Mas Koko, pak Risfan dan milisters ysh, Mohon ijin turut menanggapi….khususnya utk kalimat berikut :
“…….Economy gagal / kurang jitu mengkoreksi kegagalan pasar pada degradasi lingkungan, antara lain. kalau untuk pengentasan kemiskinan, penciptaan tenaga kerja, sepertinya 'palu' ekonomi lebih berdaya-manfaat…….”. Kegagalan pasar dan degradasi lingkungan kiranya akan lbh diprihatinkan oleh para ahli lingkungan lbh drpd oleh para ahli spatial…. Kalau dari sisi spatial…. Ekonomi brkali paling diprihatinkan sbg mengabaikan (dan makanya gagal) melakukan penyebaran aktivitasnya kepelbagai daerah krn mereka menganggap bhw mekanisme pasar dipercaya akan mempu menciptakan pertumbuhan ekonomi yg seimbang disemua tempat……. Kalau ‘palu’nya ekonomi selalu lbh dianggap sbg “lbh berdaya manfaat utk pengentasan kemiskinan dan penciptaan kesempatan kerja” (lbh dari teknik keruangan) …… maka ini kok spt sama saja kembali jalan ditempat masing2 spt segregasi pemikiran ekonomi dan teknik keuangan spt yg selama ini terjadi ya?…….Artinya ekon tak berkait dan tak peduli (dan tak mengerti) dgn ruang dan sebaliknya…. teknik keruangan jg tak dipikirkan sbg berkait dgn ekonomi, perluasan kesempatan kerja, pengentasan kemiskinan, pengembangan kwsn tertinggal dsb………… Yg diinginkan sbg “pembaruan pembangunan ekonomi dan keruangan” utk konteks Indonesia yg geografisnya teramat paling berat didunia ini… adalah saya kira (agar supaya) ekonomi dibangun bersandar kuat pada dimensi keruangan dalam kerangka utk meredakan disparitas/ ketakseimbangan keruangan antara kawasan maju dan kawasan2 tertinggal atau antara pusat dan periferi…. Dan sebaliknya masyarakat planners juga agar berpikir dan memandang spatial planning sbg teknologi keruangan (sekali lagi teknologi) utk meredakan disparitas ekonomi antara kawasan maju dan kawasan tertinggal…… dgn demikian spatial planning juga agar dapat diutilize sbg teknologi keruangan utk penciptaan/ perluasan kesempatan kerja (ingat….PWK/ apalah namanya sekarang adalah sekolah ttg teknologi lho…. Bukan sekedar sekolah utk pembuatan uu keruangan atau sekedar sekolah utk membuat ruang yg indah (spt pemikiran arsitek.. dan lestari?)……tetapi adalah sekolah utk mengolah ruang bagi memakmurkan/ mensejahterakan manusia….. Kalau kita perhatikan lingkup kerjaan dan pola pemikiran para developers komersial itu…… berawal dari adanya ‘potensi pasar’ berupa manusia2 (klas menengah atas) dgn penghasilan yg baik (krn ada industri dan bisnis dan jangan lupa :APBN juga)….lalu sdh ada pula disitu pusat activity berupa ibukota/ kota besar yg sdh terbentuk….maka mereka lalu mengeksploit sejadi2nya faktor2 ‘ruang’ dan ‘manusia2 dgn penghasilan yg baik’ itu…..dgn menjadikan ‘manusia2 berpenghasilan baik itu sbg obyek ‘buyers’nya….dan menjadilan space diseputar ibukota/ kota besar yg itu sbg obyek ‘products’nya……..space itu lalu (bersama arsitektur, sipil, interior dan lansekap) diolah menjadi komoditas/ produk ekonomi berupa kapling matang, perumahan, ruko, kws industri, kws pusat perbelanjaan, fasilitas sosial spt sekolah, rumah sakit, fas rekreasi dsb…. Dlm mana walau demikian didalam semua itu memang lalu terdapat consuming…employment… pajak... pertumbuhan ekonomi dan industri....perkembangan teknologi....dsb… dan berkembanglah bersama2…. ekonomi dan sekaligus juga ruang…… Masalahnya bagi planners kini (teknologi keruangan) dan tantangan bagi ekonom (persemaian pusat kegiatan ekonomi baru) adlh bgmn menciptakan produk yg sama tetapi bukan diseputar ibukota/ kota besar yg ada……tetapi adalah dikawasan tertinggal yg jauh dari pusat2 itu (dvlprs komersial akan wait n see dgn ambivalensi……dan begitu dilokasi baru rintisan berat yg non priofit telah dilakukan oleh pmrth…mereka akan secepat kilat bercokol dan berkiprah pula