Referensier, Pendeknya, kita sudah mengalami proses urbanisasi.... Berubah menjadi kota... Baik dari desa menjadi kota, maupun kota yg "membengkak"...
Mengutip sedikit kalimat pak BTS, ... Kembali ke desa... Bukan lagi salah besar, tapi jadi aneh... Sepertinya peng-kota-an itu salah... Yg salah, kenapa tidak dipersiapkan agar kota tidak menjadi buruk akibat proses itu.. Tapi juga jgn lagi mengurusi "kenapa tidak siap"... Melainkan, harus segera bertindak "bagaimana selanjutnya"... Bagaimana menyiapkan calon2 kota, bagaimana menyiapkan kota yg tadinya kecil akan tumbuh dewasa.... Bagaimana.... Maaf saya baru bisa bertanya... Salam, Nita Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> Date: Mon, 1 Feb 2010 07:42:57 To: <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia dear all Sudah jelas bahwa persentase penduduk perkotaan semakin meningkat dibanding dengan persentase penduduk diperdesaan. Berdasarkan data statistik : Tahun 1970, jumlah penduduk 119 juta, kota : desa = 17% : 83% = 20,23 jt : 98,77 jt Tahun 1980, jumlah penduduk 147 juta, kota : desa = 23% : 77% = 33,81 jt : 113,19 jt Tahun 1990, jumlah penduduk 179 juta, kota : desa = 30% : 70% = 53,70 jt : 125,30 jt Tahun 2000, jumlah penduduk 205 juta, kota : desa = 43% : 57% = 116,85 jt : 88,15 jt Tahun 2010, jml pddk (proy) 233 juta, kota : desa = 55% : 45% = 104,85 jt : 128,15 jt Walaupun persentase penduduk perdesaan terus menurun dari tahun ke tahun, tetapi jumlah nominalnya tidak mengalami banyak pengurangan, yaitu sekitar 100 juta sejak tahun 1970 hingga proyeksi tahun 2010. Lihat fakta di atas. Perlu diketahui bahwa pertambahan jumlah penduduk perkotaan bukan hanya karena migrasi ke kota dan pertumbuhan natural di kota, tetapi juga perubahan wilayah desa menjadi kota sehingga wilayah perdesaan semakin berkurang. Mengingat jumlah nominal penduduk perdesaan sekitar 100 juta dalam wilayah perdesaan yang semakin berkurang, berarti kepadatan penduduk di perdesaan semakin padat. Jadi salah besar bila ada kebijakan untuk kembali ke desa. Thanks. CU. BTS. --- On Mon, 2/1/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: [referensi] Wajah Kota Indonesia To: [email protected] Date: Monday, February 1, 2010, 12:51 AM Sekarang penduduk Indonesia, separo di kota separo di desa Nanti, 20 tahun lagi, 3/4nya atawa 200 juta tinggal di kota. Dulu ngga macet, sekarang macet, apalagi nanti, baru keluar rumah udah macet. Dulu naik motor bisa sambil indehoy, sekarang baru pegangan udah diklakson. Dulu orang tua bisa tidur siang, sekarang boro boro. Pergi Subuh, pulang Isya. Dulu main dilapangan, sekarang di jalanan Dulu kriminil cuma ada maling, sekarang mutilasi, sodomi, PIN diintip orang. Dulu kota yg banjir ke itung ama jari, sekarang susah deh banjir dimana mana. Dulu sungai msh bisa dipake buat sikat gigi, sekarang semerbak harum mewangi. Dulu tempat sampah sedikit, sekarang dimana mana tempat sampah. Dulu rumah kumuh cuma ada di Balubur, sekarang sekota kumuh semua. Sabtu dan Minggu, Dago, Gasibu, Punclut amit2 deh. Terlalu (baca pake Dialek Roma Irama) Dulu kencing gratis, sekarang pake tarip, BAK, BAB dan Mandi beda hargenye. Dulu masih banyak Burung Gereja, sekarang jarang terdengar. Dulu sedikit orang Kampungan, sekarang Kampungan semua.. Dulu bisa bikin Gelora, Monas dan Taman Mini, sekarang cuma bisa bikin PNPM busway, eh Suramadu bisa deng. Iman tea. Powered by Telkomsel BlackBerry® ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

