Pak Risfan, Pak BSP, drr ysh, terima kasih atas sharingnya,
mudah-mudahan dapat memulai diskusi baru dari kaji lama.

Saya sebenarnya sedikit ingat dan banyak lupa mengenai urban management
ini, karena pengetahuan ini tidak pernah dimanfaatkan selama ini.
Beberapa rekan lain yang pernah mempelajari mudah-mudahan akan
menambahkan, seperti Pak Holi, Acwin, Edward, DwiAgus, Ibu Ramalis, dll.
Mungkin juga ada rekan dari versi Perancis (CES), Jepang, Austalia, USA,
dll.

Dari beberapa orang guru, seperti MPvDijk dan JvdMeer, sebenarnya ada
perintah secara halus untuk menutup semua buku-buku rencana ketika kita
akan memulai pekerjaan urban management. Karena terbukti RTRW, RPJP, dll
itu hanya 'tools of simulation' bagi para Kepala Daerah. Program
pembangunan seharusnya adalah kesadaran kolektif, sehingga 2 dasawarsa
terakhir ini kita mulai mengenali beberapa model 'local initiatives'.
Kalau mengikuti istilah Pak BTS, apakah normatif atau positif?, maka
sebenarnya UM merupakan manajemen positif.

Sedikit masuk mendalami city marketing
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/308> , tidak bermaksud
berprilaku sebagai korporat dan bervisi bisnis. Dalam skala kota, city
marketing dapat dipahami dari aspek 'city competitiveness'
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5208> . Karena itu
Saskia <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1034>  Sassen
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/326>  menjadi populer
karena dapat menjelaskan sistem keunggulan kota. Agar dapat dijual, kota
harus dikemas secara menarik kepada pembeli yang tepat. Dulu
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304>  saya pernah
menyinggung persaingan Jakarta-Singapura, Kapet Sasamba-Guangzhou, dst.
Jadi yang diundang adalah investasi dan orang-orang pintar, bukan
pekerja murah dan bonek. Caranya bisa dengan promosi (KL the truly Asia,
bulan ini diikuti oleh Jakarta yang bisa apa saja), exhibition (contoh
JEC di Yogya adalah bagus), penyediaan infrastruktur, dll; jadi tidak
semata-mata tax-holiday dan sekelasnya, atau menjual prosperity dalam
'rencana'. Untuk skala kawasan seharusnya lebih terukur.

Demikian sedikit sharing pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote:
>
> Pak Iman, Uda Eka dan Rekans ysh,
>
> Ha ha, ini korban BB/HP, bangun subuh mau liat jam, kok malah kebuka
Referensi..ya nglindur ini.
>
> Urban Manager itu jabatan ya, sedang Urban Planning kan ilmu. Kalau
jabatan selain ilmu, terutama pengalaman. Kalau kita lihat korporat
asing yang besar malah kurang melihat jurusan sekolah untuk menjadikan
pimpinan. Kebanyakan teman yang eksekutif puncak di bank asing, oil
company pendidikan formalnya insinyur. Tapi lalu ada program executive
development. Tidak selalu punya track record marketing. Ada yang dari
strategic mgt, operation mgt, human resources, busines development.
Marketing kan satu fungsi saja. Teman saya insinyur elektro, jadi
presdir perusahaan minyak asing, track recordnya human resources dan
government relation.
>
> Mungkin contoh Uda Eka memang manajemen kota baru yang fokusnya jualan
properti. Arsitek yang kerjanya mendesain, sipil yang ngitung volume
konstruksi, keduanya sangat teknis bisa jadi manajer kota baru, apalagi
planner yang biasa komprehensif, biasa dengan government relation.
Marketing dipegang kepala divisi saja. Kalau ilmunya ya bisa dipelajari.
Tapi menurut saya strategic thinking, government relations, business
development lebih mendekati lingkup kerja Urban Manager, dan dari segi
ilmu Urban Planning lebih mendekati daripada ilmu desain dan konstruksi.
> Mengapa lebih banyak arsitek dan sipil yang main di new-town. Ya
karena bisnis itu mulainya dari membangun perumahan skala kecil. Tapi
saat ini developer umumnya dari kalangan Perbankan, karena unsur
investasi dan "memutar uang" nya lebih dominan. Marketingnya say lihat
kebanyakan kok di-outsource-kan Uda Eka. Saya belajar real-estate di USA
justru di jurusan Finance, karena sekolah real estate disana identik
dengan investment, bukan urusan membuka lahan yang ditonjolkan. Baru di
level praktisi,real-state jadi urusan para broker (ERA, Century 21).