disana)….... Dari situlah dpt dianalisis dan identifikasi bhw terdapat kebutuhan2 utk menciptakan replikasi sukses yg sama dimana dilokasi yg baru (dikawasn tertinggal)….. dpt diidentifikasi sbg diperlukan kehadiran komponen2 spt …. a) manusia2 pendapatan menengah dan atas (maka muncul kebutuhan teknik bgmn memigrasikan kerah putih)….b) diperlukan industri manufaktur dgn multiplier effect yg luas agar tumbuh aglomerasi (maka muncul pemikiran persemaian industri memimpin jenis foot loose)…….c) diperlukan desain kota besar (bukan sekedar kota2 kecil terus) dgn segala fasilitas kota yg diperlukan termasuk perangkat ringroadsnya serta berbagai perencanaan futuristik kotanya ……d)diperlukan dukungan arsitektur dan kelompok kerjanya utk jaminan mutu lingkungan……dsb dsb……... Ttg kawasan dibelakang dari pusat2 baru itu….tentu dgn efek menetes kebawah atau spread effect dsb maka kawasan2 belakang tsb akan memperoleh kemajuannya juga……apakah brkali begitu?....... Salam, --- On Mon, 10/26/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote: From: Harya Setyaka <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: [Plitb-abroad] Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot To: "Risfan M" <[email protected]>, [email protected], "plitb-abroad" <[email protected]> Date: Monday, October 26, 2009, 1:26 AM Sory X-posting.. Pak Risfan, mohon izin mengembalikan diskusi ke Milist.. (mungkin salah pijit tombol, jadi JaPri).. Untuk arahan ke-depan; saya setuju sekali. Merencanakan Pembangunan tidak akan cukup bermodal 'palu' tata ruang.. dan juga memang ada 'demand' nya.. Sebagaimana 'perencanaan' adalah kegiatan mengalokasikan sumber-daya terbatas, spatial plan akan saling melengkapi economic/fiscal policy dalam mengalokasikan sumber-daya. Economy gagal / kurang jitu mengkoreksi kegagalan pasar pada degradasi lingkungan, antara lain. kalau untuk pengentasan kemiskinan, penciptaan tenaga kerja, sepertinya 'palu' ekonomi lebih berdaya-manfaat. awalnya pun Planologi berdiri karena ada demand; yaitu ketika manusia mulai hidup ber-kota dalam skala yg besar akibat revolusi industri yg datang dalam beberapa jilid (gelombang). . Memang semangat saya nostalgia.. Jas Merah.. supaya kacang tidak lupa kulit... dan selama masih ada saksi hidup, ada baiknya, mnurut saya, didokumentasikan. . Saya sdang meluangkan waktu dan tenaga untuk mendokumentasikan hal-2 tsb seutuh-utuhnya, sebaik-baiknya, selengkap-lengkapny a dan se-sahih mungkin. (atau mungkin ini kegiatan redundant?) The spirit is nostalgic .. semoga tidak ada yg ragu atau keberatan dengan motif saya 'mengorek' sejarah (?) tidak ada sedikitpun motif untuk berkecil hati ataupun mengeluarkan statement-2 kuratif. (sori ya, kalao ada yg sudah keburu alergi sama saya..) Saya juga mencatat, tahun ini (bulan July lalu) bukan hanya Planologi yg berHUT 50, tapi juga Dewan Perancang Nasional.. Ketua pertama adalah M. Yamin... era itu; Indonesia masih 'bereksperimen' dengan model-2 demokrasi.. Perencanaan adalah kegiatan/action yg tidak steril dari deliberasi politik dan demokrasi.. apakah Planologi ITB steril dari politicking itu? menurut saya lahirnya Planologi adalah teks yang berinduk pada suatu konteks.. (sebagaimana NASA menjadi besar karena Space-Race) dan, karena tentunya kita ingin berbesar hati menyongsong masa depan Planologi ITB, tentunya tidak bijak apabila kita kubur sejarah... apalagi melupakan 'orang tua' (maksudnya parents ya.. bukan old-man).. salam nostalgi, -K- NB: iya iya.. saya juga setuju sama MDG dan juga para UN-workers (geng Bu Erna).. saya jempoli koq.. senang juga ikut nonton campaign awareness MDG, sekaligus nonton Band-2 ternama.. sayang ga sampai mendatangkan Bono dan U2 nya.. 2009/10/26 Risfan M <risf...