Sory X-posting..

Pak Risfan, mohon izin mengembalikan diskusi ke Milist.. (mungkin salah
pijit tombol, jadi JaPri)..

Untuk arahan ke-depan; saya setuju sekali.
Merencanakan Pembangunan tidak akan cukup bermodal 'palu' tata ruang..

dan juga memang ada 'demand' nya..

Sebagaimana 'perencanaan' adalah kegiatan mengalokasikan sumber-daya
terbatas, spatial plan akan saling melengkapi economic/fiscal policy dalam
mengalokasikan sumber-daya.
Economy gagal / kurang jitu mengkoreksi kegagalan pasar pada degradasi
lingkungan, antara lain.
kalau untuk pengentasan kemiskinan, penciptaan tenaga kerja, sepertinya
'palu' ekonomi lebih berdaya-manfaat.



awalnya pun Planologi berdiri karena ada demand; yaitu ketika manusia mulai
hidup ber-kota dalam skala yg besar akibat revolusi industri yg datang dalam
beberapa jilid (gelombang)..

Memang semangat saya nostalgia.. Jas Merah.. supaya kacang tidak lupa
kulit..
dan selama masih ada saksi hidup, ada baiknya, mnurut saya,
didokumentasikan..
Saya sdang meluangkan waktu dan tenaga untuk mendokumentasikan hal-2 tsb
seutuh-utuhnya, sebaik-baiknya, selengkap-lengkapnya dan se-sahih mungkin.
(atau mungkin ini kegiatan redundant?)
The spirit is nostalgic ..

semoga tidak ada yg ragu atau keberatan dengan motif saya 'mengorek' sejarah
(?)
tidak ada sedikitpun motif untuk berkecil hati ataupun mengeluarkan
statement-2 kuratif.
(sori ya, kalao ada yg sudah keburu alergi sama saya..)

Saya juga mencatat, tahun ini (bulan July lalu) bukan hanya Planologi yg
berHUT 50, tapi juga Dewan Perancang Nasional.. Ketua pertama adalah M.
Yamin..

era itu; Indonesia masih 'bereksperimen' dengan model-2 demokrasi..

Perencanaan adalah kegiatan/action yg tidak steril dari deliberasi politik
dan demokrasi..

apakah Planologi ITB steril dari politicking itu? menurut saya lahirnya
Planologi adalah teks yang berinduk pada suatu konteks..
(sebagaimana NASA menjadi besar karena Space-Race)

dan, karena tentunya kita ingin berbesar hati menyongsong masa depan
Planologi ITB, tentunya tidak bijak apabila kita kubur sejarah... apalagi
melupakan 'orang tua' (maksudnya parents ya.. bukan old-man)..

salam nostalgi,
-K-



NB: iya iya.. saya juga setuju sama MDG dan juga para UN-workers (geng Bu
Erna)..
saya jempoli koq..
senang juga ikut nonton campaign awareness MDG, sekaligus nonton Band-2
ternama..
sayang ga sampai mendatangkan Bono dan U2 nya..

