Bapak/ibu sekalian, Seperti yg disampaikan Pak Toro, memang rasanya gemas ketika melihat tidak (belum?) banyak tindakan dilakukan thd kota2 besar kita, mulai dr pembenahan transportasi publik, prasarana penanggulangan banjir, sampai sanitasi perkotaan... Salahnya Barat? Menurut saya justru kalau kita mencontoh Barat hal2 demikian tdk terjadi... London dan Paris sudah membangun jaringan subway mereka sejak tahun 1900 an ketika penduduknya sekitar 6,5 juta jiwa (ini berarti sama dgn Jakarta tahun 80 an)... juga Amsterdam dgn penduduk masa itu 5 jutaan tdk mau kalah turut membangun jaringan tramway listriknya... Tapi tentu saja sebuah kota tdk perlu menunggu sampai penduduknya mencapai 5-6 jutaan utk membangun transportasi publik yg handal... kota2 kecil Belanda membangun jaringan tramway berbasis kuda dan uap diakhir tahun 1800 an... Demikian juga Batavia dan Surabaya yg masa itu memiliki tramway kuda, tapi sekrg kita hanya bisa lihat jejak2nya melalui video yg diupload di youtube... entah kenapa dulu jaringan tsb dihancurkan oleh pemerintahan pribumi... Kurang partisipasi masyarakat? Mungkin tidak juga... Paris sebelum 1850 memiliki sanitasi perkotaan yg buruk, tahun 1832 wabah kolera memakan jiwa 20 ribu orang... Haussmann (dgn gaya mirip Pak Sutiyoso membangun busway) membabat ribuan rumah kumuh, membangun infrastruktur air bersih, air buangan, persampahan... alhasil kolera menurun dan akhirnya hilang... semuanya dilakukan pakai uang HUTANG... Ketika perekonomian Paris tumbuh setelah direparasi oleh Haussmann, hutang pemerintah dgn sendirinya dapat dibayar... rakyat penghuni permukiman kumuh yg pindah ke pinggiran turut mendapatkan pekerjaan dr pertumbuhan ekonomi tsb... Memang kita tdk harus seperti Haussmann, situasinya jelas berbeda, tapi lalu bagaimana dgn Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dll? salam..
--- En date de : Mar 2.2.10, [email protected] <[email protected]> a écrit : De: [email protected] <[email protected]> Objet: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia À: [email protected], [email protected] Date: Mardi 2 Février 2010, 3h02 Dear all, Mgkn memperkuat anjuran m'Toro bukan saja jangan ikuti perkemb kota spt itu, tp jangan menikmati hasil yg salah...ini yg lbh berat/susah, bisakah kita?... Salam, OkaPowered by Telkomsel BlackBerry®From: torolon...@yahoo. co.uk Date: Tue, 2 Feb 2010 00:27:35 +0000To: <refere...@yahoogrou ps.com>Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia Bapak Ibu Referenciers, Ijinkan saya untuk komentar juga ya. Saya melihat perkembangan Kota ini tidak mengikuti perkembangan teknologi yang berkaitan dengan perkembangan jumlah penduduk. Cerita Mas Eko, tentu berkaitan erat dengan teknologi pada waktu itu. Jaman Bung Karno yang dibutuhkan adalah sepeda, dan ini adalah simbol kelas menengah. Mobil hanya trrjangkau untuk Para administratur Perkebunan ataupun Sultan. Untuk ra'yat jelata cukup jalan kaki. Cerita Pak BTS tentang pertumbuhan penduduk kota tentu saja benar. Yang tidak benar adalah adanya "pembiaran" ra'yat jelata dari jalan kaki ke angkot yang amburadul. Ketika Singapora di tahun 1974 memutuskan untuk membangun MRT system, seharusnya Jakarta juga memutuskan hal yang sama. Ketika Bangkok dan Kualalumpur memutuskan membangun MRT sistem dan memperbaiki sistem transportasi metropolitannya, seharusnya Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar juga melakukan hal yang sama. Kecuali sindroma inferiority para pengambil keputusan masih melekat, keputusan semacam itu tidak akan terjadi. Sindroma ini adalah: elite di atas adalah proyeksi dari para administratur Onderneming yang selalu naik mobil, berkacamata cengdem, tongkat Sulaiman, dan topi oval. Sementara ra'yat jelata silakan menikmati apapun yang tersedia di kota, mau jalan kaki, naik sepeda, naik angkot-- terserah. Mau tinggal di gubuk reyot pinggir kali, mau jualan di trotoar, mau ngemis, silakan. Pokoknya kota ya seperti itu.. Kota adalah milik elite yang telah "menyediakan" ruang untuk ra'yat jelata. Silakan dinikmati. Pada waktunya kalau elite butuh ruang, ya jangan protes, karena atas nama kota akan dibutuhkan ruang untuk jalan tol baru, apartemen baru, mall baru, dst.. Maka ruang itu akan diambil. Epilogue: ini adalah penyakit sindroma inferiority, yang mempromosikan pembiaran kota, dan tidak perlu perencanaan. Please jangan diikuti. Ini menyesatkan. Salam Toro Powered by Telkomsel BlackBerry®From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com> Date: Mon, 1 Feb 2010 19:30:06 +0000 (GMT)To: <refere...