Mereka juga pakai land value, land price, yang ilmunya sesungguhnya
sudah dikuasai Planner. Hanya di Indonesia memang Planner seperti
diindoktrinasi sejak sekolah, kalau kerja harus di Bappeda, Bappenas,
Ditjen/Dinas Taru, kalau kerja dengan real estate itu "haram"(sekarang
disebut neoliberal kali).
>
> Kembali ke soal Urban Manager, pengalaman saya sih cuma di level
RT/RW. Kemarin ketua RW saya mengeluh, gara-gara PKL di kompleks saya
dibasmi Pemkot, income Rp 6juta /bln hilang, padahal menaikkan iuran
warga sulit untuk keamanan dan kebersihan sulit. PKL itu sukah kita
didik cukup lama supaya tertib, bersih.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
> --- In [email protected], "ffekadj" 4ekadj@ wrote:
> >
> >
> > Sedikit tambahan bila yang dimaksud kemampuan khusus itu diantaranya
di
> > bidang marketing, apakah city marketing hingga area marketing. Jadi
> > tidak sekedar program arrangement, yang merupakan kemampuan standar
> > management. Mungkin rekan-rekan seperti DwiAgus, Jehan, dll bisa
> > menambahkan beberapa hal terkait ini. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
> >
> > --- In [email protected], "ffekadj" <4ekadj@> wrote:
> > >
> > >
> > > Pak Risfan ysh, memang simplifikasinya demikian, karena perencana
> > selama
> > > ini berada dalam satu kotak khusus (: sep. Bappeda). Untuk posisi
> > > manajer perlu kecakapan khusus untuk bermain dalam konteks urban
> > > governance. Dengan kata lain ada keahlian khusus yang belum masuk
> > dalam
> > > kurikulum plano selama ini.
> > >
> > > Dulu bukannya Pak Hendro tidak mendapatkan calon, hanya orangnya
lebih
> > > tertarik ke CMellon. Salam.
> > >
> > > -ekadj
> > >
> > >
> > > --- In [email protected], "risfano" risfano@ wrote:
> > > >
> > > > Rekans ysh,
> > > >
> > > > Diskusi ini tentang "bisakah seorang Planner jadi urban
manager?"
> > atau
> > > "keilmuan Urban Planning dikembangkan jadi Urban Management?"
> > > >
> > > > Kalau menyangkut orangnya, mestinya ya bisa. Walau tidak semua.
> > > Walikota, Sekda, newtown manager yang ada saat ini, latar
belakangnya
> > > kan apa saja.
> > > >
> > > > Urban manager pengertian saya adalah eksekutor. Kerjanya manajer
> > > dimana-mana kan multi aspek, kalau keahlian kan bisa mengangkat
deputy
> > > atau sewa advisor.
> > > > Kelihatannya begitu dengar istilah Manajer, Uda Eka langsung
ingat
> > > Bisnis Realestat, jualan properti. Ini hal lain lagi kan. Urban
> > manager
> > > cakupannya lebih luar dari sekedar jualan dan pemeliharaan
properti.
> > > >
> > > > Buktinya BSP, Oloan Siregar bisa. Tapi mereka pengalamannya
bukan
> > cuma
> > > merencana saja, tapi banyak sebagai manajer secara berjenjang.Dari
> > segi
> > > ilmu, kan sekarang banyak sekolah bisnis n manajemen.
> > > > Seperti kata Menhan Yuwono Sudarsono (di posting pak Aby ttg
> > > Kelautan), bangsa kita unggul di kemampuan teknologi (teknis),
tapi
> > > lemah di manajemen, koordinasi.
> > > >
> > > > Salam,
> > > > Risfan Munir
> > > >
> > > > --- In [email protected], "ffekadj" 4ekadj@ wrote:
> > > > >
> > > > >
> > > > > Pak BTS, Pak Dayan, drr ysh,
> > > > >
> > > > > Ini obrolan santai malam minggu saja. Saya tidak menafikan apa
> > yang
> > > > > bapak sampaikan, terutama karena bakat
> > > > > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5637> dan
> > > kesempatan.
> > > > > Di milis ini juga banyak perencana yang menjadi urban manager
yang
> > > > > sukses, sebut saja Hari Gani, Sonny Kusuma, dll. Termasuk
urban
> > > manager
> > > > > yang akhirnya menjadi perencana yang sukses, seperti Jo
Santoso,
> > > Pingky
> > > > > Pangestu, dll.
