Bapak Ibu Referenciers,
Ijinkan saya untuk komentar juga ya.

Saya melihat perkembangan Kota ini tidak mengikuti perkembangan teknologi yang 
berkaitan dengan perkembangan jumlah penduduk. Cerita Mas Eko, tentu berkaitan 
erat dengan teknologi pada waktu itu. Jaman Bung Karno yang dibutuhkan adalah 
sepeda, dan ini adalah simbol kelas menengah. Mobil hanya trrjangkau untuk Para 
administratur Perkebunan ataupun Sultan. Untuk ra'yat jelata cukup jalan kaki.

Cerita Pak BTS tentang pertumbuhan penduduk kota tentu saja benar. Yang tidak 
benar adalah adanya "pembiaran" ra'yat jelata dari jalan kaki ke angkot yang 
amburadul.

Ketika Singapora di tahun 1974 memutuskan untuk membangun MRT system, 
seharusnya Jakarta juga memutuskan hal yang sama. Ketika Bangkok dan 
Kualalumpur memutuskan membangun MRT sistem dan memperbaiki sistem transportasi 
metropolitannya, seharusnya Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar juga 
melakukan hal yang sama. 

Kecuali sindroma inferiority para pengambil keputusan masih melekat, keputusan 
semacam itu tidak akan terjadi. Sindroma ini adalah: elite di atas adalah 
proyeksi dari para administratur Onderneming yang selalu naik mobil, 
berkacamata cengdem, tongkat Sulaiman, dan topi oval. Sementara ra'yat jelata 
silakan menikmati apapun yang tersedia di kota, mau jalan kaki, naik sepeda, 
naik angkot-- terserah. Mau tinggal di gubuk reyot pinggir kali, mau jualan di 
trotoar, mau ngemis, silakan. Pokoknya kota ya seperti itu.. Kota adalah milik 
elite yang telah "menyediakan" ruang untuk ra'yat jelata.  Silakan dinikmati. 
Pada waktunya kalau elite butuh ruang, ya jangan protes, karena atas nama kota 
akan dibutuhkan ruang untuk jalan tol baru, apartemen baru, mall baru, dst.. 
Maka ruang itu akan diambil.  
Epilogue: ini adalah penyakit sindroma inferiority, yang mempromosikan 
pembiaran kota, dan tidak perlu perencanaan. Please jangan diikuti. Ini 
menyesatkan.
Salam
Toro  
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Eko B K <[email protected]>
Date: Mon, 1 Feb 2010 19:30:06 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia

Pak Iman, Pak Ibn, Pak BTS ysh.,
Kuliah di Bandung era 70 an mungkin masih enak ya pak? Pdhal penduduknya saat 
itu sudah sekitar 1,3 juta jiwa, kendaraan bermotor tidak sebanyak sekrg, udara 
sejuk... apalagi kalau kuliahnya tahun 1920 an, jaman Bung Karno, ketika 
penduduk Bdg masih 94 ribu jiwa, dan masih pd jalan kaki, naik andong nampaknya 
enak sekali....terlebih lagi tahun 1846 ketika penduduk Bdg hanya 11 ribu jiwa, 
sayangnya waktu itu belum ada universitas...
Yg mungkin tidak enak adalah hidup di Bdg tahun 1488 ketika masih hutan semua 
hehe....
salam...




--- En date de : Lun 1.2.10, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> a 
écrit :

De: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Objet: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia
À: [email protected]
Date: Lundi 1 Février 2010, 16h42















 
 



  


    
      
      
      dear all
 
Sudah jelas bahwa persentase penduduk perkotaan semakin meningkat dibanding 
dengan persentase penduduk diperdesaan.
 
Berdasarkan data statistik :
 
Tahun 1970, jumlah penduduk  119 juta, kota : desa = 17% : 83% =   20,23 jt :   
98,77 jt
Tahun 1980, jumlah penduduk  147 juta, kota : desa = 23% : 77% =   33,81 jt : 
113,19 jt
Tahun 1990, jumlah penduduk  179 juta, kota : desa = 30% : 70% =   53,70 jt : 
125,30 jt
Tahun 2000, jumlah penduduk  205 juta, kota : desa = 43% : 57% = 116,85 jt :   
88,15 jt
Tahun 2010, jml pddk (proy)     233 juta, kota : desa = 55% : 45% = 104,85 jt : 
128,15 jt
 
Walaupun persentase penduduk perdesaan terus menurun dari tahun ke tahun, 
tetapi jumlah nominalnya  tidak mengalami banyak pengurangan, yaitu sekitar 100 
juta sejak tahun 1970 hingga proyeksi tahun 2010. Lihat fakta di atas.
 
Perlu diketahui bahwa pertambahan jumlah penduduk perkotaan  bukan hanya karena 
migrasi ke kota dan pertumbuhan natural di kota, tetapi juga perubahan wilayah 
desa menjadi kota sehingga wilayah perdesaan semakin berkurang. Mengingat 
jumlah nominal penduduk perdesaan sekitar 100 juta dalam wilayah perdesaan yang 
semakin berkurang, berarti kepadatan penduduk di perdesaan semakin padat.
 
Jadi salah besar bila ada kebijakan untuk kembali  ke desa.
 
Thanks. CU. BTS.


--- On Mon, 2/1/10, isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> wrote:


From: isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com>
Subject: [referensi] Wajah Kota Indonesia
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, February 1, 2010, 12:51 AM


Sekarang penduduk Indonesia, separo di kota separo di desa
Nanti,  20 tahun lagi, 3/4nya atawa 200 juta tinggal di kota.
Dulu ngga macet, sekarang macet, apalagi nanti, baru keluar rumah udah macet.
Dulu naik motor bisa sambil indehoy, sekarang baru pegangan udah diklakson.
Dulu orang tua bisa tidur siang, sekarang boro boro. Pergi Subuh, pulang Isya.
Dulu main dilapangan, sekarang di jalanan
Dulu kriminil cuma ada maling, sekarang mutilasi,  sodomi, PIN diintip orang.
Dulu kota yg banjir ke itung ama jari, sekarang susah deh banjir dimana mana.
Dulu sungai msh bisa dipake buat sikat gigi, sekarang semerbak harum mewangi.
Dulu tempat sampah sedikit, sekarang dimana mana tempat sampah.
Dulu rumah kumuh cuma ada di Balubur, sekarang sekota kumuh semua.
Sabtu dan Minggu, Dago, Gasibu, Punclut amit2 deh. Terlalu (baca pake Dialek 
Roma Irama)
Dulu kencing gratis, sekarang pake tarip, BAK, BAB
 dan Mandi beda hargenye.
Dulu masih banyak Burung Gereja, sekarang jarang  terdengar. 
Dulu sedikit orang Kampungan, sekarang Kampungan semua..
Dulu bisa bikin Gelora, Monas dan Taman Mini, sekarang cuma bisa bikin PNPM 
busway, eh Suramadu bisa deng. 

Iman tea.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

------------ --------- --------- ------

Komunitas Referensi
http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links








      

    
     

    
    


 



  











      

Kirim email ke