Ysh Pak Djarot dan rekan sekalian.

Saya sebenarnya tidak tertarik mengikuti soal-soal yang keramat. Tapi tulisan 
Pak Djarot menggelitik saya untuk ikut bertanggap. Karena yang saya tanggapi 
bukan soal keramat, maka subjek keramat  saya ganti (sorry buat yang 
menginisiasi subjek  keramat).

Dikatakan oleh Pak Djarot bahwa bahwa menata ruang dengan logika akal (deposit 
pengetahuan) dan informasi empiris saja memang belum memadai, maka perlu 
dilengkapi dengan peran aktif kesadaran di dalam diri penata ruang sehingga 
fenomena yang ditangani akan menjadi lebih lengkap dan utuh. 

Yang saya garis bawahi bahwa logika akal dan empiris tidak memadai sehingga 
diperlukan peran aktif kesadaran. Dikatakan sebelumnya bahwa yang dimaksud 
dengan aktif kesadaran itu suatu fenomenologi, yaitu dimensi supranatural 
dengan logika tersendiri. Dikatakan juga bahwa supranatural itu semacam 
meditasi atau refleksi. 

Bagi saya yang berfilsafat sederhana, logika akal dan empiris sudah memadai 
untuk menemukan solusi. Kalaupun sering logika akal dan empiris itu kurang 
lengkap atau ternyata hasilnya kurang memadai, bukan karena pendekatan yang 
dilakukan salah, tapi mungkin informasinya tidak lengkap dan sahih, atau 
deposit pengetahuannya masih kurang tajam, atau mungkin dialektika yang 
digunakan kurang tepat. Toh seandainya hasil  logika pikir dan empiris itu 
tidak sempurna, kurang memadai, atau bahkan belakangan baru diketahui sebagai 
salah, itu tidak fatal atau kesalahan karena kebenaran itu sering muncul dari 
kesalahan-kesalahan. Jadi semua hasil logika pikir dan empiris tidak langsung 
jadi, harus melalui proses uji coba, terus menerus diperbaiki menuju presisi 
kesempurnaan yang tak pernah sempurna. Contohnya dulu komputer menggunakan 
punch-card dengan mesin segede gajah, melalui proses perbaikan, sekarang hanya 
segede notebook. Toh proses ini tidak perlu ada unsur supranatural ataupun 
meditasi, tapi hasil logika akal dan empiris yang menerus.

Dimensi lain yaitu supranatural/fenomenologi walaupun katanya punya logika 
sendiri, menurut saya itu bukan logika atau alat pikir, karena sulit mencari 
ukurannya. Menurut saya itu rasa, bukan pikir. Rasa itu relatif dan setiap 
orang bisa berbeda. Kalau dimensi supranatural didiskusikan dalam tataran 
ilmiah, saya khawatir akan lari kemana-mana tdak karuan, karena setiap orang 
punya kadar meditasi berbeda-beda, tidak ada kesepakatan, akhirnya tidak ada 
solusi  praktis. Bagi insan yang punya sensitifitas tinggi karena kekuatan 
supranatural yang dimiliki akan bisa menikmati perihal keindahan unik dari 
objek, bisa merasakan keramatisasi mistis yang menggetarkan.... ya silakan saja 
dinikmati, tapi bisakah ditularkan dalam bentuk solusi? Atau mungkin dimensi 
ini hanya bisa dalam skala kecil dan produk seni, seperti yang dicontohkan.

Demikian Pak Djarot logika sederhana saya.. ha...ha...ha...(ketawanya Mbah 
Surip, Inalillahi wainalilahi rojiun).

Thanks. CU. BTS.



  ----- Original Message ----- 
  From: Djarot Purbadi 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, August 04, 2009 12:21 AM
  Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?


    Pak Onnos, mohon maaf ada tambahan dari saya sebagai berikut:


        1. Jika tidak salah, sejak awal diskusi saya memahami supranatural 
bukan sebagai sebentuk pendekatan melainkan sebuah kumpulan dimensi. Dalam 
pandangan saya, supranatural merupakan salah satu unsur yang ada dan perlu 
mendapat perhatian dan dilibatkan dalam pemikiran tatanan keruangan. Saya juga 
sependapat bahwa jika supranatural dimaknai sebagai pendekatan dalam kegiatan 
penataan ruang, apalagi skala luas, pastilah akan berbenturan dengan arus 
demokrasi seperti paparan Pak Onnos. Dalam paparan saya beberapa kali saya 
selalu berusaha menjelaskan bahwa fenomena yang ditangani pemikiran planning 
bersifat multi-dimensi, termasuk adanya dimensi supranatural itu, maka mesti 
dicari cara berpikir yang memadai. 


