Sahabat-sahabat referensiers ysh, Saya sepakat dengan apa yang dikemukakan oleh Mas Toro dengan adanya indikasi politik/kebijakan pembiaran kota. Menurut saya, kebijakan pembiaran (politique d'ignorance atau ignorance policy) ini dilakukan baik oleh pemerintahan di level pusat maupun di daerah secara sadar ataupun tak sadar. Sebagai contoh, dari tahun 60an sejak disusunnya Undang-undang Pokok Agraria, hingga kini belum ada undang-undang yang secara spesifik mengatur tentang lahan perkotaan dan pengelolaannya. Selain itu, dahulu di tahun 89 pernah ada suatu Keputusan Presiden yang mengatur pelarangan alih fungsi lahan-lahan pertanian produktif menjadi penggunaan lahan lainnya, termasuk untuk lahan perkotaan. Namun, keputusan presiden tersebut tidak pernah disambut oleh kalangan penyusun undang-undang (pemerintah pusat dan DPR) untuk mengubahnya menjadi suatu undang-undang, seperti undang-undang pelestarian lahan subur, misalnya. Akibatnya, keppres tersebut hanya berfungsi efektif dalam beberapa tahun, dan akibat lemahnya definisi dari "lahan produktif" di keppres tadi maka disinyalir terdapat banyak upaya para developer (besar maupun kecil dan mikro) yang "men-tidak-produktif-kan" terlebih dahulu areal lahan yang dikuasainya agar bisa dialih-fungsikan menjadi lahan non-pertanian (permukiman, industri dan lahan perkotaan lainnya). Ini adalah beberapa contoh dari "pembiaran" atau ketidak-pedulian pemerintah terhadap ketersediaan sumber daya lahan subur yang terbatas. Akibatnya, hingga kini negara kita mengalami proses alih fungsi lahan yang sedemikian besar, dimana salah satunya (dalam luasan yang juga sangat signifikan) terjadi di Pulau Jawa yang terkenal sebagai salah satu lahan subur utama di Indonesia. Predator dari lahan subur ini adalah perkembangan aktivitas perkotaan yang tidak terkendali, dimana yang menjadi korban adalah lahan pertanian dan lahan terbuka hijau lainnya (termasuk hutan) yang merupakan sumber daya alam yang sediaannya terbatas. Pada tingkat daerah, banyak daerah kabupaten di Indonesia terutama di Jawa yang berlomba-lomba "mengubah" wilayahnya menjadi wilayah perkotaan. Ini dilakukan dengan berusaha menangkap sebesar mungkin aktivitas-aktivitas perkotaan ke dalam wilayahnya terutama di bagian wilayahnya yang dilalui oleh jaringan jalan regional utama. Selain itu, pada kota-kota kecil di wilayah kabupaten, banyak aktivitas pembangunan fasilitas perkotaan, seperti fasilitas perdagangan, rumah sakit, sekolah, pasar, perkantoran, dsb yang dibangun di pinggiran-pinggian kota kecil tersebut terutama yang dilalui oleh jaringan jalan regional (dengan alasan ketersediaan lahan yang ada), tanpa menyadari bahwa fasilitas-fasilitas yang dibangun tersebut akan memicu perkembangan kawasan setempat dan mengubah kawasan setempat menjadi lebih bercirikan perkotaan. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya kebijakan pembatasan pengembangan lahan perkotaan (semacam smart growth policy), sehingga pada sepuluh atau dua puluh tahun berikutnya ciri perkotaan (dengan rendahnya suplay infrastruktur perkotaan) telah menjadi karakter bagi kawasan-kawasan seperti ini. Dalam konteksnya di perkembangan penduduk dan aktivitas perkotaan di Pulau Jawa, tingginya tekanan perkembangan penduduk dan aktivitas perkotaan di pulau ini juga tidak mampu membangkitkan kesadaran pemerintah pusat untuk mengembangkan suatu "affirmative actions" bagi pengembangan infrastruktur yang baik di luar Jawa (Sumatera, misalnya, sebagai pulau besar yang terdekat kepada Pulau Jawa) untuk