2009/10/26 Risfan M <[email protected]>

> Mas HS dan rekans ysh,
>
> Thanks balik. Kalau kita mikir ke depan saya melihat di lapngan ada tren
> dua jalur "spatial plan" dan "development plan". saya tidak tahu bagaimana
> sekolah mengantisipasi. Tapi sebaran alumni nampaknya ada yang
> ber-spatial-ria (DJPR, LH, DKP dan jamaahnya), dan yg ber-development-ria
> (Bappenas, DDN, Bappeda, PDT, Kesra/PNPM, dan ummatnya). Keduanya bermain di
> area Kota/Daerah. Mungkin trend ini perlu diresponse dengan penguatan
> knowledge management nya, terutama yang "development", nampaknya masih
> dianggap anak pungut. Padahal kontribusi dan populasi planner dalam bid
> "development" besar. Apalagi dr sejarahnya mulai dgn UNDP yang tentu bias ke
> "development"nya lebih besar. Wajarlah kalau kita lebih terpanggil untuk
> menyukseskan capaian MDG.
>
> Mari kita songsong Plano-50 dengan besar hati.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> Harya Setyaka wrote:
> >
> >                   Thx Pak Risfan, Perubahan yg terakhir memang di-drive
> oleh reformasi ITB secara menyeluruh (and I think its for the better.. I
> think).. Namun saya terlambat lahir untuk menyaksikan sejarah sebelumnya..
> >  Menurut catatan saya, yg saya kutip juga dari sumber lain (wikipedia
> siih.. ga canggih-2 amat..); yaitu bahwa Thomas Karsten pernah jadi pengajar
> di THS (ITB-Belanda) tahun 1941-1945. Karsten meninggal di kamp tahanan
> Jepang.
> >  mungkin sebelum 1959, belum ada jurusan Planologi,.. tapi ilmu
> perencanaan kota (atau minimal banget urban design atau hanya site-planning)
> sepertinya sudah diajarkan.. mungkin masuk dalam arsitektur.. yang memang
> sejarahnya dimana-mana demikian..minimal secara praksis
> >  Saya koq cenderung bahwa Planologi ada dari arsitekturnya. . ya gak jauh
> beda dengan lahirnya Teknik Penerbangan dari Teknik Mesin.. dan juga Teknik
> Material dari Teknik Mesin (bahkan dulu nya.. Mesin & Elektro jadi satu?
> betul? )
> > lalu Teknik Kelautan dari Teknik Sipil .. dan memang yg dibahas saat ini
> adalah penjurusan S1 .. btw, bukannya ada mahasiswa arsitektur yg lantas
> pindah planologi pada masa awal-2 nya itu? Seperti apakah kurikulum yg
> dibawakan Karsten tsb?
> >  bagaimana kurikulum Planologi berubah dari masa ke masa? lalu mulai
> kapan tenaga pengajar planologi mulai 'multi-kultural' dalam arti kata;
> campur aduk ada yg lulusan USA, Aussie, Francais, British, Belanda.. &
> Jepang .. apa dampaknya ke kurikulum?
> >  Menarik nih, info mengenai orang-2 UN.. pada waktu itu, UN praktis ya
> 'tangan international'nya USA ... (Eisenhower. .) USA membantu Eropa
> membangun kembali kota-2 nya.. Siapa kah gerangan nama para Prof. dari UN
> tsb?
> > (maksudnya para Prof nya meng-invoice ke UN sebagai rekanan kan? bukan
> pegawai tetap UN.. ) Mungkin masih bisa kita lacak  nama-2 nya saksi sejarah
> ini.. Ketika itu, apakah hanya Planologi yg mendapat bantuan dari UN? atau
> ITB atau bahkan seluruh perguruan tinggi yg mendapat bantuan UN?
> >  PYM PBR PT itu apa ya? Apa semua ini masuk paket kompensasi terhadap
> Allan Pope? Lalu .. apa yg terjadi masa konfrontasi dengan Malaysia,
> sehingga Bung Karno pun cabut dari UN, bagaimana nasib Planologi saat itu?
> >  Ketika ada S2 PWK dan S1 Planologi, ijazah nya S1 nya tertulis
> Planologi? naah.. sy tertarik periodisasi dari perubahan-2 ini.. Saya pernah
> lihat foto-2 tua ketika di ITB dulu (2000-2005). . tapi bukan di jurusan
> Planologi..
> > yaitu di Sipil dan Geologi.. dimana ada Dosen Bule-Belanda berfoto bareng
> dengan Mahasiswa pribumi.. lalu kan ada gerakan pengusiran Belanda pada
> Desember 1957, (sekaligus men-nasionalisasi perusahaan Belanda, dijadikan
> BUMN) ..
> >  apakah hal yg serupa juga terjadi pada pendidikan tata kota? lalu siapa
> yg menggantikan para Belanda tsb? mungkin ada pelaku sejarah juga disini?
> (selain saksi sejarah tentunya..)   Gusur menggusur itu memang warisannya