@yahoo. com> Mas HS dan rekans ysh, Thanks balik. Kalau kita mikir ke depan saya melihat di lapngan ada tren dua jalur "spatial plan" dan "development plan". saya tidak tahu bagaimana sekolah mengantisipasi. Tapi sebaran alumni nampaknya ada yang ber-spatial- ria (DJPR, LH, DKP dan jamaahnya), dan yg ber-development- ria (Bappenas, DDN, Bappeda, PDT, Kesra/PNPM, dan ummatnya). Keduanya bermain di area Kota/Daerah. Mungkin trend ini perlu diresponse dengan penguatan knowledge management nya, terutama yang "development", nampaknya masih dianggap anak pungut.. Padahal kontribusi dan populasi planner dalam bid "development" besar. Apalagi dr sejarahnya mulai dgn UNDP yang tentu bias ke "development"nya lebih besar. Wajarlah kalau kita lebih terpanggil untuk menyukseskan capaian MDG. Mari kita songsong Plano-50 dengan besar hati. Salam, Risfan Munir Harya Setyaka wrote: > > Thx Pak Risfan, Perubahan yg terakhir memang di-drive oleh > reformasi ITB secara menyeluruh (and I think its for the better.. I think).. > Namun saya terlambat lahir untuk menyaksikan sejarah sebelumnya.. > Menurut catatan saya, yg saya kutip juga dari sumber lain (wikipedia siih.. > ga canggih-2 amat..); yaitu bahwa Thomas Karsten pernah jadi pengajar di THS > (ITB-Belanda) tahun 1941-1945. Karsten meninggal di kamp tahanan Jepang. > mungkin sebelum 1959, belum ada jurusan Planologi,.. tapi ilmu perencanaan > kota (atau minimal banget urban design atau hanya site-planning) sepertinya > sudah diajarkan.. mungkin masuk dalam arsitektur.. yang memang sejarahnya > dimana-mana demikian..minimal secara praksis > Saya koq cenderung bahwa Planologi ada dari arsitekturnya. . ya gak jauh > beda dengan lahirnya Teknik Penerbangan dari Teknik Mesin.. dan juga Teknik > Material dari Teknik Mesin (bahkan dulu nya.. Mesin & Elektro jadi satu? > betul? ) > lalu Teknik Kelautan dari Teknik Sipil .. dan memang yg dibahas saat ini > adalah penjurusan S1 .. btw, bukannya ada mahasiswa arsitektur yg lantas > pindah planologi pada masa awal-2 nya itu? Seperti apakah kurikulum yg > dibawakan Karsten tsb? > bagaimana kurikulum Planologi berubah dari masa ke masa? lalu mulai kapan > tenaga pengajar planologi mulai 'multi-kultural' dalam arti kata; campur aduk > ada yg lulusan USA, Aussie, Francais, British, Belanda.. & Jepang .. apa > dampaknya ke kurikulum? > Menarik nih, info mengenai orang-2 UN.. pada waktu itu, UN praktis ya > 'tangan international'nya USA ... (Eisenhower. .) USA membantu Eropa > membangun kembali kota-2 nya.. Siapa kah gerangan nama para Prof. dari UN tsb? > (maksudnya para Prof nya meng-invoice ke UN sebagai rekanan kan? bukan > pegawai tetap UN.. ) Mungkin masih bisa kita lacak nama-2 nya saksi sejarah > ini.. Ketika itu, apakah hanya Planologi yg mendapat bantuan dari UN? atau > ITB atau bahkan seluruh perguruan tinggi yg mendapat bantuan UN? > PYM PBR PT itu apa ya? Apa semua ini masuk paket kompensasi terhadap Allan > Pope? Lalu .. apa yg terjadi masa konfrontasi dengan Malaysia, sehingga Bung > Karno pun cabut dari UN, bagaimana nasib Planologi saat itu? > Ketika ada S2 PWK dan S1 Planologi, ijazah nya S1 nya tertulis Planologi? > naah.. sy tertarik periodisasi dari perubahan-2 ini.. Saya pernah lihat > foto-2 tua ketika di ITB dulu (2000-2005). . tapi bukan di jurusan Planologi.. > yaitu di Sipil dan Geologi.. dimana ada Dosen Bule-Belanda berfoto bareng > dengan Mahasiswa pribumi.. lalu kan ada gerakan pengusiran Belanda pada > Desember 1957, (sekaligus men-nasionalisasi perusahaan Belanda, dijadikan > BUMN) .. > apakah hal yg serupa juga terjadi pada pendidikan tata kota? lalu siapa yg > menggantikan para Belanda tsb? mungkin ada pelaku sejarah juga disini? > (selain saksi sejarah tentunya..) Gusur menggusur itu memang warisannya > Corbusier .. perubahan paradigma perencanaan memang dilatar-belakangi, atau > me-latar-belakangi perubahan yg lebih besar di aras politik .. > Salam, -K- > 2009/10/25 Risfan M < risf...