@yahoogrou ps.com>Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia Pak Iman, Pak Ibn, Pak BTS ysh., Kuliah di Bandung era 70 an mungkin masih enak ya pak? Pdhal penduduknya saat itu sudah sekitar 1,3 juta jiwa, kendaraan bermotor tidak sebanyak sekrg, udara sejuk... apalagi kalau kuliahnya tahun 1920 an, jaman Bung Karno, ketika penduduk Bdg masih 94 ribu jiwa, dan masih pd jalan kaki, naik andong nampaknya enak sekali....terlebih lagi tahun 1846 ketika penduduk Bdg hanya 11 ribu jiwa, sayangnya waktu itu belum ada universitas. .. Yg mungkin tidak enak adalah hidup di Bdg tahun 1488 ketika masih hutan semua hehe.... salam... --- En date de : Lun 1.2.10, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> a écrit : De: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Objet: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia À: refere...@yahoogrou ps.com Date: Lundi 1 Février 2010, 16h42 dear all Sudah jelas bahwa persentase penduduk perkotaan semakin meningkat dibanding dengan persentase penduduk diperdesaan. Berdasarkan data statistik : Tahun 1970, jumlah penduduk 119 juta, kota : desa = 17% : 83% = 20,23 jt : 98,77 jt Tahun 1980, jumlah penduduk 147 juta, kota : desa = 23% : 77% = 33,81 jt : 113,19 jt Tahun 1990, jumlah penduduk 179 juta, kota : desa = 30% : 70% = 53,70 jt : 125,30 jt Tahun 2000, jumlah penduduk 205 juta, kota : desa = 43% : 57% = 116,85 jt : 88,15 jt Tahun 2010, jml pddk (proy) 233 juta, kota : desa = 55% : 45% = 104,85 jt : 128,15 jt Walaupun persentase penduduk perdesaan terus menurun dari tahun ke tahun, tetapi jumlah nominalnya tidak mengalami banyak pengurangan, yaitu sekitar 100 juta sejak tahun 1970 hingga proyeksi tahun 2010. Lihat fakta di atas. Perlu diketahui bahwa pertambahan jumlah penduduk perkotaan bukan hanya karena migrasi ke kota dan pertumbuhan natural di kota, tetapi juga perubahan wilayah desa menjadi kota sehingga wilayah perdesaan semakin berkurang. Mengingat jumlah nominal penduduk perdesaan sekitar 100 juta dalam wilayah perdesaan yang semakin berkurang, berarti kepadatan penduduk di perdesaan semakin padat. Jadi salah besar bila ada kebijakan untuk kembali ke desa. Thanks. CU. BTS. --- On Mon, 2/1/10, isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> wrote: From: isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> Subject: [referensi] Wajah Kota Indonesia To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, February 1, 2010, 12:51 AM Sekarang penduduk Indonesia, separo di kota separo di desa Nanti, 20 tahun lagi, 3/4nya atawa 200 juta tinggal di kota. Dulu ngga macet, sekarang macet, apalagi nanti, baru keluar rumah udah macet. Dulu naik motor bisa sambil indehoy, sekarang baru pegangan udah diklakson. Dulu orang tua bisa tidur siang, sekarang boro boro. Pergi Subuh, pulang Isya. Dulu main dilapangan, sekarang di jalanan Dulu kriminil cuma ada maling, sekarang mutilasi, sodomi, PIN diintip orang. Dulu kota yg banjir ke itung ama jari, sekarang susah deh banjir dimana mana. Dulu sungai msh bisa dipake buat sikat gigi, sekarang semerbak harum mewangi. Dulu tempat sampah sedikit, sekarang dimana mana tempat sampah. Dulu rumah kumuh cuma ada di Balubur, sekarang sekota kumuh semua. Sabtu dan Minggu, Dago, Gasibu, Punclut amit2 deh. Terlalu (baca pake Dialek Roma Irama) Dulu kencing gratis, sekarang pake tarip, BAK, BAB dan Mandi beda hargenye. Dulu masih banyak Burung Gereja, sekarang jarang terdengar. Dulu sedikit orang Kampungan, sekarang Kampungan semua.. Dulu bisa bikin Gelora, Monas dan Taman Mini, sekarang cuma bisa bikin PNPM busway, eh Suramadu bisa deng. Iman tea. Powered by Telkomsel BlackBerry® ------------ --------- --------- ------ Komunitas Referensi http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links