> > > > >
> > > > > Saya bawa beberapa cerita dulu. Kemarin
> > > > > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/8361> saya
sempat
> > > > > tersanjung ketika lulus ujian sertifikasi, dan Pak Risman
> > memberikan
> > > > > bintang 4. Saya kira ini agak melebihi Pak Alim, yang dapat
> > > > > menganugerahkan bintang 3. Namun pada waktu kopi darat tempo
hari,
> > > > > sewaktu Pak BSP menguraikan pengalaman-pengalaman me-manajer-i
> > > Yogya,
> > > > > saya dibisiki Pak Risman kalau Pak BSP itu sudah bintang 6.
Saya
> > > > > terperangah juga, jadi plus-plus kalau praktek mengurusi
daerah
> > dan
> > > > > pernak-perniknya, levelnya bisa dua kali lipat dari perencana
> > > bintang 3.
> > > > > Saya cemburu dan kurang setuju dengan penilaian Pak Risman
ini,
> > > > > mengingat pijakannya adalah ekstensi dari status perencana.
> > Padahal
> > > kan
> > > > > Pak BSP sudah ngaku
> > > > > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3841> tidak
> > > berpijak
> > > > > pada perencanaan.
> > > > >
> > > > > Cerita lain, sekitar 17 tahun yang lalu, Ir. Hendro penguasa
> > > Kemayoran
> > > > > pernah bertandang ke DTKTD, untuk mohon bantuan dicarikan
seorang
> > > > > perencana yang mengerti bisnis. Saya kira ini istilah lain
dari
> > > urban
> > > > > manager yang belum dikenal pada masa itu. Tentu saja
sepulangnya
> > > dari
> > > > > tempat itu Pak Hendro bernyanyi sendiri ..... hatiku hampaaa
.....
> > > > > Dengan kemajuan Kemayoran saat ini, saya kira sampai sekarang
Pak
> > > Hendro
> > > > > masih belum ketemu perencana yang mengerti bisnis.
> > > > >
> > > > > Saya cenderung sepakat dengan Pak AO, kalau perencana dikasih
> > > kewenangan
> > > > > wilayah akan cenderung bertindak sebagai 'regulator'. Belum
berani
> > > > > bertindak sebagai 'manager', walaupun UUPR sudah 'banyak'
> > memberikan
> > > > > peluang untuk itu. Mungkin juga pendapat ini salah, mohon
kiranya
> > > > > rekan-rekan menyampaikan tanggapan dan sanggahan. Namun karena
ini
> > > akhir
> > > > > pekan, ya santai-santai saja. Salam.
> > > > >
> > > > > -ekadj
> > > > >
> > > > >
> > > > > --- In [email protected], Bambang Tata Samiadji
> > > <btsamiadji@>
> > > > > wrote:
> > > > > >
> > > > > > Bung Eka dan milister lainnya.
> > > > > >
> > > > > > Apa betul Urban Planner tidak bisa ditingkatkan menjadi
Urban
> > > Manager?
> > > > > > Menurut Bung Eka bahwa Urban Planner tidak bisa menjadi
Urban
> > > Manager
> > > > > yang baik.
> > > > > > Koq cepat amat disimpulkan begitu. Kalau ada bukti, siapa?
> > > > > >
> > > > > > Selama ini ada Urban Planner yang jadi Uztad yang bagus, ada
> > yang
> > > jadi
> > > > > Pengusaha Hotel yang cakap, ada yang jadi pembuat gitar
elektrik
> > > yang
> > > > > hebat, ada yang jadi redaktur majalah wanita, ada juga pejabat
> > > eselon 1,
> > > > > ada yang jadi Bupati, ada ahli ekonomi, dan banyak lagi.
Seorang
> > > dokter
> > > > > terbukti bisa jadi Urban Manager yang baik di kota Tarakan dan
> > > > > Pontianak, seorang ibu sarjana sosial dan masih mengandung
bayi di
> > > > > Kebumen bisa jadi manajer yang handal,... lha kalau Ahli Urban
> > > Planning
> > > > > masak nggak bisa jadi Urban Manager? Cuman masalah kesempatan
saja
> > > khan?
> > > > > >
> > > > > > Thanks. CU. BTS.
