Dear All, Dari sebuah sumber yang sangat bisa dipercaya, ada fenomena menarik di beberapa desa di lereng-lereng Merapi. Ada orang bule-bule yang tinggal bersama penduduk pedesaan lereng gunung, menyewa rumah ala desa, sekali-kali pergi ke kota, tetapi kulkasnya penuh dengan cadangan makanan untuk beberapa minggu. Aktivitas mereka adalah memproduksi knowledge, yaitu meneliti dan menulis. Hasil tulisan yang diciptakan di alam kesejukan Merapi itu kemudian dikirim via satelit ke penerbit-penerbit ber-reputasi internasional. Orang bule-bule tertarik hidup di desa dengan segala ketenangannya, orang kita memang lebih gemar tinggal bersesak-sesakan di kota. Era digital tampaknya akan mengubah mindset kita tentang perkembangan kota dan desa !!!!! Apakah fenomena digital ini tidak mengubah mindset kita tentang planning dan arsitektur ? Entahlah, frame kita dari tahun 1970-an tentang planning tampaknya harus diperbaharui ya....
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Tue, 2/2/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia To: [email protected] Date: Tuesday, February 2, 2010, 6:07 AM rekans ysh... Iya, setuju...tapi memang ketertarikan kota tidak bisa bohong, scr universal kota sering lbh menarik dari desa, memang enak kita diskusikan persoalan bgini ya...tp sbnrnya saya / kitapun berkontribusi besar utk memperindah kota dgn berdomisili di kota. Pemerintah/investor jg akan sulit mengembangkan desa bila penduduknya berkurang secara proporsional thd kota, memang perlu action dari semua pihak ya.... Jadi, memang tak mgkn kita kembali ke desa. Pemerintah yg paling mgkn utk meratakan aplikasi program pembangunan dan dgn power /leadership yg baik (sambil mengajak investor) akan menstimulus masy utk dgn bangga membangun perdesaan, bgmna? Salam, Oka Powered by Telkomsel BlackBerry®From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Date: Mon, 1 Feb 2010 07:42:57 -0800 (PST)To: <refere...@yahoogrou ps.com>Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia dear all Sudah jelas bahwa persentase penduduk perkotaan semakin meningkat dibanding dengan persentase penduduk diperdesaan. Berdasarkan data statistik : Tahun 1970, jumlah penduduk 119 juta, kota : desa = 17% : 83% = 20,23 jt : 98,77 jt Tahun 1980, jumlah penduduk 147 juta, kota : desa = 23% : 77% = 33,81 jt : 113,19 jt Tahun 1990, jumlah penduduk 179 juta, kota : desa = 30% : 70% = 53,70 jt : 125,30 jt Tahun 2000, jumlah penduduk 205 juta, kota : desa = 43% : 57% = 116,85 jt : 88,15 jt Tahun 2010, jml pddk (proy) 233 juta, kota : desa = 55% : 45% = 104,85 jt : 128,15 jt Walaupun persentase penduduk perdesaan terus menurun dari tahun ke tahun, tetapi jumlah nominalnya tidak mengalami banyak pengurangan, yaitu sekitar 100 juta sejak tahun 1970 hingga proyeksi tahun 2010. Lihat fakta di atas. Perlu diketahui bahwa pertambahan jumlah penduduk perkotaan bukan hanya karena migrasi ke kota dan pertumbuhan natural di kota, tetapi juga perubahan wilayah desa menjadi kota sehingga wilayah perdesaan semakin berkurang. Mengingat jumlah nominal penduduk perdesaan sekitar 100 juta dalam wilayah perdesaan yang semakin berkurang, berarti kepadatan penduduk di perdesaan semakin padat. Jadi salah besar bila ada kebijakan untuk kembali ke desa. Thanks. CU. BTS. --- On Mon, 2/1/10, isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> wrote: From: isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> Subject: [referensi] Wajah Kota Indonesia To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, February 1, 2010, 12:51 AM Sekarang penduduk Indonesia, separo di kota separo di desa Nanti, 20 tahun lagi, 3/4nya atawa 200 juta tinggal di kota. Dulu ngga macet, sekarang macet, apalagi nanti, baru keluar rumah udah macet. Dulu naik motor bisa sambil indehoy, sekarang baru pegangan udah diklakson. Dulu orang tua bisa tidur siang, sekarang boro boro. Pergi Subuh, pulang Isya. Dulu main dilapangan, sekarang di jalanan Dulu kriminil cuma ada maling, sekarang mutilasi, sodomi, PIN diintip orang. Dulu kota yg banjir ke itung ama jari, sekarang susah deh banjir dimana mana. Dulu sungai msh bisa dipake buat sikat gigi, sekarang semerbak harum mewangi. Dulu tempat sampah sedikit, sekarang dimana mana tempat sampah. Dulu rumah kumuh cuma ada di Balubur, sekarang sekota kumuh semua. Sabtu dan Minggu, Dago, Gasibu, Punclut amit2 deh. Terlalu (baca pake Dialek Roma Irama) Dulu kencing gratis, sekarang pake tarip, BAK, BAB dan Mandi beda hargenye. Dulu masih banyak Burung Gereja, sekarang jarang terdengar. Dulu sedikit orang Kampungan, sekarang Kampungan semua.. Dulu bisa bikin Gelora, Monas dan Taman Mini, sekarang cuma bisa bikin PNPM busway, eh Suramadu bisa deng. Iman tea. Powered by Telkomsel BlackBerry® ------------ --------- --------- ------ Komunitas Referensi http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links