@yahoo. com > > > Hi there, > > Persisnya pergantian nama tentu para dosen dan Institut yang tahu. Karena > regrouping itu juga berlaku untuk semua jurusan ITB, seperti elektro dan > informatika tergabung dalam STEI (sekolah tinggi elektro dan informatika) > ...jangan keliru dengan STIE (...ilmu ekonomi). Ada Fakultas, ada Sekolah, > konon katanya kalau isinya dua jurusan Sekolah, kalau tiga jurusan lebih > Fakultas.... Tapi London School of Economic itu universitas ya? > > Nama PWK setahu saya sudah dipakai sejak awal program S-2 Perencanaan > Wilayah dan Kota. Tapi...ini nostalgia... pertengahan 70an, nama tak resmi > PWK sudah dipakai ...(ada papan nama besar di antara ruang kuliah) tertulis > "Tata Pembangunan Kota dan Daerah", sementara papan nama Planologi papannya > kecil menghadap ke parkiran, sehingga jarang dilihat mahasiswa (kecuali yg > kebetulan bawa mobil ortunya dan parkir disitu). > > Seingat saya waktu pertengahan 70an itu dalam bahasa umum Planologi itu > dikenal sebagai Tata Kota....dan terminologi "tata ruang" seingat saya belum > dipakai. Bahkan produknya Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah (DTKD-DPU) > waktu itu namanya Masterplan. Lalu ada RUK, RIK, RSTRP, hingga RTRW > sekarang.... Sempat juga ada semacam "rivalitas", antara produk rencana kota > dari PU dengan rencana kota dari DDN. > > Planologi, ternyata oleh Belanda tidak dipopulerkan di bidang perencanaan > kota saja ya. Di bidang kehutanan mereka juga familiar dengan Planologi (tata > guna hutan?). Saya dulu sering dikira ahli kehutanan kalau mengaku dari > planologi. > > Pengajar awal Planologi, yang saya tahu kok kebanyakan bukan dari Belanda, > tapi dari UN yang mengambil pengajar dari Harvard/MIT. Kalau yang dari > Belanda kayaknya itu mungkin embrionya dulu di Jurusan Arsitek. Dan, sejarah > planologi kayaknya bukan "pecahan dari arsitek". > > Ada kebutuhan yang dirasa tentang perencanaan pembangunan fisik skala kota, > lalu dibentuk jurusan yang tenaganya diambil dari jurusan arsitek (Pak Wawo, > dkk), juga dari Sipil (Abukasan A, dkk). Sewaktu PYM PBR PT Presiden RI Dr. > Ir. H. Soekarno menyatakan kita berdikari, yang diminta pergi dari planologi > ya tenaga-tenaga dari UN itu. Tadinya bantuan UN untuk pembentukan PL itu kan > sejajar dengan pembentukan AIT di Thailand dan AIM di Filipina. > Jadi pergeseran dominasi Belanda ke team UN sudah terjadi sebelum policy > Berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) itu. Lalu Planologi dikendalikan oleh > Pak Wawo (ITB, Univ Hawaii), Pak Hasan Poerbo (ITB, Univ Hawaii?), Pak SS > (UGM, UPen, Harvard, MIT?) dan Pak Abukasan (ITB, UC Berkeley?) dan > kawan-kawan. > Gitu kayaknya.... he he he....tapi yang bener kita tunggu tulisan pak Wawo > di Plano-50 tentunya. > > Waktu saya kuliah masih ada di tata usaha jurusan dijual stensilan tulisan > tim UN itu a.l. "Hawker & Peddler" (?). Saya kira itu wasiat yang tak pernah > dilaksanakan oleh alumni....Dari awal Planologi didirikan ada empathi kepada > mereka yang tak punya tanah. Tapi sungguh memprihatinkan Rencana kota > sekarang bukan menolong PKL, tapi jadi alat "pengusir, penggusur" dan jadi > justifikasi untuk "memukuli" kaum yang tak punya tanah itu. Rencana kota > hanya untuk mereka yang mampu punya/sewa lahan....??? ? > Ini mungkin yang masih perlu jadi agenda, terutama di masa kini, dimana > kemiskinan dan pengangguran menjadi agenda utama. Ini peluang bagi sarjana > PWK dan kita untuk berkontribusi kepada bangsa. Mungkin kita perlu belajar > dari tokoh seperti Jokowi dll. > > Salam, > Risfan Munir > > > > > > > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

