Rekans ysh,
Kalau kita mikir ke depan saya melihat di lapangan ada tren dua jalur kiprah
planner, yaitu: "spatial plan" dan "development plan".
Saya tidak tahu bagaimana sekolah mengantisipasi. Tapi sebaran alumni nampaknya
ada yang ber-spatial- ria (DJPR, LH, dan jamaahnya), dan yg ber-development-
ria (Bappenas, DDN, Bappeda, PDT, Kesra/PNPM, dan ummatnya). Keduanya bermain
di area Kota/Daerah. Dan ini bukan dikotomi, hanya fokusnya saja, walaupun
dalam praktek seperti paradigma yang berbeda. Yang spatial cenderung menerapkan
konservasi (pembatasan, penertiban), sedang yang development lebih mengarah
kepada pembangunan dalam konteks kota/daerah termasuk capaian MDG dst.
Mungkin trend ini perlu diresponse dengan penguatan knowledge management nya,
terutama yang "development" , nampaknya masih dianggap anak pungut. Padahal
kontribusi dan populasi planner dalam bidang "development" besar. Apalagi dr
sejarahnya mulai dgn UNDP yang tentu bias ke "development" nya lebih besar.
Wajarlah kalau kita lebih terpanggil untuk menyukseskan capaian MDG.
Mari kita songsong Plano-50 dengan memperluas ruang gerak.
Salam,
Risfan Munir
www.samuraisejati.blogspot.com