> > > > > >
> > > > > > --- On Sat, 6/27/09, moshedayan pakpahan moshedayanpakpahan@
> > > wrote:
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > > From: moshedayan pakpahan moshedayanpakpahan@
> > > > > > Subject: Bls: [referensi] Re: Menciptakan Indonesia
Akuntabel
> > > > > > To: [email protected]
> > > > > > Date: Saturday, June 27, 2009, 2:05 PM
> > > > > >
> > > > > > Setuju untuk topik ini.
> > > > > > Planning merupakan komponen POAC yaitu management>
> > > > > > yah itu teori ya. kalau manajemen dimaksud adalah beda ya
memang
> > > beda.
> > > > > > tapi bukan jadi masalah bagi urban planner dalam mengelola
bukan
> > > > > > Tks
> > > > > >
> > > > > > --- Pada Sen, 22/6/09, ffekadj 4ek...@gmail. com> menulis:
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > > Dari: ffekadj 4ek...@gmail. com>
> > > > > > Topik: [referensi] Re: Menciptakan Indonesia Akuntabel
> > > > > > Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
> > > > > > Tanggal: Senin, 22 Juni, 2009, 6:46 PM
> > > > > >
> > > > > > Mas Irwan ysh,
> > > > > >
> > > > > > Menurut hemat saya Urban Planner tidak bisa ditingkatkan
menjadi
> > > Urban
> > > > > > Manager, karena bidang Urban Planning berbeda dengan bidang
> > Urban
> > > > > > Management. Pengalaman sudah membuktikan, seorang Urban
Planner
> > > > > walaupun
> > > > > > menduduki jabatan manajerial tidak bisa cakap dalam urusan
Urban
> > > > > > Management. Untuk menjadi Urban Manager dibutuhkan
pengetahuan
> > dan
> > > > > > pengalaman khusus yang tidak bisa diperoleh dalam dunia
Urban
> > > > > Planning.
> > > > > > Mohon juga kalau ada yang bisa membetulkan. Salam.
> > > > > >
> > > > > > -ekadj
> > > > > >
> > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Irwan Prasetyo pras@
wrote:
> > > > > > >
> > > > > > > Ysh P Risfan dan para referensier
> > > > > > >
> > > > > > > Menarik sekali tulisan P Risfan (saya tidak baca email
> > > sebelumnya),
> > > > > > > saya sebagai Planner awam ingin juga menyampaikan pendapat
> > > tentang
> > > > > > tataran
> > > > > > > MANAJEMEN. Menurut saya "how to manage" bisa juga di
> > antisipasi
> > > > > dalam
> > > > > > > tataran PLANNING. Maksud saya dalam merencanakan produk
tentu
> > > kita
> > > > > > bisa
> > > > > > > mencanangkan bagaimana mengontrol dan memelihara produk
itu.
> > > > > > >
> > > > > > > Tentunya akan menjadi pertimbangan bagi kita, kalau kita
> > > > > merencanakan
> > > > > > > sesuatu tapi kita tidak yakin bahwa ini achieveable atau
> > > managable,
> > > > > > tentu
> > > > > > > kita tidak feel comfortable bukan?
> > > > > > >
> > > > > > > Saya rasa profesi Urban Planner bisa ditingkatkan menjadi
> > Urban
> > > > > > Manager,
> > > > > > > seperti running a company aja.(Jadi Lowongan kerjanya
tambah
> > > banyak
> > > > > :)
> > > > > > )
> > > > > > > Menurut P BTS sudah ada undang-undang berkaitan dengan ini
ya.
> > > > > > >
> > > > > > > Saya dengar Depdagri sedang ditawari Pengukuran Kinerja
> > Malcolm
> > > > > > Baldridge,
> > > > > > > yaitu pengukuran Performance Pelayanan Masyarakat, yang
biasa
> > > > > > digunakan di
> > > > > > > Amerika Serikat untuk pelayanan Swasta/ BUMN/ Publik
termasuk
> > > kantor
> > > > > > > PEMDA, yang didalamnya bisa ada unsur ISO, Balanced
Scorecard,
> > > Key
> > > > > > > Perfomance Indicator dlsb. Dalam sistem tersebut
leadership
> > dan
> > > > > > orientasi
> > > > > > > hasil memiliki bobot yang sangat tinggi.
> > > > > > >
> > > > > > > Kalau kita belum siap seluruhnya bisa saja di ukur kinerja
> > > secara
> > > > > > parsial
> > > > > > > dulu, misal kantor lurah dulu. Demikian pendapat saya.
> > > Terimakasih.
> > > > > > Maaf
> > > > > > > kalau ada yang salah.
> > > > >
> > > >
> > >
> >
>


Kirim email ke