        2. Tentang logika yang jelas dalam planning dan (mungkin) "tidak jelas" 
dalam meditasi. Saya menduga bahwa pemikiran semacam ini perlu diperjelas, 
apakah benar dalam dunia meditasi (supranatural) tidak ada logika atau 
logikanya nggak jelas ? Saya sebenarnya lebih senang menyebut bahwa ada banyak 
logika unik di dunia ini, logika ilmiah bukan satu-satunya yang ada, maka 
termasuk di dalam dunia supranatural atau meditasi ada logikanya, hanya 
karakternya berbeda dari logika keilmuan "ala barat" yang banyak digunakan 
dalam banyak kegiatan ilmiah. Belajar dari Comte, kita menduga bahwa 
orang-orang yang masih dalam tahap teologis tentu punya logika unik bagaimana 
mengaitkan Tuhan dengan pikiran-pikirannya, demikian juga pada masyarakat 
metafisis, maupun masyarakat yang cenderung positivistis. 


        3. Apalagi dari perkembangan pemikiran dalam filsafat terbukti bahwa 
kebenaran empiris baru sebagian saja dari kebenaran yang utuh, demikian juga 
kebenaran akali juga sebagian saja dari seluruh kebenaran yang lengkap. Artinya 
planning yang sangat rasional maupun sangat empiris sama-sama baru mencapai 
setengahnya, dan barulah utuh jika keduanya dipertemukan. Situasi ini semacam 
putar ulang perseteruan lama (rasionalisme vs empirisme) yang kemudian 
didamaikan oleh Immanuel Kant, bahwa kebenaran yang utuh adalah dari dua sisi: 
rasional dan empiris.


        4. Sejarah mencatat ternyata empirisme maupun rasionalisme mengandung 
kelemahan. Orang yang rasionalistik cenderung menggunakan deposit 
pengetahuannya dalam memandang fenomena yang ada di depan matanya, artinya 
pikirannya "tidak murni" ketika berhadapan dengan fenomena. Demikian juga 
empirisme, atribut-atribut yang diperhatikan atas fenomena yang dilihat bisa 
mengaburkan hakekat yang dilihat. Dalam situasi pengamat terperangkap 
jaring-jaring pikirannya dan kekayaan pengalaman empiris menjadi bahaya yang 
mengaburkan hakekat fenomena ini datanglah Husserl dengan gagasannya 
fenomenologi yang intinya: dalam proses pengamatan (mencapai pengetahuan / 
kebenaran) haruslah pengamat dan fenomena dimurnikan supaya "aku murni" 
berjumpa dengan "obyek murni". Pada titik ini Husserl meninggalkan rasionalisme 
dan empirisme dan membangun cara baru yaitu fenomenologi.


        5. Logika fenomenologi barangkali mirip meditasi (ada pengarang yang 
menggunakan kata meditasi) atau refleksi (menurut penulis lain), khususnya 
dalam memahami obyek, Husserl menggunakan konsep konstitusi. Maksudnya, jika 
kita melihat sebuah bangunan istana, maka bangunan itu dilihat dari segala 
sisinya, sehingga profil-profil yang ditangkap dari berbagai sisi kemudian 
dianyam dalam pikiran melalui proses merenungkan mendalam (meditasi atau 
refleksi). Ini proses konstitusi, artinya obyek dirakit di dalam pikiran 
menjadi obyek yang utuh sejauh profilnya tersedia. Ketika saya mengamati desa 
Kaenbaun, ada ribuan frame foto digital yang saya miliki, berkali-kali saya 
amati berulang kali juga, akhirnya proses refleksi tersebut menghasilkan desa 
Kaenbaun yang unik. Foto-foto fenomena visual tersebut memungkinkan 
terbangunnya desa Kaenbaun yang utuh di kepala saya. Husserl tidak mengatakan 
obyek yang diamati menjadi eksis di dalam kesadaran pengamat, bukan sekedar 
berada di dalam otaknya; ada di memori kesadaran.


        6. Pesan paparan ini ingin menunjukkan bahwa menata ruang dengan logika 
akal (deposit pengetahuan) dan informasi empiris saja memang belum memadai, 
maka perlu dilengkapi dengan peran aktif kesadaran di dalam diri penata ruang 
sehingga fenomena yang ditangani akan menjadi lebih lengkap dan utuh. Artinya, 
rasional dan empiris saja tidak cukup, maka perlu dilengkapi dengan lebih 
kritis terhadap proses pengamatannya yang seringkali dikecoh oleh memori maupun 
kekayaan fenomena itu sendiri. Tentu cara seperti ini barangkali hanya bisa 
efektif pada skala ruang lokal (misalnya Parangtritis, kawasan Taman Wisata 
Borobudur, kawasan-kawasan unik, dsb). Jadi untuk skala megalopolitan pastilah 
tidak efektif lagi, malahan menimbulkan kontra-produksi atau kontra-demokrasi.


