Pak Heru,
Menarik juga tuh seminarnya, hari Jumat kalau ngga salah, weekend, kalau sempat 
saya mampir, ka Bdg tea euy, branded city. Saya jadi inget waktu jaman Belanda 
dulu atawa jaman normal, tarohlah sebelum th 70, hampir semua kota di branding 
dan dijadikan ciri daya tariknya. Seperti: Bogor sbg kota hujan dgn Istana dan 
Kebon Rayanya, Bandung dgn Paris van Javanya,  Malang, Sukabumi dan Rangkas sbg 
Agrocenternya, Cirebon dgn kota Udangnya, kantor Balai kota dan culturenya, dst 
Semarang, Yogya, Solo, Salatiga,  Madiun, Blitar, Surabaya dan semua di 
branding. Jadi kita bisa bayangkan kalau pergi libur keliling Jawa pasti tdk 
membosan, masing2 kota punya Citra yg bisa dinikmati.  Sama kalau kita jalan 
jalan di Eropah, german, Perancis, Belanda masing masing kota mereka branding 
supaya punya kekhasan masing2. 
Kota di jAwa dirasakan nilai nilai itu meluntur, berat memang ut mengembalikan 
citra tsb, apalagi begitu kuat tekanan di kota-kota di Jawa, tp knp tidak, 
masing masing ut didorong ut membangun citra masing2. Misalnya Solo dlm proses 
itu, Yogya spt BSP cita2kan, Surabaya mumpung baru dibangun Suramadu bisa jd 
Icon, Bdg??? Wah saya ngga tahu. 

Salam haneut.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Heru Poerbo" <[email protected]>

Date: Tue, 30 Jun 2009 08:57:57 
To: <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: city marketing


Sebagian dari city marketing adalah city branding.
Kebetulan kami menyelenggarakan acara seminarnya.
Silakan bila ada yg berminat.

salam,
Heru WP

-----------
Seminar: Branding for Bandung as Creative City
10 Juli 2009, Pk. 08.00 - 16.00
di Auditorium Campus Centre, ITB
 Pembicara: Prof. Katrin Androschin, dari Berlin
M.Ridwan Kamil, ST,MUD, Arsitek, Bandung
Ir. Irvan Noe'man, Designer, Jakarta (dalam konfirmasi)
Dipl.-Ing. Yusuv Suchyar, Bandung, PAJ
Moderator: Dr.-Ing. Heru W. Poerbo

Pendaftaran seminar:
- Perhimpunan Alumni Jerman Bandung-Jabar ([email protected])    
Jl. Merdeka 54 , Bandung 40115 telp:  022-7611220  fax:   022-4214474
- Arsitektur ITB telp. 022-2504962  fax: 022-2530705
- Alvanof S, ST, MSn ([email protected]) telp.  0818208945


--- In [email protected], "ffekadj" <4ek...@...> wrote:
>
> 
> Pak Risfan, Pak BSP, drr ysh, terima kasih atas sharingnya,
> mudah-mudahan dapat memulai diskusi baru dari kaji lama.
> 
> Saya sebenarnya sedikit ingat dan banyak lupa mengenai urban management
> ini, karena pengetahuan ini tidak pernah dimanfaatkan selama ini.
> Beberapa rekan lain yang pernah mempelajari mudah-mudahan akan
> menambahkan, seperti Pak Holi, Acwin, Edward, DwiAgus, Ibu Ramalis, dll.
> Mungkin juga ada rekan dari versi Perancis (CES), Jepang, Austalia, USA,
> dll.
> 
> Dari beberapa orang guru, seperti MPvDijk dan JvdMeer, sebenarnya ada
> perintah secara halus untuk menutup semua buku-buku rencana ketika kita
> akan memulai pekerjaan urban management. Karena terbukti RTRW, RPJP, dll
> itu hanya 'tools of simulation' bagi para Kepala Daerah. Program
> pembangunan seharusnya adalah kesadaran kolektif, sehingga 2 dasawarsa
> terakhir ini kita mulai mengenali beberapa model 'local initiatives'.
> Kalau mengikuti istilah Pak BTS, apakah normatif atau positif?, maka
> sebenarnya UM merupakan manajemen positif.
> 
> Sedikit masuk mendalami city marketing
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/308> , tidak bermaksud
> berprilaku sebagai korporat dan bervisi bisnis. Dalam skala kota, city
> marketing dapat dipahami dari aspek 'city competitiveness'
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5208> . Karena itu
> Saskia <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1034>  Sassen
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/326>  menjadi populer
> karena dapat menjelaskan sistem keunggulan kota. Agar dapat dijual, kota
> harus dikemas secara menarik kepada pembeli yang tepat. Dulu
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304>  saya pernah
> menyinggung persaingan Jakarta-Singapura, Kapet Sasamba-Guangzhou, dst.
> Jadi yang diundang adalah investasi dan orang-orang pintar, bukan
> pekerja murah dan bonek. Caranya bisa dengan promosi (KL the truly Asia,
> bulan ini diikuti oleh Jakarta yang bisa apa saja), exhibition (contoh
> JEC di Yogya adalah bagus), penyediaan infrastruktur, dll; jadi tidak
> semata-mata tax-holiday dan sekelasnya, atau menjual prosperity dalam
> 'rencana'. Untuk skala kawasan seharusnya lebih terukur.
> 
> Demikian sedikit sharing pak. Salam.
> 
> -ekadj


Kirim email ke