan. Coba di beberapa kota besar KTI > > > diberikan masing-masing satu mesin CNC > > > > > > Sementara demikian dulu. Salam. > > > > > > -ekadj > > > > > > --- In [email protected], "risfano" <risfano@> wrote: > > > > > > > > Dear All, > > > > > > > > Yang saya tangkap dari posting Uda Hekadj, beliau sarankan > > > > alternatif "industri kapal/perahu", tapi disebut juga "mesin > kapal". > > > > Saya lebih tertarik bicara perahu/kapalnya. Seperti pesawat > terbang, > > > > Boeing, Airbus kan industri pesawat, mesin utamanya hampir semua > > > > pakai Rools-Royce. Sementara RR tidak disebut sebagai industri > > > > pesawat, tapi pembuat mesin. > > > > > > > > Komunitas pembuat perahu ini di KTI, khususnya di Sulawesi sudah > > > > menjadi tradisi, sudah punya nama. Jejaring industri ini bisa jadi > > > > embrio pembentukan klaster kegiatan ekonomi, yang akan menjadi > motor > > > > penggerak pengembangan wilayh setempat. > > > > > > > > Kalau menggunakan pendekatan yang konvensional dari Porter > misalnya > > > > (Competitive Advantage of the nation/region), saya kira syarat- > > > > syarat komunitas industri kapal di, misal kawasan "Bulukumba- > > > > Makassar-Pinrang" (BMP) sangat potensial. Dalam frame Porter ada: > > > > (1) Firm Structure & Rivalry - ini sudah berkembang, ada yang dari > > > > kayu, ada fiber, ada yang besar, kecil, saling kerjasama, saling > > > > bersaing; (2) Demand Condition - sudah berumur ratusan tahun, > tentu > > > > hidup terus karena ada pasar; (3) Related Supporting Industries - > > > > sudah berkembang, di kawasan tersebut didukung Pemda, Litbang, > > > > bahkan dukungan dari luar negeridan industri pemasok, asesories, > > > > dst; (4) Factor condition - beda dengn istilah faktor produksi > yang > > > > statik, ini bisa dicreate, dan sudah berkembang, walau kendala > juga > > > > masih banyak. Soal branding sudah melegenda dengan perahu Pinisi. > > > > > > > > Pern pemerintah dalam pendekatan Porter sebagai katalis yang > > > > menjalin hubungan antar pelaku, penyediaan infrastruktur, dukungan > > > > kebijakan, dst. > > > > > > > > Rasanya kalau digarap lebih serius, fokus, maka klaster industri > > > > perahu ini bisa betul-betul jadi andalan kawasan BMP tersebut. > Perlu > > > > diingat bahwa Kabupaten Jeneponto dan tetangganya termasuk > kabupaten > > > > miskin karena lahannya kurang subur, sehingga industri perahu yang > > > > memang sudah ada itu kalau didukung bisa jadi andalan penyerapan > > > > lapangan kerja. Semoga ikut meramaikan pancingan Pak Aby. > > > > > > > > Salam, > > > > Risfan Munir > > > > > > > > > > > > --- In [email protected], "risfano" risfano@ wrote: > > > > > > > > > > Uda Hekadj dan rekans ysh, > > > > > > > > > > Dalam rangka menyemai industri manufaktur di Kawasan Timur > > > > Indonesia > > > > > (KTI), industri perahu/kapal tradisional dapat jadi alternatif. > > > > > > > > > > Untuk itu beberapa langkah bisa dilakukan. Misalkan yang jadi > > > > kasus > > > > > industri perahu di wilayah "Bulukumba-Makassar-Pinrang". > Populasi > > > > > mereka cukup banyak dan punya nama secara internasional. Yang > > > > > diperlukan adalah langkah-langkah revitalisasi sebagai berikut: > > > > > Identifikasi populasinya, lalu buat kontak antar mereka. > > > > > Tentu sebagian sudah saling kenal, kerjasama, berorganisasi > > > > > Ajak mereka buat pertemuan, bisa per kabupaten dulu. > > > > > Fasilitasi mereka agar hubungan 'cair'. Intinya membentuk > > > > kemitraan > > > > > stakeholder > > > > > Mulai bahas potensi masing-masing dan ajak memikirkan > tujuan > > > > > bersama untuk "revitalisasi" diri. Potensi bisa kapasitas > > > > produksi, > > > > > teknologi dan kualitas, pasar, dst. Fasilitasi untuk bicara > visi, > > > > > harapan-harapan ke depan, langkah-langkah utama, > > > > > Bahas kendala yang perlu diatasi atau diterobos. Biasanya > > > > > soal klasik akses ke faktor-faktor produksi 6M (man, money, > > > > machine, > > > > > methode, material, management) + marketing. Disamping kendala > > > > iklim > > > > > berusaha (prasarana, birokrasi, pungli) > > > > > Fasilitasi untuk merumuskan langkah-langkah awal yang bisa > > > > > dilakukan sendiri, tanpa tergantung pihak lain. > > > > > > > > > > Secara umum itu beberapa langkah dasar untuk membentuk kemitraan > > > > > stakeholder. Selanjutnya dalam pertemuan yang kian melembaga > akan > > > > > dibahas agenda, mulai dari langkah awal yang dilakukan. Memang > > > > > pendekatan ini berbasis UMKM, tapi setelah kelompok terbentuk > > > > secara > > > > > bertahap usaha besar dilibatkan karena antar lapisan tersebut > > > > saling > > > > > terkait. > > > > > > > > > > Akan menarik kalau dimulai dari potensi dan harapan > (appreciative > > > > > inquiry) dari pada analisis persoalan yang