        7. Apakah begitu ya Pak Onnos ? Mohon pencerahan Pak.


        Salam,

        Djarot Purbadi

        http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
        http://arsitekturnusantara.wordpress.com
        http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

        --- On Mon, 8/3/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote:


          From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]>
          Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
          To: "[email protected]" <[email protected]>
          Date: Monday, August 3, 2009, 9:36 PM


            
          Pak BSP dan rekan2 ysh,
          Mengikuti diskusi tentang 'tempat keramat - critical planning', 
sepertinya pak BSP setelah lama tinggal di Yogya jadi lebih 'njowoni'. 
          Memang sangat baik kalau ada rekan2 yang tertarik untuk memetakan 
atau menyusun semacam kumpulan ceritera tentang 'penciptaan ruang' yang pernah 
ada di negeri ini dengan pendekatan 'supranatural' atau 'dimensi 4' yang 
mungkin terkait erat dengan 'kearifan lokal'. Dalam dunia arsitektur mungkin 
sudah lama kita berkenalan dengan 'fengsui' yang kemungkinan dapat diperluas 
untuk dunia 'planning' tingkat kota ? Namun demikian, dengan paradigma baru 
dalam 'planning', salah satunya dengan lebih adanya 'keterbukaan dan demokrasi' 
dalam proses 'planning', apakah pendekatan 'supranatural' dapat diterima oleh 
masyarakat kita dimasa depan yang semakin 'modern' ? Kebanyakan kita belajar 
teori 'planning ala-barat' yang serba pakai logika yang jelas, tetapi 
mungkinkah kita di jaman sekarang membangun negeri ini dengan tradisi katakan 
'ala-timur' misalnya dengan cara 'meditasi' ? Selamat mencoba, semoga tercipta 
ruang yang dapat memberi kesejahteraan buat rakyat di negeri tercinta ini.
          Wassalam,
          Onnos  
           



----------------------------------------------------------------------
          To: refere...@yahoogrou ps.com
          From: bspr...@indosat. net.id
          Date: Mon, 3 Aug 2009 10:09:16 +0700
          Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?

            
          Mas Koeswadi, Mas Djarot ysh,

          Memang menarik bagi kita untuk bisa membuat sebuah inseklopedia 
tempat keramat. Namun kita harus sangat berhati-hati terhadap definisi tempat 
keramat tersebut. Perlu ada pemilahan yang jelas karena kalau tidak akan 
terjebak kepada pengelompokan yang tidak terklasifikasi dengan baik.

          Contoh permasalahan yang akan muncul :

          a. bagaimana kita mengklasifikasi kraton di Sambas dimana terdapat 
meriam beranak. Secara energi disana memang ada sebuah medan energi yang kuat 
.... namun orang lebih datang pada meriam itu, sedangkan banyak sudut2 dimana 
energi tersebut snagta kuat, ternyata tidak pernah tersentuh .... karena memang 
disembunyikan oleh orang yang tahu... apakah kita akan mengklasifikasikan 
sebagai sebuah kesatuan atau terpisah ....

          b. situs Trowulan yang saat ini terpencar-pencar ini bagaimana kita 
mengkodifikasi ... sebagai kesatuan atau tidak ... akankah kita menggabungkan 
antara Candi Tikus dengan Pendopo Agung 

          c. apakah Masjid Raya Maimoon yang akan menjadi lekasi keramat 
ataukah Istana Maimoon di Medan ataukah ini sebuah kesatuan .. dan bagaimana 
klasifikasinya;

          d. bagaimanakah kita menyikapi terhadap lokasi "keramat" seperti 
masjid di Jimbung Klaten yang dikeramatkan karena ada sepasang bulus (satu baru 
saja mati) 

          e. bagaimanakah kita mengkodifikasi antara Gunug Srandil, Gua Semar, 
Gunung Kemukus, Gunung Kawi dengan misalnya petilasan Sunan Muria misalnya

          Jadi karena kita sudah dibiasakan menggunakan pendekatan barat yang 
mencoba dengan pola sistematisasi dan strukturisasi sehingga ini akan 
menyebabkan kita perlu melakukan adjustment dalam pembuatan pengarsipan itu.

          Inilah sulitnya bila kita mau menggabungkan pendekatan gamelan yang 
berbasis pada harmonisasi dari improvisasi anggota kelompok dengan orkestra 
yang ditentukan oleh ukuran yang tertentu. 

          Salam

          bambang sp



----------------------------------------------------------------------
          Share your memories online with anyone you want anyone you want.  



  

Kirim email ke