Pak Iman, Pak Ibn, Pak BTS ysh., Kuliah di Bandung era 70 an mungkin masih enak ya pak? Pdhal penduduknya saat itu sudah sekitar 1,3 juta jiwa, kendaraan bermotor tidak sebanyak sekrg, udara sejuk... apalagi kalau kuliahnya tahun 1920 an, jaman Bung Karno, ketika penduduk Bdg masih 94 ribu jiwa, dan masih pd jalan kaki, naik andong nampaknya enak sekali....terlebih lagi tahun 1846 ketika penduduk Bdg hanya 11 ribu jiwa, sayangnya waktu itu belum ada universitas... Yg mungkin tidak enak adalah hidup di Bdg tahun 1488 ketika masih hutan semua hehe.... salam...
--- En date de : Lun 1.2.10, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> a écrit : De: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> Objet: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia À: [email protected] Date: Lundi 1 Février 2010, 16h42 dear all Sudah jelas bahwa persentase penduduk perkotaan semakin meningkat dibanding dengan persentase penduduk diperdesaan. Berdasarkan data statistik : Tahun 1970, jumlah penduduk 119 juta, kota : desa = 17% : 83% = 20,23 jt : 98,77 jt Tahun 1980, jumlah penduduk 147 juta, kota : desa = 23% : 77% = 33,81 jt : 113,19 jt Tahun 1990, jumlah penduduk 179 juta, kota : desa = 30% : 70% = 53,70 jt : 125,30 jt Tahun 2000, jumlah penduduk 205 juta, kota : desa = 43% : 57% = 116,85 jt : 88,15 jt Tahun 2010, jml pddk (proy) 233 juta, kota : desa = 55% : 45% = 104,85 jt : 128,15 jt Walaupun persentase penduduk perdesaan terus menurun dari tahun ke tahun, tetapi jumlah nominalnya tidak mengalami banyak pengurangan, yaitu sekitar 100 juta sejak tahun 1970 hingga proyeksi tahun 2010. Lihat fakta di atas. Perlu diketahui bahwa pertambahan jumlah penduduk perkotaan bukan hanya karena migrasi ke kota dan pertumbuhan natural di kota, tetapi juga perubahan wilayah desa menjadi kota sehingga wilayah perdesaan semakin berkurang. Mengingat jumlah nominal penduduk perdesaan sekitar 100 juta dalam wilayah perdesaan yang semakin berkurang, berarti kepadatan penduduk di perdesaan semakin padat. Jadi salah besar bila ada kebijakan untuk kembali ke desa. Thanks. CU. BTS. --- On Mon, 2/1/10, isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> wrote: From: isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> Subject: [referensi] Wajah Kota Indonesia To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, February 1, 2010, 12:51 AM Sekarang penduduk Indonesia, separo di kota separo di desa Nanti, 20 tahun lagi, 3/4nya atawa 200 juta tinggal di kota. Dulu ngga macet, sekarang macet, apalagi nanti, baru keluar rumah udah macet. Dulu naik motor bisa sambil indehoy, sekarang baru pegangan udah diklakson. Dulu orang tua bisa tidur siang, sekarang boro boro. Pergi Subuh, pulang Isya. Dulu main dilapangan, sekarang di jalanan Dulu kriminil cuma ada maling, sekarang mutilasi, sodomi, PIN diintip orang. Dulu kota yg banjir ke itung ama jari, sekarang susah deh banjir dimana mana. Dulu sungai msh bisa dipake buat sikat gigi, sekarang semerbak harum mewangi. Dulu tempat sampah sedikit, sekarang dimana mana tempat sampah. Dulu rumah kumuh cuma ada di Balubur, sekarang sekota kumuh semua. Sabtu dan Minggu, Dago, Gasibu, Punclut amit2 deh. Terlalu (baca pake Dialek Roma Irama) Dulu kencing gratis, sekarang pake tarip, BAK, BAB dan Mandi beda hargenye. Dulu masih banyak Burung Gereja, sekarang jarang terdengar. Dulu sedikit orang Kampungan, sekarang Kampungan semua.. Dulu bisa bikin Gelora, Monas dan Taman Mini, sekarang cuma bisa bikin PNPM busway, eh Suramadu bisa deng. Iman tea. Powered by Telkomsel BlackBerry® ------------ --------- --------- ------ Komunitas Referensi http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links