mencoba menarik besarnya tekanan dari Pulau Jawa dan mengalihkannya ke wilayah-wilayah lainnya. Menurut pendapat saya, kesadaran akan fenomena seperti ini perlu dikembangkan agar kita tidak kembali mengulangi kesalahan "pembiaran" di masa depan. Apabila kesalahan "pembiaran" ini dilakukan saya yakin bahwa bencana-bencana perkotaan perkotaan seperti banjir, kemacetan, DBD muntaber dan kolera, dsb, yang pada saat ini telah akrab di kota-kota besar kita, juga akan menjadi "teman seperjalanan" pada kota-kota kecil kita termasuk kota-kota kecil di kabupaten. Selain itu, apabila "pembiaran" ini terus berlanjut, saya juga yakin bahwa Pulau Jawa akan menjadi suatu "Kampung Besar Jawa" dalam waktu sekitar 50 tahunan mendatang. Bisa jadi, pada saat itu puisi Ronggo Warsito tentang "wong Jowo keri separo" yang konon diyakini sebagai suatu ramalan, akan benar-benar terjadi sebagai akibat dari bencana perkotaan yang terjadi di mana-mana di Pulau Jawa. Mohon tanggapan Bapak-bapak dan Ibu-ibu sahabat-sahabat referensiers atas "dobosan kosong" saya ini.... Terima kasih sebelumnya... Salam, Fadjar Undip
--- On Tue, 2/2/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia To: [email protected] Date: Tuesday, February 2, 2010, 7:27 AM Bapak Ibu Referenciers, Ijinkan saya untuk komentar juga ya. Saya melihat perkembangan Kota ini tidak mengikuti perkembangan teknologi yang berkaitan dengan perkembangan jumlah penduduk. Cerita Mas Eko, tentu berkaitan erat dengan teknologi pada waktu itu. Jaman Bung Karno yang dibutuhkan adalah sepeda, dan ini adalah simbol kelas menengah. Mobil hanya trrjangkau untuk Para administratur Perkebunan ataupun Sultan. Untuk ra'yat jelata cukup jalan kaki. Cerita Pak BTS tentang pertumbuhan penduduk kota tentu saja benar. Yang tidak benar adalah adanya "pembiaran" ra'yat jelata dari jalan kaki ke angkot yang amburadul. Ketika Singapora di tahun 1974 memutuskan untuk membangun MRT system, seharusnya Jakarta juga memutuskan hal yang sama. Ketika Bangkok dan Kualalumpur memutuskan membangun MRT sistem dan memperbaiki sistem transportasi metropolitannya, seharusnya Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar juga melakukan hal yang sama. Kecuali sindroma inferiority para pengambil keputusan masih melekat, keputusan semacam itu tidak akan terjadi. Sindroma ini adalah: elite di atas adalah proyeksi dari para administratur Onderneming yang selalu naik mobil, berkacamata cengdem, tongkat Sulaiman, dan topi oval. Sementara ra'yat jelata silakan menikmati apapun yang tersedia di kota, mau jalan kaki, naik sepeda, naik angkot-- terserah. Mau tinggal di gubuk reyot pinggir kali, mau jualan di trotoar, mau ngemis, silakan. Pokoknya kota ya seperti itu.. Kota adalah milik elite yang telah "menyediakan" ruang untuk ra'yat jelata. Silakan dinikmati. Pada waktunya kalau elite butuh ruang, ya jangan protes, karena atas nama kota akan dibutuhkan ruang untuk jalan tol baru, apartemen baru, mall baru, dst.. Maka ruang itu akan diambil. Epilogue: ini adalah penyakit sindroma inferiority, yang mempromosikan pembiaran kota, dan tidak perlu perencanaan. Please jangan diikuti. Ini menyesatkan. Salam Toro Powered by Telkomsel BlackBerry® From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com> Date: Mon, 1 Feb 2010 19:30:06 +0000 (GMT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia Pak Iman, Pak Ibn, Pak BTS ysh., Kuliah di Bandung era 70 an mungkin masih enak ya pak? Pdhal penduduknya saat itu sudah sekitar 1,3 juta jiwa, kendaraan bermotor tidak