Dear Sahabats,

Postingnya diulangi, alamat email referensi agak keliru pada email sebelumnya, 
untuk menyampaikan gagasan di bawah ini:

Pak Eka, tentang etnografi memang sudah sangat terkenal karena itu
bagian dari tradisi kuno dalam pengamatan lapangan. Dalam disertasi
saya memperkenalkan istilah baru, yang masih baru dan belum banyak
dikenal, yaitu FENOMENOGRAFI untuk menjadi key stone dalam
fenomenologi. Ini hal baru dan masih diperjuangkan, bahwa
antropolog/etnolog mengerjakan etnografi, lha fenomenolog menghasilkan
fenomenografi. Ini langkah nekad, bersaing dengan dedengkot tradisi
riset lapangan !!! Mohon dukungan para sahabat semua heheeheheheee.....

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sat, 2/6/10, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:

From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Subject: Re: [perkotaan] Re: Memborong masalah?
To: [email protected]
Date: Saturday, February 6, 2010, 7:56 AM

Pak Eka, menurut yang saya pelajari, filsafat merefleksikan seluruh usaha ilmu 
pengetahuan, tetapi ilmu dengan kacamata kuda terbatasnya hanya mengkaji 
sebagian dari realitas. Ilmuwan memasok temuan-temuan kepada para filsuf untuk 
merefleksikan seluruh realitas supaya terjadi pemahaman realitas yang lebih 
mendalam, semakin mendalam dari waktu ke waktu. Konon nih, filsuf berangkat 
dari pertanyaan dan berakhir dengan pertanyaan baru, sedangkan ilmuwan 
berangkat dari pertanyaan dan berhenti pada jawaban. Filsuf tugasnya 
merefleksikan, ilmuwan tugasnya mencari jawaban pada pertanyaan keilmuan, bukan 
pertanyaan filsafati. Gagasan ini ada dalam kuliah Falsafah Ilmu Pengetahuan 
minggu pertama yang saya berikan minggu kemarin pada mahasiswa S1 lho 
Pak....jadi masih ingat. 

Jadi, dari renungan tentang "memborong masalah" tampaknya perlu dicermati 
benar-benar
 topik diskusi yang dilontarkan Pak RM guru saya ini hehehee.....

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sat, 2/6/10, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [perkotaan] Re: Memborong masalah?
To: [email protected]
Date: Saturday, February 6, 2010, 6:25 AM







 



  


    
      
      
      

Pak Risfan ysh.



Saya kira hampir semua disiplin ilmu dapat 'memborong masalah', namun

yang paling berkompeten adalah 'ilmu filsafat', karena berpijak pada

etik. Untuk pendekatan yang saya pernah kenali dapat menganalisis

kompleksitas adalah 'system analysis' dan untuk pemetaannya adalah

'etnografi'. Apakah perencana diajarkan hal-hal itu? Salam.



-ekadj



--- In perkot...@yahoogrou ps.com, Risfan M <risf...@... > wrote:

>

> Mindset Perencana

>

> Insinyur Sipil urusannya relatif pasti, yaitu merancang struktur

bangunan sesuai sifat (mekanika) tanah di persil tertentu. Kalau

desainnya rumit, komputer bisa bantu. Persoalan besar terjadi kalau

anggaran tak tentu, manajemen proyek kacau.

>

> Arsitek juga pekerjaannya relatif pasti kalau yang dihadapi adalah

individu yang kaya, maunya jelas. Persoalan timbul kalau si pengguna

jasa maunya tidak jelas, berselisih antara suami-istri. Atau arsitek

mencoba mempromosikan desain asli nusantara, sementara masyarakat

sukanya mengadopsi desain dari luar.

>

> Lain lagi Ekonom, yang dihadapi hal yang dinamis (bergerak terus),

dinamika supply vs demand produsen/konsumen, masyarakat dan investor

yang saling merespons. Memang sering situasi, kondisi, perilaku pelaku

yang diluar "control" ekonom. Tapi, setidaknya dia bisa membatasi

pikiran pada kaidah utama "B/C ratio, dan hukum supply vs demand, etc".