bisa mengarah kepada > > > > > apatisme masa lalu, cari kambing hitam dst. > > > > > > > > > > Pemasaran biasanya jadi tantangan yang menarik. Harapannya untuk > > > > > memasarkan dalam skala yang luas, nasional, internasional. Tapi > > > > > sebetulnya bisa dimulai secara internal daerah dulu, yang kecil > > > > > melayani yang besar, melayani permintaan nelayan atau > tansportasi > > > > > lokal. > > > > > > > > > > Secara bertahap kemitraan stakeholder dalam klaster industri > > > > perahu > > > > > daerah ini dapat diperluas. Tidak hanya melibatkan kelompok > > > > pembuat > > > > > perahu, tapi juga lembaga pendukungnya, termasuk perbankan, > > > > > pendidikan & penelitian, bimbingan manajemen, dst. > > > > > > > > > > Salam, > > > > > Risfan Munir > > > > > > > > > > > > > > > --- In [email protected], "risfano" <risfano@> wrote: > > > > > > > > > > > > Saya tertarik dengan ide Uda Hekadj tentang industri perahu > ini. > > > > > > Mengingat salah satu kendala besar pengembangan KTI dan > wilayah > > > > > > kepulauan lainnya adalah transportasi, yang jumlahnya > terbatas, > > > > > > masih mahal. Maka dari segi pasar nampaknya cukup terbuka, > > > > potensi > > > > > > kemampuan skill dan tradisi membuat kapal ini cukup menonjol. > > > > Dan > > > > > > belum mendapat perhatian memadai. > > > > > > > > > > > > Kalau ada pilihan misal perahu bekas dari Probolinggo ya tak > > > > > > soal,bukan berarti tidak ada peluang bagi industri tersebut di > > > > > KTI. > > > > > > Banyak yang khas, jadi unggulan daerah (pinishi). Kalau kita > > > > baca > > > > > > artikel Kompas tentang diaspora Bugis-Makassar, jelas kejayaan > > > > > > maritim itu didukung oleh industri perahu/kapal mereka. Saya > > > > > > beberapa kali jalan sepanjang pantai selatan dari Makassar ke > > > > arah > > > > > > Bulukumba, atau ke arah Parepare beberapa pembuat perahu itu > > > > masih > > > > > > produktif, masih canggih tinggal mendorong permintaan, > > > > > > supaya "economic of scale" nya tercapai. > > > > > > > > > > > > Dalam sejarah sperti diceritakan Kompas tsb, Bugis- Makassar > dan > > > > > > Madura sudah biasa kerja sama dalam wilayah laut antar pulau > > > > > > Nusantara. Saya dengar di Pinrang juga dibuka markas Marinir > > > > > wilayah > > > > > > timur, ini menunjukkan perhatian kepada aspek kemaritiman > > > > terutama > > > > > > di KTI kian ditingkatkan. > > > > > > > > > > > > Jalesveva Jayamahe!!! > > > > > > > > > > > > Salam, > > > > > > Risfan Munir > > > > > > > > > > > > > > > > > > --- In [email protected], "ffekadj" <4ekadj@> wrote: > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak Aby ysh, > > > > > > > > > > > > > > Selain saran relokasi, sebenarnya ada industri manufaktur > yang > > > > > > potensial > > > > > > > dikembangkan di KTI, yaitu industri katinting (mesin tempel > > > > > kapal) > > > > > > dan > > > > > > > kapalnya sendiri. Katinting digunakan meluas di KTI, > cenderung > > > > > > > memperbesar kapasitas dan volume. Kemarin di Ternate kita > > > > pernah > > > > > > coba > > > > > > > 4x20 PK, malah teman di Sorong pakai 4x50 PK, hanya untuk > > > > perahu > > > > > > kecil. > > > > > > > Saya kira katinting yang ada masih built-up dari Jepang atau > > > > > > assembling > > > > > > > Surabaya. Anehnya juga sedikit sekali bengkel reparasi mesin > > > > di > > > > > > KTI. > > > > > > > Dinas DKP Malut juga punya program rutin motorisasi nelayan, > > > > > > sekitar 500 > > > > > > > unit/tahun. > > > > > > > > > > > > > > Kalau untuk kapal, dulu > > > > > > > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304> saya > > > > > pernah > > > > > > > tinjau-tinjau di Bitung dan ketemu orang bikin kapal 10 ton, > > > > dan > > > > > > > teman-teman UNCRD itu cukup antusias. Saya kira pusatnya di > > > > > > > Buton-Selayar Sulsel. Kalau disemai di beberapa tempat, kita > > > > > bisa > > > > > > jadi > > > > > > > negara maritim. Di Ambon di samping penyeberangan itu juga > ada > > > > > satu > > > > > > > galangan kapal, tapi lebih sering sepi. Memang ketika saya > > > > > > tanyakan si > > > > > > > Ahmad <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304> > > > > > dari > > > > > > Asmat > > > > > > > mengenai perlunya membeli kapal-kapal perikanan yang baru > > > > ukuran > > > > > > besar, > > > > > > > dia menyarankan, "Ngapain beli yang baru pak, beli saja yang > > > > > bekas > > > > > > di > > > > > > > Probolinggo, murah-murah kok." Saya baru tahu rupanya > > > > Probolinggo > > > > > > > menjadi sentra perdagangan kapal (bekas), mungkin sejak era > > > > > > Majapahit. > > > > > > > > > > > > > > Untuk sepeda, saya belum melihat pasar. Sementara demikian > > > > dulu > > > > > > pak. > > > > > > > Salam. > > > > > > > > > > > > > > -ekadj > > > > > >