> Corbusier .. perubahan paradigma perencanaan memang dilatar-belakangi, atau
> me-latar-belakangi perubahan yg lebih besar di aras politik ..
> >  Salam, -K-
> >  2009/10/25 Risfan M < risf...@yahoo. com >
> >
> >  Hi there,
> >
> >  Persisnya pergantian nama tentu para dosen dan Institut yang tahu.
> Karena regrouping itu juga berlaku untuk semua jurusan ITB, seperti elektro
> dan informatika tergabung dalam STEI (sekolah tinggi elektro dan
> informatika) ...jangan keliru dengan STIE (...ilmu ekonomi). Ada Fakultas,
> ada Sekolah, konon katanya kalau isinya dua jurusan Sekolah, kalau tiga
> jurusan lebih Fakultas.... Tapi London School of Economic itu universitas
> ya?
> >
> >  Nama PWK setahu saya sudah dipakai sejak awal program S-2 Perencanaan
> Wilayah dan Kota. Tapi...ini nostalgia... pertengahan 70an, nama tak resmi
> PWK sudah dipakai ...(ada papan nama besar di antara ruang kuliah) tertulis
>  "Tata Pembangunan Kota dan Daerah", sementara papan nama Planologi papannya
> kecil menghadap ke parkiran, sehingga jarang dilihat mahasiswa (kecuali yg
> kebetulan bawa mobil ortunya dan parkir disitu).
> >
> >  Seingat saya waktu pertengahan 70an itu dalam bahasa umum Planologi itu
> dikenal sebagai Tata Kota....dan terminologi "tata ruang" seingat saya belum
> dipakai. Bahkan produknya Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah (DTKD-DPU)
> waktu itu namanya Masterplan. Lalu ada RUK, RIK, RSTRP, hingga RTRW
> sekarang.... Sempat juga ada semacam "rivalitas", antara produk rencana kota
> dari PU dengan rencana kota dari DDN.
> >
> >  Planologi, ternyata oleh Belanda tidak dipopulerkan di bidang
> perencanaan kota saja ya. Di bidang kehutanan mereka juga familiar dengan
> Planologi (tata guna hutan?). Saya dulu sering dikira ahli kehutanan kalau
> mengaku dari planologi.
> >
> >  Pengajar awal Planologi, yang saya tahu kok kebanyakan bukan dari
> Belanda, tapi dari UN yang mengambil pengajar dari Harvard/MIT. Kalau yang
> dari Belanda kayaknya itu mungkin embrionya dulu di Jurusan Arsitek. Dan,
> sejarah planologi kayaknya bukan "pecahan dari arsitek".
> >
> >  Ada kebutuhan yang dirasa tentang perencanaan pembangunan fisik skala
> kota, lalu dibentuk jurusan yang tenaganya diambil dari jurusan arsitek (Pak
> Wawo, dkk), juga dari Sipil (Abukasan A, dkk). Sewaktu PYM PBR PT Presiden
> RI Dr. Ir. H. Soekarno menyatakan kita berdikari, yang diminta pergi dari
> planologi ya tenaga-tenaga dari UN itu. Tadinya bantuan UN untuk pembentukan
> PL itu kan sejajar dengan pembentukan AIT di Thailand dan AIM di Filipina.
> >  Jadi pergeseran dominasi Belanda ke team UN sudah terjadi sebelum policy
> Berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) itu. Lalu Planologi dikendalikan
> oleh Pak Wawo (ITB, Univ Hawaii), Pak Hasan Poerbo (ITB, Univ Hawaii?), Pak
> SS (UGM, UPen, Harvard, MIT?) dan Pak Abukasan (ITB, UC Berkeley?) dan
> kawan-kawan.
> >  Gitu kayaknya.... he he he....tapi yang bener kita tunggu tulisan pak
> Wawo di Plano-50 tentunya.
> >
> >  Waktu saya kuliah masih ada di tata usaha jurusan dijual stensilan
> tulisan tim UN itu a.l. "Hawker & Peddler" (?). Saya kira itu wasiat yang
> tak pernah dilaksanakan oleh alumni....Dari awal Planologi didirikan ada
> empathi kepada mereka yang tak punya tanah. Tapi sungguh memprihatinkan
> Rencana kota sekarang bukan menolong PKL, tapi jadi alat "pengusir,
> penggusur" dan jadi justifikasi untuk "memukuli" kaum yang tak punya tanah
> itu. Rencana kota hanya untuk mereka yang mampu punya/sewa lahan....??? ?
> >  Ini mungkin yang masih perlu jadi agenda, terutama di masa kini, dimana
> kemiskinan dan pengangguran menjadi agenda utama. Ini peluang bagi sarjana
> PWK dan kita untuk berkontribusi kepada bangsa. Mungkin kita perlu belajar
> dari tokoh seperti Jokowi dll.
> >
> >  Salam,
> >  Risfan Munir
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>

Kirim email ke