Tujuannya relatif pasti, terfokus. Instrumennya jelas. Walau untuk

memprediksi kian sulit, target dan prediksinya sering meleset, tapi

Ekonom oke saja karena menyadari banyak hal diluar kontrolnya.

>

> Ahli ilmu sosial, mungkin sudah ditakdirkan untuk "bersedih", karena

harus menegakkan keadilan, kesetaraan di masyarakat (manusia) yang

sepertinya cenderung serakah, eksploitatif. Tapi setidaknya sosiolog

tahu bahwa takdir nya memang untuk mengritik, oposan. Mainannya memang

kritik sosial. Positioningnya jelas, menganalisa, mengritik, bukan

merencana tatanan masyarakat.

>

> Antrhopolog, umumnya asyik mengamati fenomena kehidupan kelompok

manusia. Mempelajari pola-pola. Dia tidak bermaksud untuk merubah obyek

penelitiannya. Hanya kalau dia berusaha melestarikan sesuatu, budaya

lokal, nasional, maka persoalan atau kekecewaan timbul, karena arus

budaya luar. Tapi kebanyakan enjoy dengan ke-bohemian- nya.

>

> Ahli lingkungan, juga takdirnya jelas sedih. Karena yang dihadapi

adalah 'angkara murka' yang suka merusak lingkungan. Tapi urusan

lingkungan ini menariknya sudah jadi kepedulian semua bidang, semua

profesi, semua usia. Kalahan tapi ada dimana-mana. Dan upaya-upaya nya

tak harus besar dan dalam bentuk tertentu. Mulai dari tindakan menyapu,

mengurangi pemakaian plastik yang bisa dilakukan secara individual,

hingga advokasi anti penebangan hutan.

>

> Dan, Planner, datang untuk merencanakan wilayah, kota, zona. Dalam

benak Planner ini adalah soal membagi zona (ruang fisik). Tapi

kenyataannya wilayah, kota, zona itu isinya adalah "persoalan2

lingkungan, ekonomi, sosial, perilaku warga, kepemerintahan" yang

berasal dari ketidaktahuan warga,dampak kemiskinan, keserakahan orang

kuat, ketidak- berdayaan birokrasi, ketidak- jelasan hukum.

> Kalau tak sadar Planner bisa MEMBORONG PERSOALAN yang dihadapi semua

profesi ke dalam pikirannya.

> Sebagian Planner ada yang berasumsi bahwa Rencana sudah bagus, orang

saja yang bandel. Sehingga perlu mendidik masyarakat, menyadarkan

pejabat dan aparat, memberantas korupsi. Sekali lagi mengharap SELURUH

UNSUR MASYARAKAT, BIROKRAT, PENGUSAHA untuk "berubah" supaya Rencana

bisa diterapkan. Ini jelas menambah beban pikiran sendiri.

>

> Sentralisme Orde Baru bisa mengecewakan para Planner, Otonomi daerah

yang menumbuhkan raja-raja kecil bisa mengecewakan Planner, democrazy

bisa mengecewakan Planner. Akhirnya para planner mengecewakan para

planner.

>

> Akhirnya Planner jadi stress, merasa tak berdaya. Bidang

multi-disiplin bisa mengundang beban pikiran yang berat, lalu rasa tak

berdaya.

> Padahal bisa saja multi-disiplin ini "dimainkan".

>

> Tak usah memborong beban semua profesi. Tapi

> sebagai Planner bisa pakai mindset pemeduli Lingkungan Hidup, atau

mindset ala Ekonom yang kalau angka target gak tercapai "gak apa2".

Kalau perlu juga bisa pakai mindset Sosiolog, ya siap lah sedih, kecuali

kalau menikmati jadi activist. Kalau mindset Antrhopolog, pilihlah yang

asyik, bohemian, jangan yang murung. He he he he.

> Pokoknya jangan borong persoalan semua profesi. Planning is

multisektor, tapi pilihlah sisi positifnya, yang berorientasi action,

bukan sisi sedihnya. Gitu saja kok repot.

>

> Salam,

> Risfan Munir

>





    
     

    
    


 



  






      


      

Kirim email ke