sebanyak sekrg, udara sejuk... apalagi kalau kuliahnya tahun 1920 an, jaman Bung Karno, ketika penduduk Bdg masih 94 ribu jiwa, dan masih pd jalan kaki, naik andong nampaknya enak sekali....terlebih lagi tahun 1846 ketika penduduk Bdg hanya 11 ribu jiwa, sayangnya waktu itu belum ada universitas. .. Yg mungkin tidak enak adalah hidup di Bdg tahun 1488 ketika masih hutan semua hehe.... salam... --- En date de : Lun 1.2.10, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> a écrit : De: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Objet: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia À: refere...@yahoogrou ps.com Date: Lundi 1 Février 2010, 16h42 dear all Sudah jelas bahwa persentase penduduk perkotaan semakin meningkat dibanding dengan persentase penduduk diperdesaan. Berdasarkan data statistik : Tahun 1970, jumlah penduduk 119 juta, kota : desa = 17% : 83% = 20,23 jt : 98,77 jt Tahun 1980, jumlah penduduk 147 juta, kota : desa = 23% : 77% = 33,81 jt : 113,19 jt Tahun 1990, jumlah penduduk 179 juta, kota : desa = 30% : 70% = 53,70 jt : 125,30 jt Tahun 2000, jumlah penduduk 205 juta, kota : desa = 43% : 57% = 116,85 jt : 88,15 jt Tahun 2010, jml pddk (proy) 233 juta, kota : desa = 55% : 45% = 104,85 jt : 128,15 jt Walaupun persentase penduduk perdesaan terus menurun dari tahun ke tahun, tetapi jumlah nominalnya tidak mengalami banyak pengurangan, yaitu sekitar 100 juta sejak tahun 1970 hingga proyeksi tahun 2010. Lihat fakta di atas. Perlu diketahui bahwa pertambahan jumlah penduduk perkotaan bukan hanya karena migrasi ke kota dan pertumbuhan natural di kota, tetapi juga perubahan wilayah desa menjadi kota sehingga wilayah perdesaan semakin berkurang. Mengingat jumlah nominal penduduk perdesaan sekitar 100 juta dalam wilayah perdesaan yang semakin berkurang, berarti kepadatan penduduk di perdesaan semakin padat. Jadi salah besar bila ada kebijakan untuk kembali ke desa. Thanks. CU. BTS. --- On Mon, 2/1/10, isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> wrote: From: isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> Subject: [referensi] Wajah Kota Indonesia To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, February 1, 2010, 12:51 AM Sekarang penduduk Indonesia, separo di kota separo di desa Nanti, 20 tahun lagi, 3/4nya atawa 200 juta tinggal di kota. Dulu ngga macet, sekarang macet, apalagi nanti, baru keluar rumah udah macet. Dulu naik motor bisa sambil indehoy, sekarang baru pegangan udah diklakson. Dulu orang tua bisa tidur siang, sekarang boro boro. Pergi Subuh, pulang Isya. Dulu main dilapangan, sekarang di jalanan Dulu kriminil cuma ada maling, sekarang mutilasi, sodomi, PIN diintip orang. Dulu kota yg banjir ke itung ama jari, sekarang susah deh banjir dimana mana. Dulu sungai msh bisa dipake buat sikat gigi, sekarang semerbak harum mewangi. Dulu tempat sampah sedikit, sekarang dimana mana tempat sampah. Dulu rumah kumuh cuma ada di Balubur, sekarang sekota kumuh semua. Sabtu dan Minggu, Dago, Gasibu, Punclut amit2 deh. Terlalu (baca pake Dialek Roma Irama) Dulu kencing gratis, sekarang pake tarip, BAK, BAB dan Mandi beda hargenye. Dulu masih banyak Burung Gereja, sekarang jarang terdengar. Dulu sedikit orang Kampungan, sekarang Kampungan semua.. Dulu bisa bikin Gelora, Monas dan Taman Mini, sekarang cuma bisa bikin PNPM busway, eh Suramadu bisa deng. Iman tea. Powered by Telkomsel BlackBerry® ------------ --------- --------- ------ Komunitas Referensi http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links

